3 tahun yang lalu Tahun 2018 Terlihat Gavin dengan sweater berwarna hijau lengkap dengan kaca matanya sedang sibuk berdiskusi dengan anggota divisinya. Satu tahun lalu Gavin berhasil bergabung dengan organisasi kampus bernama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). BEM sendiri merupakan lembaga eksekutif yang terdiri dari perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas. Proses seleksi untuk calon pengurus dilakukan dengan cukup ketat karena banyaknya mahasiswa yang tertarik untuk bergabung dalam organisasi tersebut. Dan Gavin menjadi salah satu orang yang beruntung. Ia mendapatkan kesempatan untuk bergabung menjadi anggota BEM. Ia diterima di departemen sosial. Karena kinerjanya yang bagus, tahun ini Gavin ditunjuk menjadi ketua departemen sosial. Ia bahkan merencanakan untuk membuat kegiatan sosial yang bernama Abdi Desa. Gavin terlihat sangat menikmati proses diskusi tersebut. Ditengah-tengah diskusi terselip canda tawa antar anggota. “Vin, gimana kalau kita buka pendaftaran untuk volunteer?” Usul salah satu anggota. “Ide bagus tuh. Biar tambah rame. Dan kita juga nambah tenaga untuk penggalangan dana. Lu tahu sendiri kan kalau kegiatan sosial gini pihak kampus susah banget ngeluarin duit.” “Oke. Gue setuju. Besok kita kumpul lagi buat bahas seleksi volunteer. Sekarang gue mau cabut dulu.” “Lah buru-buru banget. Nggak mau ikut nongkrong?” “Lain kali aja deh.” Setelah satu bulan berlalu, Gavin berhasil mengumpulkan sekiar 15 orang volunteer untuk membantunya melancarkan kegiatan Abdi Desa. Ia bahkan sering kali mengontrol setiap divisi dan tidak segan untuk segera membantu jika ada yang kesulitan. Gavin tidak ragu untuk menjual pakaian bekas. Hasil dari mengumpulkan pakaian bekas yang masih layak pakai dari anggota dan volunteer untuk menambah dana. Performa kinerja Gavin memang tidak diragukan lagi. Ia sering kali mendapatkan banyak pujian entah dari dosen, teman-temannya dan ketua BEM. Namun pujian itu hanya bertahan ketika ia masih duduk dibangku kuliah. Sedangkan sekarang keadaannya berbanding terbalik. Ia bahkan merasa bahwa dirinya merupakan salah satu orang yang berada dalam tingkat terendah dari masyarakat. Kenapa demikian? Karena untuk membeli makan pun ia masih harus berpikir dua kali. Ia bahkan seringkali makan hanya satu kali dalam sehari. Padahal mamanya sudah memperingatkan Gavin untuk tidak mengirimi uang pada mamanya. Mamanya sadar bahwa kehidupan anaknya tidak akan semulus dulu jadi ia ingin sedikit meringankan beban anaknya dengan bekerja menjadi buruh cuci baju. Namun perkataannya selalu ditolak oleh Gavin. Gavin terus saja mengiriminya uang secara rutin setiap sebulan sekali. Padahal Gavin masih harus membayar sewa rumah petakannya sekaligus biayanya untuk bertahan hidup. Dan disinilah Gavin tengah mendapatkan omelan dari pelanggan yang membeli minuman di minimarket. “Kamu bisa kerja nggak sih? Tadi saya nggak sengaja menumpahkan minuman dan kamu menyuruh saya mengganti?” “Iya Bu. Kan ibu yang menumpahkan bukan saya. Jadi yang berkewajiban untuk membayar ibu.” “Saya nggak mau bayar. Yang licin kan tempat rak minumannya bukan tangan saya. Lagian kamu kerja yang bener dong. Dibayarkan di sini?” Tiba-tiba saja sang pemilik minimarket datang karena mendengar keributan. “Mohon maaf ada apa ya Bu?” “Itu saya nggak sengaja menumpahkan minuman karena tempat penyimpananya yang terlalu licin. Eh malah saya yang disuruh ganti. Padahal kan yang nggak becus kerja karyawan anda.” “Baik Bu, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ibu tidak perlu mengganti, nanti biar karyawan saya yang menggantinya.” Si pemilik toko tersebut dengan sengaja mendorong tengkuk Gavin agar terlihat seperti Gavin sedang meminta maaf kepada pelanggan yang komplain. “Kalau gini kan saya jadi nggak mood belanja.” Kata pelanggan itu dan pergi. “Pak saya nggak salah kenapa saya harus tanggung jawab? Bapak bisa cek cctv kok.” “Ya masak saya yang harus tanggung jawab?” “Tapi Pak, tadi kenapa ibu-ibunya disuruh pergi?” “Ini kesalahan kamu dong kenapa memancing emosi pelanggan. Kan kamu bisa bicara baik-baik biar dia mau ganti. Jadi ya salah kamu.” “Tapi...” “Gini deh kamu mau ganti rugi atau dipecat? Simpel kan? Ingat ya diluaran sana anak seusia kamu banyak lho yang butuh kerja. Dan saya bisa mendapatkan pengganti kamu dengan mudah.” “Maaf Pak. Saya akan ganti rugi. Bapak boleh memotong gaji saya bulan ini.” Gavin terpaksa menuruti keinginan pemilik toko. Ia tahu susahnya mencari pekerjaan, jadi ia tidak mau ambil pusing dari pada harus dipecat dan keliling mencari pekerjaan lagi. Setelah jam kerjanya habis, Gavin memilih untuk pulang dengan berjalan kaki. Lumayan lah untuk menghemat ongkos pulang. Dalam perjalanan pulang Gavin mendengar suara gaduh dari gang kecil yang diterangi dengan satu bohlam warna kuning. Sontak bulu kuduk Gavin berdiri. Bagaimana tidak tepat pukul 00.00 WIB terdengar suara gaduh dari gang sempit. Awalnya Gavin berniat untuk melanjutkan jalan. Namun entah kenapa matanya masih tertuju pada gang sempit itu. Entah keberanian dari mana yang Gavin dapat. Perlahan ia mulai berjalan menuju gang kecil itu. Saat sampai di gang sempit itu, Gavin dikejutkan dengan salah satu temannya yang bernama Bryan tengah dikeroyok dengan segerombolan orang mabuk. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Bryan. Bryan terlihat menatapnya dengan penuh harapan. Bryan berusaha meminta pertolongan pada Gavin lewat tatapan matanya. “Siapa lu? Mau babak belur kayak dia juga? Atau lu pergi sekarang.” Kata salah satu pengeroyok itu. Tanpa berpikir panjang Gavin pergi meninggalkan Bryan yang kembali dikeroyok oleh orang-orang itu. Merasa bersalah? Sudah pasti namun mau bagaimana lagi. Jika Gavin menolong Bryan dan dia ikut dikeroyok. Lalu siapa yang akan merawat mereka berdua? Setidaknya salah satu dari mereka harus selamat. *** Sudah genap lima kali alarm di ponsel Aletta berdering. Namun sang pemilik masih saja tertidur lelap. Hingga dering ke-delapan ia baru terbangun. Aletta segera mematikan alarm dan melakukan stretching ringan. Kemudian ia memeriksa jam di ponselnya. Betapa terkejutnya Aletta melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 09.00 WIB. “Gawat kok udah jam Sembilan aja. Kak Aldev kan mau ke sini jam sepuluh.” Aletta segera berlari menuju dapur dan memeriksa bahan makanan yang bisa ia masak. Sebenarnya kemarin malam saat video call dengan Aldev, Aldev meminta izin Aletta untuk mengunjungi rumah Aletta. Dan tanpa sadar Aletta mengiyakan permintaan Aldev. “Begonya gue kenapa kemarin gue iyain aja tanpa pikir panjang. Gini nih kalau otak kalah cepat sama mulut.” Setelah memeriksa kulkas, Aletta menemukan telur, sosis, selada, tomat, dan keju. Lalu ia membuka lemari disampingnya dan menemukan roti tawar. Setelah mengeluarkan semua bahan tersebut dan meletakkannya di meja dapur, Aletta memutuskan untuk membuat sandwitch. “Gue buat sandwitch aja. Kak Aldev kan suka sandwitch. Buat camilannya nanti, makan buah aja deh.” Aletta dengan gerakan cepat dan sedikit sembrono berhasil membuat sandwitch dalam waktu 20 menit. Setelah selesai memasak, ia kembali memeriksa jam. Aletta semakin kewalahan ketika waktunya untuk bersiap-siap hanya tinggal 30 menit. “Mampus gue. Mana cukup 30 menit buat mandi sama make up.” Aletta segera berlari menuju kamar mandi setelah itu ia merias wajahya agar terlihat cantik. Dan tepat pukul 10.00 WIB Aldev menelepon Aletta. “Halo.” Sapa Aletta. “Aku udah di depan nih.” Aletta sempat tertegun sejenaak setelah mendengar perkataan Aldev. “Aletta.” Panggil Aldev. “Iya.” Aletta baru tersadar dengan apa yang ia perbuat. Ia segera berlari menuju pintu rumahnya. “Jangan lari, nanti jatuh.” Kata Aldev di telepon. Aletta mendadak berhenti dan melanjutan dengan berjalan kearah pintu rumahnya. Sebelum membukakan pintu, sekali lagi Aletta memeriksa make up serta rambutnya. Setelah yakin dengan penampilannya, ia membukakan pintu untuk Aldev dan tersenyum ceria kearah Aldev. “Masih pagi udah cantik banget.” Kata Aldev sambil melepaskan sepatu dengan mata yang masih menatap wajah cantik Aletta. Aletta yang tidak menyangka Aldev akan berbicara dengan segamblang itu. Ia hanya bisa membelalakkan mata. “Masuk Kak.” Kata Aletta setelah berhasil mengatasi keterkejutannya. “Oh iya ini aku bawa buah kesukaan kamu. Apel kan?” “Wow. Makasih Kak.” Bukan hal yang mengejutkan jika mereka mengetahui makanan atau buah kesukaan satu sama lain. Karena mereka sudah menjalani proses syuting untuk drama series selama enam bulan. Terlebih lagi peran yang mereka mainkan dalam drama tersebut adalah sepasang suami istri. Jadi mereka harus memiliki kemistri yang kuat satu sama lain. Karena itu pula mereka mulai dekat dan mungkin saling memendam perasaan yang sama. Kruuukk... “Kamu lapar ya?” Tanya Aldev. Ditengah keheningan tiba-tiba saja perut Aletta berbunyi cukup keras hingga terdengar oleh Aldev. Sedangkan Aldev dengan gampangnya menanyakan hal tersebut sambil fokus mengupas apel untuk Aletta. “Duh malu banget gue. Kenapa harus kedengeran sih. Kak Aldev juga, kenapa jadi orang jujur banget.” Batin Aletta. “Makan yuk Kak. Aku tadi udah bikin sandwitch lho.” Mereka pun makan bersama sambil berbincang tentang berbagai hal. “Habis ini ngapain ya?” Tanya Aletta sambil mencuci piring kotor. Awalnya Aldev menawarkan diri untuk mencuci piring kotor karena Aletta sudah memasak untuknya. Namun niat baiknya justru ditolak dengan tegas oleh Aletta. “Gimana kalau kita nonton film?” “Wah boleh juga Kak.” “Karena nggak ada popcorn, aku kupas buah aja ya. Sekalian nungguin kamu cuci piring.” Aldev beranjak dari tempat duduknya dan mengambil buah yang ia bawa serta buah yang ada di kulkas Aletta. Lalu Aldev mengupas buah secukupnya. Sudah hampir dua jam mereka bersama namun kini yang terdengar hanya suara gemercik air karena Aletta sedang mencuci piring. Aldev bahkan sedang fokus dengan tumpukan buah di depannya. “Selesai.” Kata Aletta memecahkan keheingan. *** “Ini kenapa Aletta nggak bisa dihubungi?” Kata Sebastian dengan sedikit emosi. “Sabar Bang. Jangan sampai nabrak.” Kata Refan tepat di sebelah Sebastian. Mereka berdua sedang berada di dalam mobil yang menuju ke rumah Aletta. Awalnya Refan mengira bahwa hari ini merupakan hari liburnya. Karena memang seperti itu yang dikatakan Aletta padaya kemarin. Ia bahkan sudah membuat janji berkumpul bersama teman-temannya. Namun semua rencananya gagal ketika Sebastian meneleponnya dan memintanya bersiap-siap untuk pergi. Dengan berat hati Refan mengikuti permintaan Sebastian. Dan di sini lah ia sekarang. Sedang harap harap cemas melihat Sebastian mengebut di jalanan sambil mengomel tanpa henti. “Saya nggak habis pikir bagaimana bisa ada gosip tentang kedekatan Aletta dan Aldev. Bahkan foto yang menjadi acuan mereka hanya foto salah satu adegan di drama yang belum tayang. Dan sampai sekarang pun Aletta masih tidak bisa dihubungi. Jangan bilang Aletta sekarang sedang bersama Aldev. Awas saja kalau memang iya.” “Tapi haknya Kak Aletta dong untuk dekat sama siapa saja?” “Refan kamu jangan sok mengajari saya. Aletta sudah memilih untuk terjun ke dunia entertainment jadi dia juga harus menerima resiko. Salah satu resikonya adalah kehidupan pribadinya yang akan menjadi konsumsi publik.” Refan hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari Sebastian. Ia tidak bisa melawan argumen tersebut karena memang benar adanya. Namun di dalam hatinya ia tetap merasa bahwa ynag dikatakan Sebastian adalah salah. Refan mulai merasa iba kepada Aletta. Karena Aletta tidak bisa hidup sesuai dengan keinginannya. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya Sebastian dan Refan sampai di depan rumah Aletta. Sebastian dengan cepat memencet bel rumah Aletta. Sedangkan di dalam rumah Aletta memandang Aldev dengan tatapan yang sulit diartikan.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat indah
04/09
0bagussss bangettt
19/05/2025
0Bagus bangetttt🥹🥹🥹
16/05/2025
0Ver Todos