Gara terdiam cukup lama ketika berada di rumah wanita itu. Perasaan bersalah yang tengah menyergapnya berubah menjadi rasa takut. Takut jika Gara akan dituntut oleh wanita itu. "Ck, kamu ngajakin aku ke sini hanya untuk menatap rumah orang seperti ini? Nggak jelas banget sih." Lamunan Gara buyar ketika mendengar ocehan temannya. Gara menoleh ke samping, dilihatnya Sisil sedang menggerutu kesal. Gara menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk. "Jadi apa tujuanmu membawaku ke sini?" tanya Sisil malas. Gara memperlihatkan tas wanita pada Sisil, membuat wanita itu mengernyit heran. "Sagara Elvano! Kamu mengajakku hanya untuk ini?" tanya Sisil tak percaya. Gara mengangguk kaku. "Itu apa lagi yang yang kamu bawa, bingkisan apa itu?" Gara mengikuti arah pandang Sisil, kemudian pria itu menyugar rambutnya dengan kasar. Gara salah tingkah. Seumur hidupnya baru kali ini dia membelikan pakaian untuk wanita, dan lagi itu adalah pakaian muslim. Gara melakukannya semata-mata karena ingin bertanggung jawab pada wanita itu, akibat perbuatannya, pakaian wanita itu sudah tak layak untuk dipakai. "Apaan sih, berisik banget! Cepat ketuk pintunya," ucap Gara mengalihkan pembicaraan. Mata Sisil memicing, dia curiga dengan tingkah Gara. Sisil adalah teman dekat Gara sejak lama, jadi apa pun yang disembunyikan oleh Gara, Sisil gampang menebaknya. "Jawab dulu itu isinya apa," kata Sisil sambil melipatkan kedua tangannya didada. Gara menggeram kesal, dia menyesal karena telah mengajak Sisil untuk menemaninya, harusnya tadi dia mengajak Rio saja, membawa teman wanita memang membuat Gara repot. Sisil selalu saja ingin tahu urusannya. "Bebal banget sih dibilangin, cepat diketuk itu pintu--" Ucapan Gara terpotong karena tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Gara maupun Sisil refleks menengok ke arah pintu. Mereka berdua terpaku ketika melihat ada sosok wanita berhijab itu. Wanita itu terlihat sangat manis meskipun ada perban di keningnya. "Wow," ucap Gara tanpa sadar. Pria itu terpesona dengan kecantikan wanita berhijab yang ada di hadapannya. Sama halnya seperti Sisil, sebagai wanita dia juga mengagumi kecantikan wanita itu, meskipun wanita itu tak memakai riasan, cantiknya tampak natural. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bening ramah. Sisil menyenggol lengan Gara, namun pria itu tak menggubrisnya, membuat wanita itu mendesis lirih. Dengan kasar dia menyentak tangan Gara, membuat Gara kelabakan. "Eh, iya. Apa?" tanya Gara. Pria itu mendadak linglung. Bening mengerutkan keningnya, sedangkan Sisil menepuk jidatnya dengan pelan. "Ada yang bisa dibantu, Mas, Mbak?" tanya Bening sekali lagi. Lagi-lagi Gara terpesona dengan suara Bening. Terdengar merdu di telinganya. Gara berdeham sejenak, kemudian tersenyum tipis. "Dengan Zayna Bening Humairah?" tanya Gara. Bening mengangguk kaku. "Ya, saya sendiri. Ada apa ya?" "Jadi begini, kedatangan saya ke sini untuk mengucapkan maaf beribu maaf karena telah menabrak, Mbak ...." "Panggil saja Bening," potong wanita itu. Gara mengangguk paham, kemudian dia kembali menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. "Maaf karena sudah membuat Mbak Bening masuk rumah sakit, semua ini karena kecerobohan saya," ucap Gara penuh sesal. Bening tersenyum tipis, namun matanya sedari tadi tak pernah menatap Gara. Hanya sesekali saja, wanita itu malah terus-menerus menatap Sisil, membuat Gara sedikit tak nyaman. 'Sial! Kenapa dia tak pernah menatapku? Apakah menurutnya aku tidak tampan?' gerutu Gara dalam hati. "Tidak apa-apa, namanya juga musibah, kita tak bisa mengelaknya. Saya sudah memaafkan, tapi kalau boleh kasih saran, lain kali kalau naik motor jangan ngebut-ngebut, ya. Selain membahayakan diri sendiri juga bisa membahayakan orang lain," nasehat Bening. Gara mengangguk sambil tersenyum lebar. Sedangkan Sisil, bibirnya terkatup rapat, dia hanya menyimak pembicaraan di antara mereka. Sisil akhirnya mengetahui alasan apa Gara membawanya ke sini, karena sedari tadi Sisil menanyakannya tapi tak pernah mendapat respon dari Gara. Rupanya pria itu ingin meminta maaf sekaligus ingin bertanggung jawab atas kesalahannya. Diam-diam Sisil tersenyum tipis. Dia salut dengan keberanian Gara. "Oh iya, tadi saya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Mbak, tapi sesampainya saya di sana, saya tak melihat siapapun, saya hanya melihat tas ini tergeletak di atas meja." Bening menatap tas itu dengan mata berbinar. "Terima kasih," ucapnya tulus. "Sama-sama, Mbak. Dan ini ada satu lagi, mohon diterima, ya," kata Gara sambil menyodorkan bingkisan. "Apa ini?" tanya Bening. "Bukan apa-apa, Mbak. Mohon diterima, ya. Kalau begitu saya pamit undur diri. Terima kasih karena sudah memaafkan saya," ucap Gara sopan. "Permisi, Mbak," kata Sisil. Bening mengangguk sambil tersenyum. Sedikit bingung dengan tingkah mereka. Ketika Bening ingin masuk tiba-tiba ada yang memanggil namanya, membuat Bening menoleh ke belakang. "Mbak Bening," panggil Gara. "Ada apa lagi?" tanya Bening bingung. "Maukah menjadi teman saya?" Bening menatap Gara tak enak hati, jelas saja Bening menolaknya. "Maaf, tapi--" "Dengan Sisil juga," potong Gara cepat. "Ya, dia yang memintaku untuk berbicara denganmu seperti itu. Dia malu untuk mengungkapkannya, makanya dia minta tolong sama aku," ucap Gara. Kentara sekali kalau dia sedang gugup. Bening terdiam cukup lama, hingga akhirnya dia mengangguk. "Baiklah, kalau boleh tahu--" "Sagara, namaku Sagara," potong Gara lagi. Bening mengerjapkan matanya berkali-kali, sejujurnya Bening ingin menanyakan nama Sisil. Mata Gara membulat ketika dia menyadari kesalahannya, dia meringis pelan, menatap Bening dengan senyum kikuk. "Maaf, maksudnya namanya Sisil dan aku Sagara." Bening hanya menanggapi dengan senyuman tipis. "Kalau begitu aku pamit, ya." "Iya, hati-hati," peringat Bening. "Salamkan pada Sisil, salam kenal," lanjut wanita itu. Gara tak menjawab, dia melangkahkan kakinya begitu cepat agar bisa sampai dimobilnya. Laki-laki itu menggerutu kesal karena kebodohannya. Bisa-bisanya dia salah tingkah. "Kenapa lama sekali? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Sisil ketus. "Bukan urusanmu," jawab Gara cuek. Sisil menatap Gara cukup lama, Gara yang ditatap seperti itu pun mendengus kesal. "Ngeliatnya nggak usah segitunya juga kali." Sisil membuang pandangannya, dia melipatkan kedua tangannya didada. "Kamu suka dengan wanita itu?" tanya Sisil tiba-tiba. Gara memicingkan matanya. "Ngomong apa kamu? Ngasal aja. Aku menemuinya hanya karena ingin tanggung jawab," kata Gara dingin. Sisil tersenyum kecut, mau sampai kapan Gara mengabaikan perasaannya. Sisil sangat menantikan ucapan spesial dari Gara. Sisil yakin kalau selama ini Gara menutup diri dari wanita karena pria itu menyukainya. Namun sampai sekarang Gara tak menunjukkan perasaannya. Apakah selama ini Sisil salah duga? Atau hanya Sisil saja yang terlalu terbawa perasaan dengan Gara. "Ngomong-ngomong, kita sudah berteman dengan dia. Bening, aku sudah mengajaknya berteman, atas nama kamu, dan dia menyetujuinya," kata Gara sambil tersenyum tipis. Sisil diam saja, dia bingung ingin berekspresi seperti apa. Senang karena dia bisa melihat Gara tersenyum, dan sakit karena Gara senang membicarakan wanita lain. "Bagus dong, jadinya kita punya teman baru," jawab Sisil dengan suara lirih. "Iya," jawab Gara cepat. Setelah mengatakan seperti itu, mereka sama-sama terdiam. Gara menyetir mobil itu dengan kecepatan sedang. Sedangkan Sisil, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagusss
19/03
0mantap
10/01
0mantap
16/08
0Ver Todos