logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Sebening Cinta Sagara

Sebening Cinta Sagara

Nona Ekha


Capítulo 1 Zayna Bening Humairah

"Pokoknya kamu harus nikah, kamu sudah dewasa, Gara. Usiamu sudah cukup matang untuk menimang seorang anak," omel Sarah, mama Gara.
Gara mendesah panjang, sudah berkali-kali mamanya menyuruhnya untuk menikah, pikiran Gara belum sampai ke situ, saat ini dia ingin menghabiskan masa lajangnya, bersenang-senang dengan teman-temannya. Gara belum ingin menikah, karena menurutnya menikah itu membuatnya tak berkutik, tak bebas, dan lagi membuatnya harus berbagi. Gara belum siap.
"Ma, usia Gara masih muda, 27 tahun. Gara masih ingin bebas menikmati hidup lajang. Jangan paksa Gara untuk menikah!" kata Gara tegas.
Sarah geleng-geleng kepala, dia tak setuju dengan penuturan anaknya. Teman-temannya rata-rata sudah mempunyai cucu. Setiap kali Sarah bertemu dengan geng arisannya kerap kali disinggung masalah cucu. Jangankan cucu, Gara saja belum menikah, bagaimana dia bisa mendapatkan cucu.
"27 tahun kamu bilang masih muda?" tanya Sarah sinis.
"Ma," rengek Gara.
"Tidak bisa! Pokoknya kamu harus menikah secepatnya, Mama sudah mengatur pertemuan dengan anak teman Mama. Mama harap kali ini kamu tidak mengecewakan Mama!" pekik Sarah.
Wanita berusia 50 tahun itu langsung pergi meninggalkan Gara yang sedang mengepalkan tangannya, menahan emosi. Gara benci diatur-atur, dia sudah dewasa, bukan anak kecil lagi, tapi kenapa mamanya selalu saja ikut campur dalam urusannya.
Gara mengambil kunci motor dengan kasar. Keluar dari rumah mungkin bisa membuat pikirannya menjadi tenang.
Hujan deras mengguyurnya, namun Gara tak peduli, ucapan mamanya selalu terngiang di kepalanya, Gara bingung harus berbuat apa, pertemuannya dengan wanita yang tidak dia kenal sudah diatur oleh Sarah. Gara enggan datang, tapi dia juga takut dengan kemarahan Sarah.
Gara melajukan motornya dengan kencang, tak peduli matanya ditusuk-tusuk oleh hujan, dia berteriak sekencang mungkin, mengumpat kasar agar pikirannya terasa plong.
"Bisakah aku mempunyai pacar yang baik? Jika bisa, tolong pertemukanlah aku dengannya," gumam Gara.
Lagi, Gara menambah kecepatan laju motornya di saat hujan turun semakin deras, hingga tiba-tiba dia melihat seorang wanita berhijab sedang menyebrangi jalan. Gara melotot.
"AWAS!" teriak Gara.
Wanita itu terkejut ketika mendengar ada yang berteriak, matanya membulat, ingin menghindar namun terlambat. Tubuh wanita itu sudah melayang bersamaan dengan motor Gara yang tergeletak.
Gara jatuh terpental jauh dari motornya, pria itu mendesis lirih. Gara memejamkan matanya ketika dia merasakan perih di bagian kakinya.
"Astaga! Apa lagi ini," keluh Gara.
Pria itu tersentak ketika mengingat sesuatu, Gara langsung melihat ke arah wanita yang ditabraknya itu.
Dengan langkah terhuyung Gara mendekat, memeriksa wanita yang telah ditabraknya.
"Mbak," panggil Gara.
Wanita itu tak menyahut, membuat Gara menjadi gelisah, Gara takut jika terjadi sesuatu pada wanita itu.
"Mbak, Mbak nggak apa-apa, kan?" tanya Gara sambil menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu.
Gara semakin cemas karena tak ada pergerakan dari wanita itu. Gara pun langsung membalikkan tubuh wanita itu, seketika wajahnya pias karena melihat ada darah di kepala wanita itu.
Gara melihat ke sekeliling jalanan, tak ada satu pun yang lewat, jalanan itu tampak sepi, mungkin karena turun hujan.
Gara mencari-cari ponsel di sakunya, dengan tangan gemetar Gara menelepon temannya agar bisa membantunya.
"Rio, tolong datang ke jalan Cemara cepat! Jangan lupa pakai mobil!" perintah Gara. Setelah berkata demikian, Gara memutuskan sambungan teleponnya.
***
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Gara pada dokter yang sudah menangani wanita itu.
Dokter yang bername tag Nadia tersenyum tipis. "Tidak ada yang parah dan tidak perlu dijahit," katanya ramah.
Jawaban dokter Nadia tetap saja tak membuatnya lega. Walaupun dia sering balap motor dengan temannya, baru kali ini dia menabrak seseorang, itu yang membuat hati Gara ketar-ketir.
"Tapi, Dok. Dia tadi terjatuh cukup keras, bagaimana dengan yang lainnya? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Gara lagi.
Ketika dokter ingin menjawab, ponsel Gara berdering. Gara memberi kode pada dokter itu untuk tidak berbicara.
"Iya, Ma," sahut Gara.
"Kamu di mana? Jangan lupa kata-kata Mama tadi."
Gara memejamkan matanya untuk meredam emosinya.
"Gara enggak bisa datang, Ma."
"Kenapa? Jangan cari alasan lain. Pokoknya hari ini kamu harus datang, Mama tidak mau tau!" bentak Sarah.
Sambungan pun terputus.
Gara menggeram marah, ingin menjawab tapi sambungan itu telah dimatikan.
Gara menatap dokter itu dengan senyum tak enak.
"Maaf, Dok, bisakah titip dia sebentar, saya sedang ada janji dengan mama saya. Kalau ada apa-apa tentangnya silakan hubungi saya," ucap Gara sambil menyodorkan kertas yang berisi nomor ponselnya.
Gara pergi dengan tergesa-gesa, sebelum dia pergi meninggalkan rumah sakit, tak lupa dia membayar tagihan rumah sakit wanita itu.
Detik di mana Gara sudah pergi, wanita itupun membuka matanya secara perlahan. Wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap sekitar yang tampak asing untuknya, dia pun mengernyit heran.
"Dimana aku?" tanyanya lirih.
Wanita itu langsung terduduk, meringis pelan karena kepalanya yang tampak sakit.
"Rumah sakit?"
Wanita itu mengingat-ingat kembali apa yang sebelumnya terjadi, hingga ingatannya kembali ketika dia hendak menyebrangi jalan lalu ada motor yang sedang melaju kencang, setelah itu dia tak mengingat apapun.
Wanita itu yakin jika saat ini dia menjadi korban tabrak lari.
Wanita itu memegang kepalanya yang terasa dingin akibat tiupan angin, matanya melotot ketika menyadari sesuatu. Dia tidak memakai hijab.
Mata wanita itu langsung mencari-cari di mana letak hijabnya. Kini hijabnya sudah ketemu, namun sayangnya hijab itu tampak kotor dan juga ada sedikit darah di sana. Wanita itu tak peduli, dia memakai hijab itu, lalu selanjutnya dia harus cepat-cepat pergi dari sini.
***
"Kenapa ruangan tampak kosong? Di mana dia?" tanya Gara pada perawat yang ada di ruangan itu.
"Kami tidak tahu, ketika kami ingin memeriksa kondisinya, wanita itu sudah tak ada di sini. Mungkin dia kabur," jawab perawat itu.
Gara menatap sekeliling ruangan itu, matanya menangkap tas yang tergeletak di atas meja.
"Apa itu punya dia?" tanya Gara lagi.
Perawat itu menoleh ke arah yang Gara tunjuk, kemudian mengangguk pelan.
"Mungkin dia sedang terburu-buru makanya lupa membawa tasnya. Padahal kondisinya belum stabil, kenapa dia malah pergi," gumam perawat itu.
Gara langsung mengambil tas itu, dia ragu ingin membukanya. Menurutnya itu adalah privasi, lancang rasanya jika dia berani membuka tas itu. Tapi dia harus mengembalikan tas itu, dan juga meminta maaf pada wanita itu. Karena ulahnya, wanita itu sampai berada di rumah sakit.
Dengan ragu Gara membuka tas tersebut, Gara melihat tak ada yang istimewa di sana selain dompet dan juga ponsel.
Gara membuka dompet itu secara perlahan, matanya langsung tertuju pada kartu identitas wanita itu. Gara membaca nama wanita itu dalam hati.
"Zayna Bening Humairah," gumam Gara sambil tersenyum tipis.

Comentário do Livro (90)

  • avatar
    PAfif

    bagusss

    19/03

      0
  • avatar
    YulianiRici

    mantap

    10/01

      0
  • avatar
    MuzzakiRizki

    mantap

    16/08

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes