logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 2

MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI
Bab 2
Dinda dijodohkan
"Dinda … kok baru pulang?" tanya Bu Lela saat aku lewat. Kebetulan Ibu-ibu sedang mengerumuni tukang sayur keliling.
"Iya Bu … baru dapat jatah libur," jawabku ramah.
Jarak Surabaya–Mojokerto memang tidak terlalu jauh. Tapi untuk pulang pergi setiap hari tidak sanggup rasanya. Jadi kuputuskan untuk menyewa kontrakan saja.
"Kok sendiri pulangnya? Gak sama calon atau … belum ada calonnya?" celetuk Bu Susi seenaknya.
"Itu loh Din … temanmu Siti, anaknya udah mau dua. Kamu masih betah sendiri?"
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua loh Din!"
Telinga ini rasanya panas, ini yang aku ingin hindari. Jiwa kepo tetangga seribu bibir yang kesehariannya di habiskan untuk mengurusi hidup orang lain. Apa mereka pikir hidup mereka sudah benar? Bisanya mengomentari hidup orang lain.
"Orangtua saya udah nungguin. Mari Bu Ibu," pamitku tanpa menunggu jawaban dari mereka.
***
"Nai!" Aku berteriak girang saat melihat Naira sedang duduk di teras menemani adik bungsuku bermain congklak.
"Dinda! Aku kangen banget tahu," ujarnya sambil mendekatiku. Kita berpelukan melepas rindu. Naira adalah orang yang paling mengerti, paling tahu bagaimana lika-liku hidupku ini. Karena setiap ada waktu luang aku pasti menghubunginya untuk menceritakan masalahku.
"Masuk yuk!" Aku mengajaknya masuk. Menoleh kanan kiri, tidak ada orang di rumah selain adikku. Pantas saja Naira tadi duduk di luar.
"Tunggu di kamar aja, ya! Aku ambilin dulu minum," ucapku lalu bergegas ke dapur.
"Kapan sampai Din?"

Suara yang sangat ku rindukan terdengar jelas. Aku menoleh dan mendapati Bapak tengah berdiri di belakangku.
"Baru saja, Pak," jawabku lalu mencium tangannya. Tangan ini yang dulu terlihat kuat kini termakan usia, keriput menghiasi dan terlihat rapuh. Orangtuaku sudah tidak muda lagi, tapi diri ini belum bisa membahagiakan mereka.
"Istirahat saja dulu! Ibumu sedang pergi kondangan. Bapak mau pergi cari rumput dulu."
Dengan cepat aku menyeka air mata sebelum menganak sungai di pipi. Aku tidak ingin terlihat sedih di depan Bapak.
Aku kembali ke kamar dan bercerita panjang lebar dengan Naira. Mendengarkan dengan antusias pengalaman Naira selama di Kalimantan.
***
Tok tok tok!
Mata ini menyipit melihat bayangan seseorang di depan jendela kamar. Aku masih setengah sadar, setelah tadi Naira pulang aku memang langsung tidur karena lelah.
"Din ... ini Tante Wina." Suaranya terdengar pelan seperti maling yang takut ketahuan.
Dengan malas aku menghampirinya. Ada pintu kenapa harus lewat jendela? aneh memang. Ah … dia pasti takut bertemu dengan Bapak.
"Kenapa, Tan?"
"Kamu pulang kenapa gak bilang? Tante 'kan mau di belikan oleh-oleh," sungutnya.
Ia kira aku pulang bawa uang sekoper apa!? Seenaknya minta dibelikan ini itu. Dasar kumis lele! Flek hitam yang berada di atas bibirnya yang membuatku menjuluki itu, persisi seperti kumis lele.
"Dinda cuman pegang uang buat ongkos aja. Emang kalau Dinda belikan, Tante mau ganti uang ongkosnya?!" jawabku sekenanya.
"Nggak," sahutnya dengan cengengesan.
Aku menghela napas kasar dan kembali berbaring, meninggalkan Tante Wina yang sedang menggerutu.
Pusingku ini akan bertambah nanti jika Ibu pulang dari kondangan dan ngomelin aku. Sebelum bertemu Ibu, sebaiknya aku menyiapkan tenaga dan tidur. Harus butuh tenaga ekstra jika berdebat dengannya nanti.
***
"Si Joko itu baik, rajin lagi! kamu lihat … sawahnya itu luas, rumahnya besar, uangnya banyak. Kamu gak usah kerja nanti kalau udah nikah!" Ibu terus saja merayuku.
Pantas saja tadi Ibu pulang membawa banyak makanan dan tidak memarahiku karena aku pulang dengan tangan kosong. Sepertinya ibu sudah di sogok oleh Joko dengan banyak iming-iming.
"Dinda gak mau Bu! Ibu gak liat ... orangnya hitam, jelek, tua lagi. Lagian Dinda juga punya pacar, Bu!"
Mau sekaya dan setampan apa pun, aku akan tetap setia pada Mas Rian! Aku sangat mencintainya.
"Gak usah kamu mengharapkan yang jauh! Dia juga gak serius sama kamu. Buktinya, sampai sekarang belum ada dia datang ke rumah untuk melamarmu!" jelas Ibu.
Kami saling mencintai hanya saja belum siap untuk menikah. Mas Rian ingin berkarir dan sukses dulu sebelum menikahiku. Kenapa ibu tidak mengerti perasaan anaknya ini.
"Tapi Bu–"
"Kalau kamu nikah sama Joko, semua hutang Ibu di lunasi sama Joko. Kita juga gak bakalan hidup susah lagi."
Miris sekali. Apa Ibu menikahkanku dengan lelaki tua itu hanya demi uang? Apa itu artinya Ibu menjualku?
"Hanya demi uang Ibu rela membuat anakmu ini menderita? Lebih baik aku tidak pulang sekalian!" tegasku lalu berlari ke kamar mengambil semua barangku dan pergi tanpa memperdulikan teriakan Ibu.
"Dinda … kembali!"
Semua kontak keluarga sengaja di blokir. Aku sedang tidak ingin diganggu. Apalagi membahas soal perjodohan. Lebih baik aku fokus bekerja saja.
Lebih rela jika aku harus di jadikan mesin pencetak uang daripada mengorbankan kebahagiaan dan masa depan hanya untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai.
"Din, jangan melamun. Nanti kesambet loh!"
Aku tersentak saat merasakan tepukan di pundak. Ana yang kini duduk di depanku menatap seolah memintaku untuk bercerita.
"Cappucino kesukaanmu," ucapnya sambil mendorong gelas itu ke hadapanku.
Sembari menikmati waktu istirahat memang rooftop mall yang paling nyaman untuk menyejukkan pikiran.
"Makasih."
"Yakin gak mau cerita?"
Hanya menggeleng pelan sambil tersenyum menjawab pertanyaan Ana. Aku belum siap membagi semua masalah pada orang lain.
Bahkan aku tidak cerita apapun pada Mas Rian. Berbicara soal Mas Rian, aku jadi ingat seminggu ini dia belum ada menghubungiku. Apa mungkin dia sangat sibuk?
***
"Bagusnya ... kamu cerita sama Rian. Kalau soal hutang Ibumu, setelah menikah 'kan kamu masih bisa kerja. Rian juga pasti bakalan bantuin kamu kok! Yang penting kamu jujur aja," ucap Naira dari seberang telepon.
Aku memang menceritakan semuanya pada Naira mengenai perjodohan yang akan Ibu lakukan.
"Tapi aku yang belum siap. Lagian aku belum kenal sama orang tuanya," jawabku seadanya.
"Pacaran 5 tahun dan kamu belum mengenal orang tua Rian? Kamu yakin dia serius sama kamu?" kata Naira tak percaya.
Aku tercengang mendengar perkataan Naira. Memang belum pernah sekalipun Mas Rian memperkenalkan aku pada orangtuanya. Kenapa aku bod*h sekali, bahkan hal sepenting ini orang lain yang mengingatkanku.
Keluarga besarku bahkan sudah lama mengenal Mas Rian.
"Kamu lebih tahu soal hubunganmu sendiri. Aku cuman bisa jadi pendengar dan kasih solusi aja," lanjutnya sebelum memutus sambungan telepon itu.
Apa benar Mas Rian tidak serius? Apa ia hanya mempermainkanku saja? Tapi tidak mungkin.
"Masalah apa lagi yang menghampiri hidupku ini … Ya Allah." Aku mengerang frustasi memikirkan semua masalah hidupku. Banyak benalu di keluargaku, percintaan yang rumit, nanti apa lagi?
"Sesayang itu 'kah Engkau padaku, Ya Allah? Sehingga banyak masalah yang hadir dalam hidupku yang malang ini!" gumamku lirih.
Bersambung ….

Comentário do Livro (227)

  • avatar
    NaylaPutri nayla

    kpn bab selanjutnya

    21/05

      0
  • avatar
    Alya Alya

    bagus

    22/04

      0
  • avatar
    Hesti Wulandari

    ceria nya bagus

    07/12

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes