logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Menghidupi Benalu

Menghidupi Benalu

andrianisilviaR


Bab 1

MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI
BAB 1
BUAH JATUH TIDAK JAUH DARI POHONNYA
"Din, Nenek mau pulang sekarang!"
Aku sontak menoleh, mendapati Nenek yang sedang mengemasi bajunya.
"Bukannya masih mau seminggu lagi disini?" tanyaku.
"Kasihan ... kakekmu ditinggal kelamaan," sahutnya.
Baguslah. Aku juga tidak suka jika Nenek terlalu lama tinggal disini. Bukan apa-apa, tanpa sepengetahuan diriku, Nenek kadang meminjam uang pada tetanggaku untuk beli sayurlah, sabun, dan masih banyak lagi. Siapa yang malu jika begini? Tentu saja aku.
Sebelum pergi kerja aku pasti meninggalkan uang di rumah untuk pegangan Nenek, barangkali ingin membeli sesuatu. Itu pun setiap hari aku berikan.
"Lima puluh ribu cukup buat apa? Nenek juga 'kan mau beli jajanan yang sering di beli tetanggamu itu," kilahnya kala itu saat aku mencoba menegurnya dengan halus.
***
"Tunggu Mbak! Bayar dulu hutangnya Suryani!"
Belum sampai tangan ini menyentuh daun pintu, suara seorang lelaki membuatku menoleh. Dengan badan yang tinggi besar dan wajah sangar membuatku sontak melangkah mundur.
"Ma … maaf pak. Tapi–" ucapanku terhenti saat mataku tertuju pada barang yang aku cari ada di tangan lelaki berkulit hitam itu.
"Suryani menjadikan KTP ini sebagai jaminan!"
Perkataannya membuatku tidak percaya. Ternyata ini alasan kenapa Nenekku–Suryani–pulang tiba tiba kemarin. Bisa-bisanya barang berharga itu dijadikan jaminan.
Hampir satu minggu Nenek Suryani memang menginap di kontrakanku. Dia bilang ingin menemani cucu kesayangannya ini. Tapi yang ada kedatangannya malah membuatku semakin sengsara.
"Mbak! Lunasi hutangnya sekarang 1.5 juta atau aku tambah bunganya 50%!" gertaknya dengan suara lantang. Ia memperlihatkan surat perjanjian hutang piutang itu, dan ada tanda tangan nenekku disana. Aku jelas tidak bisa lagi mengelak.
Dengan gemetar tangan ini mengambil uang di dalam dompet dan menyerahkannya dengan berat hati, hanya tersisa tiga lembar uang merah yang harus cukup untuk satu bulan kedepan. Beruntung tempat kerja bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
"Astagfirullah … sabar, Din!" Hanya bisa bergumam lirih seraya berjalan mengunci pintu. Kejadian yang baru saja terjadi membuatku hampir terlambat kerja.
Kenapa Nenek berani sekali meminjam uang pada orang asing? Bahkan menjadikan KTP-ku sebagai jaminannya. Sungguh tidak rela rasanya uang itu habis dengan sekejap, padahal sebagian uang itu sengaja aku sisihkan untuk melunasi hutang ibuku pada lintah dar*t.
Memang benar kata pepatah 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' buktinya Ibu dan Nenek sama saja suka berhutang dan aku yang harus menanggungnya.
***
"Bagaimana kalau libur kerja besok kita pergi ke pantai? Kamu mau gak, Din?" tanya Erika antusias sebelum membuka toko.
Yang lain sama antusianya tapi tidak dengan diri ini. Bagaimana aku akan pergi liburan? bahkan untuk makan saja aku masih ragu apa uang simpananku cukup atau tidak.
"Kenapa melamun? Ayolah ... kita butuh liburan! Lelah rasanya sebulan ini di tekan untuk memenuhi target!" Ana ikut bersuara meyakinkanku.
Meskipun ingin, aku tidak bisa. Tidak hanya lelah fisik lelah batin juga kurasakan saat ini.
Bekerja sebagai SPG di sebuah brand skincare di mall ternama Surabaya, gajiku yang tidak seberapa ini habis untuk melunasi hutang Ibuku yang berbunga setiap waktunya.
"Lain kali mungkin bisa. Aku hanya ingin istirahat liburan kali ini!" jawabku berbohong. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Mau di taruh dimana mukaku ini.
Ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk dari Ibu.
[Din, kenapa kamu belum kirim uangnya? Ibu sudah tidak pegang uang lagi. Mereka juga sudah menagih uang itu!]
[Maaf Bu, tapi untuk bulan ini Dinda tidak bisa kirim uang.]
Send!
Aku tidak mungkin bilang jika uang itu habis untuk melunasi hutang nenek Suryani. Bahkan sampai detik ini nenek tidak menghubungiku untuk sekedar minta maaf. Bukan aku tidak ikhlas hanya saja caranya yang tidak aku suka.
Aku rela hanya makan dengan mie instan setiap harinya, satu bungkus saja aku bagi dua agar cukup untuk makan satu hari. Malang sekali nasib ini. Aku bahkan tidak tahu untuk apa nenek meminjam uang itu.
Ting!
Pesan balasan masuk, dari ibu.
[Alasan saja! Kamu pasti menghabiskan uang untuk foya-foya 'kan?! Kamu gak kasihan dengan Ibumu ini? Gara-gara kamu kulkas di rumah di ambil lintah darat itu!]
Aku menghela napas berat, sungguh lelah rasanya jika seperti ini terus.
"Ya Allah … jauhkan aku dari permasalahan yang tak berujung ini!" Aku hanya bisa bergumam lirih, menutup mata sekejap untuk sekedar menghilangkan penat. Istirahatku tidak akan tenang jika sudah di recoki seperti ini.
Hari yang di tunggu pun tiba. Ya, hari ini aku menerima uang gajiku. Tidak lupa aku selalu menyisihkan uang untuk membayar kontrakan 700 ribu dan uang makan.
Ponselku bergetar. Terpampang jelas pesan masuk dari kontak bernama–Kunti–itu memang panggilan sayangku untuk adik pertama ibu.
[Tante pinjam uangmu ya, Din? Gak banyak, 300 ribu aja kok!]
Aku berdecak kesal. Mereka selau tahu tanggal bahagiaku ini. Apa mereka pikir aku ini panti sosial yang setiap saat bisa di mintai uang? Aku juga punya kebutuhan, bahkan tidak ada sepeser pun uang yang bisa aku tabung jika terus begini.
"Din, besok kamu datang lebih awal untuk menghitung stok di gudang ya!" Suara Ana mengagetkanku.
"Bukannya, besok bagiannya Erika?" tanyaku sambil membereskan barang dan bersiap untuk pulang.
"Dia izin dua hari, katanya mau jenguk Ibunya yang sakit," jawab Ana lalu beranjak pergi. Ingin rasanya aku seperti Ana, hidup enak dan bisa membeli apa saja tanpa memikirkan uang makan untuk hari esok. Beruntungnya dia terlahir di keluarga berada.
Aku tersentak saat mendengar suara nyaring dari ponselku.
Kunti Calling ...
Sengaja tadi aku tidak membalas pesannya karena aku merasa lelah dan tak ingin berdebat. Sekarang malah dia mau merusak gendang telingaku dengan suaranya yang jauh dari kata merdu itu.
"Assalamu'alaikum … Tan," salamku dengan malas.
"Sok sibuk banget kamu, pesanku hanya di baca saja! Cepat transfer uangnya, aku butuh sekali … kamu hari ini gajian 'kan?!" Tanpa membalas salamku dia berbicara panjang lebar dengan suaranya yang seperti radio rusak itu.
"Maaf Tante, Dinda tid–"
"Cepat kirim atau aku adukan pada Ibumu!" Dia memotong ucapanku seenak jidatnya dan mengancam.
Dengan kesal langsung aku memutuskan sambungan teleponnya. Berjalan dengan cepat meninggalkan toko, rasanya ingin sekali cepat sampai kontrakan dan tidur. Masa bod*h dengan apa yang tanteku adukan nanti.
***
Suara azan subuh membuat diri ini langsung terjaga. Gegas aku mengambil air wudhu dan melaksanakan salat. Saat seperti ini yang membuatku bebas berkeluh kesah. Mengadu pada Sang Pemilik alam semesta. Menangis sepuasnya.
Ting!
Sepagi ini siapa yang menganggu ketenanganku? Aku meraih benda pipih itu, ternyata pesan masuk dari ibu ratu–Ibuku– pasti Kunti itu sudah mengadukan semuanya.
[Kenapa kamu tidak meminjamkan uang pada Tante Rum? Kamu 'kan tahu suaminya gak kerja.]
Terus kenapa harus meminta uang padaku? Kenapa tidak suruh saja suami tante Rum yang pemalas itu bekerja! Aku hanya bisa membatin. Tidak berani bicara seperti itu pada ibu.
Ting!
Si Kunti itu juga ikut menerorku.
[Pelit sekali kamu ini! Kamu pikir bisa hidup seorang diri apa?! Awas kamu ya kalau nanti minta tolong padaku. Aku tidak akan peduli … aku sumpahin kamu hidup melarat!]
Pake sumpah serapah segala, apa dia pikir ucapan buruknya itu akan terjadi? Oh … tentu tidak.
Malas rasanya jika di recoki terus, sudah lelah raga ini bekerja rasanya ingin sekali merasakan ketengan.
Mengabaikan pesan dari mereka dan bergegas bersiap untuk bekerja, setidaknya dengan melayani customer masalah yang ku rasakan terlupakan sejenak.
***
[Dek, Bagaimana kabarnya? maaf belakangan ini Mas jarang menghubungi. Ini Mas baru sampai di Jakarta.]
Refleks senyum ini merekah membaca pesan masuk dari aplikasi hijau milikku.
[Alhamdulliah baik Mas. Iya Mas gak apa-apa. Aku tau, Mas disana juga untuk bekerja. Kalau ada waktu Mas bisa ke Surabaya 'kan?]
Centang satu. Mungkin dia butuh istirahat atau masih sibuk dengan pekerjaannya. Awal pertemuanku dengannya 6 tahun lalu. Mas Rian yang berprofesi sebagai arsitek yang di tugaskan kerja di Surabaya dan ia menjadi tetangga kontrakanku.
Entah kenapa, dia yang bergelimang harta mau tinggal di temapt kumuh seperti kontrakanku. Mungkin itu yang di namakan jodoh. Dari situlah awal tumbuh benih cinta di antara kita. Sering bertemu dan berkomunikasi.
5 tahun menjalin hubungan tapi belum ada niatku untuk ke jenjang yang lebih serius. Masih banyak tanggung jawab yang masih harus dipikul. Aku juga belum siap jika harus tinggal jauh dari keluargaku. Meskipun terkadang mereka menyebalkan.
Bukannya tidak pernah. Orang Tuaku sering mendesak agar cepat menikah. Mereka bilang aku dan Mas Rian sudah terlalu lama berpacaran.
Ting!
[Din, aku udah di Surabaya loh. Nanti kalau ada waktu kita ketemu ya.]
Antusias sekali rasanya saat ada pesan masuk dari Naira–sahabatku–tiga tahun lalu ia pergi merantau ke Kalimantan karena dipindah tugaskan dari perusahaannya.
Bahkan untuk komunikasi saja jarang sekali karena disana susah jaringan.
[Senin depan aku libur, kita ketemu di rumahku aja.]
Send!
Setidaknya sekarang ada teman yang bisa dijadikan tempatku untuk mencurahkan kemelut permasalahanku.
Bersambung ….

Comentário do Livro (227)

  • avatar
    NaylaPutri nayla

    kpn bab selanjutnya

    21/05

      0
  • avatar
    Alya Alya

    bagus

    22/04

      0
  • avatar
    Hesti Wulandari

    ceria nya bagus

    07/12

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes