Sambil menikmati suasana pantai yang panas namun sejuk ini, kubuka ponselku dan kubuka akun sosial mediaku. Kufoto beberapa pemandangan termasuk suasana langit senja yang semakin indah. Seiring berjalannya waktu matahari mulai tergelincir dan sedikit demi sedikit menghilang. Semakin gelap tapi semakin indah, karena lampu sudah mulai dinyalakan maka pemandangan terindah mulai terlihat. City Night Lights. Bisa kulihat beberapa gedung, hotel dan apartemen di sekeliling Ancol ini menyalakan lampunya untuk menerangi malam. So beautiful. Semakin malam, semakin lapar. Saatnya aku mencari makan. Tempat makan favoritku di Ancol adalah di Bandar Jakarta. I love seafood and this place is like heaven. Selagi aku menikmati makanan, aku dikejutkan dengan satu pemandangan. “Sandi?!” kulihat Sandi masuk ke dalam restoran dan berjalan menuju tempatku berada. “Hai Sher.” Aku yang tidak percaya dengan keberadaannya di sini saat ini hanya bisa membelalakkan mata dan tidak bisa menjawab sapaannya. “Woy!” dia menjentikkan jarinya membuatku tersadar dari lamunanku. “Ngapain lo di sini San?” Tanyaku setelah aku berhasil menguasai diriku kembali. Sandi pun menarik kursi dan duduk di hadapanku. “Mau makan lah!” jawabnya dengan nada sedikit keras. “Yaudah makan aja sono kenapa di meja gue?” tanyaku ketus. “Ya kan lo ada di sini. Ngapain juga makan sendirian. Ada orang yang gue kenal, mending gue makan bareng aja kan.” Belum pernah aku mendengar Sandi berbicara dengan nada sesantai ini. Sandi pun memantapkan diri untuk tetap duduk di hadapanku dan memanggil pelayan untuk memesan makanan. “Mas mau cumi saos padang, tumis kangkung sama minumnya mau lime juice ya. Thank you. Oh iya nasinya setengah aja.” Dia pun menyerahkan buku menunya kembali ke pelayan. “Lo tau dari mana gue ada di sini San?” Tanyaku heran. “Dari IG lo lah. Emangnya gue cenayang yang tiba-tiba tau lo ada di mana dan lagi ngapain.” Jawabnya santai. “Lo kenapa bilang-bilang ke orang kalo gue lagi gamau diganggu hari ini?” tanyaku sambil menyuap udang ke dalam mulutku. Aku sedang malas untuk berdebat dan mengusir Sandi dari hadapanku. “Loh bener kan? Lo hari ini lagi bete? Gue hanya menyampaikan fakta ke orang-orang yang nyariin elo di kantor.” Ia mengambil potongan udang yang ada di hadapanku dan memakannya. “Lo emang tau dari mana gue dari bete?” cecarku. “Lah dari muka lo tu. Bengong mulu dari pagi. Trus apalah itu yang lo coret-coret di buku? David bukan nama cewe kan? Pasti nama mantan lo kan?” Seketika aku kehilangan nafsu makanku. Kubanting sendok dan garpuku ke atas piring. Masih terasa kesal setiap dengar nama itu disebut. “Eh maaf. Marah ya? Please don’t. Gak sengaja. Nebak aja gue itu mah. Abis gue gapernah liat lo sebengong itu waktu meeting.” Ujarnya membela diri. “San… Lo bipolar yak?” tanyaku dengan nada serius. “Sianj**g. Kalo marah bilang aja marah. Kenapa jadi ngatain gue bipolar.” Sandi meninggikan nada bicaranya pertanda dia benar-benar kesal. “Abisnya lo beda banget. Gak cocok lo jadi orang yang sok asik dan sok perhatian gini. Gak terbiasa gue. Mending kayak biasa aja, kayak di kantor.” “Itu karena lo gak pernah bergaul aja ama gue. Lo di kantor selalu di cubical. Keluar makan hampir gapernah. Di kantor paling ngobrol cuma sama Ilham dan Resti.” “Eh gak kebalik tu. Gue masih mending suka ngobrol sama Ilham dan Resti, eh gak juga kok, gue juga sering ngobrol sama om lo, pak Much. Elo yang kalo di kantor seriouslly act like a jerk. Jadi mana ada orang yang betah ngobrol sama elo. You’re a weirdo tau San.” “Hah masa?” ucapnya terkejut. Lalu pembicaraan kami terputus karena pelayan datang membawakan pesanan Sandi dan menatanya di meja kami. “Gue perasaan biasa aja kalo di kantor. Just try to be professional. Gamau terlalu mencampur adukkan urusan kerjaan dengan urusan pribadi. Jadi kalo gapenting-penting banget ya males bahasnya di jam kantor.” Ujarnya sambil menyunggingkan senyum. “Makanya hidup lo membosankan ya San.” Aku menghabiskan makananku dan meminta pelayan membersihkan piring kotor bekas makanku. “Iya, dulu hidup gue membosankan emang Sher. Tapi sejak gue kenal elo hidup gue kayak lebih berwarna gitu. Sejak beberapa bulan belakangan gw perhatiin elo diam-diam and found out that hidup lo seru banget. Di kantor walopun lo jarang keluar cubical tapi tetep punya banyak temen selain temen kantor. Gue sering liat lo ngobrol sama anak-anak lantai bawah. Trus kadang nebeng sama, siapa lah itu namanya gue gatau yang suka pake jaket merah, sampe ke stasiun. Trus postingan instagram lo juga seru-seru.” Ia menceritakan panjang lebar sambil terus menyuap makanan ke dalam mulutnya. Sedangkan aku, hanya bisa tercengang mendengar ceritanya. Tidak menyangka kalau dia memperhatikan kehidupanku dalam diamnya di kantor. Orang yang selama ini terlihat kaku dan menyebalkan saat di kantor, tetapi saat ini, di hadapanku kali ini, dia sama sekali berbeda. Seperti bukan Sandi yang aku tahu. Aku memang tidak terlalu mengenalnya, tetapi yang aku tahu, he is a jerk. Orang yang selalu menganggap remeh orang lain. Orang yang terlalu memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Saat ini bercerita bahwa selama ini dia memperhatikan kehidupanku dan bahkan media sosialku. Sungguh tidak dapat dipercaya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Bagus banget
17/05/2025
0bagus banget
08/04/2025
0bguss cerita ny
17/03/2025
0Lihat Semua