Sejak pertemuan dengan David, masa lalu itu terus menghantuiku. Di rumah, di kereta, bahkan sampai ke kantor. Di dalam kepalaku banyak sekali pertanyaan.
Apa rencana Tuhan dengan mempertemukan aku dengan David lagi? Apakah ada hubungannya dengan ketidaktuntasan hubungan kami di masa lalu?> Karena memang sejak saat terakhir di kantor polisi itu, aku sama sekali tidak mengijinkan David datang, ataupun menjelaskan apa yang terjadi. Aku block semua kontaknya. Aku pun berpesan kepada teman-temanku agar mereka tidak memberitahu keberadaanku. Aku yang saat itu dalam keadaan betul-betul kaget dan terpukul memang langsung memutuskan untuk pergi dari rumah, pergi ke luar kota bahkan keluar dari Indonesia untuk sementara waktu. Aku pergi mengunjungi saudaraku di Singapura dan ijin tinggal di sana untuk beberapa saat. Selain untuk menjernihkan pikiran, aku juga ingin mencari hiburan. “Sher! Wake up!” suara Sandi menghapus lamunanku. “Eh, maaf.” Kami sedang meeting dan sepertinya aku tidak fokus dan malah membayangkan banyak hal tentang David. “Tumben lo bengong Sher? Anything happened?” tanya Sandi dengan nada khawatir yang justru membuatku khawatir dan bingung. Karena tidak kusangka bahwa ternyata Sandi memiliki sisi seperti ini juga. Sebuah kekhawatiran terdengar dalam suaranya. “Hah? Engga, maaf distracted dikit. Where were we? Oke. Gue oke aja. Gue udah baca proposal lo, and I’m good with it.” Ujarku sambil membuka senyum. “Yakin gapapa Sher? Udah ngopi? Udah sarapan kan? Butuh gula?” tanyanya lagi. “Hah? Gapapa lah. Gue gak ngopi. Sarapan udah. No need sugar. Ayok lanjut dah. Banyak cingcong deh.” Jawabku sedikit ketus. “Minum dulu sana. Masih ada waktu 40 menit sebelum kita berangkat ke bu Susan. Kalo gak ngopi bisa ngeteh atau bikin coklat panas sana. Muka lo gak enak banget.” Timpal Sandi sambil membereskan berkas-berkas yang ada di meja. “Okey.” Aku langsung beranjak dan berjalan menuju pantry. Sesampainya di pantry, aku langsung menyeduh minuman coklat yang disediakan oleh kantor dan membawanya ke mejaku. Benar kata Sandi sepertinya aku tidak dalam kondisi baik-baik saja hari ini. Sampai di meja, aku pun melanjutkan lamunanku. Sungguh aku benar-benar terganggu dengan pertemuanku dengan David. “Some said, kenangan lama harus dihapus dengan cara membuat kenangan baru, Sher!” suara Sandi tiba-tiba ada di dekatku. Ternyata dia mampir ke mejaku sambil menyerahkan berkas-berkas yang harus kami bawa nanti. Tapi bukan itu yang membuatku kaget. “Hah? Lo ngomongin apaan?” tanyaku terkejut karena ucapannya seolah dia bisa membaca pikiranku. “Tuh. Liat. Banyak coretan di notebook lo. Liat tulisannya. Sudahlah, lupain Sher. Kerjaan kita banyak tau!” ucapnya sambil berlalu pergi dari mejaku. Ternyata secara tidak sadar, aku menuliskan nama David dan kata-kata makian di notebookku. Bagaimana bisa sebuah pertemuan menghancurkan hariku. Merusak konsentrasiku. I need a break. Aku segera menghampiri Sandi sambil membawa berkas yang sebelumnya diberikan kepadaku. “Sandi…” “I know. Gue sendiri aja ketemu bu Susan. Santai aja deh. Benerin dulu pikiran ruwet lo. Daripada ntar malah ngelantur meeting sama bu Susannya.” Sandi meminta berkas yang kubawa, dan aku memberikannya tanpa ragu. Tetapi aku malah kembali dikejutkan dengan sikap Sandi. Tidak menyangka ternyata dia seperti ini. Karena yang ada di pikiranku, dia adalah orang yang dingin dan tidak memikirkan orang lain. Tapi ternyata sebaliknya hari ini dia banyak mengejutkanku dengan beberapa perhatian kecilnya. *** Kemana aku harus melarikan diri kali ini? Tapi apakah aku harus melarikan diri? Apakah aku melakukan kesalahan? Tidak! Jadi kenapa harus melarikan diri? “Aduh, maaf mba.” Seorang bapak menyandung kakiku. Aku sedang berada di krl tujuan Jakarta Kota. Sambil memikirkan tujuan untuk melarikan diri yang seharusnya tidak aku lakukan. Tidak ada alasan untukku melarikan diri dari masa lalu yang tiba-tiba datang. Tidak ada juga alasan untuk merasa sakit hati dan atau merasa sedih melihat David. Sudah lama semua rasa ini berlalu. Tapi entah mengapa hati dan pikiran ini merasa tidak tenang sejak bertemu dengannya. Drrrrt… drrrtt… Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk dan nama Ilham tertera di layar. “Hm?” Jawabku malas. “Lo kemana Sher? Butuh temen gak?” Ilham mengecek keadaanku. “Gausah. Lah. Eh, lo kok nanya gitu? Tau darimana gue pergi?” tanyaku heran, karena seingatku aku tidak membicarakan kepergian dan kegelisahanku dengan siapapun setibanya aku di kantor. Hanya Sandi yang sepertinya mengetahui keadaanku yang sedang tidak baik-baik saja ini dan itu pun sepertinya ia memiliki ilmu cenayang karena bisa tahu hanya dengan melihatku tanpa menanyakan keadaanku secara langsung. “Dari Sandi. Dia bilang ke orang-orang katanya lo hari ini ijin karena lagi bad mood.” Kesal aku mendengar jawaban Ilham. “Sialan. Sotoy banget dia bilang gue lagi bad mood.” “Lah emang sebenernya gimana? Kalo gak bad mood ngapain lo pergi?” tanya Ilham lagi. “Bad mood nya sih bener. Tapi kenapa juga dia bilang ke orang-orang?!” omelku. “Yee… orang-orang pada nyariin elu. Trus Sandi bilang “Jangan pada gangguin Sherly dulu hari ini. Dia lagi bete. Biarin dia semedi dulu biar tenang biar besok dia mood nya bagus dan bisa kerja bener lagi.” Gitu katanya.” Ilham memberi penjelasan yang membuatku makin terkejut. “Serius Sandi bilang gitu?” Tanyaku tidak percaya. “Auk ah. Yaudah. Denger lo masih bisa ngegas gitu berarti lo baik-baik aja. Yaudah. See you tomorrow.” Ilham menutup teleponnya. Benarkah semua yang diceritakan Ilham tadi? Seorang Sandi bisa berkata seperti itu? Benarkah itu semua? Dia mendukungku, dan menutupi absenku dan bahkan seperti memberikan peringatan pada orang-orang seperti itu? What a surprise. [Stasiun Jakarta Kota] Suara dari speaker kereta menandakan bahwa kereta yang kunaiki sudah tiba di stasiun Jakarta Kota. Apakah aku harus turun? Atau lebih baik aku kembali langsung ke rumah karena sering kali rumah adalah pilihan terbaik saat kita sedang galau. Tapi kuputuskan untuk turun di stasiun. Sepertinya aku ingin turun di sini. Aku ingin melihat laut, walaupun laut Ancol tidak sebersih atau seindah laut di Bali tapi aku butuh udara segar. Tapi apakah udara di Ancol udara segar? Sepertinya tidak juga tapi ya lumayan lah. Setidaknya dengan adanya suasana baru siapa tahu bisa merubah suasana hatiku juga. Kupesan ojek online dan kutunggu di halte depan stasiun. Sambil menunggu kuputuskan membeli jajanan yang ada di samping halte. Kepulan uap yang keluar dari kukusan yang ada di atas gerobak membuatku tidak tahan untuk tidak membelinya. Kubeli dua buah bakpao isi coklat dan kacang hijau untuk cemilan dan kumakan sambil menunggu ojek onlineku datang. “Mba Sherly?” seorang pengemudi ojek online memanggil namaku di depan halte. “Ya mas.” Aku lantas menyimpan bakpaoku ke dalam tas dan berjalan menghampiri si abang ojol. Aku pun langsung menggunakan helm yang disodorkan kepadaku dan menaiki motornya. “Ke Ancol ya mba?” tanya si pengemudi. “Iya mas. Nanti saya yang bayar uang masuknya bang. Anterin saya sampe ke pantai carnaval ya.” Pintaku. “Oke mba.” Si abang pung langsung melaju motornya dengan kecepatan yang cukup cepat sehingga aku pun bisa sampai di pantai dengan lebih cepat. Pikiranku terasa kosong saat di atas motor. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Alasan kenapa aku harus melarikan diri, kenapa aku akhirnya ke Ancol, kenapa tidak pulang ke rumah saja, dan lainnya, aku tidak bisa memikirkan jawabannya. “Makasih ya bang.” Begitu turun langsung kulepas helmku dan mengembalikannya kepada si pengemudi. Cukup ramai keadaan pantai Ancol saat itu. Sepertinya banyak orang yang sedang butuh liburan dan hiburan. Saat ini waktu menunjukkan pukul 3 sore dan cuaca sangat bagus tanpa ada awan mendung sedikitpun yang menggantung di langit. Hanya ada langit biru dan awan putih yang menyelimuti. Suara anak kecil yang berlarian di pantai dan beberapa orang tua yang mulai meneriaki anak mereka yang sedang bermain di pinggir laut. Angin pantai yang berhembus pun menyapu wajahku dan sedikit tercium aroma laut yang menyenangkan, sedikit amis namun tetap memiliki aroma yang menenangkan untukku. “Aju joha.” (sangat menyenangkan)
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Bagus banget
17/05/2025
0bagus banget
08/04/2025
0bguss cerita ny
17/03/2025
0Lihat Semua