Jason yang sedang bersama dengan pria tua itu merasa penasaran dengan apa yang baru saja di katakan olehnya. Dirinya mencoba untuk menanyakannya kepada pria tua tersebut dan pria tua itu hanya terdiam lama di samping Jason. Pria tua itu menatap ke arahnya dan seketika dirinya mulai mengucapkan sepatah kata kepada dirinya. Beberapa lama kemudian pria itu menceritakan kisahnya di masa lalu. Di hari itu, tepatnya 12 tahun yang lalu. Pria itu berprofesi sebagai guru musik. Dirinya sudah lama mengabdikan diri di bidang tersebut dan memiliki banyak murid. Pria tersebut bernama Pherez. Saat itu, dirinya sedang berada di sebuah kelas tempat dirinya mengajar. Hari-hari yang begitu menyenangkan terjadi. Semua muridnya mengikuti pelajaran dengan baik dan menghormatinya. Satu bulan kemudian, Pherez membawa tiga orang muridnya untuk mengikuti kompetisi. Di hari itu, mereka terlihat berbahagia dan mengikuti kompetisi tersebut. Dan muridnya itu menang dalam acara itu. Pherez yang tentu saja senang akan hal itu membuatnya semakin tenggelam dalam industri itu sehingga dirinya menjadi orang yang cukup berpengaruh. Satu tahun berlalu, dirinya yang tengah berada di ruangan pribadinya di sebuah sekolah seni. Di sana, dua orang berpakaian jas hitam datang menemuinya mereka terlihat seperti seorang pengawal. Pherez yang kemudian menemui orang tersebut dan mereka kemudian membawa seseorang bersamanya. Orang itu datang bersama dengan mereka berdua. Di dalam ruangannya, orang tersebut duduk dengan santai dan kemudian mengatakan beberapa kata kepadanya. Awalnya dirinya mengira bahwa mereka datang untuk menangkapnya tapi justru malah sebaliknya. Mereka terlihat mengobrol dengan dirinya dan membicarakan mengenai sekolah miliknya itu. Tidak lama kemudian, orang tersebut tersenyum dan mengatakn sesuatu kepada Pherez yang ada di dalam ruagan tersebut. “Mimpimu memang luar biasa tuan Pherez. Saya mengagumi apa yang anda lakukan,” ucap orang tersebut kepadanya. Pherez kemudian menjawab dengan santai. “Saya ucapkan terimakasih kepada anda. Saya tidak menyangka anda akan mengatakan begitu.” “Tentu saja aku akan mengatakan itu. karena kita sama.” “Ya?” “Sudah waktunya saya pergi. Saya permisi.” “Ah, iya tentu.” Setelah satu jam lamanya mereka berbincang, orang itu bersama dengan kedua pengawalnya pergi meninggalkan ruangan Pherez. Dirinya yang berpikir positif kemudian menjalani kesehariannya seperti biasa. Dan juga dirinya sudah melahirkan banyak sekali musisi muda saat itu. Satu tahun kemudian, tepatnya pada hari itu. ketika semua orang sedang berbahagia menyaksikan pertunjukan yang di adakan di sebuah gedung teater. Di sana, banyak sekali orang yang berdatangan dan mereka sangat antusias akan hal tersebut. Begitu juga dengan dirinya. Di tempat ini dirinya menonton pertunjukan dan karena suatu alasan Pherez harus pulang lebih awal. Dirinya kemudian meninggalkan tempat tersebut dan pergi menuju ke suatu tempat. Ketika semua orang sedang berbahagia dan menikmati pertunjukan menakjubkan, di sana lah semuanya berakhir. Seisi kota di hari yang sama mengalami tragedi yang mengerikan. Ledakan muncul di berbagai tempat dan salah satunya adalah di gedung teater tersebut. Di sana, banyak sekali korban berjatuhan. Pherez yang saat itu sedang dalam perjalanan, dirinya menghentikan laju mobilnya dan kemudian berlari untuk menolong orang-orang. Kejadian yang tidak bisa di jelaskan dengan akal sehat. Tanpa di sadari, dirinya juga terkena puing bangunan dan di larikan ke rumah sakit. Saat ini, Pherez hanya terdiam dan seketika membuat Jason kesal. Dirinya melihat ke arah sungai yang mengalir deras. Kemudian terdiam dalam waktu yang cukup lama. Jason juga mulai tidak bisa mengontrol dirinya dan kemudian mengatakan sesuatu kepadanya. “Apa maksudmu? Memangnya apa yang terjadi?” ucap Jason. “Mimpi buruk. itu lah yang sebenarnya terjadi.” “Apa? mimpi buruk?” Pherez kemudian mengangguk sambil melihat ke arah Jason. Tiba-tiba saja, dirinya teringat akan hari itu. Hari di mana dirinya seolah akan mati dan kemudian seseorang muncul di hadapannya dan menghilang di telan cahaya. Banyangan itu terus terulang dan Jason juga sempat mendatangi psikolog untuk berkonsultasi. Pherez kemudian mendekatinya dan mulai berbicara lagi. “Kau bingung? Iya wajar saja. Semua orang akan seperti itu.” “Kali ini apalagi maksud anda?” “Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” “Itu... tentu saja ada. Hanya saja aku masih belum mengerti dengan semua yang terjadi.” “Apa yang kau tidak mengerti?” “Semuanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu. aku hanya melihat ilusi dan kemudian lenyap lagi setiap harinya terus seperti itu hingga diriku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan bukan. Aku bisa gila jika berlama-lama seperti ini. Apa yang harus ku lakukan?” “Kau hanya perlu menerimanya.” “Apa?” “Kenyataan yang ada di hadapanmu. Semuanya harus kau terima walau itu menyakitkan.” “Tuan, pekerjaanmu bagaimana sekarang?” “Aku hanya pemilik sebuah toko.” “Begitu rupanya. Oh iya, memangnya kenapa semua orang di larang memainkan musik? Apa itu sebuah dosa?” “Karena ada alasannya.” “Apa itu?” “Sampai saat ini, sebagian orang hanya berhipotesis. Jadi cukup meragukan.” “Memangnya apa lagi itu?” Setelah perbincangan mereka yang cukup lama, akhirnya Pherez meninggalkan Jason yang ada di sana dan pergi begitu saja. Jason yang masih duduk dan kemudian beranjak dari tempat duduk tersebut hingga dirinya juga memutuskan untuk pergi. Jason menuju ke rumahnya dan kemudian dirinya sampai di depan pintu rumahnya. Dengan perlahan, Jason membuka pintu rumahnya dan dirinya kemudian mencoba untuk mendapatkan suatu hiburan dengan memainkan pianonya. Alunan melodi terdengar di ruangannya itu dan tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Jason lalu melihat siapa yang menelponnya dan kemudian mengangkat panggilan tersebut dengan cepat. “Halo?” ucap Jason. “Halo, Jason apa ini kau?” “Ya. Memangnya ada apa kau menghubungiku?” “Ah, kau ini dingin sekali. kapan kau akan pergi ke sini? Kami merindukanmu loh.” “Nanti saja jika ada waktu.” “Rupanya kau sesibuk itu ya? Yasudah.” Orang yang menelponnya tidak lain adalah bibinya yang tinggal di distrik 88 kota ini. Jason sudah lama tidak datang mengunjungi mereka dan karena itu lah bibinya menelponnya. Setelah Jason selesai berbicara dengan kerabatnya itu, dirinya kemudian melihat beberapa forum mengenai alasan tidak di perbolehkannya bermain musik. Jason dengan tekun mencoba untuk mencari informasi tersebut di situs internet. Tidak terasa hari sudah mulai sore. Jason masih berada di depan monitor. Meski sudah lama mengulik informasi tersebut, nyatanya tidak ada jawaban yang di inginkannya. Jason kemudian menghela nafas panjang dan seketika merasa frustrasi di buatnya. Orang-orang yang berada di forum internet sulit di percaya bahwa mereka juga tidak memiliki informasi seputar itu dan hanya berisi berita masa kini dan beberapa yang tidak menarik. Di tempat yang berbeda di sebuah kediaman milik Charlotte. Dirinya yang terlihat sedang membuka web tertentu dengan serius dari ekspresi wajahnya. Charlotte yang masih memiliki ambisi untuk mengungkapkannya menjadikan dirinya harus bekerja keras mendapatkan sebuah informasi yang di inginkan olehnya. Ketika dirinya sedang asik dengan pekerjaannya itu, seseorang mengirimkan sebuah pesan teks kepada dirinya yang berisikan sesuatu. Charlotte dengan cepat membaca pesan tersebut dan kemudian dirinya terkejut. Tidak lama kemudian, dirinya melihat ke arah monitor dengan pandangan yang cukup serius bersamaan dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak mempercayai apa yang baru saja di sampaikan oleh orang tersebut dan kemudian mengecek kembali ponselnya itu. “Ini... apa maksudnya?” gumam Charlotte. Ke esokan harinya. Jason baru bangun dari tidurnya dan dirinya kemudian mempersiapkan diri untuk pergi kuliah. Selama dirinya bersiap, ternyata ada beberapa notifikasi yang masuk ke ponselnya dan membuatnya merasa risau. Satu jam kemudian, dirinya sudah berangkat dari rumahnya itu dan menuju ke halte bus. Semua orang yang ada di kota ini lebih banyak menggunakan transfortasi umum karena menurut mereka lebih nyaman. Jason yang sudah berada di dalam bus tersbut, dirinya duduk di kursi belakang dan kemudian memeriksa ponselnya yang dari tadi terus berdering. Rupanya itu adalah pesan dari grup chat teman satu kelasnya. Hari ini Jason mengawali pagi dengan tenang sampai memasuki kelas dan juga ketika kembali ke rumahnya. Teman-temannya yang ada di kampus itu melihat dirinya sebagai anak jenius dan sering kali meminta pendapatnya untuk konsultasi mengenai pembelajaran. Setelah dirinya pulang, kali ini Jason memutuskan untuk bertemu dengan seseorang dan dirinya sebelumnya sudah mengadakan janji. Jason yang kini sudah berada di suatu tempat kemudian memasuki sebuah ruangan yang ternyata itu adalah ruang konseling psikologi. Jason kemudian duduk di hadapan dokter dan dirinya mulai mengatakan sesuatu kepadanya. “Dokter, saya memutuskan untuk melakukan suatu terapi apa itu memungkinkan bagi saya?” ucap Jason kepada dokter dengan ekspresi wajah yang terlihat memohon. “Apa yang anda rasakan?” “Banyak sekali hal-hal yang terlintas dalam bayangan saya. Semuanya terlihat sama dan lagi itu tidak terlalu jelas. Apa yang terjadi kepada saya?” “Coba anda ceritakan lebih jelasnya. Mungkin saya dapat membantu.” “Baiklah.” Jason kemudian mencoba untuk menjelaskan semuanya dan dokter memperhatikannya dengan serius sambil menuliskan diagnosa ke dalam laporan medis miliknya. Jason tidak berhenti bercerita hingga akhirnya dokter menghentikannya yang dari tadi terus berbicara panjang lebar. “Baiklah apa sudah cukup?” ucap dokter kepada Jason. “Iya, saya rasa hanya itu yang bisa saya ingat selebihnya tidak terlihat dengan jelas. Charlotte yang kini berada di perjalanan menuju ke lokasi penyiaran. Dirinya dengan cepat datang ke sana. Rekan kerjanya yang lain sudah menunggunya dan dirinya kemudian mulai melakukan siaran berita di studio. Siaran berlangsung dengan baik dan tidak lama kemudian, siaran pun selesai. Tidak terasa semuanya berjalan dengan cepat sesuai dengan target. Charlotte yang kemudian duduk dan beristirahat, seseorang datang menghampirinya dan kemudian mengatakan sesuatu kepadanya dengan berbisik. Charlotte yang mendengarnya langsung terdiam dan melihat wanita tersebut. Wanita itu adalah rekan kerjanya yang juga merupakan penulis berita di perusahaan tempat dirinya bekerja. “Apa kau tidak salah mengatakannya?” ucap Charlotte dengan ragu.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
baguss
21/09
0teruslah berkarya.
08/01/2025
0Real
02/07/2024
0Lihat Semua