Mereka berdua yang kini terlihat sedang mengobrol itu tiba-tiba seorang pria tua tersebut mengajaknya berbicara. Dean yang merasa dia sedikit berbahaya dan sekarang ini sedang berada di hadapannya. Pandangannya yang terlihat serius itu tidak lama kemudian berubah menjadi biasa saja. Dean yang melihatnya seperti itu membuatnya merasa bingung dan berusaha untuk memahami situasi yang membuatnya terlihat seperti berada di dalam perangkap tikus. Di saat yang bersamaan pula, pria tua itu mulai membicarakan sebuah topik yang membuatnya merasa tersentak seketika. Di hari ini, dia seakan tenggelam dalam sebuah kesialan yang membuatnya tidak akan bisa lari darinya. Dean terus memandangi pria tersebut dengan tatapan yang terlihat serius. “Kau tahu? Kenapa aku membawamu kemari?” ucap pria tersebut kepada Dean yang ada di depannya itu. Dengan santai, Dean pun menjawabnya. “Karena anda mengundang saya. Bukankan ini terlihat jelas?” “Ah, kau pintar juga rupanya.” ‘apa-apaan dia ini,’ batin Dean “Apa anda akhir-akhir ini sering pergi melakukan judi?” “Hanya sedikit. Apa kau menginginkan sesuatu?” “Kurasa ada beberapa pertanyaan yang membuat saya penasaran hingga sekarang ini.” “Apa yang ingin kau tanyakan?” “Apa pekerjaan anda?” “Ah, kau mengatakan sesuatu yang membuatku merasa khawatir saja. Seperti yang kau lihat sebelumnya, aku hanyalah seorang pebisnis.” “Saya paham dengan apa yang anda katakan.” “Baguslah. Apa kau memang sekarang sedang mencari sesuatu?” “Saya rasa, saya hanya penasaran akan suatu hal dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan anda.” “Benarkah? Apa yang membuatmu penasaran?” “Apa saya harus mengatakan semuanya?” “Katakan saja jika kau menginginkannya.” “Baiklah. Kalau begitu.” “Dan lagi bocah sepertimu, kenapa bisa terjun ke dalam dunia itu.” “Apa?” “Wajar saja kau merasa terkejut. Dasar bocah-bocah.” “Saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan.” “Lupakan saja.” “Kenapa?” “Bukankah kau sendiri juga tidak mengerti? Jadi percuma saya ku katakan.” “Saya hanya berpikir tenntang sesuatu yang terjadi saat ini. Apakah anda mengetahuinya? Atau justru sebaliknya?” “Kejadian akhir-akhir ini ya. Menarik.” “Kenapa anda berbicara seperti itu tuan?” “Menurutmu kenapa bisa terjadi?” “Tidak.” “Tentu saja pasti berpikir ada seseorang yang melakukannya di belakang. Semacam sebuah perintah. Apa kau berpikir seperti itu?” “Itu...” “Ternyata memang benar. kau berpikir seperti itu hingga membuatku merasa terlihat seperti sedang di introgasi. Apa tujuanmu?” “Hah, ternyata anda memang sudah menyadarinya sejak awal ya. Ini sulit juga.” “Kedatanganmu saja sudah membuatku merasakan hal itu. kau terlalu kenatara nak.” “Apa yang anda katakan barusan?” Pria tua tersebut menyadari maksud dan tujuannya datang ke sana. Dean yang merasa terkejut dan terus melihat pria yang ada di hadapannya itu dengan pandangan yang terlihat mengejutkan. Dengan perlahan dia menelan ludahnya dan mencoba untuk tetap tenang. Pria itu kemudian meneguk alkohol yang ada di depannya dengan santai dan tiba-tiba saja dia membawa sebuah dokumen yang membuatnya semakin aneh akan tingkahnya itu. Pria tua yang tinggal seorang diri di tempat ini ternyata dia memiliki keluarga yang membuatnya merasakan empati dalam sekejap. Di balik dokumen tersebut terlihat beberapa foto dirinya besama dengan anggota keluarganya itu. Mereka terlihat berbahagia dan tidak lama setelahnya, dia tiba-tiba saja terlihat murung begitu membuka lembaran album foto yang ada di depannya itu dengan perlahan. “Maaf sebelumnya, apakah ini...” ucap Dean yang belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi sudah terpotong oleh pria tua tersebut. “Mereka semua lenyap.” “Apa? bagaimana bisa?” “Invansi yang terjadi akhir-akhir ini, membuat mereka lenyap. Kau tahu apa artinya ini? Semua orang sudah kehilangan sesuatu yang berharga bagi mereka.” “Tidak mungkin.” “Aku mengerti kau datang kemari untuk apa. hanya saja, apa yang kau cari tidak ada di sini.” “Anda. Tidak apa-apa?” “Untuk saat ini diriku merasa baik-baik saja. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Aku tidak bisa mengendalikan itu. Dan kau juga, sebaiknya jaga dirimu.” “Maaf tuan. Ada yang membuat saya tidak paham.” “Iya?” “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa banyak sekali warga sipil yang menghilang? Dan lagi mereka itu siapa?” “Jika kau bertanya soal itu, aku tidak memiliki informasi yang cukup.” “Tidak masalah. Sedikit informasi saja sudah cukup bagi saya.” “Dengar anak muda, semua yang terjadi di kota ini pasti akan terjadi juga di belahan kota yang lain. mereka datang seolah sedang mengumpulkan sesuatu. Untuk itulah, mau tidak mau harus memberantas mereka.” “Jadi ini semacam terorisme.” “Mereka bukan hanya teroris tapi lebih seperti penculik?” “Hah?” “Beberapa orang dinyatakan menghilang setelah penyerangan itu bukan? Aku sudah melihatnya di berita.” “Ya. Itu benar.” “Dengan kata lain, ini memang bukan penyerangan biasa. Ngomong-ngomong apa pekerjaanmu?” “Saya hanya seorang agen.” “Kau polisi rupanya. Ini mengingatkanku dulu.” “Jadi, anda sebelumnya tergabung di polisi?” “Ya. Lebih tepatnya tim kejahatan dan kekerasan. Tapi sekarang aku sudah pensiun jadi semua itu bukan lagi urusanku.” “Ah, saya baru tahu soal itu.” “Tentu saja. Karena aku yang mengatakannya sekarang.” Dean yang masih berada di dalam kediaman pria tua itu, dia terlihat berbicara banyak hal dan mendengarkan apa yang di katakan oleh pria tersebut. Sementara itu, saat ini di suatu tempat yang masih berada di negara ini. Beberapa kelompok orang sedang berkumpul di salah satu tempat yang terlihat seperti markas rahasia. Di sana, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Di balik dinding yang terlihat seperti markas itu, terdapat sebuah ruangan gelap yang berisikan banyak sekali warga sipil yang terlihat ketakutan dan mereka meminta tolong. Beberapa di antaranya adalah wanita dan pria muda. Lorong gelap yang terdapat di sana terdengar bunyi langkah kaki seseorang dan membuat mereka yang berada di dalam sel tahan ketakutan yang terlihat mengeluarkan keringat dingin. Sauara langkah kaki itu semakin keras dan hingga akhirnya orang itu muncul di hadapan mereka tepatnya di balik sel penjara. Salah satu rekan mereka membukakan sel tersebut dan mengambil salah satu dari tahanan itu. Mereka yang melihat hal tersebut tentu saja terlihat ketakutan dan sekarang ada beberapa yang menangis. “Bawa dia,” ucap seorang pria yang terlihat seperti pasukan itu. “Baik tuan.” “Tunggu, kumohon bebaskan kami,” ucap seorang wanita yang di seret oleh pria tersebut sambil menangis ketakutan. Kedua orang tersebut langsung membawanya menuju ke sebuah ruangan. Sementara itu, di pusat kota saat ini. Mereka sedang menjalani kehidupan seperti biasanya tepat setekah penyerangan itu terjadi. Semua orang yang masih panik, mereka mengurung dirinya di rumah dan tidak sedikit juga yang mulai menjalani hari dengan semestinya. Penyerangan yang mengakibatkan banyak korban jiwa membuat tim medis datang ke lokasi dan mengumpulkan korban jiwa. Di saaat yang bersamaan, di sebuah rumah sakit. Robert masih berada di sana dan sekarang dia terihat terkejut begitu mengetahui kabar penyerangan itu. Dirinya dengan perlahan mulai mengingat orang-orang yang menyerangnya pada malam pesta. Di sana, dia terlihat memperhatikan beberapa orang yang berpakaian seperti prajurit dan tidak lama setelahnya dia langsung kehilangan kesadarannya. Tepat di depan matanya kini, beberapa orang di bawa ke rumah sakit tersebut dan mereka memiliki banyak luka di tubuhnya. Robert yang melihat itu seketika dia hanya terdiam dan dia tidak bisa bergerak. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Romani yang tiba-tiba datang menghampirinya “Dokter, apa yang sebenarnya terjadi?” “Ada penyerangan di pusat kota.” “Penyerangan? Kenapa bisa terjadi?” “Soal itu, aku tidak tahu pasti karena berada di sini. Apa kau melihat beritanya?” “Ya. Aku melihatnya dan ini terlihat mirip dengan waktu itu. apa yang mereka lakukan?” “Ternyata kau masih mengingatnya ya.” “Mana myungkin aku melupakannya begitu saja.” “Oh iya, kau sudah bisa berjalan rupanya.” “Aku tidak berjalan. Tapi menggunakan kursi roda,” ucap Robert yang terlihat kesal “Kalau begitu mari jalan-jalan. Ada sesuatu yang harus ku beritahukan padamu.” “Ada apa?” Romani kemudian mendorong kursi rodanya dan mereka terlihat sedang menyusuri koridor rumah sakit. Sesuai yang di janjikannya, Romani mengatakan sesuatu kepada Robert dan itu membuatnya tidak bisa menerima kenyataan. Di sisi lain, dia juga merasakan kesakitan yang memang tidak memungkinkan untuk pulih dalan waktu singkat. Robert yang terlihat menyalahkan dirinya itu kemudian dia merasa kesal dan tidak berhenti menggertakan giginya. Romani yang menyadari itu, dia hanya terlihat bersabar dan mendorong kursi rodanya itu ke dalam ruangannya. Sesampainya di sana, dia membantu Robert untuk berpindah ke beda dan menyuruhnya untuk beristirahat. Romani sengaja memberitahukannya karena itu memang harus di laukan. Setelah dia selesai membantu Robert, tiba-tiba saja dia mengatakan sesuatu kepadanya lagi. “Kau tidak perlu merasa bersalah. Apa yang terjadi memang tidak bisa di prediksi. Mengenai kondisimu saat ini, sebaiknya kau menjalani apa yang di rekomendasikan oleh pihak rumah sakit.” “Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. tapi, di mana Rozal?” “Anak perempuan itu baik-baik saja. Kau juga nanti akan bertemu dengannya. Untuk saat ini kau hanya perlu fokus dengan pengobatanmu saja dan jangan memikirkan yang lain.” “Apa dia sepertiku?” “Tidak. Dia sangat sehat.” “Sungguh?” “Tentu saja. Karena pemulihannya sangat cepat dan lagi sepertinya anak itu memiliki kelebihan yang tidak di miliki oleh orang lain.” Saat ini tepatnya di sebuah markas organisasi yang terdapat Rozaline. Di sini dia terlihat sedang bersiap untuk menjalani misinya. Namun, dia yang sedang mulai bersiap ini tiba-tiba saja dia merasa ragu dan nyaris membatalkan misinya itu. Ketika dia terlihat plin plan dan ingin sekali merubah pendiriannya itu, dia teringat akan dirinya yang dulu. Di mana saat itu dia hanya berada di balik dinding rumahnya dan hanya melihat dunia luar dari balik jendela. Rasanya sungguh membosankan. Dunia luar yang belum pernah di laluinya dalam dirinya dia sangat berharap agar bisa terbang bebas dan melakukan banyak hal. Di sini lah tepat di depan matanya saat ini.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
sangat bagus
28/10
0cerita ya bagus
29/08
0cerita yg sangat menyenangkan
17/09/2024
0Lihat Semua