Dini hari tepatnya di sebuah tempat yang merupakan rumah sakit tempat Romani bekerja. Di sini, semua orang terlihat tenang dan mereka sedang melanjutkan pekerjaannya. sementara di luar sana, orang-orang sedang dalam bahaya karena terjadinya sebuah penyerangan yang di lakukan oleh beberapa orang yang di duga merupakan kelompok kejahatan. Mereka dengan kejam membantar warga yang berada di distrik 67 dengan alasan yang tidak jelas. Salah satu orang yang selamat dari kejadian itu kemudian di bawa ke kantor pusat keamanan. Di sana, seorang wanita yang merupakan pekerja di toko roti dirinya beruntung karena begitu akan di serang sekelompok penjahat tersebut, pihak keamanan langsung datang menolongnya. Dengan wajah yang masih di penuhi dengan ketakutan, wanita tersebut mencoba untuk menjelasakan apa yang di saksikannya kepada mereka. Pihak keamanan juga mendengarkan penjelasan darinya dan kemudian wanita itu di bawa ke tempat yang aman. Setelah kejadian besar tersebut terjadi, reporter mulai menyebarkan berita tersebut bahkan sampai ke penjuru negeri. Mereka yang melihat siaran tersebut kemudian merasa cemas akan hidupnya yang secara tidak langsung mulai terancam akan bahaya. Pihak penyelidik yang ikut menangani pembantaian tersebut kemudian mereka berdiskusi dengan pihak keamanan mengenai apa yang terjadi saat ini. Mereka terlihat serius dengan membicarakannnya di ruangan rapat. Tidak lama kemudian, seorang pria muda yang bernama Dean itu memasuki ruangan tersebut dan dirinya berbincang dengan beberapa anggota tim keamanan. “Bagaimana pun juga kami berhutang budi kepada kalian,” ucap salah satu anggota kepolisian pihak penyelidik. “Tidak perlu sungkan. Kami hanya datang untuk memenuhi misi kami,” sahut Dean “Apa kalian juga merasa ada yang aneh dengan semua ini?” “Ya. Benar. ini tidak terlihat seperti sebuah kebetulan.” “Kami berhasil menolong yang selamat. Tapi sayangnya tidak ada yang bisa kami tangkap. Mungkin ini terdengar memalukan.” “Tidak masalah. Beberapa diantara mereka sudah tewas dan lagi begitu kami muncul mereka seakan mundur begitu saja. Apa arti dari semua itu?” “Mundur?” “Benar. kami melihatnya begitu. Tapi, ini bukanlah sebuah akhir. Dengan senang hati kami akan menangkap mereka dan lagi, sepertinya ada sesuatu yang mereka incar.” “Baiklah. Kami paham yang anda maksud. Terimakasih banyak.” “Ya. Saya permisi dulu.” Dean kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan kini dirinya dengan terburu-buru berjalan meninggalkan kantor polisi. Di saat yang bersamaan tepatnya di markas tempat Rozaline berada. Di sana, dirinya sedang sibuk dengan latihannya sebagai sniper. Tuan Logan juga melihat perkembangannya yang begitu pesat dan setelahnya langsung memanggil Rozaline ke hadapannya. Rozaline kemudian pergi menuju ke sebuah ruangan utama. Di sana, terlihat banyak sekali monitor yang memperlihatkan rekaman CCTV beberapa ruangan di gedung tersebut. Rozaline sekarang berhadapan dengan Logan dan mereka mulai membicarakan suatu hal. “Kau sudah datang?” ucap Logan sambil berdiri dari tempat duduknya. “Ya. Ada apa memanggil saya?” “Baiklah. Akan langsung ku beritahu. Besok kau akan mulai menjalani misi. Jadi bersiaplah.” Logan kemudian mengatakan misi yang di berikan kepada Rozaline. Dirinya dengan seriaus mendengarkannya dan kemudian menyetujui hal tersebut. Setelah itu, Rozaline kembali ke tempat latihannya begitu selesai berbicara dengan Logan. Di dalam ruangannya, Logan kemudian menghela nafas panjang dan melanjutkan pekerjaannya itu. Tepat di sebauh tempat yang merupakan gedung perusahaan besar di kota ini. Sebuah perusahaaan yang bergerak di bidang farmasi. Di dalam sana, banyak orang-orang yang berkerja mengembangkan sebuah obat. Di dalam laboratorium beberapa orang mulai meneliti sekaligus meracik pengembangan obat tersebut. Mereka terlihat teliti dan ada seorang pria yang memakai jas laboratorium sambil membawa satu sempel obat tersebut kepada salah seorang pemimpin mereka. Di sana, pria tersebut kemudian memperlihatkan obat tersebut kepada pimpinannnya dan orang itu mengangguk sambil menyuruhnya untuk terus mengembangkannya. Tidak lama kemudian, seorang ahli farmakologi datang menghampirinya dan mengatakan sesuatu kepada pria tersebut. “Apa yang di katakan oleh ketua?” ucap orang tersebut. “Beliau menyuruh untuk melanjutkan pengembangannya. Hanya itu saja.” “Baiklah. Terimaksih informasinya.” “Tentu saja, senior.” Keduanya kembali melakukan tugasnya. Di tempat yang terlihat seperti sebuah penjara. Ruangan yang di penuhi dengan jeruji besi. Di balik jeruji tersebut terdapat salah satu orang yang terlihat memberontak. Pandangannya terus memandang yang di penuhi dengan amarah. Salah satu pekerja mereka kemudian membawa pria tersebut ke dalam sebuah ruangan dan mengikatnya di bed. Pria tersebut terlihat memberontak namun tidak dapat melarikan diri. Dua orang pekerja yang memakai pakaian laboratorium itu kemudian memasukan sesuatu cairan ke dalam sebuah suntikan dan kemudian menyuntikan cairan tersebut ke vena pria tadi. Beberapa menit kemudian pria itu pinsan dan saat itu juga pekerja tersebut menyuntikannya dengan cairan yang lain. setelah itu, mereka membiarkan pria tersebut di dalam ruangan yang terlihat seperti ruang operasi. Di suatu tempat, seseorang sedang memperhatikan rekaman CCTV yang memperlihatkan beberapa orang yang sedang bekerja di sebuah laboratorium pusat farmasi. Mereka yang terekam di CCTV terlihat sedang melakukan pekerjaannya dengan baik. “Ini bagus sekali. produksinya tentu saja akan sangat membanggakan,” gumam seorang pria yang melihat CCTV. Dean yang saat ini hendak pergi ke suatu tempat dan mulai menyelidiki penyerangan yang terjadi hari ini. Dirinya sekarang berada di sebuah tempat yang terletak di sisi pelabuhan. Dirinya dengan cepat kemudian mencari seseorang yang di yakini merupakan informan yang cukup berguna dalam perbisnisan di dunia gelap. Setelah Dean mencari ke beberapa tempat yang ada di sana, dirinya kemudian melihat seorang pria muda yang memasuki sebuah restoran mie yanga da di dekat sana. Dean kemudian ikut memasuki tempat tersebut. Dan begitu dirinya masuk, seorang penjaga restoran kemudian bertemu dengannya dan mengatakan sesuatu. “Kau pelanggan baru?” ucap penjaga restoran tersebut yang merupakan seorang wanita tua dengan penampilan seperti penjaga restoran pada umumnya. “Benar. apa anda tadi melihat orang itu? pergi kemana orang itu?” “Tentu saja datang untuk bertransaksi. Oh iya, kau baru. Wajar saja kau tidak tahu. Ikutlah.” Dean kemudian mengikut wanita itu ke sebuah pintu. Di balik pintu tersebut rupanya ada sebuah ruangan yang di dalamnya berisi orang-orang yang sedang bermain judi. Mereka terdiri dari semua orang dewasa. Dean yang kemudian memasuki ruangan tersebut. Wanita itu langsung meninggalkannya. Di hadapannya sekumpulan orang sedang bermain judi dan ada di antara mereka yang melakukan transaksi obat-obatan terlarang. Dengan perlahan dirinya memperhatikan mereka. Di dalam ruangan tersebut tidak di temukan sesuatu yang aneh sampai akhirnya dirinya menyadari sesuatu. Seorang pria yang sedang duduk di pojokan dan menghisap rokok. Orang itu terlihat seperti yang di katakan oleh seseorang sebelumnya. Beberapa menit yang lalu, ketika Dean hendak mencari informasi, dirinya mendatangi seorang pria yang tinggal di daerah dekat distrik 67. Pria tua yang berusia 50 tahun itu mengatakan sesuatu kepadanya. Dean yang mendengarkan percakapannya itu kemudian berangkat dari sana untuk mengumpulkan informasi mengenai mereka yang melakukan penyerangan di hari itu. “Pergilah ke tempat ini. Mungkin kau akan mendapatkan sebuah petunjuk,” ucap pria tersebut yang kemudian memberikannya sebuah alamat di secarik kertas. “Ini...” “Kau mungkin akan memerukannya. Jadi pergilah ke sana.” “Kenapa anda yakin akan hal itu?” “Kau akan tahu nanti begitu bertemu dengannya. Oh iya, orang itu tidak sama dengan sebagian orang lainnya.” “Ya?” Dean kini mencoba untuk mendekatinya dan dirinya akhirnya duduk di hadapan orang tersebut dan mulai mengajaknya untuk berjudi. Dean kemudian mengeluarkan uang yang ada di dalam sebuah kantong dan meletakannya di meja. Pria itu kemudian memandanginya sambil menghirup rokok. Dean mengatakan sesuatu kepadanya tanpa ragu sama sekali. “Tuan, bagaimana kalau anda bertaruh?” ucap Dean kepada orang tersebut. “Baiklah. Anak muda.” “Sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan kepada anda.” “Apa?” “Saya datang kemari sebenarnya untuk menemui anda tuan.” “Oh, begitu rupanya.” “Benar. sepertinya, anda memang menyukai permainan ini.” “Kau salah. Ini hanya sebatas untuk menghilangkan kebosanan saja.” “Benarkah?” “Ya.” Mereka berdua kemudian bermain judi. Beberapa jam kemudian, rupanya permainan di menangkan oleh Dean. Dirinya yang sudah mendapat keuntungan kemudian mulai mengatakan sesuatu kepada pria tersebut. Pria itu kemudian menatapnya dan langsung tertawa. Dean yang ada di hadapannya merasa aneh dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh pria tersebut. Pandangannya juga terlihat seperti orang yang sudah tidak lagi ingin menikmati kehidupan. Dean terdiam dan kemudian menghembuskan nafasnya. Pria tersebut akhirnya berhenti tertawa dan kemudian mulai melontarkan lelucon yang lain di hadapan Dean. Beberapa orang yang ada di dalam ruangan tersebut melirik ke arah mereka karena dari tadi mereka terlihat berisik. Dean yang menyadari akan hal tersebut kemudian tersenyum kepada mereka yang melihatnya itu. “Kau sungguh lucu sekali bocah,” ucap pria tersebut kepada Dean. “Apanya yang lucu?” “Tidak seharusnya kau berbicara di sini.” “Iya?” “Ayo ikut denganku.” Pria itu kemudian beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Dean. Mereka berdua kini pergi ke suatu tempat yang berada di sekitar pelabuhan. Cuaca yang dingin membuat terasa seperti berada di dalam lemari es. Dean bersama dengan pria itu kemudian memasuki sebuah bangunan yang ternyata adalah kediamannya. Orang-orang yang melakukan perjudian di tempat tadi, beberapa menit kemudian mulai di geledah oleh pihak kepolisian. Mereka yang mengetahui informasi tersebut tentu saja karena Dean sebelumnya merekam mereka semua yang ada di sana ketika dirinya baru saja datang. kamera tersembuyi yang ada di jaketnya yang terlihat seperti sebuah pin itu merekam semuanya dan di saksikan oleh pihak keamanan. Dean yang kini berada di dalam kediaman orang itu. sebelumnya setelah dirinya keluar dari tempat judi itu sudah mematikan kamera tersembunyinya. “Anda tinggal di sini seorang diri?” ucap Dean. “Benar. aku tinggal di sini sendirian. Duduklah.” Dean kemudian duduk di kursi. Sementara itu pria tersebut mulai mengatakan sesuatu.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
sangat bagus
28/10
0cerita ya bagus
29/08
0cerita yg sangat menyenangkan
17/09/2024
0Lihat Semua