logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 Teror

Hari ini tepatnya hari di mana Robert harus menjalani operasi. Robert kemudian di bawa oleh suster ke ruang operasi. Tepat di meja operasi, dirinya sedang menatap lampu dan tidak lama kemudian, seorang dokter menyuntikan obat penenang kepada dirinya. perlahan matanya mulai tertutup dan kali ini dirinya tertidur lelap. Para dokter kemudian mulai melakukan tindakan dan sekarang semuanya terlihat sibuk. Jauh di alam bawah sadarnya, rupanya robert teringat akan masa-masa menyenangkan dalam hidupnya. Di mana saat itu dirinya masih kecil dan tumbuh di sebuah keluarga yang bahagia. Momen kebahagiaanya terlihat dari banyaknya orang yang menyukai dirinya sampai menginjak bangku sekolah. Di sekolah menengah atas, dirinya sangat populer di kalangan anak perempuan. Setiap kegiatan yang di ikutinya rupanya banyak sekali penggemarnya yang datang. mereka selalu membuat kehebohan dan itu sebenarnya mengganggu dirinya. Robert yang merasa harus bersikap baik, dirinya mencoba untuk bersikap baik bagaimana pun juga. Kali ini, di masa itu. Robert sedang berada di kelas dan tiba-tiba saja seorang anak perempuan datang ke arahnya dan memberikannya hadiah. Robert yang merasa aneh kemudian menerimanya dan anak itu terlihat senang sekali. tidak lama kemudian, Robert memberikan hadiah tersebut kepada temannya dan mereka langsung membukanya. Kejadian tersebut sering kali terjadi kepada dirinya sampai akhirnya lulus.
Robert yang mengetahui bahwa dirinya masih kerabat dari keluarga Nightray membuat dirinya selalu pergi ke kediaman mereka yang berada di pusat kota. Robert mencoba untuk mengakrabkan diri dan ternyata itu berhasil. Dirinya mulai di kenal oleh mereka karena kepintarannya dan juga memang merupakan seorang atlit. Di saat musim panas di hari itu ada sebuah pertunjukan piano yang merupakan konser solonya Rozaline. Dirinya yang mengagumi Rozaline bahkan semenjak kecil membuatnya merasa senang dan langsung menghadiri acara tersebut. Robert juga sudah menganggapnya sebagai teman sekaligus saudara. Setelah pertunjukan berakhir, mereka berdua kemudian berbincang dan hendak pergi ke suatu tempat.
“Wow, tadi luar biasa sekali. bagaimana kau bisa melakukannya?” tanya Robert yang penasaran.
“Aku berlatih.”
“Apa itu setiap hari? Kau hebat Rozal.”
“Ya, setiap hari. Apa kau tidak pulang?”
“Aku akan pulang nanti saja. Di rumah tidak ada orang jadi tidak seru jika pulang lebih awal.”
“Aku ingin makan. Bagaimana kalau kita makan?”
“Tentu saja.”
“Makannya di rumah saja,” ucap salah satu pelayan pribadi Rozaline.
“Apa? aku sudah bosan dan ingin pergi ke tempat lain,” sahut Rozaline.
“Maaf nona, semuanya akan khawatir jika anda pergi keluar. Karena itu bagaimana kalau di rumah.”
Rozaline hanya terdiam dan bahkan selama perjalanan dirinya terdiam. Di dalam rumahnya saat itu berada di ruang makan. Rozaline menyuruh semua pelayannnya untuk pergi dan tidak memperhatikannya bahkan sedang makan. Robert yang saat itu ada bersamanya mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada Rozaline yang sedang terlihat kesal tersebut.
“Apa semua orang selalu seperti itu?”
“Ya. Mereka menyebalkan.”
“Susah juga ternyata, ku pikir kau merasa senang.”
“Jujur saja, aku sudah muak.”
“Apa selama ini kau bermain piano itu adalah keinginan mereka?”
“Tidak. Itu keinginanku sebagai bentuk protes selama ini.”
“Aku tidak paham dengan keluargamu.”
“Aku juga merasa ini terlalu berlebihan. Dan lagi ini bukan di abad pertengahan. Seharusnya tidak seperti ini. Apa yang harus ku lakukan?”
Mendengar semua ucapan Rozaline membuat Robert merasa kasihan dan kemudian dirinya itu mencoba untuk pergi menghiburnya dengan mengajaknya ke suatu tempat. Ketika mereka hendak pergi, salah satu pengawalnya datang dan langsung menghalangi mereka. Semua itu selalu terjadi sampai akhirnya Robert membawakan teman untuk Rozal dan orang itu tidak lain adalah Haniel. Mereka sangat akrab dan sudah seperti saudara sendiri. Kali ini, mereka bertiga tengah menikmati liburan dengan pergi ke rumahnya Robert. Rozaline yang merasa muak dengan kehidupannya perlahan mulai menggunakannya demi keuntungan pribadinya. Tidak hanya itu saja, dirinya juga mulai membuka potensi diri dengan berlatih ilmu bela diri.
“Kerja yang bagus. Kau sudah banyak berkembang,” ucap guru berla dirinya
“Terimakasih.”
“Teruslah pertahankan seperti itu.”
“Baiklah. Saya akan belajar semakin baik.”
“Aku suka semangatmu.”
Robert juga merasakan kebahagiaan dalam hidupnya dengan menjadi orang yang berguna bagi semua orang. Hingga saat ini, dirinya yang berada di ruang operasi dan kemudian operasi yang dijalaninya sudah selesai. Dokter kemudian memindahkannya ke ruangan rawat. Selama hampir satu hari dirinya masih belum sadar akibat pengaruh obat penenang. Dokter yang kemudian kembali ke ruangannya dan mulai melakukan tugas yang lain. ketika mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba saja seseorang datang kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang di duga merupakan temannya Robert dan ingin sekali mengunjunginya. Dokter dengan cepat memerintahkan mereka agar kembali dan tidak ada jadwal besuk. Mendengar kabar itu tentu saja mebuat mereka kecewa dan mulai mengkritik pihak rumah sakit. Romani yang kemudian datang ke ruangan rawat Robert dan dirinya memasang infusan yang baru karena sebelumnya sudah penuh dengan darah sehingga harus di bersihkan.
“Dokter, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda,” ucap suster.
“Baiklah. Tunggu sebentar.”
Setelah selesai, Romani kemudian pergi ke ruangannya dan di sana dirinya bertemu dengan seorang pria yang di duga merupakan pihak yang berada di barisan pendukung. Romani dengan santai berbicara kepadanya.
“Apa yang ada yang bisa saya bantu tuan?” ucap Romani
“Apa kau yakin tidak akan menerima tawaran ini?”
“Tawaran?”
“Rumah sakit ini. Kau sendiri yang berada di sini dan kau tidak akan menyerahkannya begitu saja?”
“Apa yang sebenarnya anda katakan?”
“Kau sebenarnya berada di pihak siapa?”
“Saya tidak mengerti dengan apa yang anda sampaikan. Jika sudah selesai saya permisi dulu. Masih banyak pasien yang harus saya tangani.”
“Kau akan menyesal jika menolak permintaanya.”
Romani kemudian berbalik ke arah orang tersebut dan tersenyum. Tidak lama kemudian Romani pergi meninggalkannya di sana seorang diri. Pria itu kemudian termenung dan seketika mengumpat. Romani melanjutkan pekerjaannya tersebut. Robert masih belum sadar dan dirinya kali ini berada di alam mimpi yang cukup lama. Beberapa jam kemudian, Robert mulai membuka matanya dan sekarang dirinya berada di ruangan rawatnya dan melihat kondisi kalinya yang penuh dengan perban. Robert kemudian menghela nafas dan akhirnya dirinya mencoba untuk tertidur. Dalam pikirannya dirinya dapat pulih dan kembali seperti sedia kala. Seorang suster kemudian datang ke ruangannya dan memeriksa kondisinya saat itu. Robert yang hanya berdiam diri saja sambil terbaring kemudian dirinya merasa benci dengan dirinya yang lemah itu dan terus menyesal akan semua yang terjadi.
Rozaline yang kini berada di sebuah organisasi yang menyebut mereka dengan sebutan penyelidik. Dirinya sedang berada di dalam sebuah ruangan yang tidak lain adalah tempatnya berlatih menggunakan senjata api. Rozaline setelah melakukan aktivitasnya itu, dirinya pergi ke kamarnya dan beristirahat sebentar sampai akhirnya dirinya merasa damai. Di luar sana beberapa orang mulai bergerak dan kemudian mereka membantai orang-orang yang ada di sana. Pembantaian itu terjadi pada siang hari dan menyebabkan banyak sekali korban berjatuhan. Pihak keamanan juga mulai bergerak demi menangkap mereka yang melakukan penyerangan. Namun, semua itu tidak sepenuhnya berhasil dan bahkan ada beberapa yang menjadi tewas. Kejadian ini membuat semua orang panik dan mereka menjerit ketakutan. Tragedi yang membuat semua orang di landa ketakutan dan mereka kemudian memohon untuk tidak di bunuh. Pembantaian yang di lakukan oleh sekelompok orang tersebut di duga merupakan sebuah rencana untuk menguji coba. Mereka menggunakan organ-organ orang yang tewas dan menggunakannya untuk kepentingan sebagian orang. Polisi yang melakukan aksi untuk menghentikan hal tersebut, nyatanya banyak dari mereka juga yang menjadi korban. Tidak lama kemudian, setelah mereka semua kewalahan menghadapinya. Beberapa orang yang di duga merupakan sebuah organisasi penyelidik melakukan serangan kepada mereka yang membantai orang-orang. Tepatnya di sebuah distrik di kota tersebut yang kini menjadi tempat pertumpahan darah.
“Apa-apaan ini? Siapa mereka?” ucap orang-orang itu.
“Tunggu, mereka di pihak polisi?” ucap salah satu petugas kepolisian.
“Ah sial,” sahut orang-orang itu lagi.
Pertempuran di mulai lagi dan kali ini melibatkan pihak ketiga. Pertempuran berlangsung sampai pihak musuh tersebut mundur dan kemudian mereka yang ada di sana berhasil di selamatkan oleh polisi. Kelompok penyerang itu pergi ke arah yang berlawanan dan salah satu dari pihak penyelidik mengejar mereka. Setelah pertempuran berakhir, beberapa orang mulai di bawa ke pusat medis. Tidak hanya itu saja, mereka juga berhasil di selamatkan. Tepat di sebuah tempat yang rupanya tidak jauh dari sana, seseorang memperhatikan pertempuran tersebut dan kemudian pergi tidak tahu kemana.
Lea yang kemudian mengetuk pintu kamar Rozaline. Rozaline yang berada di dalam kemudian membukanya. Dan kemudian melihat Lea yang membawakan sesuatu kepadanya. Ternyata itu adalah sebuah obat tidur yang biasanya di gunakan dalam melakukan misi. Untuk melumpuhkan musuh tanpa harus menembakan peluru. Rozaline kemudian memperhatikannya dan ternyata isinya cukup banyak. Tidak lama lagi dirinya juga akan menerima sebuah misi yang pastinya dapat mengasah kemampuannya itu.
“Kau sudah paham kan dengan cara kerjanya?” ucap Lea kepada Rozaline.
“Tentu saja.”
“Baguslah. Oh iya, kau juga sepertinya membutuhkan ini?” ucap Lea sambil memberikannya sebuah belati yang terlihat kecil.
“Ya. Kurasa aku akan memerlukannya.”
“Aku pergi dulu.”
“Iya.”
Lea yang kemudian pergi menuju ke ruangannya. Dirinya kemudian membayangkan kemungkinan bahaya yang akan di hadapi oleh Rozaline. Di saat itu lah dirinya kemudian memasuki gudang senjata dan melihat persiapan banyak sekali senjata yang akan di gunakan dalam menjalani misi. Di waktu yang sama, Dean sedang berada di kamarnya dan dirinya memasuki sebuah forum yang terlihat mencurigakan. Dengan cepat dirinya melihat isinya dan ternyata itu semua mengenai berita hari ini. Teror di mana-mana dan membuat orang-orang cemas. Namun, ada sesuatu yang janggal dari semua itu.

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Daffa Tampan

    sangat bagus

    28/10

      0
  • avatar
    Repan

    cerita ya bagus

    29/08

      0
  • avatar
    Ulil Azmi

    cerita yg sangat menyenangkan

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru