Rozal kemudian mengedipkan matanya dan dirinya yang kemudian menyadari akan kenyataann yang ada di hadapannya saat ini. Rozal melihat ke arah jendela yang di penuhi oleh sinar matahari. Melihat indahnya kilauan tersebut, dirinya kemudian tidak sengaja memohon sesuatu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ketika Rozal sedang melihat ke arah jendela, tiba-tiba suster datang kepadanya sambil membawakan makanan. Rozal kemudian duduk kembali dan dirinya menikmati makanan yang di berikan oleh suster tersebut. Tidak lama setelahnya, suster pergi dari ruangannya itu. Rozal yang saat itu tengah menikmati makanannya sama sekali tidak memperdulikan suster itu dan hanya lanjut makan saja. Beberapa saat kemudian, seorang pria yang terlihat memakai pakaian seperti agen rahasia datang menghampirinya. Rozaline tentu saja terkejut dan kemudian dirinya menghentikan makannya. “Kau sudah membaik. jadi ikutlah dengan kami,” ucap orang tersebut. Rozaline yang merasa kebingungan kemudian terdiam. “Tunggu dulu, ada apa ini? Kenapa saya harus ikut dengan kalian?” ucap Rozaline yang masih bingung. “Detailnya akan kami jelaskan nanti. Untuk saat ini, anda ikutlah dengan kami.” “Apa?” “Astaga.” Mereka kemudian membawa Rozaline ke suatu tempat. Dalam perjalanan, orang-orang yang ada di sana kemudian melihat ke arahnya. Mereka membawa Rozaline dengan menaiki sebuah mobil menuju ke sautu tempat yang ternyata lumayan jauh dari rumah sakit tersebut. Hari ini tepatnya satu bulan sudah berlalu. Rozaline yang melihat dunia luar melalui kaca mobil dengan ekspresi yang terlihat mengagumi keindahan. Sesampainya di suatu tempat. Mereka kemudian membawanya menuju ke sebuah ruangan. Di sana dirinya hanya sendirian. “Tunggulah di ruangan ini,” ucap orang itu kepadanya. “Hey, kalian. Astaga. Apa lagi ini.” Rozaline yang berada di dalam sebuah ruangan berwarna putih dan di sana terdapat kursi. Dirinya kemudian duduk di sana sambil menunggu. Kamera CCTV yang ada di ruangan tersebut kemudian merekamnya yang sedang berada di dalam ruangan tersebut. Seseorang yang berada di dalam ruangan yang penuh dengan monitor yang memperlihatkan rekaman beberapa ruangan dan orang-orang yang ada di dalam gedung tersebut. Tidak perlu menunggu lama, Rozaline kemudian di kejutkan dengan munculnya seorang pria yang terlihat lebih dewasa darinya. Pria itu kemudian memperkenalkan namanya. “Menunggu lama? Maaf ya. Kau boleh memanggiku Logan,” ucap orang tersebut kepada Rozaline. “Ah, iya tuan Logan.” “Sekarang ada beberapa yang ingin ku tanyakan padamu. Apa kau bersedia?” “Iya. Silahkan. Sebelumnya apa ini introgasi polisi?” “Tidak. Kau salah.” “Baiklah.” “Apa arti hidup bagimu?” “Eh? Itu... bagiku sebuah anugerah. Meskipun tidak berjalan dengan apa yang ku inginkan. Namun, ini cukup untukku merasakan indahnya dunia.” “Lalu apa yang akan kau lakukan jika semua itu berakhir?” “Aku akan menerimanya.” “Kenapa kau menerimanya?” “Memangnya ada yang bisa melewati kematian? Kurasa itu hanya omong kosong kenyataannya semua orang tidak akan bisa lari dari hal itu.” “Terakhir. Apa kau berniat untuk melakukan hal yang baru dalam hidupmu?” “Aku akan memikirkannya. Tidak, kurasa aku bersedia.” “Baiklah. Itu adalah beberapa pertanyaan yang ku berikan padamu. Alasannya karena kau memiliki potensi.” “Potensi apa yang anda maksud?” “Kau bisa bergabung dengan kami.” “Apa?” “Aku tahu kau terkejut. Tapi, apakah kau tidak ingin tahu siapa yang menghancurkan keluargamu dan bahkan tema-temanmu di malam itu?” Rozaline kemudian tersentak dengan ucapan yang keluar dari mulut Logan. Ekspresinya memperlihatkan sebuah amarah yang selama ini terpendam. Rozaline kemudian mencoba untuk tetap tenang dan mengendalikan dirinya. Rozaline melihat ke arah Logan yang ada di hadapannya itu dan kemudian mengatakan sesuatu. “Oh, apa ini ancaman?” “Kau tipe orang yang waspada rupanya. Tentu saja itu adalah penawaran. Bagaimana? apa kau tidak merasa penasaran?” “Soal itu tentu saja aku tidak munafik. Memangnya siapa mereka? Kenapa melakukan itu pada keluargaku?” “Kau akan tahu jika mencari keberadaan mereka.” “Anda benar. tapi, apa yang bisa ku lakukan?” “Bergabunglah dengan kami dan kau akan mengetahui apa yang harus kau lakukan.” Rozaline kemudian berpikir lagi. Rupanya apa yang di katakannya itu benar. semua yang terjadi tidak masuk akal. Rozaline kemudian menerima tawaran itu. Setelah dirinya menyatakan bergabung dengan tim penyelidik dirinya kemudian pergi ke sebuah ruangan yang ternyata itu akan menjadi kamar pribadi miliknya di markas ini. Rozaline yang masih bingung dengan tempat ini membuatnya harus di dampingi oleh salah satu anggota organisasi ini yang bernama Lea. Rozaline sekarang berada di dalam kamarnya. Terlihat bagus walau berwarna putih. Lea kemudian memberitahukannya jadwal baginya untuk latihan dan juga makan siang. Lea menjadi salah satu orang yang pertama di kenal olehnya. “Ini kamarku?” tanya Rozaline. “Benar. kau bisa melakukan apa pun yang kau mau termasuk mendekorasinya. Dan ini adalah jadwal harianmu. Pastikan kau mengikutinya tanpa terlambat.” “Wow. Okay. Terimakasih.” “Jika ada apa-apa kau bisa menghubungiku.” “Baiklah.” Lea kemudian meninggalkannya di dalam kamar pribadi milik Rozaline. Mereka juga rupanya memberinya ponsel. Rozaline yang terus memandangi tempat ini seketika dirinya mengingat bagaimana kondisi kerabatnya itu. Lea berjalan meyusuri koridor dan sampailah di ruangan kerjanya. Semua orang terlihat sibuk. Beberapa di antara mereka sedang asik berlatih sniper. Lea melihat teman-temannya yang terus berlatih dan tidak lama kemudian dirinya bertemu dengan Dean yang merupakan anggota organisasi itu juga. “Lea,” ucap Dean “Kau baru kembali?” “Iya. Lumayan juga membasmi mereka memerlukan waktu.” “Apa kau sudah melapor kepada ketua?” “Tentu saja. Tuan Logan sudah mengetahui kepulanganku. Oh iya, apa yang kau lakukan hari ini?” “Banyak sekali.” “Oh, kau sibuk seperti biasanya rupanya.” “Apa kau akan pergi?” “Eh? Tidak. Aku baru saja kembali, mana mungkin secepat itu mengambil misi.” “Ku kira kau akan ambisius.” “Yang benar saja.” Di rumah sakit tempat Romani berada. Di dalam ruangannya dirinya sedang melihat beberapa data pasien yang merupakan korban ledakan tersebut. Dari semua data yang terlihat. Hanya ada dua orang yang tidak mengalami luka bakar. Kedua orang itu tidak lain adalah Rozaline dan Robert. Mereka berdua cukup beruntung tidak mengalami luka yang mengerikan. Tidak lama kemudian, Romani pergi dari ruangannya itu dan menuju ke ruangan Robert. Di sana dirinya sedang duduk sambil menonton televisi. Romani kemudian mendekatinya dan mencoba untuk mengobrol dengannya. “Dokter, apa sekarang aku harus melakukan pemeriksaan lagi?” tanya Robert. “Tidak. Hari ini aku datang kemari untuk berbicara denganmu.” “Apa? dengan saya?” “Iya. Ada banyak yang ingin ku ketahui.” “Baiklah. Silahkan saja.” “Apa yang akan kau lakukan jika sudah pulih?” “Tentu saja aku ingin mengawali kehidupanku setelah sakit. Jujur saja, ini sangat membosankan. Oh iya, bagaimana dengan Rozal? Apa baik-baik saja?” “Jangan khawatir. Gadis itu baik-baik saja.” “Baguslah. Cukup aku saja yang seperti ini.” “Kau juga akan sembuh. Jika melakukan operasi sumsum tulang.” “Operasi lagi?” “Benar. kau harus menjalaninya. Ini demi kebaikanmu.” “Iya. Aku akan melakukannya seperti apa yang di katakan oleh dokter.” Mereka mengobrol cukup lama sehingga waktu tidak terasa sudah mulai sore lagi. Romani kemudian pergi dari ruangan tersebut. Robert yang menatap ke arah jendela dengan langit yang berwarna orange kemudian membuatnya merasakan kenyamanan walau hanya sebentar. Robert kemudian melihat dirinya yang hanya bisa berada di tempat tidur dan juga operasi yang akan di jalaninya beberapa hari lagi. Anehnya, dirinya tidak merasakan apa pun dan hanya mengalir begitu saja seakan semuanya sudah pasrah. Tidak hanya itu saja, Robert juga menyadari satu hal dimana saat itu, dirinya melihat seorang wanita yang terlihat mencurigakan. Pada saat itu, dirinya hanya bisa berpikir positif tanpa harus mencurigainya. Di waktu yang sama pula, dirinya merasakan keanehan yang menimpanya saat itu. orang-orang tersenyum bahagia di hadapannya dan justu berakhir tragedi. Robert masih teringat akan hal itu dan membuatnya tidak bisa mengatakan kesedihannya di depan orang lain. hingga akhirnya semuanya tumpah di bawah keheningan. Romani yang ada di ruang operasi kemudian dirinya mengoperasi pasien dengan kondisi yang memprihatinkan. Selama tindakan berlangsung, dirinya melakukannya dengan baik hingga akhirnya selesai. Di waktu yang sama, tepatnya di sebuah atap gedung yang tinggi. Seorang pria sedang menikmati indahnya kota dari atas ketinggian. Tatapannya mencerminkan kesendirian dan kemudian dirinya melihat ke arah bawah. Setelah itu pria tersebut meneguk secangkir kopi yang di bawa olehnya. Cuaca yang indah untuk menikmati matahari terbenam seorang diri. Rozaline yang kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke tempat latihan. Di sana dirinya bertemu dengan seorang wanita yang terlihat sangat kuat. Rupanya wanita tersebut adalah gurunya. Mereka kemudian saling menyapa dan latihan pun di mulai. Mereka berlatih bela diri dan juga beberapa teknik penembak jitu. “Wow kau memang berbakat,” ucap wanita yang ternyata gurunya itu. “Terimakasih.” “Dalam waktu cepat kau pasti sudah berkembang.” “Apa bisa secepat itu?” “Tentu saja, jika kau memiliki kemapuan yang bagus.” Latihan mereka berlangsung sampai malam hari. Rozaline sekarang sudah mulai bisa melakukan bela diri karena sebelumnya dirinya juga pernah di latih oleh kakeknya. Perkembangannya cukup pesat hingga membuat gurunya merasa kagum. Logan yang melihat latihan mereka kemudian tersenyum. Walau dirinya hanya melihat dari kamera CCTV. Sementara itu, Lea sedang sibuk dengan kegiatannya di dalam ruangan miliknya. Saat ini di suatu tempat yang merupakan pusat jaringan perdagangan dunia gelap. Bebeapa orang tengah melakukan transaksi di sebuah tempat judi. Di sana mereka membeli banyak sekali obat-obatan yang kemudian di konsumsi oleh mereka. Tidak sedikit juga yang menjualnya kembali hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Di sebuah komunitas gelap seorang pria yang terlihat memakai kacamata hitam datang ke hadapan mereka dan menanyakan sesutu. Orang-orang itu hanya menggelengkan kepala dan kemudian pria itu pergi meninggalkan tempat tersebut. Logan yang kemudian mendapatkan sebuah informasi dari seseorang dengan cepat melihat apa yang di kirimkan oleh nya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
sangat bagus
28/10
0cerita ya bagus
29/08
0cerita yg sangat menyenangkan
17/09/2024
0Lihat Semua