logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Tangisan Hati

Pagi harinya di mana semua orang tengah di hebohkan dengan kejadian yang menimpa keluarga Nightray. Mereka semua tidak berhenti untuk membicarakannya dan terus menerus seperti itu. Di balik kejadian yang menggemparkan seisi kota, ada beberapa orang yang terlihat di curigai oleh pihak keamanan. Mereka yang telah melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kejadian tersebut membuat beberapa orang merasa cemas. Ledakan yang terjadi seolah bukanlah kebetulan. Di samping itu, mereka yang ada di dalam gedung tersebut merupakan orang-orang yang berhubungan baik dengan pihak tertentu. Dari sana lah semua orang mulai berteori. Polisi yang sebelumnya menangani kasus tersebut justru kini mereka mendapat kecaman dari pihak atas dan menyuruh untuk menutup kasus tersebut sebagai kecelakaan biasa. Kali ini, tepatnya di sebuah rumah sakit di ruangan tempat Rozaline berada. Di sana dirinya perlahan mulai membuka matanya dan ketika dirinya membuka matanya, rupanya sudah berada di rumah sakit. Rozaline yang merasa bingung dengan kejadian tersebut membuatnya kemudian duduk di tempat tidurnya itu dan mencoba untuk mengingat sesuatu. Dengan perlahan dirinya mengingat semua yang terjadi malam itu. Di mana semua orang tengah menikmarti pesta dan tiba-tiba saja terjadi ledakan yang membuat mereka semua tewas di tempat kecuali beberapa orang yang masih hidup walau lukanya sangat parah. Rozaline kemudian melihat seorang dokter yang datang ke ruangannya dan kemudian mereka saling menyapa.
“Selamat pagi,” ucap dokter kepada Rozaline.
“Selamat pagi dok.”
“Apa ada sesuatu yang sakit?”
“Ah, iya tubuhku rasanya sakit.”
“Baiklah. Coba periksa dulu.”
“Selain itu ada lagi yang terasa sakit?”
“Tidak ada. Oh iya, bagaimana dengan pasien yang lain apa mereka semua selamat?” tanya Rozaline dengan penasaran.
“Hmm... soal itu...”
Rozaline yang menantikan kabar baik dari dokter tersebut rupanya tidak terjadi. Dokter menjelaskan semuanya dan dirinya hanya terdiam dengan wajah murung. Di samping itu, Rozaline merasa aneh dengan kejadian ini dan kemudian dirinya meminta waktu untuk tidak di ganggu dalam beberapa jam ke depan. Dokter kemudian meninggalkan ruangannya dan begitu dokter menutup pintu ruangan tersebut rupanya seseorang sudah menunggunya di luar. Orang yang menunggunya tidak lain adalah pria yang memakai pakaian seperti tentara. Dokter bersama dengan orang itu kemudian pergi ke suatu ruangan. Mereka terlihat hendak membicarakan sesuatu. Sesampainya di sebuah ruangan, dokter dan tentara itu memasuki ruangan tersebut. Mereka kemudian berbincang satu sama lain.
“Bagaimana dengan kondisinya Romani?” tanya pria tersebut kepada dokter Romani.
“Kondisinya lumayan membaik. anak itu baru saja tersadar jadi wajar saja jika masih ada yang belum sepenuhnya pulih.”
“Butuh berapa lama untuk membuatnya pulih?”
“Sekitar satu bulan.”
“Lumayan juga.”
“Gadis itu beruntung tidak tertimpa bangunan dan mati. Ini bisa di bilang sebuah peruntungan.”
“Aku mengerti. Setelah anak itu sembuh total kau harus memberikan laporannya.”
“Tentu saja.”
“Oh iya, satu hal lagi. jangan sampai mereka mengetahuinya.”
“Sudah ku pastikan ini rahasia.”
Pria itu tidak lama kemudian meninggalkan dokter Romani di ruangannya. Melihat perkembangan selanjutnya membuat dirinya merasa terbebani. Meski begitu ini merupakan pekerjaannya. Di ruangan di mana Robert berada. Dirinya sedang terbaring dan kemudian mencoba untuk duduk karena merasa bosan. Tidak lama setelahnya seorang perawat datang dan memberikannya sarapan. Robert kemudian bertanya kepadanya.
“Suster, sampai kapan saya harus berada di tempat ini? Bukankah saya sudah mulai pulih?” tanya Robert
“Nanti akan kami informasikan lagi. jadi untuk sementara instirahat dulu saja.”
“Ah, iya.”
Robert kemudian menatap makanannya dan dirinya memikirkan suatu hal. Saat itu, di mana dirinya masih berada di kediamannya tepatnya di gedung apartemen tersebut. Dirinya menikmati hari dengan bahagia tanpa ada satu pun kesengsaraan dalam hidupnya kala itu. Namun kini, dirinya di hadapkan akan kenyataan yang membuatnya merasa frustrasi di buatnya. Robert kemudian menonton televisi dan dirinya melihat berita pada malam itu. ingatan yang tidak akan pernah terlupakan olehnya dan mereka semua tewas di tempat membuat dirinya semakin merasa terbebani. Setelah itu, Robert mematikan tanyangan berita dan kembali menikmati sarapan yang ada di hadapannya itu. Di dalam ruangannya Rozal. Dirinya sedang terbaring dan kemudian teringat akan sesuatu. Bahwa dirinya lupa untuk bertanya di mana Haniel dan Robert. Rozal kemudian duduk lagi dan seketika dirinya merasa sehat walau sebelumnya terasa sakit. Rozal mencoba untuk kelaur dari ruangan tersebut dan ternyata pintunya terkunci. Merasa kesal akan hal itu sehingga membuatnya mengumpat sambil kembali ke tempat tidurnya.
Di luar sana, semua orang menikmati harinya dengan bahagia. Selain itu beberapa di antara mereka mulai menyebarkan sebuah rumor yang mana kejadian itu merupakan sebuah pembunuhan masal. Dari rumor tersebut kemudian menimbulkan keributan di antara mereka. Sampai ada seorang reporter yang mendengar hal tersebut dan langsung membuat sebuah berita. Tidak lama setelahnya orang-orang mulai mempercayai rumor tersebut dan kali ini mereka juga melampirkan banyak bukti yang di duga di dapat dari wartawan. Di saat yang bersamaan, tepatnya di sebuah kediamana seseorang. Di sana orang itu sedang menikmati wine dan kemudian datang salah satu pegawainya.
“Kalian sudah melakukan tugasnya kan?” ucap pria tersebut.
“Tentu saja tuan.”
“Oh iya, jangan sampai melewatkan satu pun.”
“Baik tuan.”
“Kali ini. Akan lebih mengerikan lagi. berhati-hatilah.”
Pegawainya itu kemudian pergi dari ruangannya dan di saat itu lah seorang gadis kecil datang menghampirinya yang sedang berada di dalam ruangan tersebut. Dengan penampilan itu, gadis tersebut kemudian duduk di kursi yang ada di dalam ruangan dan mulai menuangkan wine.
“Ada apa kau kemari?”
“Eh? Memangnya tidak boleh aku datang kemari?” ucap gadis itu sambil meneguk segelas wine.
“Apa yang kau lakukan?”
“Apa ada yang salah? Jangan begitu. Bukankah peranku juga tidak main-main,” sahut gadis itu dan seketika nada bicaranya tidak lagi seperti anak kecil melainkan seorang wanita dewasa.
“Jangan membuat keributan. Untuk saat ini kau tidak perlu bertingkah.”
“Apa-apaan itu. sama sekali tidak seru.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Hmm... seperti biasanya aku akan menangkap mangsaku,” sahut gadis tersebut dengan senyuman.
“Dasar kau.”
Mereka yang sedang berbicara itu pun kemudian di kejutkan dengan kedatangan seorang pria muda yang kemudian menyapa mereka berdua yang ada di dalam ruangan tersebut dengan senyuman yang ambigu.
“Oh, sedang berkumpul rupanya,” ucap pria tersebut kepada mereka.
“Kau datang sendirian?”
“Ya, seperti yang kau lihat Charlotte. Aku datang seorang diri.”
“Kau itu introvert tau anti sosial sih? Kenapa selalu sendirian?”
“Ini adalah gayaku. Kau tidak seharusnya protes begitu.”
“Kalian berdua berisik sekali. pergi sana,” ucap seorang pria yang duduk di kursi kerjanya.
“Seperti biasanya ya Pheron memang selalu emosian.”
“Tutup mulutmu Zeron.”
“Baik-baik,” itu seram sekali
Mereka kemudian melanjutkan perbincangannya. Di dalam sebuah ruangan yang berada di salah satu gedung di kota ini. Sebuah perusahaan yang terlihat seperti perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Di sana, banyak sekali pegawai yang memakai jas laboratorium dan mereka juga ada beberapa yang memakai jas hitam yang terlihat seperti seorang pengawal. Beberapa orang yang bekerja di tempat ini merupakan orang dengan kecerdasan di luar nalar. Sebagian orang menganggap perusahaan ini seperti halnya sebuah misteri. Keadaan tempat yang sebelumnya hancur itu kemudian terlihat garis bahaya yang tidak boleh ada seorang pun yang datang ke sana. Orang-orang yang bergerak sebelumnya terlihat seperti kumpulan kelompok tertentu. Detektif yang tidak puas dengan kenyataan yang mereka tertima membuatnya merasa tidak adil. Salah satu dari mereka yang bernama George mulai menyelidiki kejadian tersebut tanpa sepengetahuan rekannya. George yang mulai mencari informasi dari beberapa sumber dan akhirnya bergerak ke suatu tempat yang tidak lain adalah daerah perbatasan utara kota ini. Di sana, dirinya menemukan sebuah petunjuk di masa ada seseorang yang tinggal dan mengetahui sesuatu. Orang yang tinggal di sana tidak lain adalah seorang pensiunan pegawai laboratorium.
Beberapa minggu sebelum kejadian. Tepanya di kediaman keluarga Nightray. Beberapa anggota keluarga tersebut sedang membicarakan sesuatu. Di ruangan yang merupakan ruang kerja pimpinan keluarga. Mereka sedang berkumpul sekitar 5 orang. Rozaline yang kemudian memasuki ruangan tersebut hanya untuk memberitahukan bahwa dirinya menang dalam kompetisi piano. Orang-orang tersebut kemudian melihat ke arahnya sambil tersenyum ramah dan tidak melanjutkan pembicaraannya.
“Oh, kau hebat Rozal,” ucap pimpinan keluarga.
“Terimakasih.”
“Hai Rozal. Kau sudah beranjak dewasa rupanya. Senang bertemu denganmu,” ucap salah satu orang tersebut kepadanya.
“Iya. Kalau begitu saya permisi,” ucap Rozal sambil menutup pintu.
Setelah Rozal berada di luar ruangan tersebut, mereka kembali berdiskusi. Rozal yang tidak bisa mendengar pembicaraan mereka seketika menguping dan ternyata tetap saja tidak terdengar. Setelah itu, dirinya kemudian pergi ke ruangannya dan mulai berlatih lagi. Rozal yang melihat seseorang di luar sana sebelum dirinya memasuki ruangannya, seorang pria yang memakai pakaian rapi dan berkacamata. Datang ke hadapannya dan kemudian menanyakan keberadaan mereka yang sedang rapat. Rozal kemudian memberitahukannya dan orang itu pergi begitu saja setelah mengucapkan terimakasih.
“Rozal,” ucap Robert yang tiba-tiba datang menghampirinya.
“Kau ini jangan berteriak.”
“Maaf. Kau sedang melihat apa?”
“Tadi ada seseorang yang menanyakan di mana kerabat yang lain.”
“Oh, apa kau sekarang tidak latihan?”
“Baru saja aku akan memasuki ruangan ini.”
“Okey. Aku ingin mendengarmu bermain piano. Satu album saja.”
“Kebanyakan,” ucap Rozal dengan kesal
Di dalam ruangan tersebut, Rozal memainkan sebuah lagu. Di sana Robert sedang menyaksikan pertunjukannya itu dan kemudian dirinya terhanyut ke dalam alunan musik. Rozal memainkan piano dengan baik. namun, dirinya tidak pernah sekali pun merasakan kebebasan yang seutuhnya. Kegiatan yang di lakukannya di dalam rumahnya semuanya seperti itu dari waktu ke waktu dan dalam alunan melodi dirinya seakan menjerit memohon perubahan yang membuatnya merasa nyaman. Hingga harapan itu semakin dalam.

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Daffa Tampan

    sangat bagus

    28/10

      0
  • avatar
    Repan

    cerita ya bagus

    29/08

      0
  • avatar
    Ulil Azmi

    cerita yg sangat menyenangkan

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru