logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Heaven Feels Butterfly

Heaven Feels Butterfly

Moody Moody


Bab 1 Malam Pesta

Di sebuah kediaman yang terletak tidak jauh dari pinggiran kota Alvelius. Berdiri sebuah bangunan yang tidak lain adalah apartemen milik keluarga Nightray. Di sana terlihat seperti bangunan berbentuk kotak menjulang tinggi ke langit. Gerbang yang menutupi tempat itu tinggi sekali dan runcing. Beberapa orang memasuki kawasan tersebut dan mereka terlihat memakai jas dan juga seperti seragam. Tidak lama kemudian, di balik gerbang utama muncul orang dengan pakaian rapi turun dari mobil dan ternyata orang itu tidak lain adalah pimpinan keluarga Nightray yang baru saja pulang dari kantor. Petugas yang berjaga di depan kemudian membungkuk pertanda hormat kepadanya. Kali ini semua orang yang ada di kediaman tersebut terlihat sibuk karena malam ini mereka akan mengadakan pesta tahunan keluarga tersebut. Di mana semua orang dapat hadir ke acara tersebut dan menikmati berbagai makanan yang di sajikan mereka. Keluarga yang cukup terkenal walau kediaman mereka berada di pinggiran kota. Terisolasi dari keramaian dan membuat mereka hidup dengan nyaman tanpa adanya gangguan polusi. Di lantai 14 kamar nomor 45. Di sana lah Rozaline berada.
Rozaline Nightray, satu-satunya putri keluarga Nightray saat ini yang berusia 19 tahun. Kehidupan yang di jalaninya tidak seperti kebanyakan orang di luar sana. Dirinya harus berada di tempat ini terisolasi dari dunia luar. Di balik pintu kamarnya, Rozaline sedang bermain piano dengan tenang. Melodi yang terdengar menyedihkan membuat beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya itu seketika meneteskan air matanya begitu mendengar lantunan lagu tersebut. Hari semakin siang, Rozaline tidak kunjung keluar dari kamarnya dan dirinya hanya duduk di depan piano. Tangannya yang mulai terlihat memerah di balut oleh perban. Selama ini di kediaman ini hanya dirinya saja yang tidak pernah pergi dengan bebas.
“Permisi nona Rozal, saya datang membawa beberapa cemilan,” ucap salah satu pelayannya sambil membawakannya makanan.
“Simpan saja di meja.”
“Baik nona. Oh iya, malam nanti akan ada pesta apakah anda akan ikut?”
“Aku tahu. Entahlah.”
“Baiklah kalau begitu saya permisi dulu.”
“Iya. Silahkan.”
Pelayan itu kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menyusuri koridor. Ketika dirinya sedang dalam perjalanan menuju ke dapur, di balik sebuah pintu tepatnya di kamar yang tidak jau dari lift seseorang sedang berbicara dengan keras. Suaranya terdengar sampai keluar. Pelayan tersebut tidak menghiraukan suara itu dan kemudian memasuki sebuah lift. Hari yang di penuhi dengan kebisingan membuat Rozaline yang berada di kamarnya melihat ke arah jendela. Wajahnya yang terlihat penasaran membuatnya merasa tidak tenang. Di bawah sana terlihat begitu banyak orang sedang sibuk memindahkan barang-barang. Mereka begitu antusias akan pesta yang akan di adakan malam ini tepat di kediamannya itu. Tidak lama kemudian, Rozaline menghubungi seseorang yang ternyata adalah teman sekolahnya bernama Haniel.
“Halo, Rozal?”
“Ya. Haniel.”
“Ada apa kau menelponku? Apa terjadi sesuatu? Haruskah aku ke sana?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa. aku hanya ingin memberitahukan sesuatu kepadamu.”
“Oh ya? Apa itu?”
“Malam ini di kediamanku akan mengadakan pesta. Kau boleh datang kemari sebagai tamu undanganku bagaimana?”
“Apa? malam ini?”
“Iya. Malam ini. Pukul 9 malam.”
“Okay. Aku akan coba lihat apakah nanti malam keluargaku mengijinkanku ke luar atau tidak.”
“Baiklah. Aku akan senang jika kau datang.”
“Ya. Tentu saja aku sudah tahu.”
“Hey kau tahu, ada beberapa rumor yang akhir-akhir ini beredar.”
“Rumor apa?”
“Kau sungguh tidak tahu?”
“Memangnya aku tahu apa? selama ini aku tidak pernah pergi ke luar.”
“Oh iya aku lupa.”
“Jadi, apa kau akan memberitahuku?”
“Katanya di universitas yang akan kita masuki memiliki rahasia besar loh.”
“Rahasia apa?”
“Entahlah. Aku belum tahu. Apa kau bisa menebaknya?”
“Aku justru tidak kepikiran apa pun.”
“Kemungkinannya sih banyak anak populer dan hal-hal mengejutkan lainnya. Apa kau yakin tidak berpikir seperti itu?”
“Iya. Sungguh.”
“Kau masih bermain piano?”
“Tentu saja. Aku masih. Memangnya ada apa?”
“Lalu bagaimana dengan balet?”
“Aku juga masih.”
“Wow kau hebat. Jujur saja aku iri padamu yang bisa melakukan banyak hal secara konsisten.”
“Kau tidak perlu iri padaku. Justru kau yang seharusnya bersyukur karena kau tidak seperti ku.”
“Kau ini bicara apa. sudah ya aku harus mandi.”
“Okay.”
“Nanti ku beri tahu jika ada hal yang penting.”
“Iya.”
“Sampai jumpa nona Nightray.”
“Jangan memanggilku begitu.”
Waktu berjalan begitu saja, tidak terasa hari sudah mulai gelap. Orang-orang yang mulai sibuk kini berada di ruangan utama. Rozaline datang ke sana seorang diri dan melihat semuanya yang sedang sibuk. Rozal perlahan membantu mereka yang sedang merapikan tempat dan menghiasnya dengan banyak hiasan. Ketika Rozal sedang sibuk membantu mereka, sepupunya yang bernama Robert datang menemuinya. Pria itu terlihat rapi dengan rambut hitam sama sepertinya. Robert kemudian menyapa Rozal yang ada di sana.
“Oh Roz,” ucap Robert
“Apa?”
“Kenapa kau ada di sini?”
“Apalagi kalau bukan membantu mereka menyiapkan pesta.”
“Tidak seharusnya kau berada di sini. Bintang utama seharusnya tetap di ruangan,” ucap Robert sambil sedikit mengejeknya.
“Kau gila? Lalu aku hanya berdiam diri saja?”
“Tidak tidak. Kau cukup berlatih untuk pertunjukan nanti malam. Begitu maksudku dan di sini biarkan saja mereka yang mengurusnya.”
“Aku tidak bisa terus seperti itu Robert.”
“Eh? Kenapa?”
“Entahlah. Rasanya membosankan.”
“Oh, kau rupanya sudah mulai berubah.”
“Apa?”
“Hmm... bagaimana ya menjelaskannya?”
“Kalau begitu tidak perlu kau jelaskan.”
“Oh iya, ku dengar kau akan memasuki universitas itu? apa kau serius?”
“Benar. ku juga akan ke sana?”
“Tidak. Aku akan pergi ke luar negeri.”
“Kalau begitu pergi saja sana dan jangan muncul lagi di hadapanku.”
“Astaga kau ini jahat sekali.”
“Padahal dengan bakatmu yang luar biasa itu seharusnya kau memilih yang lebih baik.”
“Aku tidak mau hal-hal merepotkan. Jika perlu, aku tidak akan melakukannya.”
“Justru jika kau tidak melakukannya, keluargamu akan kecewa.”
“Ya. Ini memang menyebalkan.”
“Bersabarlah.”
Di suatu tempat yang tidak jauh dari daerah kediaman keluarga Nightray. Di sebuah toko yang berada di sana. Mereka sedang di hebohkan dengan berita sore ini yang membuat mereka merasa ketakutan. Berita tersebut berisi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban jiwa meninggal di tempat dengan tubuh yang sudah tidak utuh lagi. Reporter yang menyiarkan berita itu tidak mensensor bagian menyeramkannya dan membuat orang-orang yang menyaksikan berita tersebut ketakutan. Kecelakaan terjadi di duga karena kelalaian dalam berkendara sehingga membuat tetabrak dan kedua mobil itu mengalami kecelakaan hebat yang membuat pengemudinya meninggal saat itu juga dengan kondisi mengenaskan.
“Wah ini mengerikan.”
“Tunggu dulu, lokasinya tidak jauh dari sini? Ini membuatku trauma saja.”
“Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Kenapa tidak berhati-hati.”
“Akhir-akhir ini banyak sekali kecelakaan.”
“Mengerikan.”
Dan masih banyak lagi keluhan yang di ucapkan oleh orang-orang yang menyaksikan berita tersebut. Beberapa orang petugas mengamankan lokasi sehingga korban langsung di bawa oleh ambulan dan di rumah sakit langsung di kremasi. Anggota keluarga mereka sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Mereka bersedih dan membuat polisi yang ada di sana merasa bingung dengan apa yang seharusnya mereka lakukan kepada keluarga korban. Kecelakaan kali ini tidak memiliki pelaku yang masih hidup sehingga polisi langsung menutup kasus tersebut begitu keduanya selesai di makamkan. Di waktu yang bersamaan di kediaman keluarga Nightray. Saat ini mereka sudah selesai mendekorasi dan juga menyiapkan beberapa perlengkapan. Melihat berita yang beredar saat ini, tidak membuat mereka merasa teriris akan kejadian tersebut dan malah hanya menontonnya biasa saja. Malam hari pun tiba. Semua anggota keluarga datang ke sana begitu juga dengan rekan kerja mereka yang ada di perusahaan mereka. Malam hari yang cukup meriah dengan di hadiri oleh banyak orang. Robert yang sedang sibuk mengikuti Rozal dan saat ini tengah berada di ruang ganti. Robert menunggunya di luar sembari merasa cemas dan bolak-balik berjalan.
“Tuan Robert, apa yang sedang anda lakukan di sini?” ucap seorang pelayan
“Aku menunggu Rozal.”
“Oh begitu.”
“Iya.”
Setelah 20 menit berlalu, akhirnya Rozal keluar dari ruang ganti. Robert kemudian bertepuk tangan karena Rozal terlihat mengangumkan dengan memakai dress merah itu membuatnya terlihat anggun. Mereka berdua kemudian datang ke ruang pesta dan bertemu dengan banyak orang. Di sana juga rupanya ada Haniel yang baru saja datang dan kemudian menghampiri Rozal. Mereka terlihat akrab dan kemudian acara pun di mulai. Ketika mereka sedang asik berbincang dan menikmati pesta, di toilet seorang wanita yang memakai dress abu-abu terlihat sedang mencuci tangannya dan kemudian merapikan riasan miliknya. Dengan terburu-buru dirinya kemudian mengangkat panggilan yang tersambung ke ponselnya itu. Seseorang tiba-tiba menghubunginya dengan nomor yang tidak di kenal dan dengan sekejap wanita itu kemudian menjatuhkan ponselnya lalu pergi dari toilet tersebut dengan tergesa-gesa. Wajahnya yang masih berantakan karean makeupnya luntur membuat semua orang memandanginya dengan aneh. Wanita itu kemudian berjalan sambil melihat ke arah kerumunan orang dan kemudian pergi dengan berlari. Di waktu yang bersamaan, Rozal yang selesai memainkan piano dengan membawakan sebuah lagu milik Mozart lalu turun dari panggung utama dan hendak mengambil desert. Wanita itu dengan tidak sengaja kemudian menabrak Rozal yang ada di depannya.
“Oh tidak. Maafkan aku,” ucap wanita itu dengan nada tergesa-gesa
“Hey kau kalau jalan lihat-lihat,” ucap Robert dengan marah
“Maafkan aku. Aku permisi.”
“Hey kau mau kemana? Rozal kau baik-baik saja?” sahut Robert
“Iya,” ucap Rozal yang kemudian berdiri lagi
“ Kenapa wanita itu?” sahut Haniel
‘Sial. Bagaimana ini,’ batin wanita itu sambil berlari
Saat itu, tepat pukul 12 malam. Di malam puncak pesta yang sedang berlangsung di kediaman milik keluarga Nightray. Mereka yang ada di sana sedang berbahagia menikmati pesta tersebut. Sampai suatu ketika, sebuah ledakan menghancurkan tempat itu.

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Daffa Tampan

    sangat bagus

    28/10

      0
  • avatar
    Repan

    cerita ya bagus

    29/08

      0
  • avatar
    Ulil Azmi

    cerita yg sangat menyenangkan

    17/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru