Vienna masih menunggu jawaban dari Ilen. Tetapi Ilen terus mengusap rambut bagian depannya. Ia tak mungkin masuk eskul teater tapi kalau nggak ikut nanti Vienna marah-marah dan mengumpatnya lagi, bisa panjang ceritanya. Mungkin kali ini dirinya harus pura-pura setuju dulu, nanti jika sudah aman dia bisa pelan-pelan keluar tanpa diketahui. "Cepet jawab mau apa nggak?" Ilen mengangguk, "Iya, Kak. Iya saya mau." "Nah gitu dong dari tadi..." ujar Vienna dengan sumringah. "Okey, besok Lo screening di ruang kelas teater jam setengah empat ya, jangan lupa..." Ilen hanya mengangguk. Vienna pun pergi meninggalkannya, Ilen pun segera keluar dari ruang UKS dan dari kejauhan ia melihat laki-laki kemarin yang disamping Vienna dan laki-laki yang sudah tak meloloskan Vienna gara-gara ia tak mau jadi kekasih Vienna, sudan berada di parkiran. Mencengangkannya laki-laki itu memeluk bahu Vienna. Apa mereka pacaran? Hmm entahlah... Itu juga bukan urusannya. Biarkan kalau mereka pacaran. Eh tapi... bukankah cowok itu yang membuat Vienna mengumpat padanya? Kalau itu pacarnya Vienna berarti yang kemarin itu apakah juga cuma akting doang? Sebenarnya ada apa dibalik semua ini? Jangan-jangan kesediaannya dalam masuk eskul teater ini juga bagian dari mereka yang berakting? Gilak. Gila sih kalau benar kayak gitu. Di sini dialah korbannya bukan Vienna. Ilen pun segera ke berjalan menuju halte bus saat lamunannya tentang Vienna buyar oleh seorang cewek yang mengejar cowok karena kuncirnya dicuri oleh cowok itu. Hampir saja tubuhnya oleng karena senggolan dari kedua orang itu yang lari tanpa lihat-lihat sikon. Dasar childish! Ilen pun segera duduk. Ia memanh punya motor di rumah tapi papanya yang pelit itu tak mengizinkannya bawa motor dan menyuruhnya naik bus saja. Bus lebih hemat dan aman. Itu katanya. Padahal Ilen pengen kayak Zink yang sudah bawa motor sendiri. Kalau begini kan ia harus menunggu bus, berdesakan dengan penumpang, dan bertemu dengan Tari yang entah kenapa dia selalu bertemu dengan Tari di halte bus. Jangan-jangan dia selalu menunggunya datang di halte bus? Ilen duduk terdiam di kursi halte bus, duduknya agak berjauhan dengan Tari. Tetapi ia bisa melirik Tari yang duduk di kursi paling ujung sedang menatap dirinya. Ilen tidak risih jika diperhatikan seperti itu, karena memang hobinya adalah tebar pesona. Namun kali ini Ilen harus katakan kalau ia tidak suka dengan cara Tari menatapnya. Ia berusaha mengabaikan Tari, memberi penjelasan bahwa ia tak punya perasaan yang sama dengan Tari, ia abai dengan Tari karena ia nggak mau kalau Tari menaruh harapan besar padanya jika ia mencoba akrab atau bahkan sebuah senyuman dan sekalimat sapaan saja bisa membuatnya baper nggak ketulungan. Ia nggak mau itu terjadi. Ia masih ingin sendiri, menikmati kejombloannya dan ambisinya. Ilen tidak mau jika liburan nanti dia menjadi Bullyan keluarga karena mencoreng nama baik keluarga sebab tak bisa mendapat peringkat tiga besar. Ia pasti akan dibanding bandingkan dengan kakak dan saudaranya yang jenius-jenius itu. Bus tak kunjung datang membuat Ilen semakin gerah. Tari menyadari jika Ilen gerah, ia pun mendekat dan menyerahkan kipas listrik mini ke Ilen. Ilen menolak dengan halus, membuat Tari kecewa. "Kenalin Ilen, aku Tari," ujar Tari sambil mengulurkan tangannya. "Udah tahu, Lo kan temen sekelas gue." Ilen menjawab tanpa membalas uluran tangan itu, Tari menjadi malu sendiri dan segera menarik tangannya yang sudah terulur. "Oh, iya kita sekelas,"jawabnya dengan berlagak seperti orang yang baru mengetahui. Tari tak banyak bicara lagi hingga ia bosan dengan keheningan dan memncoba mencari topik pembicaraan lagi. "Kamu udah dapat orang yang akan jadi wakil kamu?" tanya Tari. Dalam hati ia berharap masih bisa menjadi wakil Ilen. "Udah," jawab Ilen singkat membuat Tari kecewa. "Siapa?" "Hana." Jawaban Ilen membuat Tari mengingat sosok yang bernama Hana. Dia akhirnya ingat kalau Hana adalah cewek cantik berjilbab yang duduk di bangku belakangnya. Sosok yang kemarin menolak mentah-mentah tawaran Ilen untuk menjadi wakilnya. "Bukannya kemarin dia nggak mau?" tanya Tari "Iya, dia berubah pikiran dan tadi baru bilang kalau dia mau." Tari hanya bisa ber "oh" ria. Ya, siapa juga sih cewek yang bisa menolak seorang Ilen? Udah ganteng, pinter, dan lucu lagi. Tari hanya bisa menghela napas kasar. Sungguh bukan keberuntungannya. "Kalau misal diganti lagi masih boleh apa nggak?" tanya Tari hati-hati, siapa tahu keberuntungan masih berpihak padanya. Sekarang Ilen yang menatap Tari dengan heran. "Diganti siapa?" Tari menyampirkan helaian rambutnya di belakang telinga lalu menunduk dengan malu-malu, "Aku, mungkin." Ilen hanya bisa tertawa dalam hati. Ilen menertawakan Tari yang begitu percaya diri. Tapi ia tahan agar tak jadi orang yang jahat. "Kamu tahu kan kalau pemimpin yang baik pasti milih yang lebih dulu bersedia." Ilen berusaha bersikap bijaksana agar Tari merasa malu sendiri. Ia hanya ingin Tari tahu kalau dirinya tak suka didekati dengan cara seperti itu. Biarkan rasa cinta mengalir dan menemukan keberaniannya untuk bisa saling sama-sama bersedia bukan hanya salah satu pihak saja yang bersedia. Kalau itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Sesuatu yang juga Ilen hindari. Cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang memaksa perasaan, cinta buta, cinta mati, cinta gila, semua cinta itu akan ia hapuskan dan ia akan peras menjadi cinta sejati. Bus pun datang dan Ilen segera masuk tak terkecuali Tari yang mengekor di belakangnya membuat Ilen mengeluh dalam hati. Bisa gak cewek ini hilang sebentar aja...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
menjiwai seakan masuk kedalam cerita
16/08/2022
0ini sangat bagus
21/04/2025
1cerita sangat bagus
16/03/2025
0Lihat Semua