Sepulang sekolah, Hana yang tak biasa menemukan wanita seperti Surti menjadi penasaran dengannya. Apalagi saat di pondok ia tak pernah menjumpai wanita seperti itu. Paling saat di pasar atau saat diajak umi dan abinya pergi ke mall. Hana yang hobi mencari tahu psikologi manusia membuatnya menguntit Surti. Ini juga sebagai pelampiasan atas kekesalannya karena tak bisa berbuat apapun saat keluarganya dalam masa sulit dan rencananya yang menjadi berantakan, tak sesuai harapan. Ia tak bisa marah pada siapapun bahkan pada dirinya sendiri. Apalagi saat ia harus menemukan spesies cowok seperti Ilen di SMA Lurus Maju. Cowok tengil yang terus memaksanya menjadi wakil ketua kelas. Hana melist dalam aplikasi google keep di hp nya teman-teman satu kelas yang perlu dia korek lebih jauh kepribadiannya. 1. Surti 2. Burhan 3. Bu Faida 4. Geng Swak Untuk sementara ini baru orang-orang itu yang membuatnya tertarik. Ia pun segera melesat berada di belakang Surti yang saat ini sedang berjalan sendiri. Surti berhenti di halte bus. Hana pun ikut duduk di samping Surti, tapi Surti tidak menyadari keberadaannya karena ia menatap ke layar HP nya. Saat bus datang, Surti segera naik bus dan Hana pun segera masuk meski harus berdesak-desakan. Di dalam bus Hana terus menutup hidungnya. Biasanya kalau pulang ia selalu pakai ojol dan ini adalah kali pertamanya naik bus dan dalam kondisi ramai penumpang. Surti telihat nyaman duduk di kursi sambil berkipas pakai kipas mini listrik. Saat bus berhenti dan Surti berdiri untuk keluar, Hana mendesak dan menerobos penumpang. Ia tak boleh kehilangan jejak Surti. Hana celingak celingui mencari keberadaan Surti saat sudah berada di pinggir jalan. Hana sudah panik karena tidak segera menemukan Surti. Ia pun terus berjalan bolak-balik mencari sosok berseragam putih abu-abu, berkuncir kuda, berbadan bongsor dan berkulit putih. Tetapi tetap nihil. "Aaa..." Hana setengah menjerit saat pundaknya di tepuk dari belakang . "Ngapain Lo ngintilin gue?" Hana gemetar saat yang menepuk pundaknya adalah Surti. Sekarang Surti terlihat menyeramkan, wajahnya bersungut-sungut dan matanya tajam padanya. "Mmmm..." "Lo mata-matain gue?" Surti memojokkan Hana, membuat Hana gelagapan, bingung harus menjawab apa. "Aku...aku...aku cuma mau tahu rumahmu...aku pengen punya teman..." jawab Hana. "Bohong! Cewek kayak Lo yang ukhti-ukhti ini mau temenan sama gue yang kayak ta* ini? Mustahil! " sangkal Surti dengan ketus. Hana masih terdiam, ia berusaha menguasai dirinya agar bersikap tenang dan kalem meski sekarang ia sedang dipojokkan oleh Surti. "Aku emang mau kenalan sama kamu, Sur,." Hana mengatakan hal yang sama lagi supaya Surti tahu bahwa ia memang ingin berkenalan dan menjadi teman Surti. Surti pun tak punya alasan lagi untuk membuat Hana pergi dan tidak mengikutinya lagi. Surti pun mengajak Hana ke rumahnya. "Rumah kamu masih jauh Sur?" tanya Hana saat mereka berdua sampai di perumahan kumuh. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan Hana mulai tak nyaman saat melewati gang sempit yang membuatnya beberapa kali menahan napas karena bau yang tak sedap itu. "Kenapa? udah nggak kuat?"tanya Surti meremehkan. Hana langsung menggeleng cepat dan langsung mensejajarkan langkahnya dengan Surti. "Rumah gue emang jauh dan kumuh. Biar lo kapok kalau ke sini lagi. Lagian kenapa sih Lo harus ngikutin gue. Lo kan baru kenal gue tadi." Hana belum menjawab, tak mungkin ia katakan yang sebenarnya. "Lo gabut? gak punya kerjaan?" Hana pun hanya mengangguk saja, supaya Surti tidak banyak tanya lagi. Surti berhenti di rumahnya yang jauh dari kata layak. Sepetak rumah yang temboknya dari kayu triplek, tanah yang Surti tempati ini, Hana yakin bukan tanah legal tapi tanah ilegal. Dalam hati Hana bertanya apa Surti tidak takut jika suatu saat nanti akan digusur? Jika menilik dari namanya, Surti adalah nama orang Jawa, Hana mulai berpikir Surti mungkin termasuk orang-orang urban dari Jawa yang mengikuti orangtuanya mengadu. asin di kota. "Kenapa masih diam saja di situ? Jijik apa risih ?" Surti bertanya seolah tahu apa yang dipikirkan Hana sedari tadi hingga hanya mampu diam sambil menatap rumahnya yang kumuh. "Eh, itu... kamu apa orang dari Jawa Tengah?" tanya Surti "Iya, orang tua gue asli dari Jawa tapi gue udah ngikit bokap dan nyokap sedari kecil, saat gue masih belum lancar ngomong." "Umur satu tahun ya kira-kira?" tanya Hana menebak. "Iya, mungkin segitulah." Hana pun meski risih tetap memaksa dirinya untuk mengikuti Surti sampai ke dalam rumah. Di dalam rumah Surti pun lengkap dengan perabotannya meski Hana tahu yang menjadi tempat tinggal Surti ini adalah tempat ilegal. Ada TV, meja ruang tamu, kamar, dapur, kamar mandi, dan ketika matanya mulai menjelajahi seisi rumah Surti, sosok kedua orang tua Surti muncul dari pintu dan Hana sedikit kaget tapi ia langsung bertindak sopan dan mencium tangan keduanya. Ternyata bapak Surti bekerja sebagai tukang becak dan ibu Surti bekerja sebagai penjual cilok keliling. Tetapi kata bapak Surti jika hari Sabtu dan minggu ia jadi kuli serabutan. Betapa kasihan mereka yang sudah tua harus bekerja begitu kerasnya. Surti keluar setelah berganti pakaian. Ia mebemukan Hana yang masih bercakap-cakap dengan bapak dan ibunya. Hana pun duduk dan ikut mendengarkan. "Sejujurnya kamu nggak setuju kalau Surti sekolah di SMA Lurus Maju karena biayanya yang mahal, tapi karena Surtinya kukuh dan yakin kalau akan dapat beasiswa akhirnya kami pun pasrah, Nak. Eh, ternyata bener, dia bisa dapat beasiswa. Tapi ibu dan bapak juga tak mengerti kenapa si Surti ini kalau sekolah suka dandan menor, katanya di sekolahnya dandan kayak gitu sudah lumrah, tapi ibu lihat kamu, biasa saja, nggak pakai apa-apa." "Itu karena dia ukhti-ukhti Bukk...." jawab Surti yang membuat ibunya tak mengerti. "Ukhti-ukhti ? Apa itu?" "Hishhh.... ibu kalau nggak ngerti gak usah ikut-ikutan deh, dah mendingan ibu mandi apa ngapain kek gitu, jangan ganggu temen Surti Bukkkk...." Hana hanya mampu tersenyum, sebab ia bukan tipe orang cerewet, ia suka mengamati orang saja jika masih tahap pengenalan. Ia juga sebisa mungkin tak menunjukkan sikap mencampuri urusan mereka. Ibu Surti pun pergi meninggalkan Hana dan Surti di ruang tamu. Sedangkan bapak Surti sudah sedari tadi di belakang rumah yang terdengar memukul sesuatu. "Gue abis ini mau cabut, Lo masih mau ngintilin gue?" tanya Surti. Hana mengamati tampilan Surti sekarang, ia tampak memakai dress merah selutut dengan bagian leher dan dada yang sedikit terbuka. Rambutnya sekarang sudah digerai. Sedangkan wajahnya masih menor. Sepertinya Surti sedang mengusir Hana secara halus dan Hana menyadari itu. Ia pun menggeleng dan pamit pulang ke rumah. "Kapoklah datang ke sini Han. Lo jangan berharap bisa jadi teman atau sahabat gue. Kalau Lo mau punya temen mending Lo temenan yang sefrekuensi aja. Gue gak akan bisa jadi temen Lo." Hana tak menggubris itu, ia merasa kata-kata itu hanya untuk membuat Hana jera dan Hana yakin kalau Surti begitu karena keadaan ekonomi keluarganya. Namun, pikiran positif itu segera sirna tatkala ia diam-diam mengikuti Surti ke suatu tempat dan di sana Surti dicium oleh om-om. Mungkin usianya seperti paman alias adik ayahnya. Apa mungkin itu saudara Surti? Masak saudara sampai segitunya sih? Kalau dia om-om sugar Daddy gimana? Berati Surti.... Hmm... Ini harus segera diselidiki! Semenjak kejanggalan-kejanggalan itu hadir dan tentang Surti semakin membuat banyak pertanyaan dalam benaknya, Hana bertekad ingin menjadi wakil ketua. Jika ia menjadi wakil ketua maka ia akan leluasa mencari informasi tentang Surti. Bukan hanya Surti saja malahan, satu kelas bisa ia korek informasi nya dengan jabatannya sebagai wakil ketua. Hana langsung balik ke sekolah hendak menemui Pak Saif sebagai wali kelasnya. Ia yang akan menyatakan kesediaannya kepada pak Saif. Tetapi ia urung saat tahu ada Ilen yang sudah mendahuluinya untuk menemui Pak Saif. Hana langsung ke kelas. Ia yakin Ilen pasti akan kembali ke kelas. Ia akan bilang ke Ilen kalau ia bersedia menjadi wakil ketua kelas. Apapun yang terjadi ia harus menjadi wakil ketua kelas.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
menjiwai seakan masuk kedalam cerita
16/08/2022
0ini sangat bagus
21/04/2025
1cerita sangat bagus
16/03/2025
0Lihat Semua