Ilen menghampiri Hana yang masih duduk dengan santai. banyak pertanyaan yang bermunculan di benak Ilen, tapi ia hanya diam, sampai ia berjarak satu meter dengan Hana. "Lo ngapain di sini?" tanya Ilen. Hana berdiri dari duduknya, "Aku mau jadi wakil ketua kelas 10 IPA 2." Wouw! "Serius Lo? Bukannya tadi Lo nggak mau..."Ilen seperti tak percaya dengan pernyataan Hana. Ia berusaha mengorek alasan perubahan Hana yang tiba-tiba mau jadi wakil ketua. Kalau tahu gini kan nggak usah susah-susah buat ide gila kayak tadi. Huh. Udah dosa harus bohong, pura-pura ke wali kelas dan berujung diumpat kakak kelas. Apes...apes... "Aku serius." Hana menjawab tanpa keraguan. Ilen senang karena setidaknya Hana tak harus marah-marah kepadanya kalau ketahuan ia dipaksa jadi wakil ketua. "Okey, tapi karena lo telat buat konfirmasi ke gue kalau Lo mau jadi wakil, maka gue akan beri persyaratan. Apalagi tadi Lo udah bentak-bentak gue. Gimana?" " Apa syaratnya?" tanya Hana. "Lo bantu gue ngepel kelas ini." Pernyataan Ilen membuat Hana mendengus kesal, "cuma itu doang? kalau cuma itu doang mah aku pel sendiri juga sanggup." Hana kembali bersikap cerewet dan galak. "Bagi dua aja. Lo dulu trus nanti baru gue, sekalian gue kembaliin pelnya ke Pak Kebon." "Nggak. Aku sendiri aja." Hana langsung mengambil pel dan ember yang diletakkan di samping lemari. Ilen tak mau kalah ia segera merebut pel itu dari Hana tapi ia harus menahan sakit karena tiba-tiba Hana menyodok kakinya dengan pel, hingga celananya basah. "Gilak! Sakit Woy..." jerit Ilen. Hana tak menggubris Ilen yang kesakitan, ia segera mengepel lantai kelas agar cepat selesai dan segera meninggalkan kelas agar tak berlama-lama dengan Ilen. "Heh," Ilen berusaha membuat Hana memperhatikannya. "Lo tu harusnya dipanggil Hama bukan Hana...Ya... Hama lebih cocok karena suka merusak, hari ini udah bentak-bentak gue, trus udah dikasih kesempatan buat jadi wakil malah mukul gue pakai pel yang bau dan lihat..." Ilen menunjukkan celananya yang basah. Hana tetap terus fokus mengepel lantai. Ilen jadi kesal sendiri dan saat ada kaki seribu melintas di depan kakinya, ia pun segera menggeser kaki seribu dengan ujung tapak kakinya yang memakai alas sepatu, kaki seribu itu pun akhirnya terlempar ke arah Hana. Ilen sudah tertawa membuat Hana tak heran lagi siapa pelakunya. Hana ternyata tidak takut dengan kaki seribu, ia membiarkan kaki seribu berjalan dengan lambat lalu ia terus mengepel lantai. Sikap takut Hana yang Ilen harapkan malah nggak ada dan membuat Ilen semakin kesal. Hana selesai mengepel lantai dan meletakkan ember serta pelnya di depan Ilen yang mukanya sudah kusut. "Kita lihat aja, siapa yang akan dimanfaatkan. " Hana tersenyum, membuat Ilen mengalihkan pandangannya. "Kamu salah jika menjadikanku target. Aku bukan target. Kamu udah mengusikku dan..." Hana menyerahkan kertas yang dilipat ke Ilen. Ilen merasakan aura mengerikan sekarang. Ia pun mengambil kertas itu meski dengan ragu-ragu. "Mari kita saling bermain ular tangga yang sebenarnya. Siapa yang mendapatkan ular, ia akan turun level dan yang nail tangga ia berhak naik level. Saat naik level itu maka ia berhak mendapatkan hadiah. Hadiah bisa ia tentukan sendiri dan bagi yang kalah harus menerima jika harus menuruti permintaan yang naik level. Gimana?" Ilen semakin tak mengerti dengan maksud Hana. Kenapa mereka harus main ular tangga? Ilen tak menyangka jika salah umpan. Harusnya ia tak mengejar Hana untuk jadi wakilnya. Sekarang malah Hana menjadi buah simalakama untuknya. "Gue nggak mau." Ilen nggak akan terjebak dengan permainan Hana. "Ok, aku rasa tidak perlu persetujuanmu. Aku akan membuatmu masuk dalam permainanku dalam waktu dekat. Kamu akan tahu rasanya sudah mengusikku." Hana mengancam Ilen secara tersirat. Dalam hati Ilen pun sudah was-was jika apa yang dikatakan Hana bukan hanya sekadar ancaman. Ilen meneruskan mengepel lantai. Ia tak kelelahan karena ia sudah terbiasa mengepel lantai tetangga. Ayahnya keturunan Cina dan ia dididik untuk bekerja jika menginginkan sesuatu. Makanya dia selalu mendatangi tetangganya dan memohon untuk diberi pekerjaan agar mendapatkan uang. Kadang-kadang ia menyapu dan mengepel lantai, kadang juga menyapu halaman, menyiram tanaman, memotong rumput dan bahkan ada yang menyuruhnya mengasuh anak mereka. Ayahnya juga yang membuatnya berambisi dan berego tinggi. Setelah selesai mengepel lantai Ilen segera menyerahkan pel dan embernya di gudang penyimpanan barang-barang dan alat-alat kebersihan. Ketika melewati ruang UKS setelah meletakkan pel dan embernya di gudang penyimpanan barang-barang dan alat-alat kebersihan, Ilen bertemu lagi dengan kakak kelas yang tadi mengumpatnya. Kalau nggak salah tadi namanya Vienna, ya Kak..Vienna. Ia akan ingat-ingat nama itu. " Ehm." Vienna berdehem, membuat Ilen melihatnya. Vienna pun berhenti di depan Ilen. Ilen mau tak mau berhenti juga. "Gue...gue minta maaf sama Lo,"ucapnya. "Oh. Iya, Kak." Ilen pun pura-pura tersenyum. "Mmmm...Lo udah milih eskul?" tanya Vienna. "Belum, Kak," jawab Ilen jujur. "Gimana kalau Lo ikut eskul teater?"tawarnya dengan tersenyum lebar, membuat Ilen membayangkan venom di sana. Astaga! "Oh maaf, Kak, sepertinya saya harus pikir matang-matang karena kejadian tadi." Ilen berkata apa adanya. Kejadian tadi membuatnya ogah masuk eskul teater. Tiba-tiba Vienna menarik tangan Ilen dan mengajaknya masuk ke ruang UKS. "Bukan muhrim..." seru Ilen meniru gaya Hana saat ia mulai mepet-mepet dengannya. Saat sudah masuk UKS raut wajah Vienna langsung berubah. Ia menjadi galak lagi. Duh kenapa cewek SMA Lurus Maju banyak yang galak-galak gini sih.. "Lo harus tanggung jawab atas apa yang membuat gue jadi nggak bisa masuk eskul teater." "Lha, Kok saya?" "Karena elo yang udah nolak gue waktu itu. Lo sengaja ya ngerjain kakak kelas? Lo tahu kan itu cuma buat ujian masuk eskul teater?" Vienna terus memojokkan Ilen. "Sumpah! Gue nggak tahu, Kak." "Lagian, gue itu udah punya pacar. Jadi nggak mungkin nembak Lo beneran." "Ok. Gue harus lakuin apa buat bantu kakak bisa masuk eskul teater?" Vienna tersenyum puas, "Lo harus masuk eskul teater." Ha??? Masuk eskul yang sudah ia lkasih tanda merah adalah seperti menelan air ludah yang sudah ia buang. Alias nggak mungkin!
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
menjiwai seakan masuk kedalam cerita
16/08/2022
0ini sangat bagus
21/04/2025
1cerita sangat bagus
16/03/2025
0Lihat Semua