logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 19 Terungkap

Kantin yang biasanya begitu ramai dan berisik dengan rumpian penghuninya, seketika berubah sunyi seperti kuburan. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, meski berasal dari sendok yang beradu dengan tempat makan pun tak berani mereka lakukan.
Tatapan elang yang sangat ditakuti semua orang sudah menampakkan diri, kedua tangannya mengepal kuat memperlihatkan urat-urat kasar pertanda jika saat ini Gilang tengah dilanda emosi. Matanya tak berkedip sama sekali, tersirat amarah yang mungkin sebentar lagi akan meledak-ledak seperti petasan.
Cinta yang masih dalam bekapannya saja merinding, ia bisa merasakan deru nafas Gilang memburu. Bulu kuduknya tanpa sadar sudah berdiri gara-gara melihat pembuluh nadi di leher Gilang begitu jelas, sehebat itu pengaruh atmosfer yang dikeluarkan dari dalam diri lelaki ini.
Tanpa melepaskan pandangannya pada Hana, Gilang melepas pegangannya pada Cinta menyuruhnya sedikit memberi jarak. Suara langkah kaki Gilang bahkan mirip dengan film hollywood tentang psikopat, dia mampu membuat semua orang yang ada di sini ketakutan meski targetnya hanyalah Hana.
"Alesan apa yang mau lu kasih tahu ke gua, sebelum tangan gua lepas kendali?"
Gilang menunjukkan jati dirinya sekarang, ia memang dikenal kasar tak peduli dengan gendernya laki-laki atau perempuan. Siapa pun yang berani mengusiknya, satu ukiran luka tak cukup untuk memberinya pelajaran.
Tapi anehnya, Hana sama sekali tidak terlihat ketakutan. Ditatap oleh Gilang di jarak seperti ini malah membuatnya senang, meski ia sadar itu bukanlah tatapan cinta dan kasih sayang. Dirinya memang sudah gila, Hana tak bisa menolak wajah tampan dan pesonanya. Gilang selalu terlihat tampan dalam kondisi apa pun, entah marah, diam, dipenuhi lebam, tidur, dan lain sebagainya. Mungkin sebentar lagi matanya akan buta, karena yang ada di dalam pandangannya hanyalah Gilang, Gilang, dan Gilang.
"Gilang, i miss y-"
"BERHENTI MANGGIL NAMA GUA!" nada bicara Gilang begitu tinggi, sampai terngiang-ngiang di telinga beberapa kali seperti dibisiki speaker jarak dekat.
"Aku begini juga karena kamu, aku masih sayang sama kamu."
Gilang berdecih dengan bibir tersenyum miring merendahkan. "Lu bener-bener cewek gak tahu malu, gak punya harga diri. Otak lu di taro di mana? Lu kira gua bakal percaya sama omongan lu?"
"Kamu harus percaya sama aku, cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia. Gak ada yang lain!"
Hana tetap tidak menyerah, tujuannya untuk mendapatkan hati Gilang kembali memang bukan main. Ucapan Gilang tentang gadis di depannya yang tidak tahu malu, sepertinya memang benar adanya.
Hana kembali memohon, sampai ia menggenggam tangan kanan Gilang yang mungkin akan semakin memuncakkan emosinya. "Lang, please ... Kasih aku kesempatan, aku nyesel. Aku janji aku bakal perbaikin semuanya, please come back."
BRUGH!
Puluhan pasang mata yang melihat tak bisa berkata-kata, saat Gilang menepis kasar tangan Hana siapa pun tahu pasti itu rasanya sangat sakit. Tubuh Hana terbentur meja untuk kedua kalinya, ia meringis kesakitan. Terlukis senyum pahit di wajah cantiknya, walau wajahnya menunduk meredamkan rasa perih.
Sorot mata mengerikan masih belum hilang dari Gilang, ia begitu muak dengan tingkah laku Hana. Padahal gadis itu belum ada satu minggu kembali dari Kanada, dia memang definisi racun yang sebenarnya.
"Berhenti gangguin Cinta, jangan lu kira gua gak tahu tentang sikap buruk dan ancaman murahan lu ke dia." sedari tadi Gilang masih mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak, ia bisa saja menghabisi Hana sekarang, tapi di lubuk hati kecilnya tak bisa di bohongi masih ada setitik rasa untuknya. Meski dipenuhi oleh luka yang begitu banyak, gadis itu masih berbekas di hatinya.
Mendengar tutur Gilang membuat Cinta tertegun, ia jadi ingat dengan pertanyaan Gilang kemarin sore kala dilanda hujan deras. Berarti selama ini, Gilang memang sudah mengetahuinya.
Cinta bisa melihat tubuh Hana bergetar, matanya berkaca-kaca. Perlahan pertahanan seniornya itu roboh, air matanya menetes membuat siapa pun yang melihatnya iba. Gilang pasti akan di cap sebagai lelaki paling brengsek tak punya perasaaan, karena telah menangisi seorang gadis hingga berperilaku kasar padanya. Tapi bukan Gilang namanya kalau peduli dengan hal itu, tangisan buaya Hana sama sekali tak membuatnya berhenti.
"Sekali lagi gua lihat lu gangguin Cinta, bahkan nyentuh dia seujung jari pun. Jangan harap gua berbaik hati sama lu," ancam Gilang. "gua bakal lebih kasar, gak peduli lu sakit hati atau enggak."
Gilang beralih menatap Cinta yang tengah menatapnya juga, ia mendekat meraih tangannya menyeret Cinta keluar kantin.
Kejadian seperti ini menjadikan Melan selalu sendirian secara tiba-tiba, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya. Melan tidak suka mencari masalah dan keributan, jadi ia akan mengalah saja apalagi berhadapan dengan Gilang tidak akan berani.
Saat mengekori kepergian sahabatnya dalam diam, matanya tak sengaja bertabrakan dengan Reno yang ikut menatap ke arahnya secara bersamaan.
Canggung, rasanya Melan ingin tenggelam saja ke antartika. Mengingat dirinya pernah diselamatkan Reno saat insiden taruhan itu, tak pernah ia sangka sebelumnya di masa depan bisa berurusan dengan Avenged.
Semenjak kejadian malam itu, jantungnya seperti berhenti berdetak setiap bertemu dengan Reno. Karena siapa pun yang diselamatkan oleh lelaki yang diidolakan hampir satu sekolah, pasti akan membekas diingatan.
Sepertinya, saat ini juga Melan tengah mengalami hal itu.

Komentar Buku (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    26d

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru