logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Bermacam Gangguan

Rentenir vs hantu
Part 7
***
Sekitar sepuluh meter mendekati pintu samping rumah, tiba -tiba aku melihat sosok putih menggantung di pohon kelapa yang ada di halaman samping rumahku.
Sejenak diri ini terkesiap, laju sepeda motor kupelankan. Aku lantas mempertajam mata, agar bisa melihat dengan lebih jelas ke arah pohon kelapa, gerangan apakah yang ada di sana.
Degupan jantung yang belum normal saat bertemu dengan pemuda misterius di jembatan tadi, kembali berdetak tak karuan. Keringat dingin mulai mengalir di kedua pelipis.
Aku merubah lampu sorot sepeda motor menjadi lampu jarak jauh, lalu kusorotkan ke arah pohon kelapa. Ya Allah … sosok berwarna putih itu masih ada di sana dan terlihat sangat jelas, karena jarak yang semakin dekat.
Sudah tak mungkin lagi aku menghindar dengan berbalik arah. Dengan debaran jantung yang semakin kencang, aku menjalankan sepeda motor ke arah pintu samping dengan mata terpejam.
Begitu sampai di depan pintu samping rumahku, bergegas diri ini membuka kuncinya dan cepat-cepat memasukkan sepeda motor tanpa melihat lagi ke arah sosok berwarna putih yang menggantung di pohon kelapa.
Selesai memarkirkan sepeda motor, aku kemudian menuju ke ruang tengah, lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Perlahan aku mengatur napas yang masih terengah-engah.
Setelah agak tenang, aku lalu menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Aku langsung minum sampai tenggorokan terasa basah.
Lantas aku menuju ke kamar. Bergegas membasuh muka dan seluruh badan serta berganti pakaian tidur. Segera aku beranjak tidur, rasanya lelah sekali sepanjang hari ini.
***
"Assalaamu'alaikum. Bu Bidan … Bu … assalaamu'alaikum."
Tok … tok … tok ….
Aku terbangun ketika samar-samar mendengar suara pintu belakang rumah ada yang mengetuk sembari memanggil namaku. Kulihat jam di dinding kamar, sudah pukul tujuh pagi.
Kusibakkan selimut yang menutupi sekujur tubuh. Aku lalu bangkit dan berjalan ke belakang dengan perlahan. Sebentar aku mengintip dari balik gorden, siapa gerangan yang ada di luar sana.
Sejak mempunyai masalah utang dengan Parto dan Eka, aku menjadi seorang paranoid. Jika ada ketukan pintu atau suara sepeda motor di depan rumah, seketika degup jantung berdetak lebih cepat. Semua gorden dan pintu, tak pernah lagi terbuka.
Tampak di luar, ada Mbak Siti dan Mbak Sam sedang berdiri di depan pintu belakang rumahku. Mereka berdua adalah tetangga depan dan samping rumah.
Aku segera membuka pintu. Mereka terlihat saling berpandangan, sebentar kemudian tersenyum ke arahku. Membuatku bingung tentu saja.
"Ada apa, Mbak?" tanyaku.
"Maaf, Bu. Apa Bu Bidan baik-baik saja?" tanya Mbak Sam.
Aku tak segera menjawab pertanyaan Mbak Sam, masih menebak-nebak, apa kira-kira maksud dari pertanyaannya.
"Kenapa memangnya, Mbak?" Aku balik bertanya.
"Tadi malam saya dengar suara orang menangis dari arah kamar Bu Bidan, waktu saya sedang ke sumur," kata Mbak Sam.
Sumur keluarga Mbak Sam memang berada di belakang rumahnya, jaraknya lumayan dekat dengan kamar tidurku, mungkin sekitar enam atau tujuh meter.
"Jam berapa, Mbak?" tanyaku heran, karena tadi malam aku tidur nyenyak sampai pagi.
"Sekitar jam dua sampai jam tiga. Saya pikir Bu Bidan sedang salat tahajud dan berdoa dengan sangat khusuk sampai menangis. Saya lalu memanggil suami untuk meyakinkan, kalau saya nggak salah dengar dan dia juga mendengarnya," kata Mbak Sam.
"Yang sabar ya, Bu," kata Mbak Siti.
Mungkin dia bermaksud menghibur, karena masalah utang yang tengah melilitku dan mengira bahwa suara tangisan yang didengar oleh Mbak Sam dan suaminya adalah memang benar suara tangisanku.
"Iya, Mbak. Terima kasih," jawabku sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau Bu Bidan baik-baik saja, sekarang kami mau pulang dulu," kata Mbak Siti sembari tangannya menggandeng tangan Mbak Sam, menjauh dari pintu belakang rumahku.
Aku bergegas menutup pintu kembali, begitu mereka tak terlihat lagi dari pandangan, khawatir jika Parto atau Eka akan datang menagih utang. Lalu, aku menuju ke kamar lagi, merebahkan badan yang masih terasa lelah.
Tiba-tiba HP-ku berbunyi, tanda ada pesan yang masuk. Kulihat sejenak, pesan dari Bu Halimah.
[Bu sedang di mana? Sudah dapat uang yang lima juta belum?]
Bunyi SMS dari Bu Halimah. Aku mendengkus. Memangnya aku punya tuyul, yang dalam sekejap bisa memberiku uang sebanyak itu. Baru saja tadi malam dibahas masalah uang lima juta rupiah, masa iya pagi ini uang itu sudah tersedia?
Untuk beberapa saat aku mengabaikan SMS dari Bu Halimah. Buang pulsa saja menjawab hal yang tak penting, begitu pikirku.
Kembali HP-ku berbunyi, tanda ada pesan yang masuk. Kudiamkan saja, aku tak ambil peduli. Hingga empat kali HP-ku berbunyi, tanda pesan masuk.
Akhirnya kuraih benda pipih itu dengan malas. Ternyata SMS dari Mas Iwan, yang mengatakan kalau Parto dan Eka beberapa kali datang ke bengkel menagih utang, karena mereka tak pernah bisa menemuiku jika datang ke rumah.
Aku kemudian meminta pada Mas Iwan agar selepas magrib untuk datang ke rumah. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya, dan suamiku berjanji akan berusaha untuk datang nanti malam.
Selepas magrib, aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku hafal betul kalau itu suara mobil Mas Iwan. Segera aku membuka pintu depan sebelum suamiku mengetuknya.
Padahal aku merasa sangat was-was, khawatir jika tiba-tiba saja Parto akan muncul. Namun, jika tak segera mengatakan hal itu pada Mas Iwan, malah akan menimbulkan masalah baru, begitu pikirku.
Suamiku segera masuk begitu pintu terbuka. Dia membawa dua buah kantong plastik berukuran besar yang isinya bermacam makanan kering. Dia lalu meletakkannya di atas meja makan.
Aku dan Mas Iwan kemudian berpelukan dan aku menangis dalam pelukannya. Untuk beberapa saat kami menangis bersama. Meski tak saling berkata-kata, tapi aku yakin kami merasakan kesedihan yang sama.
"Apa yang mau kamu sampaikan, Mah?" tanya suamiku, setelah tangisan kami reda.
Aku menghela napas panjang. Kutatap wajah suamiku, wajah orang yang sangat aku cintai selama ini.
"Aku ingin kita berpisah, Pah."
Akhirnya dengan susah payah keluar kata-kata itu dari mulutku. Terlihat suamiku sangat terkejut. Dia menatapku lekat-lekat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Aku kemudian memberikan alasan dengan panjang lebar, kenapa aku meminta untuk berpisah dengannya. Semua aku lakukan untuk kebaikan bersama, terutama kedua anak kami, Agung dan Melda. Kasihan mereka harus ikut merasakan ketakutan karena masalah yang aku buat.
Aku tak ingin mereka selalu dihantui rasa ketakutan, karena kedatangan para rentenir yang menagih utang. Jika statusku bukan lagi istri dari papanya anak-anak, tentu saja Parto dan Eka tak bisa lagi menagih utang ke mantan suamiku.
Awalnya tentu saja Mas Iwan menolak mentah-mentah keinginanku itu. Dia mengatakan, agar aku bersabar menghadapi semuanya, karena dia pun tak henti mengusahakan bagaimana caranya agar semua utangku bisa segera dilunasi. Namun, usahanya itu memang belum membuahkan hasil. Mobil yang kami miliki pun belum bisa terjual.
Tapi tekadku sudah bulat untuk berpisah dengan Mas Iwan. Aku merasa tak tega melibatkan suami dan kedua anak kami ke dalam masalahku.
Aku sangat mencintai mereka. Kasihan jika mereka harus ikut menanggung perbuatan yang telah kulakukan. Toh sudah tiga tahun lamanya aku bisa menghadapi semuanya sendiri.
Selesai salat isya suamiku pamit. Kembali kami berpelukan dan menangis bersama, untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya kami resmi bercerai.
Cepat-cepat aku menutup pintu, begitu mobil Mas Iwan meninggalkan halaman depan rumah. Aku bernapas dengan lega, karena selama suamiku berada di rumah, Parto tak muncul dengan tiba-tiba.
Ketika akan masuk ke kamar, aku melihat sekelebat bayangan di dalam kamar Agung yang pintunya terbuka sedikit.
Perlahan aku membuka pintu kamar Agung dengan berdebar-debar. Pandanganku mengelilingi setiap sudut kamarnya. Tak terlihat siapa pun di dalam. Cepat-cepat aku menutup kembali pintunya dan segera masuk ke kamar.
***
Di dalam kamar, diri ini membaringkan tubuh di atas kasur. Mataku memandang ke langit-langit. Pikiranku melayang ke masa-masa indah bersama suami dan kedua anak kami.
Sama sekali tak pernah menyangka, jika sekarang aku harus hidup sendiri, tanpa orang-orang yang sangat kucintai berada di sisiku. Tak terasa, air mata mulai membanjiri kedua pipi.
Tiba-tiba HP-ku berdering, ada panggilan dari Bu Halimah. Aku menerimanya dengan malas. Dia memintaku agar datang ke rumahnya besok pagi, karena ada hal penting yang akan dia katakan sehubungan dengan pinjaman nol persen yang dijanjikan oleh Hadi tempo hari.
Aku mengiyakan sebelum menutup telepon dari Bu Halimah. Pagi-pagi sebelum subuh, aku sudah sampai di rumahnya, begitu janjiku padanya.
Kembali aku menatap langit-langit kamar, entah apa sebenarnya yang kulihat di atas sana. Jarum jam di dinding telah menunjukkan waktu pukul sebelas malam, tapi mata ini masih belum bisa terpejam.
Klik … klik …
Tiba-tiba terdengar suara kunci pintu diputar. Suaranya sangat jelas di telinga. Datangnya dari arah kamar Melda, yang memang berdampingan dengan kamarku. Lalu, terdengar suara pintu berderit, tanda ada yang membukanya.
Spontan aku langsung merinding, bulu kuduk di leher dan kedua tanganku meremang. Keringat dingin mulai mengucur di kedua pelipis, jantungku berdetak tak karuan.
Ya Allah … siapa itu yang membuka pintu dan keluar dari kamar Melda? Seingatku semua kunci pintu berada di luar.
Cepat-cepat aku menutupi seluruh tubuh memakai selimut karena saking merasa takut. Entah jam berapa akhirnya aku pun tertidur.
***
Keesokan harinya, aku bangun kesiangan. Aku melihat jam di dinding sudah menunjukkan waktu pukul delapan pagi. Matahari sudah beranjak naik, sinarnya masuk ke celah-celah jendela kamarku.
Aku melihat HP, ada beberapa pesan yang masuk dan beberapa kali panggilan tak terjawab. Semuanya dari Bu Halimah.
Bergegas aku mandi dan membuat mie instan untuk sarapan. Tak mungkin aku keluar pergi ke rumah Bu Halimah pada jam segini, bisa-bisa ketemu Parto di jalan, orang yang lebih menakutkan daripada hantu menurutku.
Saat suara azan zuhur terdengar dari toa masjid, aku bergegas keluar dari rumah. Aku tahu dengan pasti, pada waktu zuhur tiba, jalanan akan sangat sepi. Dan benar saja, aku bisa selamat dari intaian Parto.
Ketika sepeda motor yang aku kendarai akan sampai di jembatan, ada bendera putih setengah tiang yang dipasang di depan sebuah rumah, tanda ada orang yang meninggal. Aku berhenti sebentar untuk menaruh uang di baskom yang diletakkan di atas kursi yang ada di depan rumah itu.
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ingin sekali melihat siapa yang meninggal, padahal aku sedang buru-buru, khawatir ketemu Parto di jalan.
Setelah memarkirkan sepeda motor, aku masuk dan menyalami orang yang ada di dalam. Lalu, aku menuju meja dimana jenazah orang yang meninggal dibaringkan.
Perlahan aku membuka kain penutup wajahnya. Betapa terkejut aku, saat melihat siapa yang tengah terbaring di atas meja tersebut. Dia adalah pemuda yang menolongku membelikan bensin tadi malam. Meskipun semalam hanya sekilas memperhatikan wajahnya, tapi aku bisa mengenalinya.
Dengan tangan gemetar, kututup kembali kain penutup wajah pemuda itu. Sebaris doa aku panjatkan untuknya, semoga dia diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan diampuni semua dosa serta kesalahannya.
Cerita yang aku dengar dari salah seorang pelayat, pemuda itu bernama Prayit. Dia meninggal kemarin sore karena tenggelam di sungai yang berada di bawah jembatan. Ketika sedang memancing, dia tergelincir dan teman yang ikut bersamanya tak berhasil menolongnya.
Setelah berbincang sebentar dengan para pelayat, aku mohon pamit. Aku kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah Bu Halimah.
***
Bersambung

Komentar Buku (222)

  • avatar
    Ndut'z Ndut'z

    cerita nya bagus².. apa lagi cerita ttg dokter atau rumah sakit.. tanda baca nya baik, bisa d mengerti para pembaca..

    25/01/2022

      4
  • avatar
    alisaatie

    Bagus ceritanya,tata bahasa baik, kalimatnya jg baik&mudah dicerna. Hnya tidak tepat sj penempatan genrenya mnurut sy. Novel ini kurang sesuai jika dikatakan sebagai novel horor, krn lbh bnyak menceritakan lika liku kehidupan Wati dibndingkan dgn hal yg brhbngan dgn dunia gaib. But over all is good. Ttp smngat utk sang penulis,agar dpt sllu mnghasilkan karya2 yg lbh berkualitas lg.

    25/01/2022

      0
  • avatar
    Ita Anggraeni

    bagus ceritanya ☺️

    27/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru