Megan sedang bersama Bintang di salah satu pusat perbelanjaan kota. Kebetulan sedang akhir pekan dan malam tadi Megan juga selepas bermimpi indah bersama salah satu member idolanya lainnya yaitu Raven. Akhirnya setelah sekian lama menunggu bertemu lelaki kelahiran 1998 itu tercapai malam tadi. "Bin, apa kita juga akan ngelakuin hal yang sama seperti mimpiku malam tadi?" Tanya Megan sesaat setelah mereka masuk di zona game. "Iya, Gan. Kita ga boleh ubah alur mimpi. Jadi, apa yang ada dimimpi kamu itu yang akan kita lakuin." Akhirnya, Megan bisa mendengar Bintang berbicara dengan bahasa yang lebih santai, sama sepertinya. Sepertinya lelaki itu mengerti, bahwa Megan tidak terbiasa menggunakan bahasa yang baku. "Yaudah, kalo gitu kita ke mandi bola ya? Soalnya aku sama Raven main di situ malam tadi." Bintang mengangguk mengerti sebenarnya tanpa diberitahu Megan pun, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Spontan, tangannya menggenggam tangan Megan membuat gadis itu sedikit terkejut padahal Raven juga melakukan ini padanya tapi sensasi dari mereka berdua sangatlah berbeda. "Jadi bener nih kalo nanti gue mimpi nikah sama Tavian atau pun Lukiel atau yang lain, gue sama Bintang juga ngikutin alur mimpi itu juga? Ga kebayang sumpah!" Gumam Megan histeris didalam hati. Didalam kolam bola ini hanya ada mereka berdua jadi Megan dan Bintang dengan leluasa dapat melakukan banyak atraksi disana. Setelah puas bermain di zona permainan, mereka langsung menuju bioskop yang ada dilantai atas. "Ini beneran kita nonton genre horor?" "Bukannya kalian nonton genre ini juga, kan?" "Hm, iya sih, Bin. Tapi kan aku di mimpi ga takut tapi kenyataannya aku takut hantu." Megan langsung murung dengan bibir yang sudah mengerucut. Bintang tampak gemas melihat ekspresi gadis disampingnya ini, ingin sekali rasanya ia mencubit pipi tembam milik Megan. "Gapapa kok. Ada aku disini jadi kamu ga perlu takut ya?" Mereka memilik duduk ditengah dari tadi tangan Megan tak lepas memeluk lengan Bintang. Megan memang penakut jika bersangkutan dengan hal yang mistis karena sedari kecil kedua saudaranya sering menjahilinya dengan mengganti siaran kartun menjadi siaran horor hingga deman seminggu. "Bin, filmnya udah selesai belom? Keluar aja yuk." Pinta Megan seperti anak kecil meminta permen. "Aku udah bilang tadi, kalo kita ga boleh ubah alur mimpi." "Jadi gimana dong? Kamu ga liat dari tadi aku merem terus. Itu lho suara ketawa hantunya serem banget, Bin." "Ada aku, Megan." Deg. Mendengar kata-kata itu lagi membawa perasaan untuk Megan. Jika diandaikan mungkin seperti ada kupu-kupu yang memenuhi hatinya. Rasa takut didalam dirinya juga sedikit berkurang karena Bintang sudah berusaha menenangkan. Walaupun rasa takut sedikit berkurang tapi mata Megan enggan terbuka. Ia juga sudah berteriak kecil sejak tadi membuat Bintang terlonjak kaget karena teriakan Megan tepat di telinganya. "Udah selesai, Megan. Kamu masih mau teriak-teriak? Diliatin orang lho." Megan membuka matanya, benar saja film sudah berhenti sejak tadi. Gadis itu cukup kesal kenapa rasa takutnya tetap ada tidak seperti nonton bioskop bersama Raven dimana dia dengan santai menatap adegan demi adegan hingga akhir serta memeluk lengan Raven tanpa ada rasa takut tapi kenyataan dari mimpinya ia menonton dengan memeluk lengan Bintang karena rasa takut yang mendominasi dirinya. "Coba aja yang ditonton itu film kartun atau genrenya tuh romantis gitu, pasti aku ga kaya tadi." "Jangan salahin filmnya tapi salahin mimpi kamu kenapa yang ditonton ga kartun atau film romantis." "Ih jangan, entar aku ga bisa nonton bareng sama Raven, kapan lagi kan bisa meluk-meluk Raven kaya gitu." Sahut Megan membela diri walau harus menahan rasa takut yang tak kunjung hilang. Setelah menonton film di bioskop, mereka berdua pergi mencari makan. Setidaknya mimpi Megan malam tadi memiliki keberuntungan untuknya karena Raven memilih restoran korea sebagai tempat mereka makan siang. "Yang ini, sama yang ini ya." Ucap Megan tanpa melirik buku menu didepannya. Pelayan menulis lalu pergi menuju dapur. Bintang tersenyum tipis melihat bagaimana gadis cantik di depannya ini sudah peka dengan alur yang sedang mereka jalankan. "Hm, Bin. Kamu setelah ini menghilang ya? Ga bisa ditunda aja gitu hehe." "Ga bisa, Gan." Jawab Bintang singkat. Mimpi yang sedang mereka jalankan sudah berada di alur terakhir. Bintang akan menghilang ditaman, tempat dimana mereka berjumpa kebetulan Megan dan Raven berada disitu diakhir mimpi. Selesai makan, mereka langsung ke taman sesuai alur mimpi. "Aku berharapnya kamu ga ngilang sih, Bin. Bisa ga sih durasi mimpinya ditambahin?" Tanya Megan yang duduk di bangku taman bersama Bintang. Mereka sedang menikmati saat-saat terakhir mimpi. Hening. Merasa ada yang tidak beres, Megan menoleh ke samping benar saja feeling bahwa Bintang sudah menghilang. Hal yang sangat menyakitkan adalah kepergian seseorang tanpa mengucapkan kata perpisahan sama seperti apa yang selalu Bintang lakukan selama ini tapi Megan selalu tidak siap dengan ketidakhadiran Bintang secara tiba-tiba. "Baru tadi gue ngomong eh si Bintang udah ngilang duluan. Di ghosting ini mah gue." Canda Megan pada dirinya sendiri. Megan mengambil ponsel didalam tas. Ia menelpon seseorang. Tak butuh lama Carlos datang menjemputnya soalnya tadi sebelum menelpon dia menanyakan posisi teman-temannya di grup obrolan karena posisi Carlos yang tidak terlalu jauh jadi Megan memerlukan tumpangan. "Lama banget sih Lo!" "Terserah gue dong, lagian lo ngapain ganggu waku main gue?" "Hm, sorry. Gue mau nebeng balik." Pinta Megan to the point. "Sopir lo mana? Tumben banget." "Lagi anter Papa gue ke Bandara. Jadi, gue bilang baliknya dianter sama lo." Carlos sudah ingin membuka mulutnya untuk menanyakan banyak hal mungkin mengandung unsur 5W+1H tapi Megan sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan permen ditangan gadis itu. Megan menarik tangan Carlos untuk cepat mengantarnya pulang sebelum pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia jawab terlontar dari mulut hidup seorang Carlos Antogio. Malamnya Megan keluar untuk melihat bintang di balkon kamarnya. Ia teringat bagaimana harapannya terkabulkan oleh bintang jatuh. Cukup lama ia memandangi ribuan bintang dengan bulan sabit ditengah langit gelap hingga tanpa sadar rasa kantuk mulai mendatanginya. Wajar saja karena ini sudah pukul 11 malam. Megan mulai duduk di ranjang tidur untuk berdoa kepada Tuhan sebagai wujud syukur karena perlindungannya selama satu hari ini. Setelah berdoa, Megan menyiapkan ponsel di atas nakas untuk memutar lagu pengantar tidur. Lagu yang dimaksud bukanlah jenis relaksasi seperti suara hujan atau hal-hal menenangkan lainkan tapi lagu pengantar tidur untuk seorang penggemar tak lain tak bukan adalah lagu idola mereka. "Selamat tidur pacar-pacar aku sayang." Megan mengucapkan selamat tidur pada sembilan anggota kesayangannya yang ada di dinding. Mungkin hal ini selalu dilakukan oleh kebanyakan penggemar diluar sana. Pelajaran penjaskes adalah jam yang paling ditunggu oleh banyak siswa tak terkecuali Megan dan kawan-kawan. Mereka sedang melakukan permainan lempar bola dimana satu kelas dibagi menjadi dua tim dan saling melempar bola ke bagian tubuh lawan hingga tak tersisa untuk menjadi pemenang. Alangkah tidak beruntungnya Megan harus melawan tim yang menjadi pesaingnya dalam peringkat kelas. Mata yang saling memicing dengan wajah yang saling menekuk. Megan tetap santai, sedari dulu ia tidak pernah melakukan persaingan melainkan mereka yang merasa tersaingi. Megan yang keasikan tertawa melihat lawannya yang kesakitan karena lemparan tanpa sadar bola terlempar ke arahnya. Booummm... Tidak ada mengenai tubuhnya. Megan yang awalnya menutup mata karena tidak siap dan pasrah menerima lemparan akhirnya membuka mata. Betapa terkejutnya ia karena ada tangan yang sedang menghalangi bola mengenai wajahnya. Lelaki itu tersenyum. "Kamu gapapa, kan?" Tanya Yuta pada Megan. "Yuka?! Hiyaa kamu menyelamatkanku." Pekik Megan kegirangan lalu memeluk Yuta dengan begitu eratnya. Inilah sebuah keberuntungan yang sesungguhnya. Megan terbangun dari tidurnya setelah mimpinya benar-benar terselesaikan, tak lupa terukir senyuman lebar dibibir. Ada dua kemungkinan kenapa dia begitu bahagia setelah bermimpi yaitu karena Yuka, seorang atlet semasa sekolah menengah yang merupakan member dari boygroup kesukaannya masuk ke dalam mimpi atau karena akan bertemu Bintang di sekolah besok.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
wow amazing
09/12
0bagus ceritanya
12/06
0kerenn ceritanya
23/03/2025
0Lihat Semua