logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Kenyataan Mimpi

Bianglala itu berputar dan membuatnya semakin tinggi. Megan sama sekali tidak berani membuka matanya, tangannya terus menggenggam tangan Bintang. Tiba-tiba bianglala berhenti tepat dipuncaknya.
"Kenapa bianglalanya berhenti?! Astaga!" Pekik Megan histeris.
"Megan, kenapa kamu harus takut? Aku ada untukmu. Bukalah mata kamu."
"Ga. Aku ga mau buka mata, aku kan udah bilang aku takut sama ketinggian."
"Cobalah. Aku ada disini, kamu ga mau lihat pemandangan dari atas?"
Megan membuka matanya perlahan. Pandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan Bintang serta senyumannya. Entah kenapa itu dapat membuatnya perasaannya menjadi tenang.
"Ahh! Tinggi banget. Aku beneran takut, Bin."
"Yasudah kalo gitu aku ga akan maksa tapi setidaknya kamu coba dulu."
"Tapi tangan aku jangan dilepas ya?" Pinta Megan lembut.
Pemandangan malam dari atas sangatlah indah. Orang yang berkerumun terlihat sangat kecil serta lampu-lampu membuat hal ini menjadi sangat indah. Awalnya jantung Megan terasa begitu cepat detaknya tapi ia mempercayai Bintang dan mulai sedikit membiasakan tapi ia mengingat satu hal lain yang lebih penting yaitu wahana ini menjadi tempat terakhir yang mereka kunjungi.
Mimpi Megan bersama Doyoung selesai disini setelah turun dari bianglala. Mereka berdua menjalani alur yang sama dari awal hingga diakhir mimpi hanya dialognya saja yang berbeda.
Bintang dan Megan turun dari bianglala. Tangan gadis itu berkeringat dan bergetetar tapi bintang menenangkannya dengan genggaman. Ia membawa Megan untuk duduk di bangku yang cukup jauh dari kerumuman karena letaknya di pojok.
"Aku akan menghilang disini."
"Aku tahu." Sahut Megan lembut. Mimpinya memang selesai disini tepat saat dirinya mulai menggeliat untuk bangun. Tanpa menunggu waktu, Bintang menghilang dari pandangan. Ada rasa sedih didalam hati Megan tapi ia tidak tahu apa tujuan dari rasa sedih dan kesepian ini.
Drttt drttt.... 
Ponsel Megan berbunyi. Artena menelponnya lalu ia mengangkat sambungan telepon. "Iya, Ma?"
"Kamu belum pulang ya, Dek? Ini udah malem banget lho."
Yups, memang sudah cukup malam. Arloji Megan menunjuk pukul 9 Malam. Tidak terasa ia sudah menghabiskan 3 jam disini, ternyata alur mimpinya selama ini padahal jika dirasa hanya sebentar saja.
"Ini juga udah mau pulang, Ma. Mama tunggu aja di rumah ya." Megan mematikan sambungan telepon. Ia membawa pulang boneka beruang hijau besar dipelukannya. Mungkin ukurannya hampir sama besar dengan Megan.
Megan masuk ke dalam mobil dan mendudukkan boneka disampingnya. Beni melirik dari kaca depan sambil tersenyum. "Boneka dari pacar nona ya?" Tebaknya.
Blush.
Wajah Megan seketika memerah. Ia tidak pernah merasa seperti ini padahal ini juga tidak terjadi saat teman-temannya mengatakan ia adalah pacarnya Tavian atau pun Raxy. Pipinya merona karena dibilang pacar dari Bintang walau Beni juga tidak mengetahui siapa dan mungkin hanya menebak.
"Enggak kok, Pak. Ini hadiah dari temen, soalnya dia menang main lempar kaleng."
"Teman ya, Non?"
"Hm, i-iya Pak." Jawab Megan terbata. Sosok Bintang benar-benar membius pikiran dan perasaannya saat ini.
Sesampai dirumah, Megan langsung menuju kamarnya di lantai atas. Kebetulan Mamanya tadi berpesan setelah itu turun lagi kebawah untuk makan malam karena tinggal Megan saja yang belum. Megan melirik kedua saudaranya yang ada dikamar Leo, seperti biasa mereka sedang mabar game online.
"Bang, kalian udah makan?"
"Udah." Jawab mereka serempak. Megan mengangguk lalu berbalik badan untuk turun.
"Lo tadi kemana, Gan? Lo dapet boneka dari cowok ya?" Tanya Orion penuh selidik. Saudaranya satu ini memang memiliki mulut yang usil dan paling suka menjahilinya. Jika dia tahu tentang Bintang pasti sampai tujuh turunan pun ocehannya tidak akan hilang.
"Ga usah mulai. Mulut lo kenapa sih, Bang? Usil banget."
Megan cepat turun ke lantai bawah sebelum Leo juga ikut merecokinya dengan berbagai pertanyaan yang mencurigakan dan tentu saja akan menjebaknya didepan orang tua mereka. Sebenarnya Artena atapun Fabio tidak masalah kalau Megan punya pacar, masalahnya hanya pada Leo dan Orion yang memiliki mulut setajam mulut tetangga.
Artena ada di meja makan, sepertinya sedang menunggu Megan untuk makan. "Mama ngapain disini? Belum tidur?"
"Mama mau nemenin kamu makan aja. Jarang-jarang juga Mama ada dirumah kan?"
Megan mengangguk, tangannya sibuk mengambil nasi serta lauk yang ada di atas Meja. Mata gadis itu sesekali mirik Artena yang tak henti menatapnya juga. Pasti ada yang tidak beres.
"Kenapa, Ma? Mama mau ngomong sesuatu sama Megan?"
"Kamu udah punya pacar ya, Dek?"
"Pacar? Mama ngomong apaan sih?"
Artena terkekeh melihat Megan yang mulai salah tingkah. "Soalnya tadi abang kamu bilang kalo kamu pulang bawa boneka." Ujar Artena.
"Cuma temen aja, Ma."
"Juan? Daniel atau Carlos?"
"Enggak dong, Ma. Mereka itu temen aku ga mungkin aku punya perasaan sama mereka, tapi ga tau sih perasaan mereka sama aku. Hati orang kan kita ga tau."
Setelah makan, Megan langsung masuk ke kamar. Ia tidak boleh melupakan untuk menulis jurnal mimpi di buku diarinya. Semua kejadian yang mereka alami dan lakukan akan berguna nantinya di masa mendatang. Mungkin Megan ingin membuat novel tentang kisahnya bersama Bintang?
"Hari ini aku ketemu lagi sama lelaki itu. Sekarang dia udah punya nama, namanya Bintang. Kami melakukan semuanya sesuai alur mimpiku bersama Davis. Bintang menghilang tergantung pada mimpiku. Mungkin kami akan lebih sering bertemu."
Megan menuliskan apa yang terjadi didalam diarinya. Tidak habis pikir, ia bisa bertemu dengan lelaki yang bisa memerankan mimpi indahnya. Megan sangat beruntung bisa bertemu Bintang walau harus melalui mimpi dan alur jalannya.

Komentar Buku (57)

  • avatar
    Darwisy

    wow amazing

    09/12

      0
  • avatar
    Amerta dalam bumantara

    bagus ceritanya

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Dewi

    kerenn ceritanya

    23/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru