Awalnya aku kira kalau jodoh itu adalah cerminan diri, kalau kita baik jodoh yang didapat otomatis baik juga. Namun, sekarang aku agak ragu akan hal itu. Buktinya, Ranvi itu sangat baik, sopan ... jauh berbeda dengan calon istrinya. Sheila. Semakin mendekati hari pernikahan perempuan yang selalu berpakaian mini itu sudah menganggap rumah ini seperti rumah sendiri. Ya wajar, sih sebenarnya, cuma sikap Sheila terlihat sok berkuasa. Aku jadi ragu, apa benar ia dari orang kaya juga, atau mungkin tumbuh manja seperti Tuan Ajay? Hampir semua assisten rumah mengeluhkan kecerewetannya. Seenak mulut menyuruh ini dan itu tanpa tahu tugas masing-masing sudah dibagi. Disampaikan oleh Mbak Midah pun tak diindahkan, justru bibir yang sering pakai lipstik pink itu mencibir. "Tau apa loe cuman pembokat!" decaknya merasa paling hebat. Aku yang lebih banyak di ruang Yang Ti juga tak lepas dari sasarannya. Gara-gara pernah sekali menolak perintah buatkan jus untuk dibawa ke atas, aku makin dikejar cewek lampir itu. Memang aneh, dia tak segan langsung masuk ke ruang Yang Ti, memintaku turun bawakan makanan atau apa pun untuknya. Pemilik bodi gitar yang bikin mata tidak lepas memandang itu makin sering duduk-duduk di balkon lantai atas ini. Pemandangan di depan mata dari situ memang indah. Ada taman mini yang dibuat sebagus mungkin di rooftop. Beragam bunga warna-warni di sana, aroma wanginya kadang terbawa angin terhidu hingga ke kamar. Tentu saja bagus, karena dirawat khusus oleh seorang tukang taman. Waktuku bisa memandang Tuan Ranvi tersisa hanya sebentar lagi. Kalau dia sudah nikah pasti akan tinggal di rumah sendiri atau tetap di sini tapi sudah resmi jadi milik istrinya. Rasanya nyeri, tapi itulah hidup. Apa yang kita ingin belum tentu kita dapat. Sesekali masih bisa kucuri pandang saat kami papasan. Dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya, kadang pulang malam tak seperti sebelumnya bisa siang atau sore terlihat. Padahal hari pernikahan mereka sudah dekat. “Hei, kamu.” Aku baru selesai membersihkan area pribadi Yang Ti setelah buang air besar. Baru mencuci tangan di wastafel dia muncul di pintu menunjuk arahku. “Saya?” Aku menunjuk dada sendiri. “Iya, siapa lagi?” Nada sinis khas Sheila lengkap dengan dengan kerlingan mata tajam, seperti jijik atau takut tertular sesuatu dari tubuhku. Aku berjalan mendekat. “Nih, ambilin barang di mobil gue. Ada paperbag warna biru tua di kursi depan, cepat bawa ke sini,” perintahnya sambil mengulurkan kunci dengan ujung jari. Aku tahu itu kunci mobil yang dimaksud. Dia sepertinya baru datang. Ngapain naik kalau ada yang ketinggalan? Bukannya dibawa sekalian tadi? “Tapi mo-“ “Cepat!” Baru mau tanya mobilnya yang mana, eh, dia sudah pergi. Terlihat cewek yang suka pakai dress tanpa lengan itu melenggang santai masuk ke kamar Tuan Ranvi. Di ruangan bawah sedang banyak orang menata ruang dengan dekorasi baru. Tambahan bingkai berukir di sudut seperti tempat berfoto, masih belum selesai baru berdiri piguranya. Gorden sudah berganti warna emas mewah, dan pot bunga warna sama juga sudah siap, meski belum ada bunganya. Ah, tanpa bunga pun potnya saja sudah bagus, di mataku. Orang kaya untuk acara pernikahan pasti tak segan keluarkan uang banyak. Satahuku acara digelar di sebuah hotel mewah, tapi rumah ini juga didandani untuk menyambut keluarga perempuan dan teman-teman yang mampir ke rumah. Pernikahan Tuan Ranvi dan Nona Sheila akan dilaksanakan Minggu ini. Mungkin akan ada acara juga sebelumnya. Aku harus ikhlas, tak akan menangis bodoh lagi. Berusaha berpikir kalau jatuh cinta itu normal, Ranvi bahagia, aku pun ikut merasa senang. Malah membayangkan cantik dan tampannya anak mereka kelak. Secara fisik mereka memang pasangan sempurna. Meski sifatnya jauh beda. Sampai di halaman aku pun tercenung, di depan garasi sekitar sepuluh mobil terparkir. Aku kurang hafal mana saja mobil pemilik rumah, dan … punya Nona Sheila? “Kenapa ke sini, bukannya ada di kamar Yang Ti?” Aku kaget dite Tuan Ranvi turun dari salah satu mobil sambil menenteng tas tangan. Sepertinya baru pulang dari kantor. “I-ini, Tuan diminta Nona Sheila ambilkan barang di mobilnya. Tapi … mobilnya yang mana?” jelaskubingung melihat deretan mobil berkilau semua di depan sana. “Sini biar aku yang ambil.” Tuan Ranvi mengambil kunci dari tanganku melangkah ke Mobilio warna gold. Ah ya, aku lupa kalau cewek itu suka sesuatu serba merah dan emas. “Saya yang bawa, Tuan.” Aku mau mengambil paper bag itu tapi ditolak Ranvi. “Aku juga mau ke atas. Kamu ke kamar Yang Ti saja, inikan bukan tugasmu,” katanya sambil melangkah panjang. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, tanpa sengaja mata melihat ke atas, di mana Sheila itu melihat tajam tepat ke arahku. Aduh! Aku berusaha menjajari langkah Tuan Ranvi. “Tuan biar saya yang bawa," mohonku. “Sudah, tidak apa-apa.” Langkahnya cepat menaiki tangga, di lantai atas Sheila tampak sudah menunggu. “Sayang-“ Kalimat Sheila terputus Ranvi menyodorkan tas kertas itu padanya sambil bicara, “Lain kali minta tolong yang lain. Itu yang seragam hitam putih banyak. Arumi itu khusus merawat Yang Ti.” Suara Ranvi terdengar tegas. Aku menunduk merasa tidak enak. Sempat kulihat Sheila memutar mata lalu mengerling sejenak melirikku. Tanpa menunggu aku segera pamit kembali ke kamar Yang Ti. Sepertinya Nona cantik itu tak terima, tapi dia akan segera tahu kalau rumah ini punya aturan tegas. Begitu masuk aku mendekati Yang Ti yang menoleh padaku. “Maaf Yang Ti tadi Arum tinggal ke bawah sebentar,” kataku menyapanya. Aku ajak Yang Ti ngobrol santai sambil mengganti posisi baringnya. Dalam sehari bisa puluhan kali tubuh Yang Ti kupindahkan posisi, agar belakangnya tak lecet kalau lama dalam posisi sama. Terkadang kududukkan di kursi roda, ajak Yang Ti melihat bunga dan menghirup segar udara dari balkon. Sekarang posisi Yang Ti kumiringkan ke kanan, tapi ada cairan mengalir dari pelupuk matanya. “... Yang Ti apa posisi begini sakit?” tanyaku sedikit takut salah perlakukannya. Tubuh renta agak kurus ini bisa saja sakit kalau aku salah cara. Beliau menggeleng lemah, lalu senyum kecil. "Maaf ya Yang Ti kalau Arum salah." Aku mengelus lengannya, lalu berpindah ke belakang, mengusap lembut punggung hingga tulang ekor Yan Ti dengan lotion. Selain segar dan harum produk ini juga agar tidak ruam kulit, itu kata Nyonya Ajeng padaku pertama kali memakaikannya. Aku suka baunya seperti campuran bunga dan susu. “Kamu, Arumi!” Sheila memanggil lagi. Aku menoleh ke pintu. Mau apa lagi dia ini? “Iya, Nona.” Hanya setengah tubuhnya masuk dari celah pintu. Dagunya terangkat. “Ranvi mau jus apel tuh, bikinkan gih, gak pake lama,” katanya sambil menarik badan dan menutup pintu. Ya ampun, apa dia gak ngerti apa tugasku yang dibilangin Tuan Ranvi tadi? Cantik-cantik telmi kali, ya? “Maaf Yang Ti, Arum tinggal sebentar.” Kututup rapat punggung Yang Ti dengan selimut. Di dekat tangga terlihat Nona Sheila sudah menunggu. “Ingat ya, jus apel. Dua gelas gak pake lama,” perintahnya dengan dua tangan bersidekap di dada. “Iya, Nona. Sebentar.” Sebagai pesuruh ya beginilah, harus siap menerima perintah. Aku tak punya pilihan. Saat kaki akan menuruni tangga sesuatu menyentak terasa menghalangi kakiku, membelalak mata melihat dan sekejap aku hilang keseimbangan. Tidak!! Aku terhuyung tanpa sempat berpegangan. Beberapa kali terasa terhempas, menggelinding sampai terhenti. Kepala, badanku … semuanya terasa remuk. Pandangan memburam susah membuka mata. “Sheila! Kamu, ya?!” “Aku gak tau apa-apa, Sayang. Tiba-tiba aja dia jatuh.” Suara mereka terdengar samar sampai terasa seseorang mengangkat tubuhku. Lalu hanya tersisa gelap dan sepi. *** Beberapa kali aku mengerjap, merasa sangat pusing lalu gelap lagi. Terasa tubuh melayang dan terbang dalam kegelapan. Tanpa melihat siapa-siapa. Apa aku mati? Mana Mama Papa? Kuharap bisa bertemu mereka …. “Arum, Arum,” panggilan seseorang menarikku kembali coba buka mata. Kabur. Semua tampak putih buram. Lalu ada cahaya … dan wajah seseorang. Aku berusaha mengembalikan kesadaran, menatap lekat wajah yang memanggil-manggil namaku itu. “Mbak … Midah ….” Suaraku terdengar lemah di pendengaran sendiri, mungkin karena corong di mulutku ini penyebabnya. “Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Arum,” pekiknya terlihat girang dengan mata berkaca. Segera menekan tombol tak jauh dari dipan. “Dokter, pasien Arumi Jelita sudah sadar!” lapor Mbak Midah pada alat itu. Aku memindai ruang serba putih. Ada suara di dekat kepalaku, sebuah kotak besar yang kabelnya tersalur ke tubuh. Argh! Kenapa terasa sakit semua? Aku mau bergerak sedikit saja terasa sulit. Tiga orang datang dengan langkah cepat, semua memakai pakaian putih. Lelaki beruban dan berkaca mata segera mendekat memeriksaku, dan alat di sisi, lalu tersenyum. “Ini keajaiban. Semua alat bisa segera dilepas,” katanya tenang pada dua orang di belakang yang mendengar juga mencatat di buku kecil. Beberapa istilah tak kupahami disebutkan dokter lelaki ini dan mengatakan semua sudah membaik. Kulihat Mbak Midah tersenyum sambil mengusap mata. Alhamdulillah, kalau aku baik, tapi … sebenarnya aku sakit apa? Beberapa saat mulai muncul perlahan kejadian sebelumnya dalam ingatan. Saat akan menuruni tangga ... langkahku dihalangi Sheila dengan memasangkan kakinya sampai … aku jatuh? Ogh! Aku tahu jumlah anak tangga itu ada dua puluh lima, pernah menghitungnya dan … bisa selamat dari sana atas itu memang ajaib! “Kalau nggak ada karpetnya tubuhmu sudah remuk, Rum. Lain kali berhati-hati lagi,” kata Mbak Midah yang masih setia menemaniku sejak sadar. Terlihat lebih ramah wajahnya menyuapiku dengan makanan lembut, aku makan dengan posisi baring, belum boleh memaksakan diri duduk dulu. Dari Mbak Midah juga aku tahu kalau punggungku membiru, tulang lengan kiri yang sikutnya bergeser juga sudah dioperasi. Operasi? Ya ampun … sudah habis berapa biaya di sini? “Kamu gak tau karena kondisi belum sadar. Ini sudah hari keempat kejadian, Rum.” Ohh, pantas saja bagian sikut ini yang paling nyeri, mungkin karena waktu itu aku refleks melindungi kepala dengan tangan saat menggelinding. Yang paling mengejutkan dari penuturan Mbak Midah, Tuan Ranvi membatalkan pernikahan, karena melihat sendiri waktu Sheila menjegal kakiku. “Mbak ….” Suaraku bergetar merasa takut. Ini akan jadi masalah besar … pernikahan anak majikan batal gara-gara seorang pekerja di rumahnya? “Tenang saja. Nyonya juga sudah paham. Ada CCTV yang membuktikan itu. Yang harusnya takut adalah Nona Sheila. Nyonya Ajeng juga nolak punya menantu arogan, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, Rum.” Air mataku luruh menahan nyeri dan sesak. Bukan lega dengan bukti kesalahan Sheila ... tapi dengan kejadian ini, utangku pada keluarga Prakash akan bertambah. Biaya perawatan, operasi … belum lagi uang untuk Om Bari itu yang entah sudah lunas apa belum? Agh ... apa seumur hidup aku akan di sana untuk membayar semuanya?
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus dan mudah dipahami
15/03
0keren
21/02
0bagusss bangettt kakk
11/07
0Lihat Semua