Ini keduakalinya aku masuk ke gedung perkantoran Central Senayan II, aku tahu dari tulisannya di dekat masuk tadi. Area tempat Tuan Ranvi bekerja. Pak Dul turun, aku menunggu di mobil. Terasa lama mungkin karena jantungku bekerja lebih cepat. Aneh memang mendengar nama Ranvi disebut saja jantungku ini terasa melompat, apalagi bakal semobil lagi dengannya. “Arumi pindah ke belakang.” Hah?! Dengan mata membulat dan mulut menganga aku menoleh ke belakang. Sejak kapan dia sudah duduk di situ? Agh, ya ampuun, aku selalu saja melamun. Gegas aku berpindah duduk setelah melihat Pak Dul melempar senyum padaku. Mungkin Ranvi ini tidak suka duduk sendiri. “Kamu itu jangan suka melamun. Kalau suatu saat kerja di kantoran, kebiasaan itu bisa-bisa buat kamu segera dipecat.” Aku jarang melamun, Tuan. Ini kan gara-gara kamu … hatiku membantahnya. “Iya, Tuan. Maaf.” Mobil sudah bergerak, Tuan Ranvi terdengar menelepon seseorang, membahas pertemuan untuk suatu pekerjaan. Aku hanya melihat sisi arah jalanan. Sudah lama rindu udara di luar. Dulu, sambil ngantar kue aku menikmati angin segar sambil mengayuh sepeda. Aku rindu saat-saat itu. Bebas … dan senang. Mataku tertuju pada penjual kue yang duduk termenung, jualannya terlihat sepi tak ada yang membeli. Ini kan depan sekolah SDN biasa aku antar kue ke kantinnya? Itu 'kan … Tante Hani?! “Pak Dul bisa berhenti, Pak!” ucapku spontan. Sudah puluhan meter terlewat. “Iya, Mbak kenapa?” Pak Dul khawatir melihatku seperti kaget dan tegang. “Ambil kiri di depan, Pak,” pinta Ranvi mengarahkan Pak Dul. Kali ini mataku tertuju pada Tuan Ranvi, dengan tubuh menghadap lelaki itu. Dia heran melihatku. “Tu-Tuan, boleh saya minta tolong,” aku menjeda sejenak, ini antara berani dan nekad. “Saya pinjam uang Tuan 50 ribu, kalau sudah dapat gaji saya ganti.” Keningnya berkerut dengan mata menatapku lekat. ‘Ayo cepetan keburu Tante Hani pergi …!’ Aku menoleh ke belakang. Terlihat Tante Hani masih menunggu jualannya. Ternyata Tuan Ranvi ikut melihat ke arah mataku tertuju. Tanpa suara mengeluarkan dompet dengan selembar uang merah disodorkan ke tanganku. “Lima puluh ribu aja, Tuan.” Dia menaikan alis perlihatkan isi dompet merah semua. Tak ada pilihan, gegas kuambil uang itu dan turun. Lima puluhan meter berlari kencang ke arah Tante Hani. Sukses sampai di sana dengan napas ngos-ngosan. “Tan … Tante … belii.” Aku membungkuk dengan tangan menopang di lutut sambil mengatur napas. “Arum?!” Tante Hani membantuku tegak. Wajahnya cemas, cepat aku menyengir lebar agar dia tau aku tak apa-apa. “Kamu ini lho, tante kira kenapa-kenapa sampe lari gitu.” “Hee, maaf Tante Arum buru-buru, itu ada bos di mobil. Ini beli semua, Tan.” Aku mendorong uang sambil mengatur napas. Tante Hani cepat membungkuskan setelah melihat sebentar ke mobil hitam berkilau di kejauhan. "Kembaliannya ambil aja, Tan." Uang kembali dari Tante Hani kutolak. “Tante ucapin makasih banyak ya, Rum.” Dia memelukku erat dengan mata berkaca. “Iya. Sama-sama, Tan. Arum harus pergi,” kataku kembali berlari. Karena lari memakai rok seragam panjang membuat suara kepak di antara kaki. Mengundang banyak mata pengguna jalan mengarah padaku. Ah, biarin. Yang penting sudah lega borong jualan Tante Hani. “Ma-maaf, Tuan. Maaf, ya …,” ucapku begitu masuk mobil. Duduk tegak mengatur napas yang terasa akan putus. Mobil sudah jalan, aku berbalik melihat Tante Hani yang sudah bergerak akan pulang. Kuhempaskan napas lega, tanpa sadar napasku mengarah pada Tuan Ranvi yang sedang perhatikan mukaku entah sejak kapan. Dia tersenyum. Senyum yang sangat manis membuat lelahku berlari tadi hilang tanpa jejak. Dia mengulurkan tisu. “Keringatan tuh,” ujarnya membuatku melepas pandang salah tingkah. Kuambil tisu basah nan harum dari tangannya, mengusap wajah sambil menenangkan jantung yang mulai nakal. Alhamdulillah tenang. Seplastik kue di pangkuan kugenggam erat. “Apa itu?” “Hah?” Aku menoleh cepat pada Ranvi. “Eh, maaf, Tuan. Ini kue.” “Mana?” Ia membuka tangan ke depanku. Telapak tangan lebar itu terlihat bersih dan lembut. Ragu kuberikan isi plastik transparan yang dilapisi plastik merah itu padanya. Kulihat dia memindai isinya. Tak ada yang istimewa memang, itu semua hanya roti goreng isi, sepertinya Tante Hani tidak membuat kue jenis lain. “Maaf Tuan itu tadi … Tante tempat saya tinggal sebelum bekerja di rumah. Jadi kami dulu tiap hari bikin kue basah, dijual ke kantin sekolah. Arum juga jualan di SMA, kadang nitip di warung juga. Itu hanya satu jenis kue, kalau dulu Arum sama tante Hani bisa bikin sampe sepuluh macam,” jelasku panjang lebar. “Oh, tantenya lagi hamil?” Pertanyaannya membuat mataku panas dan langsung menangis tanpa bisa ditahan. “Iya, Tuan … Tante sudah menunggu hari melahirkan tapi masih jualan …” Kuhapus air mata, Ranvi memberi tisu lagi tapi kali ini tisu kering, kuambil mengusap cairan hidung yang ikut turun. “seandainya … Arum ada di sana biar Arum yang bikin sama jualin, ini … Tante Hani ngerjakan semua sendiri, hiks ….” Terasa Tuan Ranvi menyentuh pucuk kepalaku, mengacaknya lembut, membuatku tangisku terhenti. Lalu membulatkan mata, memutar kepala ke arahnya. Ia kembali tersenyum amat manis. “Jelek kalau nangis,” gelaknya perlihatkan gigi kecil rapi membuatku salah tingkah. Namun, juga segera sadar salah tempat bicara. Cepat kuhapus ar mata sambil memaksa senyum lebar. “Maaf, Tuan, maaf. Bukan maksud saya lancang,” ucapku berulang-ulang sambil menangkup tangan di dada. Matanya tampak lekat melihatku, entah apa arti tatapannya. Aku permisi mengambil alih plastik kue yang tadi di pangkuannya, lalu hanya menatap ke jalan, tanpa berani menoleh lagi. Selanjutnya hening sampai kami tiba di rumah. *** Yang Ti tidur cepat, jam Sembilan sudah nyenyak, terdengar dari dengkur halus dari mulutnya. Aku yang duduk di sisi Yang Ti, tadi membacakan surah Ar-Rahman, ayat yang disukai Yang Ti sebagai pengantar tidur beliau kini berdiri, melepas mukena. Setelah melipat rapi dan menyimpan di lemari kecil ujung ruang aku keluar. Sesuai aturan, kalau Yang Ti sudah tidur aku boleh kembali ke kamar, karena nanti Nyonya dan angota keluarga lain yang akan menggantikanku menemani Yang Ti. “Kalau begitu kita tinggal matangkan persiapannya.” “Iya, Jeng. Aku sudah enggak sabar Sheila jadi mantu di rumah ini.” “Semua tergantung Ranvi dan Sheila, saya hanya mengikuti saja.” Suara Nyonya Ajeng yang tenang, tapi terasa menohok jantung. Aku perlambat langkah turun menyimak pembicaraan beberapa orang di ruang keluarga. Terlihat ada enam orang di sana. Ada Tuan Muda Ranvi juga yang di sebelahnya seorang perempuan berpakaian mini bergelayut manja di lengannya. Meski hanya terlihat diam dan tenang aku tahu Ranvi pasti suka wanita di sampingnya itu. Sangat cantik dan putih mulus, terlihat dari sorot lampu menerpa kulitnya. “Sheila gak sabar jadi istri Ranvi, Ma. Kalau bisa besok juga boleh.” Tawa manja mengiringi kalimatnya. “Iya, buat apa pacaran lama-lama, toh menikah itu lebih enak,” kekeh seorang lelaki menimpali. Aku rasa itu suara bapak cewek itu. Lututku terasa gemetar, mulai menunduk tak berani melihat ke sana, lebih baik segera ke kamar. Langkah cepat aku menuruni tangga akan ke belakang sebelum mereka menyadari kehadiranku, tapi … aku ingat belum laporan ke Nyonya meninggalkan kamar Yang Ti lebih cepat sekarang. Langkahku tertahan, kembali mundur. Ragu, akan menunggu mereka selesai berbincang atau kembali ke kamar Yang Ti? Sementara sekarang rasanya aku sudah ingin menangis mendengar pembicaraan mereka. “Arum?” Suara Nyonya Ajeng membuat wajahku refleks terangkat. Nyonya melambaikan tangan, aku ragu mendekat sedikit tertunduk. Pandangku hanya terlempar pada Nyonya Ajeng, takut melihat Ranvi dan cewek itu … bisa-bisa dadaku tambah nyeri. “Apa Yang Ti sudah tidur?” “I-iya, sudah, Nyonya, dari jam Sembilan tadi.” “Ya sudah kamu istirahat saja.” “Iya, terima kasih, Nyonya.” Aku mengangguk kecil pada yang lain lalu cepat permisi. Saking gugupnya aku hampir menabrak sofa di depanku. “Pasti dari kampung!” Nada sinis cewek itu menyesakkan napasku, sambil melangkah cepat ke belakang. “Kamu harus terbiasa nantinya Sheila, kalau sudah jadi istri kan harus sabar,” nasihat perempuan bersuara mendayu masih terdengar di telingaku. Sedetik tadi sempat bertatapan dengan Ranvi dan cewek itu membuatku merasa makin kecil. Mereka memang pasangan sempurna. Cantik dan tampan. Ya ampuun, aku siapa berani menyukai Ranvi?! Arum, Arum! Kuketuk keras kepala sendiri. Meskipun sudah menegur diri sendiri, tetap saja sampai di kamar tangisku langsung pecah. Kutumpahkan sejadi-jadinya dengan menekan muka pada bantal. Inikah rasanya nyeri patah hati?
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus dan mudah dipahami
15/03
0keren
21/02
0bagusss bangettt kakk
11/07
0Lihat Semua