Leganya aku bisa tenang melewati hari sejak Ajay pergi. Dia bukan diusir, tapi sengaja dipindahtugaskan Tuan Rajendra. Dari Mbak Midah aku tahu kalau Ajay dikirim ke Kalimantan, untuk membantu perusahaan keluarga mereka di sebuah daerah Pertambangan Batu Bara di Kalimantan Timur. Selama ini Ajay juga membantu di perusahaan pusat ini bagian lapangan, makanya jarang terlihat di rumah karena lebih sering ke luar kota. Mereka dididik akan melanjutkan bisnis papanya. Hanya sayang saja si tuan muda satu itu jadi besar kepala, merasa hidup di atas angin. Apa yang diinginkan harus dapat, padahal itu 'kan tidak mungkin. Aku berharap sudah keluar dari rumah ini sebelum dia kembali. Ibadah rutin dan mengaji sekarang sering kulakukan di ruang Yang Ti, semula sempat ragu takut melanggar bagian dari pekerjaan, tapi melihat Yang Ti yang selalu berbinar melihatku melakukannya, seakan mengatakan suka meski dengan kedipan mata. Beliau juga pernah sampai meneteskan air mata, saat aku membaca Surah Ar-Rahman dalam suara kecil, di atas sajadah sudut sana sewaktu menunggu beliau bangun tidur siang. Senyum Yang Ti juga mulai sering muncul di bibir pucatnya. Aku sempat dipuji berhasil oleh Nyonya Ajeng, katanya itu suatu kejutan, karena selama bertahun-tahun ini ibunya itu tak pernah bereaksi apa pun, selalu dalam raut wajah datar. Syukurlah, walaupun hanya sebagai pekerja aku punya arti untuk Yang Ti, mungkin beliau menyukai caraku memperlakukannya. Beliau terlihat sangat menunggu kedatanganku kalau pulang sekolah, seperti tidak bertemu saja. Aku ikhlas bekerja di sini. Suasana juga enak. Hanya, satu hal yang kadang ingin kutanyakan pada Nyonya Ajeng, tapi belum berani terucap juga. Sudah empat bulan lewat aku di sini, tapi tak pernah mendapat kabar tentang gaji ataupun berapa bayaranku sebenarnya. Berharap nyonya cantik itu bicara lebih dulu belum ada tanda-tandanya juga sampai sekarang, sepertinya malah makin sibuk berkegiatan di luar. Memang semua kebutuhanku tercukupi. Tidak ada yang kurang. Mau makan tinggal ambil hidangan khusus pekerja, dan semuanya terasa lezat. Pakaian baru dan bagus juga sudah beberapa kali dibelikan untuk semua pekerja rumah, lima lembar masih diplastik karena belum pernah kupakai. Mau pakai ke mana coba? Sepulang sekolah aku habiskan waktu dengan seragam kerja yang steril, berganti dua kali sehari. Setelah di kamar aja baru ganti pakaian tidur. * Detik-detik kelulusan di depan mata, membuat ada denyar-denyar bergemuruh di dada. Rasa tak sabar menanti hari itu. Bukan takut tak lulus karena aku yakin lulus, tapi tujuanku setelah ini harus apa, itu melayang di dalam otak. Aku tidak mungkin selamanya jadi pembant*, apalagi tanpa gaji_atau mungkin gajiku untuk memotong uang yang diberikan untuk Om Bari dulu? Iya amplop saat itu sangat tebal, mungkin akan memotong gajiku selama setahun di sini. Ya Tuhan … berikan keikhlasan untukku, jangan sampai karena tak mendapat materi aku lengah dan merasa terpaksa saat mengurus Yang Ti. “Ngelamun, nih?” Suara seseorang menyentak. Mataku segera beralih dari jendela kaca, melihat ke pintu. “Eh, enggak, Tuan. Yang Ti masih tidur jadi belum ada kerjaan lagi,” jawabku sambil perbaiki anak rambut yang jatuh dari kuncir. Aku tadi sedang melihat-lihat taman bunga di luar, rooftop yang dijadikan taman itu. Melihat Anggrek juga mawar cantik sambil melamun juga, sih. Ah, ya, berhadapan dengan Tuan Ranvi ini membuatku sering salah tingkah. Sosok tenang ini sangat ramah untuk seorang anak majikan, penampilannya juga selalu rapi menambah ribuan persen kadar ketampanannya. “Kalau gitu bisa bantu sebentar?” Lihat, cara bicaranya sangat sopan. Membuat jantungku mulai berpacu dua kali lipat sekarang. “Oh, bi-bisa. Bantu apa, Tuan?” Aku mendekat sedikit menunduk, tak berani melihat wajahnya. “Ini …” Dia mengangkat lengan, perlihatkan kancing kemeja putih yang terlihat menggantung, akan lepas dari benangnya. “Bisa tolong jahitkan?” “Oh, bisa, bisa, Tuan. Sebentar.” Aku ingat pernah melihat tempat alat jahit Yang Ti di laci. Segera mengambil dan memasang benang putih ke lubang jarum. Aku lalu mendekat, melihatnya heran. “Apa tidak ganti dulu, Tuan, nanti antarkan bajunya ke sini,” saranku ragu-ragu. “Tidak usah, langsung saja. Aku buru-buru.” Tak bisa menolak aku berusaha memegang ujung tangan bajunya yang dia ulurkan. Mana mungkin mataku tidak lihat, tangan ini begitu kokoh dan telapaknya lebar. bulu-bulu halus terlihat banyak bertebaran mulai dari pergelangannya, juga ada sedikit di punggung jarinya. Dia berbulu banyak? Aku hampir tertawa geli. Tenang, Rum. Tenang. Berkali kubisikan kata itu di hati karena jariku gemetar menarik jarum menembus kain. “Maaf, ya. Cuma kamu yang lagi santai makanya aku minta tolong.” Suara beratnya begitu berwibawa dan tenang. Menghirup aroma parfum khas Tuan Ranvi juga wangi napasnya membuatku makin menunduk, kenapa terasa tak menginjak lantai? Mungkin ia pikir bicara sedekat ini agar aku bisa santai, tapi ini terasa malah sebaliknya. Ya Tuhan … aku makin grogi. Jangan sampai aku pingsan karena pesona orang ini. “Tenang saja, aku gak akan mencuri kesempatan seperti Ajay,” godanya membuatku tak bisa menahan tawa dan …. “Owh!!” Jarum yang harusnya ke lubang kancing malah menembus ujung jempolku cukup dalam dan menempel di sana. Sigap Tuan Ranvi memegang tanganku. “Tahan, ya.” Ia meminta saat akan menarik jarum itu cepat, lalu … jempolku ditarik ke dalam bibirnya. Dia … dia mengisap darah yang menitik keluar? Seketika nyeri tertusuk jarum terasa langsung lenyap, berganti rasa lain menari di hati. Refleks aku mendongak, melihat tepat pada iris mata coklat muda itu dari dekat. Sangat dekat, karena ia menunduk. Mata berpayung bulu tebal itu juga melihat tepat manik mataku. Dalam sekejap tubuhku terasa melayang, ruangan berputar seperti mendukung kami untuk tetap saling bertatapan. Entah perasaanku sedang tak normal sampai merasa jariku kuat digenggamnya. Wajah ini sangat tampan … kharismanya sanggup menyihirku tak bisa beralih pandang sampai tersadar bibirnya sudah melepas jariku. itu ... ada merah darahku di tengah mulutnya yang basah. Mataku beralih pada bagian lain yang indah tercipta di wajahnya itu. Bibir yang sedikit terbelah, dengan bulu halus tak beraturan di sekitar dagu dan atas bibirnya. Dia persis aktor India idolaku ... Amiir Khan, Salman Khan, Sharuk Khan ... ah! Semua ketampanan mereka muncul di wajah Ranvi bergantian. Pikiranku tiba-tiba berkelana bagaimana kalau semua itu milikku? Ugh! Arum! Refleks aku menarik tangan. “I-itu,” gumamku menunjuk mulutnya. Tangannya segera mengusap mulut tanggap dengan maksudku. Suasana jadi kaku dan canggung. Beberapa kali kutelan air liur yang terasa kering, melanjutkan menjahit kancing itu. Entah kenapa Tuan Ranvi jadi diam tanpa bicara lagi sampai aku selesai. “Terima kasih, Arumi,” gumamnya saat aku melepas tangan dari ujung kemejanya, tentu setelah aku mengancingkan lebih dulu. Lalu pemilik tubuh atletis itu gegas berbalik dan keluar ruangan. "Terima kasih, Arumi ...." Aku mengulang kalimat terakhirnya yang terdengar lembut dan manis. Kupejamkan mata merasakan desir hangat masih berkejaran mengisi rongga dada. Aku pernah malu dipanggil Arumi, karena merasa diri hanya orang kampung, tapi ... yang keluar dari bibirnya tadi terasa istimewa. Ahh, kuelus dada sendiri, ingin rasa berteriak saking senangnya, tapi yang kulakukan adalah memekik girang sambil membekap mulut sendiri. Mengatur napas panjang pendek sembari menahan senyum. Woww! Ini seperti mimpi. Secuil saja perhatian Tuan Muda Ranvi terasa surga dunia untukku. Aku mengepal tangan ke atas sambil berputar, rasa panas di muka dan degup jantung bertalu belum juga mau hilang. Sampai mataku tertumbuk pada wajah seseorang yang terlihat giginya. Yang Ti?! O, oow … Nyonya Tua itu malah tertawa melihat kekonyolanku? Apa beliau sudah bangun sejak tadi? Ogh! Rasanya mukaku makin panas, ingin segera kabur dari depan Yang Ti sekarang juga. *** Drama mengisap darah dari ujung jariku itu sangat menggetarkan, selalu terbawa setiap aku berpapasan dengan Ranvi. Yang aman kulakukan adalah cepat menunduk, dan menjauh tanpa merani melihat mukanya. Mungkin aku kegeeran atau … ini kali namanya rasa suka? Tanda kenormalanku sebagai seorang wanita. Aku sudah lulus. Walaupun nilainya tidak sempurna aku sudah cukup lega. Sepulang mengambil Ijazah aku sempat bertemu Tante Hani yang tenyata masih berjualan kue dengan sepeda motor, di boncengan belakang ada etalase kaca berisi sisa kue yang belum habis, masih cukup banyak. Ya ampuun, hatiku terasa ngilu. Padahal itu perut Tante Hani sudah sangat besar. “Tante Hani!” Dia menoleh lalu hentikan motor maticnya. “Arum?” gumamnya tak percaya melihatku berdiri dekat mobil yang dikendarai Pak Dul. Aku setengah berlari mendekat, segera memeluknya. “Tante masih jualan? Masih bikin kue?” tanyaku heran. Melihat kondisi Tante Hani seharusnya istirahat saja di rumah. Wajah ini pucat kekuningan, jemari dan pipinya terlihat bengkak. “Terpaksa, Rum … ommu usahanya bangkrut, utang banyak.” Untuk sekadar mengatakan ‘apa?!’ saja aku tak tega. Kondisi Tante Hani sangat memprihatinkan, aku mengelus perutnya. Berharap adikku di sana sehat-sehat saja. Air mataku hampir jatuh saat Tante Hani menggenggam erat tanganku. “Tante senang lihat kamu, Rum.” Sekilas ia melirik mobil, Pak Dul berdiri di depan pintu supir, seperti menandakan aku harus lekas. “Jaga dirimu baik-baik, tante doakan masa depanmu lebih baik, Rum. Jangan menyerah jadi yatim-piatu, jadikan itu semangat untukmu maju,” nasihat Tante Hani meluruhkan air mataku. Segera kucium punggung tangannya cukup lama, berharap doa pengganti orang tuaku ini terkabul. “Maaf, Tante, Arum gak bisa kasih apa-apa.” Niat hati memborong dagangannya, tapi aku tak pegang uang sama sekali. “Gak, pa-pa, Rum. Doakan lahiran Tante lancar bulan-bulan ini.” “Aamiin ya Rabb,” jawabku sedikit berlari meninggalkannya ke mobil. Tak enak membiarkan Pak Dull yang terlihat terburu-buru. Baru kuhempaskan diri duduk di samping Pak Dul, lelaki paruh baya itu berkata sesuatu yang membuat jantungku berdenyut. “Kita ke kantor Tuan Muda Ranvi dulu, baru ke rumah ….” Sedihku melihat Tante Hani sekejap terhapus berganti rasa lain menggelitik di perut. Semobil lagi dengannya? Ya ampuun, padahal aku sudah berusaha menghindar, takut tak bisa kendalikan diri, dan akan malu sendiri kalau ketahuan menyukai seorang anak majikan ….
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus dan mudah dipahami
15/03
0keren
21/02
0bagusss bangettt kakk
11/07
0Lihat Semua