Kenapa mati lampu? Bukannya di kamar Yang Ti tadi terang? Malam ini aku baru keluar dari kamar Yang Ti, melihat lampu di lantai atas ini gelap. Jika sudah di kamar luas itu aku memang jarang keluar masuk, bisa berjam-jam di dalam melakukan apa yang tertulis oleh Nyonya Ajeng. Sampai suasana sepi di luar begini aku tidak tahu. Ke mana semua orang? Apa mereka sudah tidur? Tanganku merayap dinding bergeser ke kiri, memang tak gelap pekat, masih bisa terlihat saklar lampu di sana. “Ufgh!!” Seorang bertelapak tangan lebar terasa membekap mulutku. Tangan lain kuat mengunci badan, merangkulku dari belakang Perampok?! Jantungku langsung berdegup kencang, tapi kemudian rasa takut yang muncul lebih besar, karena aroma tubuh ini milik … Ajay?!! “Sstt … kita bersenang-senang sebentar, Cantik ….” Suaranya mendesah serak tepat di telingaku, embus napasnya terasa di sekitar sana, sampai ke pipi. Seluruh bulu halusku langsung merinding dibuatnya. Kuancang-ancang kaki akan menendang keras ke belakang, belum sempat kuayun lelaki itu menyeretku ke kamar, ia menutup pintu kudengar juga menguncinya tak bisa kulihat karena di sini gelap. Tangannya kutarik dari mulutku tapi tenaga jauh lebih lemah dibanding dengan kekuatannya. Mataku sudah basah merasa ngilu di rongga dada saat tangan itu menyentuh pinggang dan dadaku tanpa terkendali, bibirnya bergerak liar di telingaku turun ke sisi leher. Jangan!! Tuhan … Mama, Papa tolongin Arum …! Dalam isak ototku terasa tak bertulang dikuasai rasa takut. Akankah riwayatku habis dinodai lelaki bejat ini ... set*n apa yang merasukinya berbuat semena sama pembantu?! Ia menyentak badanku cepat menghadap ke arahnya. “Tolong … jangan ….” Bekapannya lepas, berganti mulut basah membekas bibirku. Niat berteriak tapi yang keluar hanya desis di antara tangisku, tenagaku terasa habis menggigil. Tubuhnya sudah menarikku rapat ke tubuhnya, terasa sesuatu mengeras di di bawah sana. Tuhan … rasanya aku pilih mati seketika daripada hancur di tangan lelaki yang tak menghargai wanita! Susah payah kudorong tubuhnya menjauh, melepaskan diri mulutnya yang liar. Entah kekuatan datang dari mana saat lututku menekuk, menyentak keras ke atas mengenai pangkal pahanya. “Oww! Shit!!” teriaknya cukup kencang. Lelaki itu mengaduh melepas mulut menjijikkan itu dariku. Aku mundur sambil mereda tangis yang sudah pecah, bersamaan sebuah lampu ponsel menyala menyorot dari sudut ruangan, lalu kamar jadi benderang. Kulihat lelaki berpiyama biru berdiri menyipit mata melihat kami, terduduk di ranjang ujung sambil menyalakan lampu. Tuan Ranvi?! Spontan aku berlari ke arahnya. Lelaki itu berdiri setelah turun dari ranjang. Ternyata dua tuan muda ini tidur di satu kamar hanya beda bed. “Tolong, Tuan … tolong saya,” mohonku sembunyi di belakangnya. Ranvi maju, sementara aku bertahan mundur merapat pada tembok. Terlihat punggung tegang lelaki itu seperti menahan marah. Plak!! Cepat hempasan tangan Ranvi ke pipi Ajay. Aku refleks menutup mulut. “Ajay, jangan lakukan ini lagi, kamu tahu dia siapa, heh?! Jangan permalukan dirimu sendiri.” Seperti tak terima dipukul, aku menahan napas melihat Ajay menerjang tubuh Ranvi. Mereka jadi saling pukul. Pekikku melarang mereka ribut ternyata memanggil penghuni lain datang. Nyonya Ajeng dan Tuan Rajendra tergopoh datang dengan mata membelalak melihat perkelahian itu dan keberadaanku di kamar ini. Aku hanya bisa terdiam saat suasana memanas antar anggota keluarga itu setelah orangtuanya tahu perbuatan Ajay. Ya Tuhan apa yang akan terjadi setelah ini? *** Aku hanya bisa duduk diam di tempat tidur, memeluk lutut. Sempat tertidur posisi duduk sebentar tadi, karena masih dikuasai takut atas perbuatan Ajay. Tubuhku masih gemetar, tadi beranjak sebentar saat azan Subuh, mandi dan berusaha mengerjakan ibadah wajib sambil terisak. Nyeri hati diperlakukan tidak senonoh. Dia kira aku wanita apa dengan enaknya berbuat semaunya. Rumah luas ini terdengar sepi dari ruang ini. Mungkin mereka masih ribut dengan kejadian semalam di kamar atau ruangan lain. Aku tidak berani keluar sebelum Mbak Midah ke sini memanggil. Sudah tiga jam aku duduk berdiam di sini. Pukul 08:20 sekarang. Apa Yang Ti sudah mandi? Sudah sarapan? Perutku juga terasa kosong, minum pun belum sejak tadi. Untung ini hari Minggu, seandainya ke sekolah dengan pikiran kacau begini apa jadinya? Keadaan ini membuatku ingin memilih pulang saja ke rumah Om Bari. Jualan kue lagi sampai lulus, toh tinggal di sini aku tidak akan aman. Tuan Muda Ajay itu terlihat sudah biasa tidak menghargai wanita. Dia pikir semua perempuan itu gampang dilecehkan semaunya, merasa diri kaya dan tampan. Huh! Aku malah merasa jijik padanya. Wajah sempurna tak ada arti kalau sikap buruk. Lamunanku terputus melihat pintu terbuka tanpa diketuk. Mbak Midah menatapku kaku. Lalu … di belakangnya … Tuan Muda Ajay? Lekas aku turun dari dipan, berdiri siaga. “Silakan Tuan Muda, saya menunggu di luar,” ucap Mbak Midah terasa menusuk dada. Apa maksudnya menyuruh orang ini masuk?! Semakin dekat aku semakin siaga. Kalau macam-macam gunting yang ada di meja kugenggam erat di belakang punggung. Dia segera maju mencengkeram lenganku, merebut gunting yang mungkin terlihat olehnya tadi saat kuambil. Benda tajam itu diletakkannya kasar kembali ke meja. Lalu menatapku dingin. Peluh terasa menetes di dahi. Dia mengurungku dengan kedua tangan, membuat bahuku merapat di tembok. “Gue kalah kali ini, gara-gara loe gue harus keluar dari rumah gue sendiri.” Senyum licik mencuat di bibirnya. Apa maksudnya ... dia diusir? Jarak kami sangat dekat, embusan napasnya mengenai mukaku. “Tapi gue akan datang lagi. Loe tau seorang Ajay gak pernah ditolak siapa pun ...” Wajahnya makin mendekat sampai aku tahan napas dan pejamkan mata kuat-kuat. “gue akan dapetin lo suatu saat, ingat itu!” desisnya membuat bulu kuduk berdiri. "Tuan jangan macam-macam, saya ini cuma babu!" lawanku menyipitkan mata beranikan diri melihatnya. "Justru itu loe gak bisa nolak gue!" "Ibu dan adik anda juga wanita, Tuan. Ingat itu!" Ku belalakkan mata sampai dia membalikan badan lalu melangkah cepat keluar. Tak berapa lama Mbak Midah kembali di depan pintu. “Kamu dipanggil Nyonya,” perintahnya mengagetkanku. Aku segera mencuci muka sebentar lalu gegas keluar. Ternyata beliau memintaku menemuinya di kamar. Ruangan luas, ranjang antik mewah dan banyak lemari kaca. Aku melangkah sedikit menunduk melihat Nyonya Ajeng menungguku di sofa panjang merah darah. “Duduk,” perintahnya karena aku berdiri di depannya tanpa mengangkat wajah. Aku mendudukkan diri di kursi empuk berjarak sekitar satu setengah meter darinya. “Kamu tahu kenapa dipanggil?” Aku makin menunduk. Sudah pasti akulah yang akan disalahkan. “Aku atas nama keluarga ini minta maaf, Ajay tak seharusnya berbuat begitu padamu.” Perlahan aku mendongak, menatapnya tak percaya. Nyonya Ajeng meminta maaf? “Jangan menyela.” Tangannya terangkat karena melihat mulutku menganga hendak berucap. “Kami gagal mendidik Ajay, akibat terlalu diikuti keinginannya sampai dia tumbuh begitu ...” Suasana hening sejenak, aku merasa bola mataku memanas. Terharu atas kebesaran hati majikanku ini. “Sekarang bekerjalah dengan nyaman, Yang Ti sudah mencarimu dari tadi.” Aku menangkup dua telapak di dada. “Terima kasih banyak, Nyonya … saya kira akan dipecat tadi," suaraku sedikit tertahan. “Ehm, aku bukan orang yang menilai sesuatu tanpa bukti konkrit. Jika benar kudukung, jika salah tahu resikonya,” jawab Nyonya Ajeng tegas. Tiba-tiba aku merasa semakin kagum setelah mengenal pribadinya. Beliau ini anggun tapi amat tegas. Aku segera pamit keluar kamar akan menemui Yang Ti.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus dan mudah dipahami
15/03
0keren
21/02
0bagusss bangettt kakk
11/07
0Lihat Semua