logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Tuan Muda Tengil

Teman-teman menggodaku sebagai gadis kampung mendadak kaya. Aku sih ketawa saja, karena memang merasa aneh. Dalam hitungan hari hidupku berubah total. Sebelumnya ‘kan aku kalau ke sekolah naik sepeda butut milik Tante Hani, nenteng sekeranjang kue. Sebelum jam masuk dan saat istirahat, akan berkeliling dari kelas satu ke kelas lain sampai kantor menjualnya.
Kue basah buatanku dan Tante Hani memang enak, meskipun sudah dingin rasanya tak berubah. Mereka juga tidak bosan karena tiap hari jenis kuenya beda, kayak jam pelajaran gitu ada jadwalnya. Hii
Gara-gara itu aku sangat terkenal sebagai pedagang oleh penghuni satu sekolah ini. Namun, sekarang suasana berbeda.
“Yah, bakal kangen nih sama kue elo, Rum. Kok bisa sih tiba-tiba tinggal di rumah orang India itu. Gimana ceritanya?”
Satu teman terdekatku nyeletuk, yang lain ikut nimbrung. Padahal tadinya aku tak ingin cerita banyak, tapi terbongkar sedikit teman-teman malah bertanya banyak. Jadilah jam istirahatku diisi cerita panjang lebar ke mereka, tentu tak ceritakan bagian yang Om Bari menjualku pada keluarga itu.
“Wow, keren, walaupun cuman pembokat elo enak bisa tinggal di sana, Rum. Gue liat tadi mobilnya mewah banget.”
“Iya, lebih mewah dari punya tetangga gue yang anggota dewan itu,” sahut yang lain sambil tergelak.
Mereka riuh saling menjawab, membahas tentangku dan mengerumuni aku seperti semut mendatangi kue manis, hee.
Mama, Papa … hidup Arum sampai sini terasa sudah manis. Terus doakan Arum, ya. Hatiku selalu meminta doa pada dua orang tercinta, meski mereka sudah tak terlihat.
Sebagai penyandang nama lahir Arumi Jelita, aku lebih suka dipanggil Arum saja. Gara-gara itu dulu sering diledek teman dengan julukan Arum Manis, si makanan manis dan lembut seperti kapas itu.
Aku tak pernah tersinggung, justru berharap hidupku akan memiliki cerita semanis gula kapas itu kelak.
***
Waktu berlari terasa cepat. Sekolah dan pekerjaanku berjalan mulus bagai tol. Pulang pergi sekolah diantar dan dijemput Pak Dul, kadang berganti-ganti kendaraan yang dipakai, saat yang dinanti teman-temanku dan ramai menuai kekaguman mereka. Maklum, sekolahku termasuk sekolah negeri biasa, bukan favorite, jadi kalangan menengah ke bawah gitu.
Semua mobil yang dipakai mengantar-jemput itu berkilau mewah, seperti yang dipakai tuan muda saat bersamaku berangkat pertama pagi itu. Yang kutahu itu bentuk tanggung jawab keluarga Prakash pada para pekerjanya. Jadi, bukan hanya padaku saja.
Assisten rumah berjumlah delapan orang termasuk aku dan Pak Dullah yang dipanggil Pak Dul itu. Lima lainnya tinggal mess, bangunannya ada di sebelah rumah ini.
Kata Mbak Midah, itu tempat khusus karyawan berderet 14 pintu, seperti kos-kosan. Rata-rata untuk mereka yang tinggal jauh dan sudah berkeluarga, tanpa membayar sewa. Sementara yang tinggal di kamar belakang ini hanya aku, Mbak Midah dan Sus, seorang assisten dapur alias tukang masak.
Pekerja lain akan datang sekitar jam tujuh pagi sampai menjelang sore.
Seperti biasa, sepulang sekolah aku langsung mandi, makan siang, lalu naik menemui Yang Ti ke atas. Jam setengah dua begini Yang Ti pasti sedang tidur, aku hapal waktu beliau karena sudah hampir sebulan di sini.
Sekarang aku ke atas membawa buku paket pelajaran, sambil menunggu beliau bangun akan baca-baca persiapan UTS. Walaupun sambil kerja, aku ingin nilai tetap bagus.
Pintu kudorong perlahan, langsung bersirobok pandang dengan seseorang di kursi sudut. Dia sedang duduk selonjoran sambil melihat layar ponsel pintarnya.
Ugh! Kenapa dia ada di sini? Rasanya mau keluar lagi, tapi segera sadar diri di sini ada tugasku pada Yang Ti.
Aku mengangguk kecil padanya, memaksa senyum, lalu beralih melihat ke arah Yang Ti yang masih tidur siang. Bisa kulihat dari ekor mata, si wajah bersih itu tengah melihat ke sini.
Rasanya kaku langkahku mengambil duduk di sebelah lain Kasur, di lantai bersandar dinding, sekitar dua meter dari Yang Ti, sengaja menjaga jarak dari lelaki itu biar pandangannya terhalang ranjang si Nyonya Tua. Aman.
Aku mulai membuka buku, berharap bisa konsentrasi, tapi aroma khas seseorang terasa makin dekat terendus di hidung. Jantungku mendadak berdegup cepat. Pasti-.
“Belajar, ya?”
Belum selesai pikiran burukku tiba-tiba suara khas berat, serak basah itu muncul tak jauh dari telinga.
Aku menggaruk dahi. “I-iya, Tuan," sahutku sembari meringis terpaksa.
“Panggil gue Ajay, Jay.” Bau segar napasnya seperti habis pakai obat kumur, anginnya mengenai wajahku.
Dia ini memang suka dekat-dekat kalau ngomong, maunya apa coba?
“Ckk! Jadi ini kerjaanmu, Ajay Hasan?” Lelaki berjambang muncul di pintu, oh, syukurlah tuan muda Ranvi datang menyelamatkanku. Refleks aku mengelus dada merasa lega.
“Yahh, ganggu aja, Bro. Gue lagi tanggung, nih,” gerutu Jay sambil berdiri. Tubuhnya menjulang saat aku lirik ke atas, aku ikut berdiri menjauh.
“Kalau Mami tahu sudah ditarik tuh telinga, ayo cepetan.” Ranvi menunjuk jam di pergelangannya.
Keributan kecil dari dua Tuan Muda itu membangunkan Yang Ti. Gegas aku mendekat menyapa Nyonya Tua.
“Yang Ti maaf ribut.” Ranvi mendekat menangkup tangan di dada, lalu menyalim tangan si nenek sebelum keluar. Jay mengekori, lakukan gerakan sama.
“Arum jumpa lagi, ya.” Kedip mata sebelahnya terlempar padaku, tentu sambil tertawa meringis karena telinganya ditarik Ranvi sambil berjalan keluar.
“Hei, sakit, Bro. Jangan ganggu kesenangan gue, dong.”
“Kesenangan dari mana? Pacar sedunia masih kurang, hemm?”
“Gue gak tahan liat matanya itu, Bro. Tanpa ngomong aja udah menggoda, s*x appeal-nya tinggi, tanpa make-up aja sudah menarik banget ....”
Aku bergidik mendengar alasan Ajay itu. Mereka membahas namaku sambil terkekeh, bercampur Bahasa Inggris yang tak sepenuhnya kupahami artinya.
Ya Tuhan … jaga aku dari orang berniat jahat ....
Suara saling bersahutan itu makin samar mungkin mereka sudah menuruni tangga.
Aku mencoba menguasai diri, sambil akan mengganti pampers Yang Ti, biasanya sudah penuh sejak kutinggal tadi.
Ah ya, mengenai Tuan Muda Ajay itu aku agak takut kalau berhadapan dengannya. Meski punya wajah tampan dan bersih sikapnya membuat bulu kudukku merinding. Itu semua akibat kejadian tak mengenakkan di pertemuan pertama kami malam itu.
Tepat di malam ketiga aku bekerja, Pukul 22. 45, Yang Ti baru tertidur saat kutinggal. Biasanya sih Nyonya Ajeng di kamar ini, akan menemani ibunya setelah menyuruhku kembali ke kamar. Tapi malam itu Nyonya dan Tuan sedang ke luar negeri, menemui Angeli yang kuliah di Amerika.
Aku menuruni tangga sambil berusaha melebarkan mata yang terasa berat. Sampai benar-benar melebar penuh saat lihat pemandangan tak biasa di sofa santai ruang tengah, tampak jelas karena tak ada pembatas permanen tembok. Di ruang luas itu hanya ada empat pilar besar menjulang, pembatas ruang ada lemari hias dan rak kaca berukir setinggi dua meter. Dan, semua kamar pemilik rumah ada di lantai atas.
Tubuhku terpaku melihat seorang lelaki beradu bibir sengit dengan seorang perempuan. Tangan lelaki itu liar sampai baju berleher rendah si wanita sudah setengah terbuka. Aku segera membuang pandang, perut bergelombang dan napas terasa akan terputus.
Setelah sekuat tenaga mengambil ancang-ancang, aku lari cepat ke bawah dengan kepala tertunduk. Sialnya entah bagaimana kakiku tersandung karpet merah di tangga bawah, tanpa sengaja mengaduh dan mengagetkan dua orang di sofa itu.
Hening. Aku menahan napas tanpa berani mengangkat wajah.
Aku berusaha bangun, akan lari tapi lagi tertahan menubruk tubuh seseorang. Pria muda bertubuh tinggi, rambut berdiri acak-acakan merentang tangan halangi jalanku.
“Lo siapa, hah?” tanyanya dengan suara serak, napas memburu terlihat dari dadanya yang tak sengaja kulihat.
“Sa-saya pembantu baru, Tu-Tuan, ” jawabku gugup. Kami belum pernah bertemu sebelumnya.
Dia diam membuatku terpaksa melirik, izin permisi ke belakang. Tampak dia menjilat bibir memandangiku aneh, sorot matanya terlihat mengarah kebagian dada, segera kututupi dengan dua telapak tangan.
“Sayang?” Suara wanita di sana mengagetkannya, dia lengah segera kumerunduk melewati tangannya untuk lari ke belakang.
Malam itu sukses membuatku menggigil tak bisa tidur. Walaupun segera membuang pandang, tetap saja pemandangan itu terekam beberapa detik di otakku.
Semakin membuatku bergidik karena si Ajay itu ternyata belum menikah, dan kata Mbak Midah terbiasa berganti-ganti pasangan. Wanita 40 tahun itu peringatkanku agar berpura-pura tak tahu menahu saja, mengingat posisi kami sebagai apa di rumah ini, agar tak jadi masalah.
Hanya saja aku jadi takut dengan tuan muda satu itu, sudah beberapakali dia mencuri-curi kesempatan mendekat dan masih bisa kuhindari dengan berbagai alasan.
Semoga saja ini bukan awal petakaku di sini.

Komentar Buku (128)

  • avatar
    Agnes Agustina

    ceritanya bagus dan mudah dipahami

    15/03

      0
  • avatar
    KhaerunissaFauziah

    keren

    21/02

      0
  • avatar
    AmeliaImelda

    bagusss bangettt kakk

    11/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru