Hari pertama langsung kerja di tempat asing memang sempat membuatku sedikit linglung, untunglah Mbak Midah berhati baik. Semua tugas yang kurang kupahami harus bagaimana bisa kutanyakan padanya dan cepat dia instruksi dalam bahasa yang mudah kupahami. Mulai dari cara memandikan Nyonya Tua yang ternyata dipanggil Yang Ti, dalam Bahasa Jawa, singkatan dari Eyang Uti atau Nenek. Nyonya Ajeng Kawiswara_yang kemarin menerimaku di sini_adalah turunan darah biru di daerah Jawa Tengah, menurut penuturan Mbak Midah nyonya menikah dengan Tuan Rajendra Prakash, seorang keturunan India yang sudah menjadi WNI. Tuan Rajendra itu pengusaha besar di ibu kota ini, namanya terkenal, hanya aku saja yang tidak tahu. Selain di Jakarta baru dua tahun ini, waktuku juga sibuk membantu Tante Hani dibanding membaca koran atau nonton berita. Tuan dan Nyonya punya dua putra dan satu putri. Ada foto besar keluarga mereka di dinding ruang tengah, tapi itu sepertinya sudah lama, tiga anak mereka masih remaja. Kesemua amat mirip bapaknya yang berhidung tinggi. Ada kulihat foto Nona Angeli dewasa di ponsel Mbak Midah. Rupanya mirip Kajol Devgan si Anjali di film Kuch Kuch Hota Hai. Sangat cantik meski kulitnya agak coklat. Pasti dua putra lain dewasanya juga tampan, aku penasaran belum ketemu mereka. Syukurlah … nasib baik mengantarku tinggal dan bekerja di rumah di rumah ini. Tentu itu takkan kusia-siakan. Bekerja sebaik-baiknya. Kata Mbak Midah, Nyonya Ajeng itu aslinya baik, kalau sudah percaya dia akan memberi lebih, tapi kalau kecewa detik selanjutnya tamatlah riwayat. Selama Mbak Midah kerja di sini sudah tak terhitung pekerja yang dipecat. Semoga saja aku tak membuat kesalahan fatal selama di sini. Hari Senin, hari keduaku di sini sekaligus hari pertama menjalankan tugas. Sebelum Subuh aku sudah berada di kamar Yang Ti. Sesuai petunjuk dan jadwal aku harus membuat Yang Ti menyambut pagi dengan segar. Membersihkan badan, menggantikan pakaiannya dengan yang wangi. Beliau ini ternyata bangun sangat awal. Tadi saat sembahyang Subuh_izin ibadah di ruang ini sudah disetujui Nyonya Ajeng_pas aku menoleh salam Yang Ti sudah membuka mata melihat padaku yang sekitar lima meter jarak darinya. Melihat itu aku gegas mengusap muka lalu menemuinya, Yang Ti malah mengode mata, seperti menyuruhku, ‘Sudah sana, selesaikan dulu, jangan buru-buru.’ Agh! Kenapa aku merasa paham bahasa matanya, atau aku salah mengartikan? Aku perlahan mundur lagi kembali duduk di sajadah, karena matanya mengatakan, ‘Ya, begitu. Lanjutkan berdoanya.’ He, rasanya aneh bisa mengerti bahasa mata. Sekitar satu menit aku zikir dan berdoa singkat, lalu kembali mendekati Yang Ti. Beliau ini terlihat sering menatapku lama saat membalik badannya perlahan. Apa mungkin heran aku yang masih muda bisa mengurus orang sakit dengan tenang? Sebenarnya ini bukan hal baru, aku pernah melakukannya pada almarhum Mama. Sebelum dipanggil Tuhan, Mama koma selama enam bulan. Ketiadaan biaya membuat Mama hanya dirawat seadanya di rumah saja, setelah sebelumnya sebulan di rumah sakit tanpa ada perubahan. Kondisi itu sempat menjadi pukulan berat di masa remajaku. Sempat terpuruk dan marah pada Tuhan. Tapi Papa sangat sabar dan menguatkan, beliau perlakukan aku seperti teman. Kami sering membuang beban dengan bercanda, sambil beliau selipkan nasehat ringan, tapi bermakna dan masih lekat dalam ingatanku sampai detik ini. Keadaan sulit jualah yang menempa diri menjadi kuat dan tangguh. Terbukti, setelah keduanya berpulang, aku bisa berdiri kuat tanpa lama larut dalam kesedihan. Menggapai masa depan lebih baik, untuk menaikkan derajat merekalah yang ingin kuperjuangkan sekarang. Setelah membersihkan tubuh Yang Ti dan aku mendudukkan beliau dalam posisi setengah berbaring, menyuapi bubur saring halus yang tadi kuambil dari dapur. Menyuapi beliau sambil mengajaknya bicara. Walaupun tidak dijawab, tapi kurasa binar matanya menanggapi. Bubur ini berwarna kehijauan, mungkin dicampur banyak sayur seperti bubur bayi, baunya lezat menggoda perut untuk mencoba. Aku jadi ingat Tante Hani yang suka belikan bubur ayam Mang Oye di ujung jalan untukku sarapan sebelum ke sekolah. Aku kembali turun ke dapur mengantar mangkuk dan gelas kotor, di mana assisten dapur masih sibuk bertugas di sana sejak Subuh tadi, menyiapkan berbagai menu sarapan untuk semua penghuni rumah. Makanan itu tentu atas hasil lolos uji oleh Mbak Midah. Aku baru tahu kalau Mbak Midah itu lulusan sekolah Akademi Gizi, dan beliau bekerja secara professional di sini. Sebagai kepala dapur yang mengatur menu setiap hari, juga sekaligus memimpin para assisten melaksanakan tugas. Mbak Midah bekerja di rumah ini sudah 10 tahun lalu. Sepertinya dia sangat mencintai pekerjaan, sampai bertahan selama itu. Apa gajinya besar, ya? Aku penasaran, tapi juga takut untuk bertanya. Kuhabiskan sarapan yang sudah dipisah untuk kami pekerja, lalu kembali ke kamar Yang Ti sebelum waktu berangkat ke sekolah. Sambil menyusuri tangga kulayangkan pandang ke ruang luas di bawah. Rumah mewah ini benar-benar seperti istana lihat dari atas sini. Semua perangkat dari pembatas, lemari hias sampai lamupu semunya berbahan kaca mewah. Kursi sofa juga seperti tempat duduk raja dan ratu ukirannya. Aku merasa bagai hidup di dunia kerajaan, seperti dalam buku dongeng yang kubaca semasa SD. “Arum, berangkat sekarang, supir menunggu di bawah.” Mbak Midah muncul di pintu. Aku yang tengah asyik mengajak Yang Ti ngobrol sambil mengusap tangannya, segera berdiri. Kulirik jam menunjuk angka tujuh kurang dua puluh menit. Aku masuk pukul 07.00. “Arum berangkat dulu, Yang Ti,” pamitku padanya nyonya tua, mengecup punggung tangan lemah itu beberapa detik, seolah tengah meminta doanya. Ini dulu jadi kebiasaan yang kulakukan pada Mama saat beliau sakit begini, setiap berangkat dan pulang sekolah aku tetap pamit mencium tangannya. Suka menemaninya di kamar, ceritakan hari-hariku yang tak bisa Mama lihat lagi, meskipun beliau tetap tidak menjawab celotehku. Aku ingin melakukan itu juga pada Yang Ti. Beliau pasti butuh teman ngobrol, aku bisa lihat dari binar matanya mengatakan ‘senang’ saat aku mulai cerita apa saja yang seru versiku. Untunglah, Mbak Midah tidak menegurku melakukannya, mungkin selama dalam batas sopan pada majikan itu belum melanggar. Menurutku salah satu tanda kita menghormati orang lebih tua adalah dengan mengakui dan menghargai keberadaan mereka. Kuucapkan salam pada Mbak Midah yang akan sesekali melihat Yang Ti selama aku di sekolah. Lalu cepat menuruni tangga, tas sekolah selempang sudah terkait di bahu. Di luar mobil hitam mengkilap tampak siap di dekat teras. Apa maksud Mbak Midah aku akan diantar mobil ini? Tidak. Bukan. Aku akan naik sepeda saja yang kemarin aku lihat ada di gudang belakang. “Ayo, Mbak,” kata lelaki paruh baya memakai kemeja lengan pendek hitam menegurku yang akan berbalik. “A-aku?” Kutunjuk dada sendiri. “Berangkat, Pak.” Suara seseorang lelaki yang baru keluar rumah mengalihkan pandanganku. Pria berkemeja biru langit dengan jas hitam dan tas di tangannya, terlihat terburu-buru menuju mobil jarak tiga meter di depanku itu. Si lelaki tegap masuk di pintu penumpang yang dibuka oleh supir. “Ayo masuk, Mbak,” kata supir itu lagi melihatku masih terpaku di tempat, meremas tali tas, makin gugup. Aku beneran diantar ke sekolah naik mobil? Ya ampuun, ini mimpi apa? Langkah kaku aku bergerak mendekati sedan berkilau itu. Menarik pintu samping supir susah payah, karena tulangku terasa lemah akibat bingung dan gugup. “Arum biar naik sepeda saja, Pak. Sudah biasa, kok,” kataku melongokkan kepala bicara pada supir yang bantu membukakan pintu. “Hei, ayo cepat masuk. Aku ada persiapan sebelum meeting.” Pandanganku beralih ke kursi belakang. Melihat jelas wajah lelaki muda yang bicara tadi. Pria bercambang halus memenuhi dagu, hidung tinggi seperti seluncuran tajam. Ini pasti salah satu putranya Nyonya Ajeng. Terasa terhipnotis aku langsung masuk. Baru punggung menempel di jok, lelaki itu kembali membuka suara. “Duduk di sini,” tegurnya sambil mendorong pintu penumpang di sebelahnya. Apa maksudnya minta aku duduk di belakang? Aku kan cuma .... Besar rasa mulai hinggapi otakku. Segera kutepuk dahi menyadarkan siapa diri. “Ayo cepat!” Aku terloncat kaget. Segera keluar dan berpindah ke sampingnya. Badan terasa kaku duduk di sebelah lelaki yang dari tubuhnya terhidu aroma maskulin khas laki-laki. Aku tak berani melihat ke kanan, cukup ke arah luar kaca sebelah. “Kamu sekolah di mana?” Apa ia bertanya padaku? Ah, mana mungkin aku pasti hanya salah dengar. “Hei, kau punya masalah pendengaran, hem?” Towelan di lengan membuatku refleks menoleh padanya. Dalam jarak dekat bisa kulihat wajah itu sangat lelaki, eh, maksudku macho, iris matanya coklat muda sempurna dengan bulu mata tebal dan panjang, tatapannya terasa menembus dada. “Ya sudah jangan dijawab,” timpalnya lagi. Mungkin melihatku yang malah melongo, bukannya menjawab. Ah, biarlah. Dia pasti maklum, aku ‘kan anak kampung yang masih syok melihat makhluk begitu sempurna Tuhan ciptakan. Dia berdarah India-Indonesia, tapi sepertinya lebih banyak darah India di tubuhnya, amat mirip Salman Khan, tapi berjambang. Aku belum tahu apa dia ini yang bernama Ranvi Ikshan Prakash itu? Atau ... Ajay Hasan Prakash? Entahlah. Beruntung sekali mereka punya segalanya. Selain kaya, juga miliki rupa sempurna. Rasanya terlalu cepat mobil berhenti, juga memutus lamunanku. Lelaki yang kunikmati aroma parfumnya itu turun. “Setelah ini silakan ke rumah saja, Pak Dul. Saya akan tetap di kantor sampai siang.” Dia bicara pada supir yang berdiri menahan daun pintu menganga. “Iya, Tuan.” Angguk lelaki berkumis itu patuh. Baru kusadari ternyata mobil ini masuk ke halaman sebuah gedung sangat tinggi, entah berapa puluh tingkat ke atas sana. Wah, kupandangi lelaki gagah itu berjalan tenang ke arah pintu masuk. Jangan-jangan ini gedung milik keluarga Prakash? “Sekolahnya SMA mana?” Tergeragap kembali aku ke posisi semula, duduk tegak, sambil menyebut nama sekolahku. Terasa panas muka melihat lelaki yang dipanggil Pak Dul menahan senyum. Apa bapak ini perhatikanku melongo lihat punggung tuan muda tadi? Ah, bukan salahku. Lelaki yang memiliki ketampanan berlebihan memang bisa menyihir mata. Bisa-bisanya membuatku lupa diri, kalau peranku di sini hanya sebagai pembantu.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus dan mudah dipahami
15/03
0keren
21/02
0bagusss bangettt kakk
11/07
0Lihat Semua