logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Circle of Love

Circle of Love

Reni AW


Bab 1 Liu

Anggita masih saja membiarkanku menahan sesak di dada sedemikian rupa. Ya, sejak setangkai mawar putih—yang tiga hari lalu sengaja kuselipkan di atas telinganya dan tanpa sadar kuelus pipi putihnya.
Hei, tidakkah itu sebuah tindakan yang kurang ajar? Atau setidaknya itu adalah sebuah kesalahan terbesar selama aku mengenalnya? Kau tahu, ketika perlahan dia mulai menangis, baru sekali itu otakku tak mampu berpikir. Padahal tanganku begitu gemas ingin merengkuh tubuhnya. Tapi apa yang terjadi? Lihatlah, kaki rampingnya justru lebih dulu meninggalkanku sebelum aku sempat memanggilnya. Ya Tuhan ... apakah dia membenciku?
Mungkin orang-orang menganggap ini perkara mudah, tapi ini jelas bukan. Bayangkan saja, enam belas tahun kami berteman, yang kutahu dia tak pernah menangis. Entah suatu kebetulan belaka, atau memang kami menjaga persahabatan ini dengan baik. Persahabatan? Apakah semua ini masih pantas dinamakan sebuah persahabatan? Setelah diam-diam sesuatu menembus ke dasar hatiku? Sesuatu itu adalah sebuah perasaan yang sudah berbeda ... sangat berbeda.
Aku mendesah saat mengingat detik-detik yang sangat istimewa itu. Ekor mataku melirik, langit pagi ini masih saja mengabu.
Bukankah seharusnya matahari sudah terbit? Tapi mengapa? Apakah dia memilih untuk bersembunyi, sama seperti halnya Ang yang memilih untuk bersembunyi dariku? Ada apa denganmu, Ang?
Pantai Gading ini perlahan mulai ramai. Terlihat sepasang kekasih berdiri tak jauh dariku. Si pria memotret wanitanya, sedangkan si wanita bergaya dengan indahnya di atas batu karang.
Whuuu ... byurrr ...
Air laut menabrak batu karang. Si wanita melonjak kaget, kaki dan flat shoes-nya basah seketika. Si pria tertawa melihat kekasihnya yang cemberut, lantas berusaha menenangkannya.
Ah ... pasangan yang masih sangat muda. Dapat kutaksir bahwa mereka masih bersekolah. Betapa benar, masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah. Tak sama dengan masa yang kulalui saat ini.
“Apa kau sedang menunggu seseorang, Nak?”
Suara seseorang perlahan memutus pergerakan kakiku yang akan menuju tempat kerja. Siapa pun dia, setidaknya mampu membuat bayang-bayang Anggita sejenak pergi. Tanpa menjawab pertanyaannya dan dengan tangan masih di dalam saku celana, kutatap wajahnya sekilas dan tersenyum simpul padanya. Selebihnya aku hanya mampu bergeser dua langkah—membuat jarak dengannya.
“Apa kau sedang menunggu seseorang?” tanyanya lagi sambil menatapku dengan saksama.
Aku menggeleng lemah.
“Tidak, maksudku Anda ini siapa?” Aku mencoba mengelak sekaligus bertanya.
“Kemarilah, Nak. Duduklah denganku. Kau sedang tidak buru-buru, kan?”
Dia adalah seorang lelaki paruh baya, memakai kacamata tebal dan menenteng beberapa gading. Rambutnya yang hitam perlahan tertiup angin. Untuk beberapa saat matanya menyipit demi melihat kapal di tengah laut yang lebih mirip dengan sebuah titik. Kemudian diletakkanlah gading yang dibawanya itu di atas pasir—menjadi pembatas antara kami.
“Aku tak pernah melihat Anda sebelumnya.” Aku melirik gading-gading itu.
“Seperti yang kau lihat, Nak. Aku sedang mengumpulkan gading,” jawabnya kemudian setelah duduk bersila. Aku pun menirunya.
“Apakah itu pekerjaanmu, Pak?”
“Hahaha ... kau memanggilku ‘pak’? Aku ini lebih mirip dengan kakekmu, Nak.” Dia menggeleng-gelengkan kepala. Bahunya berguncang hebat karena tawanya sendiri.
“Benarkah? Kukira Anda masih sangat muda. Bukankah rambut Anda—ehm—maksudku ...,”
“Memutih maksudmu?” potongnya seraya mengangkat alis.
Aku kikuk menatapnya dan tertawa.
“Baiklah, lalu aku harus memanggilmu apa?” tanyaku kemudian.
“Panggil saja Liu, Nak.”
“Kakek Liu?” tegasku.
“Tidak, jangan kau panggil aku seperti itu. Aku tidak suka. Panggil Liu saja!” Nada suara Kakek Liu tiba-tiba menajam.
“Oh ... maaf. Namamu bagus sekali, Liu.”
“Memangnya kau tahu apa artinya?” Matanya melotot di atas kacamatanya yang melorot.
“Kurasa aku tak tahu persis apa artinya. Yang kutahu itu adalah bahasa mandarin, bukan?”
“Hahaha ... kau ini polos sekali, Nak. Nah, kau tahu dari mana kalau itu bahasa mandarin?” tanyanya lagi.
“Dari film Meteor Garden, Liu.” Aku menunduk malu setelah mengatakannya.
“Kau benar-benar mengagumkan, Nak. Kau belajar dari sesuatu yang tak k uduga sebelumnya. Kupikir kau sempat kursus mandarin.” Liu menepuk-nepuk pundakku seraya manggut-manggut.
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. Mengapa dia tak menertawakanku lagi? Hmm ... Liu memang sangat menarik.
“Baiklah ... aku harus segera pergi, Liu.” Kulirik jam tangan sekilas. Sekarang sudah hampir pukul setengah delapan.
“Sebentar, Nak. Kau belum menjawab pertanyaanku.” Wajahnya terlihat sedikit kecewa—membuatku merasa tak enak.
“Yang mana, Liu?”Bukankah semua pertanyaanmu sudah kujawab?”
“Apa kau sedang menunggu seseorang?”
Aku terhenyak mendengar pertanyaannya. Mengapa kau bertanya seperti itu? Tak mungkin jika kukatakan padamu bahwa aku hampir gila menunggunya kembali. Bukankah baru tiga hari Anggita pergi? Itu konyol sekali.
“Kau tahu dari mana, Liu?” Aku justru balik bertanya. Sungguh bodoh. Kukejamkan mata beberapa detik.
“Jadi benar kau sedang menunggu seseorang? Apa dia seorang wanita? Seseorang yang sangat berarti bagimu?”
Tak ada jawaban dari mulutku. Mengapa kau memberikan pertanyaan yang mengingatkanku padanya? Sekarang sudah pukul 07.50. Oh ... kumohon hentikan, Liu. Aku pasti terlambat!
“Pergilah, Nak. Aku sudah terlalu lama menahanmu. Kalau kau merasa sudah terlalu lama menunggu, mengapa tak kau datangi saja dia?” katanya kemudian sambil menenteng gading-gadingnya.
Aku segera berlari meninggalkannya.
“Liu, namaku Sammy!” teriakku disela-sela lariku.
Liu tak menoleh, hanya melambaikan tangannya. Aku berlari lagi. Pagi ini adalah pagi yang sama seperti pagi kemarin, kemarin dan kemarin. Pagi tanpa seorang sahabat yang menjalankan ritual khusus bersamaku. Menunggu munculnya sunrise di pagi buta. Bermain embun dan pasir. Melepaskan segala kegundahan di dalam hati. Semua itu kini kujalani sendiri. Tidak ada pengganti.
Tak ada Anggita yang menemaniku. Rasanya seolah hatiku sudah kebas. Mati rasa atau apalah jika harus menyebutnya. Bisa saja dia tak memikirkanku barang sedikit pun. Atau barangkali membayangkanku setiap saat. Entahlah. Begitu banyak kemungkinan. Sekarang, lebih baik memberinya waktu untuk sendiri agar aku tidak terkesan memburunya. Jika aku terlalu mengejar dan bertanya padanya, tidakkah dia akan berbalik jijik padaku? Laki-laki macam apa diriku ini? Atau dia sedang ada masalah keluarga dan tak ingin melibatkanku lebih jauh? Tapi perkataan Liu tiba-tiba terngiang-ngiang dalam pikiranku.
Kalau kau merasa sudah terlalu lama menunggu, mengapa tak kau datangi saja dia? Mengapa tak kau datangi saja dia?

Komentar Buku (116)

  • avatar
    Uyun AL Varo

    sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang

    03/02/2022

      5
  • avatar
    maha karya

    sangat menarik

    11/06/2025

      0
  • avatar
    Burg Gaming

    cerita yang bagus

    14/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru