logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

DKJ 16

“Dari mana aja, kamu?”
“Mas Bagas? Ya ampun, Mas, akhirnya kamu pulang juga,” pekik Jesna bahagia saat melihat Bagas sudah kembali ke rumah
“Nggak usah ngalihin pertanyaan. Jawab, kamu dari mana? Kenapa kamu baru pulang sekarang?” tanya Bagas sekali lagi.
Jesna tersenyum kemudian berjalan menghampiri Bagas, “maaf, ya, Mas, aku pulang sedikit kemalaman. Aku baru dari rumah singgah tadi.”
Bagas mengernyit bingung, “rumah singgah?”
“Iya, Mas. Sebenarnya aku udah dari lama pengen ngasih tau kamu tentang rumah singgah ini. Aku punya rumah singgah. Di sana, ada beberapa anak yang dulunya adalah anak jalanan yang pernah aku temui dan aku bantu.”
“Jadi, setelah dari kampus, aku mampir ke sana. Kebetulan, aku udah beberapa minggu ini nggak ngunjungi mereka,” ucap Jesna tenang.
“Kamu udah lama pulangnya, Mas? Gimana kerjaan kamu yang di luar kota? Lancar?” tanya Jesna.
Bagas terdiam. Luar kota, ya?
“Hem,” jawab Bagas singkat.
Mendengar jawaban singkat Bagas, membuat Jesna tersenyum sabar. Setidaknya, Bagas masih pulang ke rumah dan menanyakan keberadaan. Ini sudah cukup bagi Jesna.
“Ya sudah, aku ke kamar sebentar, ya, Mas. Mau bersih-bersih dulu,” pamit Jesna yang hanya di jawab anggukan oleh Bagas.
Seperginya Jesna ke kamar, Bagas termenung menatap televisi yang sedang menampilkan siaran bola. Pandangannya memang menatap televisi, tapi pikirannya melayang memikirkan hubungannya dengan Jesna.
Bagas sadar, perbuatannya ini sangat tidak baik. Ia telah menghianati Jesna dan mengingkari janjinya. Namun, apa daya. Semua ini di luar kuasanya. Ia tidak bisa mengontrol diri dan perasaannya sendiri.
Setelah berpikir panjang, Bagas memutuskan untuk menyusul Jesna ke kamar. Ia harus menyelesaikan permasalahan rumah tangganya ini dengan Jesna. Ia harus menghentikan permasalahan yang ia ciptakan sendiri.
Bagas memasuki kamar dengan membuka pintu pelan. Ia melihat Jesna yang baru saja menyelesaikan sholat dan sedang melipat mukena nya.
“Mas? Maaf, ya, kamu nunggu lama. Kamu udah makan, Mas? Mau aku masakin apa?” tanya Jesna saat melihat Bagas masuk ke kamar.
Bagas tidak menggubris pertanyaan Jesna. Ia terus berjalan mendekati Jesna dan meraih kedua tangan Jesna ketika mereka sudah dekat.
“Jesna … M-Mas, Mas minta maaf,” ucap Bagas pelan seraya menatap kedua mata Jesna.
Jesna yang mendengar permohonan Bagas yang mendadak pun terdiam. Ia tidak salah dengar, kan?
Melihat tidak adanya respon dari Jesna, membuat Bagas menggenggam erat tangan Jesna dan mendudukkan dirinya untuk berlutut.
“Mas tau, akhir-akhir ini Mas udah kasar sama kamu. Mas sadar, Mas udah nyakitin perasaan kamu. Mas minta maaf Jesna,” ucap Bagas sedikit terisak.
Jesna meraih pundak Bagas dan mensejajarkan dirinya dengan Bagas.
“Mas, kamu nggak perlu sampai berlutut begini. Aku udah maafin kamu, Mas,” ucap Jesna.
Bagas menatap Jesna dalam, tidak menyangka dengan respon yang diberikan Jesna.
“K-kamu … serius?” tanya Bagas meyakinkan.
Jesna mengangguk. Baginya, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang terpenting, Bagas mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf.

Bagas menarik Jesna dalam pelukannya. Ia memeluk erat Jesna, melepaskan rasa rindu yang muncul pada dirinya akhir-akhir ini.
“Terima kasih. Mas janji, Mas nggak akan ngulangin hal yang sama lagi.”
Cukup lama mereka berpelukan, Jesna pun menarik diri dari pelukan Bagas.
“Mas, kita belum makan malam. Aku masak dulu, ya, sebentar. Kamu pasti udah lapar banget,” ucap Jesna.
Bagas menggeleng, “kamu nggak usah masak. Kita makan di luar aja.”
“Makan di luar?” Bagas mengangguk.
“Ya udah, kalau gitu aku siap-siap dulu.”
Beberapa saat kemudian, Jesna dan Bagas telah tiba di sebuah restoran seafood yang menjadi pilihan untuk makan malam. Bagas menuntun Jesna untuk duduk di meja yang telah ia pesan sebelumnya.
“Kamu mau pesan apa, Mas?” tanya Jesna saat pelayan mendatangi meja mereka.
“Kamu aja yang pilih, aku yakin kamu tau kesukaan aku,” jawab Bagas.
Jesna tersenyum kemudian menyebutkan pesanan mereka kepada pelayan yang telah menunggu.
“Ditunggu beberapa saat ya, Pak, Bu. Permisi.” Jesna dan Bagas mengangguk serempak.
Bagas menatap Jesna dengan lekat. Ia menyesal karena telah menyia-nyiakan Jesna akhir-akhir ini. Perasaan menyesal masih melingkupi dirinya dan ia bersyukur, Jesna masih mau menerima dan memaafkannya padahal kesalahan Bagas sangat fatal.
“Maafin aku, Jesna. Aku udah hianatin kamu di saat umur pernikahan kita yang baru sebentar ini. Kamu bahkan nggak mempermasalahkan dan menanyakan alasan dibalik perbuatan aku ke kamu,” ujar Bagas dalam hati.
“Mas, kamu kenapa? Ada masalah sama kerjaan kamu? Nanti setelah makan, kita langsung pulang aja, biar kamu bisa istirahat,” ucap Jesna.
“Nggak, aku nggak apa-apa, kok. Aku cuma pengen ngeliat kamu aja,” ujar Bagas.
Jesna tersipu malu mendengar ucapan Bagas. Meski begitu, ia sadar, ada hal yang Bagas sembunyikan dan sebuah penyesalan yang bisa ia rasakan dari tatapan Bagas. Namun, Jesna mengabaikannya. Ia juga tidak menanyakan apapun ke Bagas tentang sikapnya yang berubah. Baginya, Bagasnya kini telah kembali.
Setelah makan malam, Jesna dan Bagas memutuskan untuk pulang. Mereka ingin menghabiskan waktu berdua karena permasalahan yang mereka alami beberapa hari ini.
***

“Assalamu’alaikum, Yeza? Mama pulang.”
“Wa’alaikumsalam, Mama udah pulang? Mama dari mana, sih?” tanya Yeza yang baru saja dari dapur.
“Mama pergi ke rumah singgah kenalan Mama, Sayang.”
“Rumah singgah? Emang masih ada di zaman sekarang orang buat rumah singgah, Ma? Biasanya juga panti asuhan.”
Tante Safira tersenyum seraya mengelus kepala anaknya kemudian berkata, “ada. Buktinya Mama udah ke sana ngeliatnya.”
“Wah, masih ada, ya, orang yang berhati malaikat kayak kenalan Mama itu. Yeza jadi pengen ketemu, deh, Ma. Dia pasti orangnya baik, kan?”
“Banget. Mama aja terkagum-kagum sama sifatnya. Duh Mama beruntung bisa ketemu dan kenal sama dia,” ucap Tante Safira sambil membayangkan perilaku Jesna saat bersamanya.
“Ayo dong, Ma, kenalin Yeza sama kenalan Mama itu. Dia perempuan atau laki-laki, Ma? Kalau laki-laki, masih muda, nggak?” Yeza menaik-naikkan alisnya.
“Hush kamu ini, emang kenapa kalau dia laki-laki dan masih muda?”
“Ya kali aja, Ma. Jodohkan nggak ada yang tahu,” ucap Yeza kalem.
Tante Safira menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya anak bungsunya berpikiran seperti itu.
“Abang kamu aja belum ada jodohnya, kamu malah udah mikir-mikirin jodoh. Eh, Mama jadi kepikiran buat jodohin Abang kamu, deh,” ujar Tante Safira.
Yeza mengerutkan dahinya bingung, “jodohin Abang? Emang Mama mau jodohin Abang sama siapa?”
“Ya kenalan Mama itu. Dia cantik, baik, sopan, berhijab lagi. Ditambah, dia punya rumah singgah, itu berarti dia punya hati yang tulus,” terang Tante Safira.
“Ih, Yeza juga mau jodohin Abang kali, Ma, sama dosen Yeza di kampus. Dia juga cantik, baik, ‘trus berhijab. Pokoknya tipe idaman banget, deh,” ucap Yeza.
“Mama tau, dia udah pernah loh nyicipin masakan Abang.”
“Kamu serius? Kok bisa?”
“Kemarin Yeza bawain makanan yang dibawa Abang terus Yeza kasih ke dosen Yeza. Ya, dia awalnya curiga, sih, Yeza ngasih makanan itu dan bilang kalau ini buatan Abang. Dia bilang kalau Yeza masih berusaha jodohin dia sama Abang,” ucap Yeza cengengesan.
“Terus gimana?” tanya Tante Safira penasaran.
“Dia tetap makanlah, Ma. Yeza bilangnya kalau Abang kebetulan masak banyak, jadi Yeza bawain buat dia.”
Tante Safira mengangguk paham.
“Pokoknya, sama siapapun Abang kamu berjodoh, semoga dia orang yang baik dan bisa menjadi rumah tempat Abang kamu pulang. Mama nggak mau Abang kamu salah pilih pasangan dan berakhir dengan rumah tangga yang hancur,” harap Tante Safira.
“Yeza juga berdoa kayak gitu, Ma. Tapi, Yeza pengen Abang berjodohnya sama dosen Yeza. Yeza udah klop banget sama dia.”
“Kita berdoa saja yang terbaik buat Abang kamu.”

Komentar Buku (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru