logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Dibalik Kesabaran Jesna

Dibalik Kesabaran Jesna

Yolanda Rayazmi


DKJ 01

Semua bermula dari sini. Berangkat dari keinginan yang begitu mendalam untuk mengunjungi dua tempat suci, Makkah dan Madinah. Entah kenapa hati ini begitu terpaut dengan keindahan dan kesucian tempat ini. Tempat yang meninggalkan kisah yang bersejarah dalam peradaban Islam, membuatnya ingin berada lebih lama dan mengais banyak ilmu di tempat ini.
Namun, keinginan ini harus ia kubur dalam-dalam. Tuntutan keluarga yang begitu mendesak membuatnya harus melupakan keinginan itu. Benar, baginya kini keluarga lebih penting.
“Kamu harus siap-siap, ya, sebentar lagi keluarga Bagas datang. Tante gak mau liat kamu masih berantakan kayak gini. Apa kata keluarga mereka nanti.” Tante Anya mengingatkan.
Ya, kini ia tinggal bersama om dan tantenya. Setelah kejadian yang merenggut kedua orang tuanya 10 tahun yang lalu, mereka lah yang membesarkan dan membiayai pendidikan hingga menjadi seorang sarjana. Dan, tugasnya kini ialah membalas kebaikan mereka, salah satunya menyetujui perjodohan yang telah mereka atur untuknya.
Setelah selesai membersihkan diri, ia berdiri di depan lemari baju. Memilih pakaian mana yang pantas ia kenakan untuk acara lamaran ini. Dan, pilihannya jatuh pada gamis merah muda dipadukan dengan jilbab maroon yang ia beli sebulan yang lalu.
Ia patutkan dirinya didepan kaca hias. Merenung sejenak dan berpikir apakah ini akhir dari perjalanannya. Apakah ia masih bisa meraih segala impian yang telah ia rangkai sedari dulu setelah menikah nanti? Entahlah, jika diperhatikan rasanya itu akan menjadi mustahil mengingat calon suaminya ini yang sedikit posesif.
Suara ketukan pintu terdengar, setelahnya menampakkan wujud tantenya yang telah siap dengan tampilan dan hiasannya.
“MasyaAllah kamu cantik sekali, Jes. Tante yakin Bagas adalah orang yang paling beruntung dapetin kamu.” Tante Anya mengelus kepalaku dengan sayang. Meski beliau sangat tegas terhadap dirinya, namun beliau lah yang begitu perhatian. Beliau mampu menggantikan sosok ibu dalam hidupnya.
“Terima kasih, Tante,” Ucapnya.
Tak lama Om Putra muncul di depan pintu, “Udah siap, Jes? Yuk keluarga Bagas udah datang.”
Ia mengangguk menyahuti panggilan Om Putra.
“Yaudah tante keluar dulu, ya, kamu jangan lama-lama di kamarnya. Tante tinggal dulu.”
Kini, ia sendiri di kamar ini. Semoga keputusan ini memberikan dampak yang baik untuknya dan keluarga ini. Jesna Az-zahra, memutuskan untuk menerima lamaran dari Bagas. Ia berharap Bagas Atmadja adalah jodoh yang telah Allah siapkan untuknya dan akan membimbingnya untuk meraih surga-Nya.
“Alhamdulillah, akhirnya kita akan menjadi besanan. Aku udah gak sabar lagi nunggu sampai hari H tiba,” ucap Om Ramlan, Ayah Bagas.
“Ya benar. Aku udah nunggu waktu-waktu seperti ini. Menjodohkan Jesna dengan Bagas dan alhamdulillah mereka juga setuju,” sahut Om Putra. Mereka tertawa bahagia karena perjodohan yang telah mereka rencanakan akhirnya terwujud.
Sudah lama Putra dan Ramlan ingin menjodohkan anak-anak mereka kelak. Sebuah perjodohan yang telah mereka rencanakan sejak mereka lulus kuliah. Ya, Putra dan Ramlan adalah dua orang yang telah lama bersahabat. Namun, karena Putra tidak memiliki anak maka ia menjodohkan Jesna, anak dari abangnya, untuk dinikahkan dengan Bagas, putra tunggal Ramlan.
Jesna senang jika ia mampu mengukir senyum dikeluarga ini. Walau harus merelakan impiannya, ia ikhlas. Kini ia harus memikirkan cara bagaimana ia melupakan impiannya tersebut dan fokus akan pernikahan yang tak lama lagi.
Kini, Jesna dan Bagas diberikan waktu berdua untuk mengobrol. Mereka berada dihalaman belakang rumah om Putra yang dihiasi oleh tanaman bunga koleksi tante Anya. Jesna mengajak Bagas untuk duduk di bangku santai dengan tanaman tersebut.
“Akhirnya kita bisa duduk berdua, ngobrol begini ya.” Bagas membuka pembicaraan terlebih dahulu. Ia mencoba untuk meluluhkan hati Jesna agar ia bisa lebih leluasa mendekati Jesna.
“Hem, iya. Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan,” ujar Jesna. Ia mencoba untuk menerima Bagas sebagai calon suaminya. Namun, ia harus memastikan sesuatu yang sudah mengganjal dihatinya.
“Ya … ya silakan tanyakan. Kamu gak perlu sungkan gitu lah, kita kan sebentar lagi akan menikah,” sahut Bagas.
“Begini, saat ini saya adalah tenaga pengajar di universitas Darma Mulia, apakah setelah menikah nanti saya masih diizinkan untuk mengajar? Jujur saja, mengajar adalah hal yang saya cita-citakan sejak dulu. Dan, itu akan menjadi hal terberat bagi saya jika saya harus melepaskan cita-cita tersebut,” ungkap Jesna. Ia merasa lega telah mengungkapkan hal yang mengganjal dihatinya. Ia berharap Bagas tidak membatasinya untuk mengajar di universitas tempat ia bernaung saat ini.
“Ah, masalah itu, ya? Aku sebenarnya menginginkan seorang istri yang selalu berada di rumah. Setiap aku pulang dari kantor, aku ingin ada istri yang menyambut di rumah. Kalau aku lihat dari cara kerja kamu sebagai dosen di sana yang jam mengajarnya terkadang ada yang malam, aku sedikit keberatan,” jawab Bagas.

Jesna terdiam mendengar jawaban Bagas. Ia sudah menebak hal ini. Ia tidak akan bisa lagi mengajar setelah ia menikah. Itu artinya, ia harus kembali melepas impian nya sekali lagi.
“Tapi, karena kamu bilang mengajar adalah cita-cita kamu, maka aku gak akan mempermasalahkan hal itu. Kamu masih boleh mengajar setelah kita menikah nanti. Tetapi, jika kamu sudah hamil, maka aku berharap kamu mengundurkan diri dari pekerjaan itu,” sambung Bagas.
Mendengar hal itu, Jesna tersenyum. Ia mengucap syukur dalam hati, setidaknya ia masih bisa mengajar setelah menikah. Kalau boleh jujur, memiliki anak setelah pernikahan yang belum lama, tidak terpikirkan olehnya. Ia ingin menikmati masa-masa bersama suaminya terlebih dahulu karena ia dan suaminya tidak berpacaran sebelumnya.
“Terima kasih kamu sudah mengizinkan saya. Saya lega mendengar ini,” ucap Jesna.
“Ya, tidak masalah. Setidaknya kamu sudah mau membagikan kegelisahan kamu. Aku harap kamu gak pernah sungkan untuk menanyakan sesuatu yang mengusik pikiran kamu.”
Bagas tersenyum semanis mungkin. Ia akan bersikap manis kepada Jesna hingga Jesna jatuh dalam pelukannya. Ia sudah merencanakan hal ini, menikahi Jesna demi untuk dipamerkan kepada mantan pacarnya yang telah menikah. Selain itu, kecantikan Jesna mampu menaikkan nafsu seorang Bagas hingga ia tidak sabar sampai hari itu tiba ia akan meluapkan segala keinginan yang telah ia tahan sejak pertama melihat Jesna.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Lagian gak boleh kita berduaan lama begini sementara kita belum halal,” ucap Bagas.
“Y-ya, silahkan. Kamu hati-hati di jalan.” Jesna mengantar Bagas hingga ke halaman depan. Mereka berjalan melewati samping rumah yang terhubung ke halaman depan. Orang tua Bagas telah pulang terlebih dahulu sehingga Bagas hanya menyetir seorang diri.
Seperginya Bagas, Jesna memasuki rumahnya. Ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan riasan wajahnya dan segera istirahat. Saat ia akan menaiki tangga menuju kamarnya, ia dipanggil oleh Om Putra yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Duduk dulu Jesna, ada hal yang ingin Om sampaikan sama kamu.” Om putra mempersilakan Jesna untuk duduk di sofa sebrangnya.
“Ada apa, Om?” tanya Jesna setelah duduk di sofa.
“Begini, kamu sebentar lagi akan menikah dengan Bagas. Om mau nanti setelah kamu menikah, kamu harus sering-sering kunjungi Om dan Tante. Kamu udah Om dan Tante anggap seperti anak kami sendiri. Meski kamu sudah menikah, kamu jangan lupai Om dan Tantemu ini, ya?” ujar Om Putra. Ia sebenarnya merasa sedih melepas Jesna yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Namun, ini harus ia lakukan karena perjanjian yang ia buat dan juga demi kebahagiaan masa depan Jesna.
“Om, Om gak boleh bicara seperti itu. Jesna gak mungkin lupai Om dan Tante. InsyaAllah, Jesna akan sering berkunjung ke sini setelah menikah nanti,” sahut Jesna.
“Syukurlah kalau begitu, Om senang dengarnya. Dan satu lagi Jesna, Om harap kamu mau melepas kerjaan kamu sekarang. Kamu akan menjadi istri, sebaiknya sebagai seorang istri kamu harus berada dirumah menunggu suami kamu pulang. Kamu tahu, kerjaan kamu sekarang ini akan membuat kamu menghabiskan lebih banyak waktu di kampus dari pada di rumah. Om gak mau suami kamu merasa terabaikan karena kesibukan kamu.”
Jesna menghela napas lirih, “Om hal ini baru saja Jesna diskusikan dengan Bagas. Alhamdulillah Bagas mengizinkan Jesna tetap mengajar setelah menikah nanti, kecuali jika Jesna hamil, maka Jesna harus mengundurkan diri. Om tenang aja, Jesna gak akan ngelupai kodrat sebagai seorang istri. Jesna akan membagi waktu Jesna antara kerjaan sama suami,” jelas Jesna.
“Apa kamu yakin bisa ngelakuin dua hal sekaligus? Kamu lihat Tante kamu, dia meninggalkan pekerjaannya setelah menikah. Dia takut melalaikan kewajibannya sebagai istri karena terkendala pekerjaan.”
“InsyaAllah Jesna yakin, Om. Om doain Jesna terus ya biar Jesna mampu menjalani kehidupan Jesna nantinya.”
“Baiklah kalau memang begitu keputusan kamu, Om gak akan memaksa. Om selalu dan akan terus berdoa untuk kebahagiaan kamu, Jes. Kamu itu tanggung jawab Om setelah ayah kamu meninggal, jadi segala hal yang menyangkut tentang kamu itu udah jadi tanggung jawab Om.”
Jesna terharu mendengar ucapan omnya. Ia beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri dan memeluk Om Putra.
“Terima kasih, ya, Om. Om udah jadi ayah pengganti yang paling baik untuk Jesna. Jesna gak akan ngelupai semua kebaikan Om dan Tante.” Jesna menitikkan air matanya. Ia sungguh bersyukur meski harus ditinggal oleh kedua orang tuanya, ia masih memiliki om dan tante yang sangat menyayanginya.
Om Putra mengelus kepala Jesna dengan sayang kemudian melepas pelukannya, “ya sudah kalau begitu. Sana kamu kembali ke kamar, istirahat.”
Jesna mengangguk, kemudian mencium tangan omnya dan beranjak menuju kamarnya.
Selepas kepergian Jesna, Om Putra meloloskan air mata yang sejak tadi ia tahan. Ia tidak mau menunjukkan kesedihan ini dihadapan Jesna.
“Sudah. Kamu harus ikhlas, Mas. Jesna sebentar lagi akan menjalani kehidupan barunya, jangan sampai dia lihat kamu seperti ini. Dia pasti akan sedih.” Tante Anya menghampiri Om Putra setelah mendengar pembicaraan dengan Jesna. Ia mengelus bahu suaminya guna menenangkan.
“Kamu benar. Jesna gak boleh lihat aku seperti ini.” Om Putra menghapus air matanya.
“Tapi aku masih merasa berat untuk ngelepas dia, dia yang aku rawat selama 10 tahun ini sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Aku gak nyangka waktu akan cepat berlalu seperti ini.”
“Dia juga udah seperti anakku sendiri, Mas. Tapi kita bisa apa. Kebahagiaan Jesna adalah hal utama bagi kita. Dan sebentar lagi kebahagiaan itu akan datang menjemputnya. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik buat Jesna.”
Om putra mengangguk. Ia membenarkan ucapan istrinya dan mencoba melupakan kesedihan yang tak beralasan ini.
“Ya sudah, ayo, kita istirahat. Besok harus bangun pagi untuk sholat Subuh.” Kemudian suami istri ini pergi menuju kamarnya.
Tanpa mereka sadari, Jesna mendengar semuanya. Ia yang awalnya akan ke kamar kembali teringat bahwa ia lupa meminum susu coklatnya. Hal rutin yang ia lakukan setiap malam sebelum tidur. Saat Jesna kembali menuruni tangga dan menuju ke dapur, ia melihat om dan tantenya berbicara berdua. Ia berhenti saat namanya disebut.
“Ya Allah begitu besar kasih sayang om dan tante kepadaku. Bagaimana bisa aku menolak permintaannya untuk perjodohannya ini. Aku mohon ya Allah berilah mereka kesehatan dan kebahagiaan.” Jesna berdoa. Ia sebenarnya sedih mendengar perkataan omnya, namun ia harus kuat karena seperti yang om nya bilang, ini demi kebahagiaan masa depannya. Dan semoga kebahagiaan itu menjadi kenyataan.
***

Komentar Buku (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru