logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 S1 002 - Tamu Tak Diundang

Jam istirahat telah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, Rian menggunakan waktu itu untuk bersantai di atap gedung sekolah sambil menikmati rotinya dengan ditemani sekawanan merpati yang ia beri makan.
Kriiett....
Sesaat kemudian, pintu besi menuju atap itu pun terbuka menghasilkan suara dari yang mengakibatkan para merpati tersebut berterbangan karena ketakutan. Dari balik pintu Arya muncul dan berjalan mendekat ke tempat Rian berada.
"Seperti biasa kau selalu di sini, ya," sapa Arya sambil duduk di samping Rian.
"Bagaimana keadaan di bawah? kudengar... ada seorang murid pindahan, siapa dia?" tanya Rian sambil melanjutkan makannya.
"Masih ramai seperti tadi pagi, sebenarnya aku juga tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi kalau seandainya benar... aku jadi ingin tahu siapa murid pindahan itu sampai bisa seheboh ini? apa dia anak seorang artis?"
"Oh ya, ngomong-ngomong ada sesuatu yang ingin ku ceritakan," lanjut Arya.
Rian tidak terlalu menanggapi omongan temannya itu. Dia hanya diam dan menjadi pendengar yang baik karena menurutnya ada hal penting yang terselip dalam cerita yang akan diceritakannya.
Arya memulai menceritakan kejadian yang di alaminya semalam. Arya terlalu fokus bercerita dan Rian terlalu fokus mendengarkan, hingga mereka berdua pun tidak menyadari kehadiran seseorang yang telah berdiri di hadapan mereka.
"Membicarakan orang lain dari belakang itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan, bagaimana bisa orang sepertimu bisa melakukan hak itu?" sindirnya.
Arya dan Rian terkejut dan menoleh ke depan secara bersamaan. Seorang gadis berdiri di depan mereka, ditambah lagi dia mengenakan seragam sekolah mereka yang membuat Arya semakin terkejut.
"K-kau...?! kau gadis yang semalam itu kan?" tanya Arya.
"Tentu saja, apa kepalamu terbentur? perkenalkan, namaku Rena, aku berasal divisi 7 dan aku sedang dalam misi untuk memburu seekor agmar yang kabur,"
"Tunggu! bukannya kau bilang kalau tak ada anggota divisi 7 yang ditugaskan di dunia manusia, lalu... apa yang sedang kau lakukan di sini?" sela Arya.
"Eee... itu..., sebenarnya divisi 8 adalah divisi khusus untuk membasmi agmar level 2 yang muncul di dunia manusia. Tetapi sejak seekor agmar dari laboratorium divisi 11 kabur, seorang demon hunter yang ditugaskan di 20 kota menghilang tanpa jejak.
Karena itu para petinggi pun memerintahkan divisi 7 untuk membentuk tim pembasmi agmar yang kabur itu dan aku adalah anggota terakhir yang sampai," jelas Rena.
"Jadi begitu ya? apa kau murid pindahan yang menghebohkan sekolah ini?" tanya Rian.
"Ehmm... seperti iya," jawab Rena cepat.
"Apa?! ba-bagaimana kau bisa tahu?" celetuk Arya.
"Dari semua murid yang bersekolah di sini, hanya wajahnya yang terlihat asing bagiku. Semua ceritamu terdengar aneh, jika kau dalam misi memburu seekor agmar, mengapa kau memberitahukannya kepada kami? apa jangan-jangan... ada sesuatu yang kau sembunyikan?" jawab Rian.
Rena terkejut karena tak menyangka pria berbadan besar itu ternyata sangat teliti. Tiba-tiba angin berhembus membawa debu-debu bersamanya dan memecah keheningan yang terbentuk di antara mereka.
"Seperti yang baru saja kukatakan, aku adalah anggota terakhir dari tim tersebut yang sampai. Anehnya sampai sekarang aku tak bisa menemukan mereka, aku sudah melihat kemampuan kalian kemarin sore dan sepertinya kemampuan kalian sangat berguna, apa kalian mau meminjamkan kekuatan kalian sebentar kepadaku?"
Arya terdiam dan berpikir sejenak, "Baiklah, apa yang harus kam-,"
"Tunggu!" sela Rian dengan cepat, "Satu pertanyaan lagi, mengapa agmar yang semalam kalian lawan bisa menyerang sedangkan agmar yang selama ini kami bunuh tidak?"
"Agmar yang kalian bunuh itu adalah agmar level 1, mereka tidak pernah menyerang atau memakan siapa pun, sedangkan yang semalam adalah level 2. Agmar yang kami buru adalah agmar level tinggi, tekanan energi gelap dari dirinya dapat memanipulasi agmar level 1 menjadi level 2," jelas Rena.
Tiiiiiiinnggg....!!! Tiiiiiiinnggg....!!!
Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah selesai dan mereka pun bersiap untuk turun kembali ke kelas mereka.
"Baiklah, apa yang bisa kami bantu?" tanya Arya.
"Aku menerima beberapa sinyal aneh, salah satunya di daerah barat kota ini, aku ingin kalian pergi ke sana dan memeriksanya, sampai jumpa di lain waktu!" ucapnya sambil berlari kecil menuruni tangga.
Rian dan arya saling pandang, seakan mereka saling menunggu pendapat satu sama lain.
"Haaa.....," Arya menghela nafas panjang karena Rian tidak meresponsnya terlebih dulu, "bagaimana menurut? apa nanti sore kau mau ikut memeriksanya?"
"Merepotkan saja, aku tak percaya padanya. Lagian... seperti biasa sorenya aku harus pergi bekerja," tolaknya sambil berlalu menuruni tangga.
"Sepertinya aku harus memeriksanya sendirian," ucap Arya pelan.
<<<<<<>>>>>>
Jam menunjukkan pukul 15:30. Meskipun jam sekolah telah lama berakhir, Arya masih belum pulang ke rumahnya. Sesuai rencana yang telah ia rencanakan, dia akan mengelilingi daerah barat kotanya seorang diri.
Suara deru mobil yang dia dengar di sepanjang jalan raya, jalan setapak yang sempit nan kotor, dan jembatan yang sejuk akibat angin yang berhembus, semua itu telah dirasakannya dan sekarang sang mentari pun mulai tenggelam di ufuk barat.
Meskipun Arya sudah berkeliling beberapa kali, tetap saja dia tak bisa menemukan satu pun hal aneh di sana. Arya baru menyadari bahwa hari sudah semakin sore dan dia pun membuka ponselnya sesaat.
"Pukul 18:15 dan sampai sekarang aku masih tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya... apa yang dia cari?"
Akhirnya dia pun menyerah dan memulai perjalanan pulang ke rumahnya. Namun, di saat ia melewati sebuah gedung kosong, ia menemukan beberapa gelang aneh yang berserakan di depan gerbang gedung itu.
"Sebenarnya gelang apa ini? kalau dilihat-lihat... tidak mungkin ada orang yang mau memiliki gelang seperti ini."
Tanpa pikir panjang, Arya pun memungut semua gelang-gelang itu dan membawanya pulang.
Setengah jam telah berlalu, dan kini ia telah sampai di depan pintu dari rumah yang dibencinya selama bertahun-tahun. Tubuhnya yang lelah mengalahkan kebenciannya itu dan akhirnya dia pun membuka pintu tersebut.
"Aku pulang,"
"Dari mana saja lo...!!"
Buugh...!!!
Sebuah bantal menghantam wajah Arya dengan sangat keras sampai-sampai dia harus mengambil dua langkah ke belakang karenanya.
Bantal itu pun terjatuh dan terlihatlah sesosok orang gadis berambut hitam panjang dengan wajah yang sangat mirip dengannya, dia adalah pelaku dari bantal yang terbang ke arahnya.
Namanya Wulan Ananda Putri, dia adalah kembaran ceweknya Arya. Berbeda dari Arya yang masih ngestuck alias masih duduk di bangku SMA sampai sekarang, kini Wulan sedang menjalani kuliah di sebuah universitas di luar kota.
"Apa lo gak lihat jam hah...?! bisa-bisanya lo pulang larut malam begini! apa lo gak kasian sama Romi?"
"Lo Wulan bisa gak kalo tiap kali pulang gak ngajak berantem? lagian buat apa aku harus kasian dengannya?" balas Arya.
"Dasar gak punya hati! asal lo tahu ya, gue ini kayak gini karena lo sendiri tiap hari pulangnya maleeeeemmm.... mulu,"
"Pulang malam pala lo, lo aja kalo balik selalu pas gue pulang mal-"
"Sudah-sudah! tidak baik ribut-ribut saat ada tamu," potong Wulan sambil berbalik membelakanginya.
"Cih...! lu aja yang mulai dulu, dasar banteng!" ejek Arya.
"Apa?!"
Wulan yang mendengarnya langsung menatap tajam ke arah Arya sambil mengeluarkan aura membunuhnya hendak berkelahi dengannya. Tetapi dengan terpaksa ia harus menahannya dan dia pun berlalu ke ruang tamu.
"Dasar, selalu saja seperti ini," gerutu Arya pelan.
Arya mengambil bantal yang tadi dilempar Wulan kepadanya. Lalu, ia berjalan sambil membawanya kembali ke ruang tamu, tempat bantal itu berasal.
Begitu sampai, Arya pun dibuat terkejut oleh orang yang berada disana. Saking terkejutnya sampai-sampai bantal yang berada di tangannya pun terjatuh ke lantai.
Seketika perhatian orang tersebut mengarah kepadanya, begitu juga dengan Romi yang duduk di dekatnya.
"Hai!" sapa orang itu.
"Re-rena?! ke-kenapa kau ada di sini?"
"Ah, aku masih belum memberitahumu ya? dia adalah tamu kita dan mulai sekarang dia akan tinggal di rumah ini," jelas wulan yang ternyata sedang berdiri sambil bersandar di dinding yang ada di samping Arya.
Arya yang mendengar hal itu menunjukkan wajah ketidakpercayaannya.
"Kau tidak bisa memutuskan hal itu seenak jidat lo! lo pikir ini rumah punya lo apa?!" bantah Arya.
"Haaaah...?! aku sudah minta izin pada ayah dan dia pun mengizinkannya,"
"Ti-tidak mungkin?!"
"Kalau tidak percaya telpon saja sendiri, huft...," ujarnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kau ini.....!!' gerutu Arya.
"Yuk, rena! akan kutunjukkan kamarmu," ajak Romi.
"Baik."
Romi pun mengantar Rena ke kamarnya yang berada di lantai atas. Saat Rena berpapasan dengan Arya, dengan cepat ia menyelipkan sebuah kertas ke dalam kantong celana Arya dengan sangat cepat sampai-sampai tak ada yang menyadarinya selain Arya sendiri.
Sekarang, hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Wulan menoleh dan menatap Arya dengan sinis, lalu memalingkan wajahnya lagi ke arah lain.
"Tidak perlu khawatir, aku hanya cuti 2 minggu saja, bahkan sebelum sampai 2 minggu aku akan kembali ke kampusku."
Setelah mendengar hal itu, Arya pergi menuju kamarnya meninggalkan Wulan seorang diri di sana.
Setibanya di kamarnya, ia langsung mengunci pintu dan membuang tasnya ke sembarang tempat. Dia pun teringat akan secarik kertas yang Rena selipkan di kantong celananya, ia pun meraihnya dan mulai membacanya.
"Kepada Arya
Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan apa yang kulakukan. Tapi, karena kau mau membantuku. Maka tidak ada cara lain selain cara ini agar masalahnya bisa terselesaikan dengan cepat.
Aku hanya mengatakan kepada adik dan kembaranmu kalau aku baru saja dibuang oleh keluargaku tepat setelah hari pertama aku pindah sekolah. Jadi mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya.
Satu hal lagi, kunci pintumu, matikan lampu, buka jendela, dan berpura-puralah tidur. Saat tengah malam nanti, aku akan datang ke kamarmu untuk membicarakan sesuatu."
==================================
Dukung saya melalui karyakarsa.com/Wolfman3

Komentar Buku (28)

  • avatar
    SetyawanApin

    mantap

    14/01/2025

      0
  • avatar
    Bảo Trần

    Đc của nó

    05/08/2024

      0
  • avatar
    FrenkiFrengki

    sloww ceritanya

    29/06/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru