Agmar…, kalian tahu apa itu agmar? agmar itu monster, monster buas yang hidup di dunia lain. Sedangkan di dunia kita? apakah ada? jawabannya adalah… 'iya, mereka ada'. Tapi, berbeda dengan agmar yang baru saja ku jelaskan, agmar yang hidup di dunia manusia sangatlah berbeda. Mereka lahir dari manusia, tepatnya dari emosi negatif yang mereka hasilkan. Setiap kali manusia merasakan emosi negatif, maka energi itu sebuah energi akan dilepaskan ke udara. Energi itu melayang-layang dan menyatu dengan energi negatif lainnya hingga membentuk sebuah tubuh dan kesadaran yang kita sebut dengan 'agmar'. Mereka tak terlihat, tak dapat diraba dan tak dapat dirasakan, tak butuh makan maupun minum, berkeliaran kesana kemari tanpa arah dan tujuan, hingga akhirnya mati beberapa hari setelahnya karena kehabisan energi. Meskipun agmar hidup di dunia kita tidak berbahaya, namun para pejuang kita ini terus berusaha memburu mereka untuk dapat menunaikan misi yang mereka terima dari 'si tua bangka' dan 'si kacamata'. <<<<<<>>>>>> Satu kepala agmar berhasil dipenggal menggunakan pedangnya. Dan dalam waktu singkat, tubuh agmar tersebut perlahan mulai lenyap tanpa sisa. "48, itu agmar yang ke-48 yang kita bunuh," ucap Rian. Rian Kamajaya, dia adalah satu-satunya teman Arya sejak kecil, mungkin karena mereka merasa senasib. Kulitnya berwarna kecoklatan, badannya besar, perawakannya bagaikan orang dewasa, dan sikapnya agak dingin. "Berarti tinggal 52 lagi," ucap Arya yang langsung dibenarkan dengan anggukan kepala Rian. "Kalau begitu, hari ini cukup sampai di sini saja, kita akan melanjutkannya di lain hari," ucapnya lagi. "Baiklah." Mereka berdua pun berpisah karena rumah mereka yang berlawanan arah, Rian pun berjalan pulang ke arah rumahnya, begitu juga dengan Arya. Dalam perjalanan pulang, Arya menemukan seekor kucing hitam tak jauh dari lokasi agmar yang dibunuhnya tadi. Kucing itu tampak sedang terluka dan Arya pun berniat untuk membawanya pulang untuk diobati. "Aku pulang," ucapnya saat setelah dia sampai dan membuka pintu depan. Tak lama setelahnya, seorang anak laki-laki berusia 16 tahun muncul dari balik dapur dan menyambut kepulangannya. "Kakak sudah pulang? Kebetulan aku baru saja selesai masak, bagaimana kalau kakak makan dulu?" tanyanya dengan harapan di wajahnya. Arya tak mengacuhkannya dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Seketika wajah anak laki-laki tersebut berubah menjadi kekecewaan, karena sekali lagi dia gagal untuk mendekatinya. Sebenarnya... anak laki-laki itu adalah adik tiri Arya, namanya Romi Saputra. Karena suatu alasan, Arya pun membencinya sejak pertemuan pertama mereka beberapa tahun yang lalu. Dan sejak saat itu juga Romi terus mencari cara agar dia bisa akrab dengan Arya. Walaupun sampai sekarang tak ada satupun usahanya yang membuahkan hasil. Ketika Arya sampai di kamarnya, dia langsung berjalan membuka lemarinya dan mengambil kotak P3K yang ia simpan. Namun, saat Arya hendak mengobati luka si kucing, Arya tidak bisa menemukan satupun luka pada kucing itu. "Aneh, bukannya... kucing ini tadi terluka?" gumamnya. Arya yang bingung pun tidak memperdulikannya lagi, dia langsung menyimpan kembali kotak P3K itu ke dalam lemarinya, mematikan lampu, dan langsung tidur di atas kasurnya. Semenit, dua menit, dan tiga menit pun berlalu. Matanya mulai terasa berat dan akhirnya Arya pun terlelap. Namun, belum lama setelahnya, tiba-tiba sebuah suara aneh terdengar dan membangunkannya. Krrrrrsss... Krrrrrsss... Krrrrrsss... "Eehhmm... su-suara apa itu?" ucap Arya. Meskipun rasa kantuk masih menyelimutinya, tetapi Arya tetap berusaha beranjak dari tempat tidurnya menuju tombol lampu agar dia dapat mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya. Tsk... Baru saja dia menekan tombol itu dan seketika cahaya lampu langsung menyinari seisi kamar dengan sangat cepat. Arya berbalik dan tiba-tiba saja dirinya dikejutkan oleh sesosok gadis yang muncul di hadapannya. Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam dengan sebilah pedang yang tersarung di pinggangnya. Perlahan, gadis itu mulai menatap arya dan merapalkan sesuatu sambil mengarahkan dua jarinya ke arah arya. "Sihir nomor 17 : rantai pengekang!" Sesaat kemudian, beberapa rantai muncul entah dari mana dan mengikat tubuh Arya dengan erat sampai dia tak dapat bergerak sedikitpun. "Sialan..! siapa kau sebenarnya?!" gerutu Arya. Gadis itu mendekati Arya dengan perlahan tanpa menjawab pertanyaannya. Saat jarak sudah menjadi dekat, gadis itu berhenti sambil menarik pedangnya dan mengarahkan sisi tajamnya ke samping leher arya. Arya langsung terdiam dengan raut wajahnya yang berubah menjadi tegang dan keringat dingin yang mulai bercucuran begitu melihat sisi pedang yang begitu menyilaukan mata. "Lucu sekali, apa sampai sekarang pun kau masih belum menyadari apa yang sedang terjadi?" ucap gadis itu. Arya tak mengerti apa yang dimaksudnya dan dia pun menatap mata gadis itu dengan tajam, "Aku adalah kucing yang kau bawa pulang, apa kau sudah mengerti?" ucapnya lagi. "Phttt... hahahahahahaha...!!!" "Ke-kenapa kau tertawa?" "Hahahaha... ha... ha... memangnya aku percaya omong kosongmu itu?" Gadis itu terdiam dan mulai mendekatkan pedangnya lagi sampai mengenai kulit leher Arya. Raut wajah Arya seketika kembali menegang dan dia pun merasa bahwa gadis itu sedang tidak bercanda. Pandangan Arya diarahkan perlahan ke setiap sudut kamar, mencari kucing yang tadi dia pungut. Tetapi pada akhirnya Arya tak kunjung menemukannya. "Sekarang... jawab pertanyaanku! siapa kau dan dari divisi berapa?!" tanya gadis itu dengan nada serius dan tatapan yang tak kalah tajam dari Arya. Arya terdiam sesaat dan mencoba memutar otaknya untuk mencari cara agar dia dapat keluar dari situasi tersebut secepatnya tanpa terluka ataupun melukainya. "Cih.. sebenarnya aku benci harus melakukan rencana milik si Tua Bangka itu. Tapi... untuk saat ini, sepertinya tidak ada pilihan lain jika aku masih ingin hidup," batin Arya. "Namaku Arya Ananda Putra dan aku berasal dari divisi 7, sekarang... aku sedang dalam misi untuk membasmi agmar yang berkeliaran di daerah sini," ucap Arya dengan suara lantang agar gadis itu tidak curiga. Seketika gadis itu pun terkejut dan tatapannya berubah menjadi penuh kecurigaan terhadap Arya. "Kau... kau berbohong...," "Tuh kan...! dugaanku benar, bagaimana bisa rencana aneh milik si tua bangka itu bisa menyelamatkanku," kata Arya dalam batinnya lagi. "Eee... tentu saja aku tidak berbohong, sesama demon hunter tidak mungkin berbohong kan?" "Jika kau benar-benar dari divisi 7, seharusnya aku bisa langsung mengenalimu, dan setahuku tidak ada satupun anggota divisi 7 yang ditugaskan ke dunia manusia karena itu bukanlah tugas dari divisi 7!" "Aaa...!!! ketahuan kan..., ternyata dugaanku benar! seharusnya dari awal aku gunakan saja rencanaku daripada rencana milik si Tua Bangka itu!" teriak Arya dalam hatinya. Arya mulai merasa putus asa dan tiba-tiba dia teringat akan sebuah mantra yang dipelajarinya. Arya membaca mantra itu dan seketika rantai yang mengikatnya pun pecah. "A-apa?! bagaimana kau bisa melakukan- AAAHH....!!" Gadis itu terkejut dan Arya pun dengan cepat mendorongnya tanpa ragu hingga terjatuh. Setelah itu, tanpa pikir panjang Arya pun kabur melalui jendela kamarnya menuju jalanan yang gelap. "Sialan...!" Gadis itu segera bangkit dan keluar mengejar arya yang kabur. Arya yang menyadarinya langsung meningkatkan kecepatannya. Namun, sayangnya gadis itu berhasil menyusul Arya dengan mudah tepat di belakangnya. "Hahahaha... kau pikir bisa lolos darik-." Wuuusshh..... Tiba-tiba seekor agmar muncul dan menerkam gadis itu dari samping yang membuatnya terdorong menjauh dari Arya. "Apa yang terjadi? kenapa agmar itu bisa menyerang? ah, bodo amat, buat apa aku peduli dengan orang yang ingin membunuhku?" batin Arya. Arya kembali berlari menjauh meninggalkan agmar dengan gadis itu begitu saja. Di sisi lain, gadis itu mulai kewalahan dalam menahan kedua rahang besar milik agmar tersebut yang hendak memakannya. Gadis itu berhasil menahan rahang atas dengan menggunakan pedangnya. Namun, gigi-gigi agmar yang berada di rahang bawah berhasil menusuk kedua telapak kakinya hingga berdarah-darah. "Sialan...! sialan...! sialan...! mengapa hari ini diriku terus saja sial?" batin si gadis. Sedikit demi sedikit mulut agmar itu mulai menutup. Sekeras apapun usahanya untuk menahannya, tetap saja kedua rahang agmar itu semakin menutup. Jleeebbb...! "Akkhh...!!" Taring agmar itu menusuk bahu si gadis. Darahnya menguncur keluar membasahi pakaiannya yang berwarna hitam. Air matanya mulai mengalir begitu taring tersebut terus bergerak menusuk bahunya. Karena luka yang diterimanya semakin parah dan tenaganya yang sudah terkuras, membuat gadis itu pun menyadari bahwa dirinya sudah tidak memiliki peluang untuk hidup. Gadis itu hanya bisa pasrah, dia memejamkan kedua matanya dan mulai mengenang saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidupnya sebelum dia dimakan. Slaaasshh..... Tiba-tiba sebuah suara tebasan terdengar dan setelah itu, agmar yang hampir berhasil memakannya pun perlahan mulai lenyap tanpa sisa. "49, jika aku tidak segera menyelamatkanmu sudah pasti kau menjadi santapannya. Jadi... agar kita impas, berhentilah untuk menangkapku atau pun melaporkanku kepada atasanmu," ucap Arya dari balik agmar yang lenyap. Gadis itu pun terdiam sambil melotot ke arah arya, dia seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Arya sambil membungkuk dan mengulurkan tangannya. "Menurutmu... apa aku sedang baik-baik saja dengan darah yang berceceran seperti ini?" balas gadis itu sambil tersenyum kecil dan menerima uluran tangan Arya. Arya yang melihat senyuman itu pun ikut tersenyum. Dia segera membantu gadis itu berjalan perlahan ke pinggir jalanan dan menyandarkannya ke sebuah pagar beton. "Apa yang harus kulakukan? apa demon hunter juga memerlukan ambulance?" ucap Arya khawatir dengan pendarahannya. "Tidak perlu, pendarahanku sudah hampir berhenti, jika hanya luka seperti ini, aku bisa menyembuhkannya dengan mudah," jelasnya. "Kalau begitu, apa kau tidak apa-apa jika kutinggalkan?" "Iya, memangnya kenapa?" tanya gadis itu balik. "Besok pagi aku sekolah, jadi... aku tidak boleh sampai terlambat, sampai jumpa!" ucap Arya sambil bangkit dan pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Saat Arya sudah menghilang di kejauhan, gadis itu menghela napas panjang dan memandangi pendarahannya yang sebenarnya tak kunjung berhenti. Tuiing... Tiba-tiba sebuah botol kecil jatuh dari atas dan berguling ke arahnya, gadis itu pun terkejut dan langsung mengarahkan pandangannya dengan cepat ke atas pagar beton yang ada di belakangnya. Di atas pagar beton itu terlihat seorang pria yang tengah berjongkok memandanginya dengan senyuman yang begitu mencurigakan. Wajah pria itu tak dapat dilihatnya dengan jelas, karena penerangan yang ada di sekitar jalanan yang begitu minim. "Jika kau masih ingin hidup, minumlah air yang ada di dalam botol itu," ucap pria itu. "Si-siapa kau?!" "Kau tak perlu tahu siapa aku, tak lama lagi juga kau akan tahu sendiri." Kemudian pria itu pun berdiri dan langsung melompat pergi meninggalkannya. Dan sekarang, gadis itu pun sendirian lagi dengan sebuah botol kecil di depannya. ================================== Dukung saya melalui karyakarsa.com/Wolfman3
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
mantap
14/01/2025
0Đc của nó
05/08/2024
0sloww ceritanya
29/06/2023
0Lihat Semua