Dengan cepat aku merapikan alat tulisku, agar Ulfa tidak terus merengek. "Yuna, ih ... lambat amat sih! Buruaan ... gue laper!" teriak Ulfa di depan pintu kelas. Aku berdiri, lalu setengah berlari menghampiri temanku yang mungil ini. "Sabar, Fa! Gue kan tadi harus ngumpulin tugas temen-temen dulu. Elo lupa, gue kan kordinator di kelas Pak Ibra." "Makanya, elo tuh nggak usah pinter-pinter, jadi aja kan dikerjain dosen. Kapan elo punya cowo coba kalo sibuk ngurusin kuliah melulu," cerocos Ulfa. Kepalanya miring setelah ditoyor Rika. "Yee ... emangnya elo, yang hobinya ngumpulin tugas paling akhir! Udah bagus punya temen rajin dan pinter kayak Yuna. Elo bisa ikutan nyontek tugas," omel Rika. Ulfa cengengesan mendengar omelan Rika. Aku cuma geleng-geleng kepala melihat mereka berdua. Ulfa dan Rika adalah sahabatku. Kami berteman dari awal perkuliahan. Awalnya aku ragu berteman sama mereka, melihat penampilan mereka yang modis. Berbanding terbalik dengan penampilanku yang sederhana khas anak perantauan. Tapi keraguanku langsung hilang ketika mereka merangkulku alih-alih menjauh. Sebenarnya ada satu lagi selain kami bertiga, yaitu Widi. Sama-sama anak perantauan sepertiku, bedanya Widi anak juragan bebek di kampungnya. Kuliah di luar kota pun dia dibelikan rumah dan mobil oleh orangtuanya. Sedangkan aku cuma ngekost di tempat sederhana. Pulang pergi ke kampus pun cukup naik angkot ataupun jalan kaki. Tempat kost ku dekat dengan kampus, sampai-sampai tempat kostku jadi tempat singgah sahabat-sahabatku. Widi sekarang sudah pindah keluar kota ikut suaminya yang dokter. Jadi sekarang tinggal kami bertiga, aku, Ulfa dan Rika. Karakter kami berbeda, malah dalam beberapa hal kami bertolak belakang. Anehnya justru itu yang membuat kami semakin solid, saling melengkapi dan membutuhkan. Aku perkenalkan satu persatu ya seperti apa sih aku dan kedua sahabatku ini. Ulfa adalah anak Bandung asli. Tubuhnya mungil, hidung dan mulutnya kecil, tapi matanya bulat dengan bulu mata yang lentik. Dengan wajah imut itu dia menjadi primadona kampus. Ditambah dengan karakternya yang easy going, supel dan ramah. Tidak terhitung, deh, berapa banyak cowok yang naksir dia. Dari kating yang pintar, tampan, tajir sampai teman-teman seangkatan yang cupu, hampir semua naksir dia. Sayangnya, dia tipe cewe setia. Dia tidak tergoda, dia tetap setia sama pacarnya. Namanya Dani, pacar Ulfa dari SMA. Tidak ada yang tahu kalau Ulfa sudah punya pacar, kecuali kami sahabatnya. Karena Dani memang tidak pernah nongol di kampus. Kalau jemput pun pasti di kost'an ku.  Rika sama seperti Ulfa, anak Bandung asli. Bodinya tinggi langsing seperti model. Awalnya aku pikir dia model, ternyata bukan. Rika tidak tertarik dengan dunia modelling, padahal dia punya modal untuk jadi model. Selain tinggi dan langsing, kulitnya juga putih. Ada sedikit campuran darah Belanda dari neneknya. Rika bilang, dia hanya dapat sisanya aja, hanya kebagian warna kulit. Padahal, hidung mancungnya mirip-mirip bule Belanda. Kalau Ulfa ramah, sedangkan Rika judes. Raut wajahnya terkesan dia cewe galak, padahal memang iya, sih ... Galak tapi baik. Penggemarnya juga banyak, walau tidak sebanyak Ulfa. Tapi koleksi alumni hatinya lebih banyak daripada Ulfa. Hampir setiap semester ganti pacar.  Sedangkan aku, cuma gadis biasa. Tinggi badanku tidak setinggi Rika, tapi tidak semungil Ulfa. Standarlah untuk ukuran perempuan Indonesia. Tidak hanya tinggi badan, sih, warna kulit dan kecantikanku juga standar-standar aja. Pesonaku kalah kalo dibandingkan kedua sahabatku itu. Aku tipe orang yang kaku di awal perkenalan. Kalau sudah kenal dan aku nyaman, baru deh ketahuan kalau aku ini cerewet. Bukan cerewet sih ya aslinya, tapi perfeksionis. Sampai-sampai aku dipanggil ibu oleh kedua sahabatku ini. Karena aku yang paling bawel mengingatkan mereka. Terutama Ulfa yang kelewat santai hidupnya. Dan asal kalian tahu, aku ini jomlo dari lahir. Dan kalau kalian nanya, kenapa aku menyebut diriku sendiri dengan 'aku' sedangkan interaksi dengan temen-temen pakai sapaan 'gue-lo' ? Jawabannya adalah aku sebenarnya lebih nyaman dengan sapaan 'aku-kamu'. Pakai sapaan 'gue-lo' cuma untuk pergaulan aja. Hehehehe ...  "Jadi 'kan kita ke HokBen? Gue pengen makan beef teriyaki." Ulfa terus merengek sambil memeluk tanganku. Rika yang jalan lebih dulu menengok ke belakang. "Jangan HokBen atuhlah ...." "Napa elo? Keingetan mantan? Gara-gara elo pernah dilamar di HokBen terus ujungnya elo dikhianatin?" cibir Ulfa. Kebiasaan mereka dua, berantem melulu. Kucubit tangan Ulfa agar tidak terus meledek Rika. "Ya mendingan gue lah, seenggaknya pernah dilamar. Daripada eloo ... pacaran udah lama kayak kredit rumah, kok nggak dilamar-lamar?!" balas Rika. Apa kubilang, mereka berdua itu tidak pernah akur. Heran, ada saja sebabnya yang membuat mereka ribut. Aku dorong badan Rika agar terus jalan, jangan tersulut omongan Ulfa. "Yee ... biar yang penting punya pacar. Nggak kayak Yuna, pacaran sama buku akuntansi." "Lah, kok, jadi gue sih yang kena," jawabku sambil menunjuk diri sendiri. Rika dan Ulfa tertawa, kompak meledekku. Rika merangkul pundakku, dan Ulfa tetap menggandeng tanganku. "Yun, Lo tuh aslinya cantik, pinter lagi. Banyak loh yang suka curi-curi pandang, tapi elo nya lempeeeeng bangeet," ujar Rika. Ulfa mengangguk menyetujui omongan Rika. Aku meringis, entah kenapa aku tidak percaya ucapan Rika. Setahuku, tidak ada lelaki yang pdkt ke aku. Apa memang akunya yang tidak peka? "Emang siapa?" tanyaku. Ulfa tertawa nyaring, Rika tetep bertahan dengan raut wajah serius. Walau aku tahu, dia juga pasti sedang mengerjaiku. "Kepo nih ye?" lagi-lagi Ulfa meledekku. Aku berdecak, melepas rangkulan Rika dan gandengan Ulfa. Berjalan mendahului mereka. "Udahlah, nggak usah bahas begituan. Gue mau fokus kuliah, sambil cari-cari beasiswa S2," ujarku. Rika dan Ulfa mendesah bersamaan melihat reaksiku. Entahlah, mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi aku memang nggak suka kalau mereka meledek status jomloku. Memangnya kenapa kalau aku jomblo? Heran, deh. "Sorry, jangan marah dong, Yun. Gitu aja ngambek, gue traktir deh," rayu Rika. "Iya Yun, maaf ya." Ulfa menggelayut lagi di tanganku. Aku mendesah, selalu tidak bisa marah lama-lama pada mereka. "Ya udah, sekarang kita makan dimana?" "HokBen!" "Solaria!" Teriak Ulfa dan Rika bersamaan. Lalu mereka saling melotot. Aku mendesah melihat kelakuan kedua sahabatku ini. "Karna kalian udah bikin gue kesel, jadi gue yang nentuin ya. Dan elo, tetep harus tetep traktir gue!" Rika cemberut mendengar titahku. "Kita makan di Heritage aja ya, gue mau makan sop iga bakar." Keduanya mengangguk setuju. --- Sekarang kami berada di Heritage, cafe nuansa kolonial yang terletak tidak jauh dari kampus. Walau terlihat 'wah' tapi harga menu disini terbilang ramah di kantong. Makanannya juga enak, dari cemilan sampai makanan berat juga ada. Aku memesan nasi sop iga bakar dan ice cappucino. Rika memesan steak dan orange juice. Ulfa memesan beef teriyaki, katanya dia ngidam beef teriyaki dari semalam. Makanya tadi merengek minta ke HokBen. Ada-ada aja tuh anak, mudah-mudahan dia tidak beneran ngidam. Sambil mendengar ocehan Rika dan Ulfa, mataku menjelajah isi cafe. Karena ini waktu makan siang tentu saja cafe terlihat ramai. Eh, orang itu sepertinya kenal, deh. Tapi, kok, dia gandeng perempuan hamil, ya? Siapanya, ya? Istrinya kah? &&&&& 22 Desember 2021
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Sungguh menarik critanyaaaa
27/04
0bagus sekali 🫶
25/04
0keren 😊👍🏼
21/08
0Lihat Semua