logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Malaise

Malaise

Nafish Grey


Bab 1 Seseorang Yang Disebut Ibu

Tangannya hangat, menutup kedua telingamu dari ocehan dunia.
Senyumnya menentramkan hati, mengusir segala duka lara.
Pelukannya lebih aman dari rumah, melindungimu dari segala bahaya yang mengancam.
Masakannya yang terbaik, lebih dari segala penjuru restoran, sesuai dengan cita rasamu.
Kasihnya padamu melebihi harga diri dan nyawanya sendiri.
Begitu yang mereka bilang, tapi ....
Aku tak pernah merasakan semua itu.
Ibu ... hanyalah sebuah mitos bagiku. Begitu mulia, begitu agung, begitu kuat.
Jika dia bener ada.
Lalu kenapa?
Aku sendiri di sini.
Tepat saat Koa selesai membaca tugas sekolah untuk hari ibu, semua napas tertahan terdengar mengembus keras.
Remaja itu menundukkan kepala, berjalan cepat menuju bangkunya di barisan kiri tengah. Koa benci tatapan iba, air mata yang hampir jatuh, atau bisik-bisik kasihan karena kondisinya yang tak memiliki orang tua.
Terlebih lagi dia benci tugas sekolah ini. Kenapa sekolah mereka harus merayakan hari ibu kali ini? Kenapa mereka harus mengagungkan sosok tersebut?
Guru bahasa berdeham canggung. "Koa, lain kali kamu bisa meminta izin sama ibu untuk tidak mengerjakan tugas ini."
Koa memutar bola matanya malas. Lalu apa? Mengumumkan pada seisi sekolah jika dia tak punya ibu? Dan tetap kehilangan nilai? Sempurna!
Ibu menjadi penyebab segala malapetaka bagi hidup Koa. Dia teramat membenci wanita itu. Namun sialnya, Koa tak menyangka hari itu  akan menjadi pertemuan pertama dengan ibunya.
Teman sekelasnya memberitahu jika ada seseorang yang mencarinya di kantor guru. Koa mengira Paman Indra mencarinya. Siapa lagi yang peduli pada Koa, selain paman miskin yang membesarkannya selama ini.
Koa berkedip bingung menatap wanita cantik berpakaian indah, tampak bermerek dengan sepatu hak dua puluh senti untuk menambah tinggi tampilannya. Kulitnya putih, sangat mencolok di kalangan anak desa yang hitam cokelat.
Wanita itu membuka kacamata hitam dan mengulas senyum manis dengan barisan gigi putih tersusun rapi. Lengan lentik bercat kuku warna merah darah melambai pada Koa. Remaja itu menunjuk dirinya sendiri, kebingungan.
"Saya?"
"Iya, kamu! Kemarilah, Nak."
Koa melangkah ragu-ragu, kikuk, berusaha membetulkan penampilannya yang kumal sambil memandang wali kelasnya yang berdiri di samping wanita itu. Pak Aman bahkan lebih menyedihkan. Mereka sangat kontras.
Siapa gerangan wanita cantik ini? Koa berdebar tanpa alasan. Sepasang bola mata cokelat besar itu tampak familier.
"Koa, ini ibumu." Satu pernyataan yang membuat otak Koa sekejap berhenti berpikir. Alis sang remaja berkerut dalam. Wanita cantik itu mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Koa erat-erat untuk menegaskan kalimat dari sang guru.
"Apa?" Koa tertawa hambar. "Bagaimana? Kau?" Suaranya tercekat oleh ketidakpercayaan.
Wanita berlipstik merah muda itu mengangguk antusias. "Iya, ini ibu, Koa!" Ia berusaha menarik Koa ke dalam pelukan.
Koa memberontak, takut, membelalakkan mata sambil menjauh susah payah. Benarkah dia ibu? Setelah sekian lama meninggalkannya, bagaimana wanita ini bisa datang begitu saja dan mengaku sebagai ibu sedangkan dia tak menjalankan kewajibannya.
Galina mendesah kalah. Menarik kedua lengannya yang masih mengambang di udara akibat penolakan Koa.
Pak Aman menepuk ringan bahu Koa. "Ini ibumu, Koa. Beliau sudah mengurus keperluan pindahan sekolahmu ke kota."
"Hah? Maksud, Bapak?"
"Paman Indra tadi pagi kemari bersama ibu, kami sudah mengurus semua. Koa, mulai saat ini ibu yang akan mengurusmu." Mata Galina berpendar oleh pantulan cairan di sklera. "Kita ... akan menjadi keluarga utuh."
Otot wajah Koa tertarik kaku, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Kaki remaja itu menapak mundur sambil menggeleng bingung.
Setelah sekian lama, kenapa kau baru datang? Koa ingin meneriakkan kalimat itu, tetapi yang keluar hanya erangan parau dari pita suaranya.
"Koa?" Pak Aman bertanya khawatir. Seharusnya anak ini bahagia bertemu ibu yang selama ini ia rindukan. Kenapa reaksinya teramat aneh. Pak Aman menatap bolak-balik di antara wajah kedua ibu dan anak itu.
"Ke mana kau selama ini?" Mata Koa terpejam ketika pertanyaan tersebut terucap. Ada rasa sakit yang mendesak di rongga dada, memaksa sang remaja menggertakkan gigi kuat-kuat.
Di mana kau berada saat aku sakit? Di saat aku kesepian, di saat semua orang memiliki sosok ibu yang mengurus kebutuhan mereka! Ke mana dirimu saat itu? Koa ingin meneriakkan semua unek-unek di benaknya, tetapi rasa sakit di hati mencengkeram begitu kuat sehingga ia kehilangan kemampuan untuk bernapas normal.
"Koa, ibu bisa menjelaskan semua. Tidak di sini," pinta Galina memelas.
"Aku tidak butuh alasanmu!"
Tanpa memedulikan kedua orang tersebut, Koa memutar tubuhnya, membuka pintu dengan sentakan kuat dan berlari sekuat tenaga meninggalkan sekolah.
Ia terus berlari, setiap langkah membebani tubuhnya, bagai gravitasi memberat berkali lipat. Koa lelah, tetapi remaja itu tak mengizinkan langkahnya berhenti. Rasa sakit itu tak kunjung padam. Ia tertawa keras menatap langit siang dengan awan berarak pelan. Sesaat kemudian air mata luruh, menenggelamkannya dalam lautan emosi.
Jalan tanah pedesaan akhirnya berganti tanjakan curam. Butuh waktu tiga puluh menit jalan kaki mencapai rumahnya yang berada di paling ujung desa. Koa lupa ia meninggalkan tasnya di sekolah, ia tak peduli. Untuk saat ini, Koa tidak ingin melihat wajah wanita itu.
Ia mendudukkan diri di teras rumah, sebuah bangku lesehan reyot berdiam di sana. Koa membuka sepasang sepatu butut yang hampir sewarna dengan tanah di pekarangan. Kotor, ia menepuk perlahan sebelum meletakkan benda tersebut di bawah bangku.
"Kenapa kau masih di sini?" Suara pria serak memasuki rungu Koa.
Koa mendongakkan kepala, menatap pria berkumis tebal, kulit gelap, dengan sepasang mata tajam terpatri pada wajah Koa.
"Paman tak ingin melihatku lagi?" Koa menundukkan wajah, mengeja jejak lumpur di sepatu bot Paman Indra.
Paman Indra melepas sepatu bot, meletakkan persis di samping sepatu Koa. Langkahnya berdentum nyaring ketika ia masuk ke rumah tanpa memberi Koa jawaban. Remaja berambut kering dan kusam itu tahu pamannya memang pribadi yang irit kata, ada ketakutan terselip di hati, apa yang dipikirkan paman saat ini?
Koa mengekori langkah Paman Indra, masuk ke rumah berukuran sangat kecil. Ruang tamu dan dapur menjadi satu dan sebuah kamar tanpa pintu berada di sisi kiri rumah.
Paman Indra meraih gelas, melirik Koa sejenak, dahinya berkerut dalam saat menemukan jejak air mata di wajah kurus koa. "Di mana ibumu?" tanyanya sebelum menegak habis air putih di dalam gelas.
"Jangan membahas tentangnya!" Koa berdecak kesal, tanpa sadar meninggikan suara. Kemudian remaja itu menyadari sesuatu. "Kenapa Paman pulang jam segini?" Sebagai kuli bangunan Paman Indra selalu pulang saat matahari telah tenggelam.
"Paman ingin melihatku terakhir kali, mengirimku pergi bersama wanita itu?" Jejak terluka mewarnai mimik sang remaja. Napasnya memburu keras.
Paman Indra berjalan ke kamar satu-satunya di rumah ini, tanpa menjawab, kedua lengan besar berbulunya mulai mengeluarkan setelan pakaian milik Koa dari lemari kayu lapuk.
"Berhenti!" teriak Koa penuh amarah, menghamburkan setelan yang Paman Indra letakkan di lantai. "Kenapa Paman tidak menanyakan pendapatku, kalian anggap aku ini apa? Boneka? Benda yang bisa kalian oper sesuka hati ketika wanita itu menginginkannya lagi?" Air mata jatuh tanpa bisa Koa tahan.
"Jangan menangis, jangan bersikap tidak sopan, dia ibumu." Paman Indra Kembali merapikan pakaian Koa, ia meraih tas kain besar, meraup semua pakaian sekaligus dan memasukkannya ke dalam.
Koa menahan lengan Paman Indra. "Kenapa Paman melakukan ini padaku?" Sebelah tangannya mati-matian menghapus air mata jatuh, Paman Indra benci melihat orang menangis. Dia selalu memberitahu Koa untuk bersikap sebagai pria kuat, seorang pria tidak menangis. Koa baru saja melanggar perintah pamannya.
"Aku berjanji akan makan lebih sedikit, belajar lebih giat hingga mendapat juara kelas, dan membantu Paman merapikan rumah, biarkan aku tinggal di sini." Koa tersedak tangisan seiring barisan kata yang terucap.
"Ibumu akan tiba tak lama lagi, kau bisa tinggal malam ini. Kalian bisa berangkat besok pagi." Paman Indra meletakkan tas Koa ke tempat tidur berbusa tipis, derit menyedihkan segera terdengar.
"Paman, kau tak menginginkanku lagi? Apa aku beban bagimu?" Dalam usaha terakhirnya memohon, Koa memeluk punggung sang paman, hal yang tak pernah ia lakukan selama ini.
Koa merasakan tubuh Paman Indra bergetar pelan, kedua lengannya dilepaskan pria kekar itu. Paman Indra berbalik, menatap wajah kacau Koa lamat-lamat. Rahang Paman Indra berkedut sebelum sebuah kalimat menusuk dimuntahkan, "Ya, kau beban. Bagaimana aku bisa menikah jika harus membiayaimu terus menerus."
Bibir Koa terbuka, tak percaya dengan ucapan Paman Indra. Rasa sakit itu menusuk semakin dalam.
"Pergilah bersama ibumu dan jangan pernah kembali ke sini." Pria besar itu berbalik memunggungi Koa.
Koa berteriak marah, mengalir bersama tangis keras. Ia berlari ke kamar mandi dan membanting pintu kuat-kuat. Melampiaskan sakit hatinya di sana.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar mencintaiku.
Andai saja Koa bertahan di dalam kamar, andai saja ia melihat wajah Paman Indra saat ini, ia akan tahu semua yang dikatakan pamannya bertolak-belakang dengan hati. Pria itu ... tengah menitikkan air mata.

Komentar Buku (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru