Sahur pertama. Tadi malam Bu Nur sudah mengingatkan Rania untuk memasang alarm agar bisa terjaga di dini hari. Namun, Rania yang masih belum yakin untuk ikut berpuasa cuma bergumam sekadarnya saja. Mungkin memang alam ikut membantu agar Rania turut berpuasa hari itu. Dia terjaga dengan sendirinya sebelum pukul 4 pagi. Kebetulan di dapur Mbok Yati sedang menyiapkan menu untuk sahur bersama Bu Nur. "Kamu sahur, Nia?" tanya Bu Nur takjub. Rania duduk di kursi makan dengan masih berambut acak-acakan dan berpiyama kusut. "Ya, deh. Nggak tau kenapa malah kebangun pagi-pagi gini." "Alhamdullilah. Itu artinya Allah peduli sama kamu. Membangunkan kamu di waktu yang tepat." Bu Nur berceramah seolah Rania adalah bocah kecil. Mbok Yati menghidangkan makanan dengan perasaan gembira campur haru, sudah lama dia tak melihat Rania duduk di meja makan saat sahur. Sudah bertahun-tahun Rania melewatkan bulan puasa. Tangan Rania langsung saja mau menyendok nasi ke mulutnya. Untung, Bu Nur menyambar cepat. "Hei! Ucap bismillah dulu! Kamu nih!" tegurnya pelan. Bibir Rania maju beberapa senti. "Bismillah," katanya setengah hati. Kemudian mereka makan dengan tenang. Di saat piring hampir habis, Bu Nur kembali buka suara, "Jangan lupa nanti ucap doa niat puasa, ya." Alis Rania mengerut. "Emangnya ada? Kan yang penting niat dalam hati!" "Ya ada dong, Nia. Nanti jelang matahari terbit. Kamu masa sudah lupa, sih?" Kepala Rania menggeleng. "Suwer deh, Bu! Aku lupa!" Bu Nur menghabiskan seluruh makanannya, lantas menenggak air minum setengah gelas. "Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta'aalaa. Itu doa niat puasa. Kamu udah lupa, tah?" Rania mencibir, "Ya kali aku ingat doa sepanjang itu! Udah lah, Bu! Yang penting niat aja dalam hati!" Kali ini Bu Nur tak bisa memaksa Rania lebih jauh, takutnya Rania malah merajuk dan membatalkan niat puasanya. "Omong-omong, Eyang puasa? Gimana sahurnya?" tanya Rania mengubah topik. "Kayaknya Eyang nggak kuat puasa sekarang. Keadaannya makin lemah. Ini Ibu nanti habis salat subuh mau ke rumah sakit." Wajah Rania memelas iba mengingat kondisi neneknya yang telah renta. "Kamu nanti sekalian salat subuh juga ya, Nia," ajak Bu Nur. Rania langsung menenggak sisa air minum di gelasnya. "No, thanks! Aku mau balik tidur!" tolaknya sambil beranjak dari kursi. "Ya Allah ini anak ..." Bu Nur hanya bisa mengelus dadanya saja. "Oya, Bu!" Langkah Rania terhenti di anak tangga pertama. "Mungkin nanti aku berbuka di rumah Mas Fatur, ya!" katanya. Dan tanpa menunggu respons, dia langsung berlari kembali ke kamar. "Heh?! Benar itu, Nia?! Rania?!" *** Susah payah Rania menelan saliva berhubung tenggorokannya kering, sedang Dara dan Anisa asyik saja menyedot satu cangkir es tebu. Ketiganya sedang duduk bersantai di bawah pohon rindang yang tumbuh subur di halaman kampus. "Kamu yakin nggak mau seteguk, Ran?" Anisa menyodorkan cangkir plastik es tebunya. "Nggak! Kan udah aku bilang aku puasa!" beber Rania. Anisa tersedak seketika, terbatuk-batuk. "Hah?! Puasa?! Tumbenan! Kesambet apaan sih kamu?! Nggak biasanya loh, Ran!" "Tau, nih. Sejak dia dijodohin, aneh-aneh aja kelakuannya!" Dara menimpali. "Nggak ada kaitannya sama perjodohan! Ini emang kemauan aku aja. Pingin doang ..." Rania agak ragu mengucap alasannya sebab dia sendiri pun sadar ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ada sebuah dorongan misterius yang tak bisa dia uraikan. "Ah, aneh kamu, Ran! Bisa-bisanya puasa. Kayak bukan Rania yang kita kenal aja," ejek Anisa. "Kalian tuh yang harusnya malu! Udah tau orang puasa, malah nyedot es di depan muka aku! Nggak sekalian aja kalian buka warung nasi padang di sini?!" Tiba-tiba Rania meledak amarahnya. "Hati-hati, puasa tuh bukan cuma nahan lapar haus doang, loh!" cibir Dara ikut kesal. "Ya udah! Selama bulan puasa ini, jangan ganggu aku! Kalian tuh cuma nguji kesabaran doang!" Rania langsung berjalan cepat meninggalkan teman-temannya. Dara dan Anisa kompak mengumpat. "Reseh banget sih! Dia yang kelaparan, kita yang diomeli!" damprat Dara. "Tau, tuh. Baru sekali aja puasa udah kayak orang paling bener aja!" timpa Anisa. Saat Rania hampir mencapai pagar kampus, Sammy memanggil dari belakang. Pria muda itu berlari menyusul lalu langsung merangkul Rania. "Kamu ke mana aja, Rania?! Aku cariin! Ngilang gitu aja dari pesta! WA aku nggak kamu balas!" "Aku bete sama kamu! Bisa-bisanya kamu nggak nepatin janji. Kamu ajak aku ke sana cuma buat jadi bodyguard kamu?! Aku kamu kacangin! Malah asyik sendiri!" Rania mendorong tangan Sammy. "Ya kamu taulah, Sayang ... Aku ini DJ populer. Semua pingin dekat-dekat sama aku." "Oh, gitu? Ya udah ... Sorry ya, aku lagi nggak pingin deket-deket sama kamu!" Rania langsung melengos begitu saja. Panggilan bahkan sampai makian kesal dari Sammy tak dia pedulikan. Hari ini, barangkali efek lapar dan haus yang mendera, emosi Rania jadi menumpuk di kepala. Siapa saja yang ada di hadapannya ingin dia hujani dengan amarah. *** Bukan sekali dua kali Rania merapikan anak rambut yang agak mencuat dari kuncirnya. Langkahnya gugup memasuki halaman depan rumah Fatur. Kenapa ...? Kenapa Rania ...? Kamu bilang kamu mau langsung menyingkirkan cowok ini, kamu bilang kamu nggak mau berurusan sama dia, tapi kenapa sekarang kamu malah datang ke rumahnya?! Rania menggerutu dalam hati, menyesali keputusannya yang jelas sudah terlambat. Dia telanjur datang ke rumah Fatur. Mata Rania terperangah takjub, ternyata Rumah Fatur jauh lebih nyaman dari yang dia kira. Rumah satu lantai itu luas, tapi halamannya jauh lebih luas. Ada kebun kecil penuh bunga dengan rumput pendek yang terlihat sangat terawat. Bunga anggrek, mawar, melati, sampai dahlia berwarna-warni memanjakan mata. Pohon mangga tumbuh tinggi di sisi kanan, pohon alpukat berdiri di bagian kiri. Rumah Bu Fatimah, ibunya Fatur begitu asri. Di teras, tampak meja panjang dan bangku panjang kayu, menandakan sering banyak orang berkumpul di sana. Mengingat keluarga Fatur memang keluarga besar, tak heran apabila rumah itu terasa penuh kehangatan, dan penuh nyawa. Pintunya yang lebar terbuka, jendela-jendela pun dibiarkan terbuka, menampakkan sekali bahwa keluarga pemilik rumah itu begitu terbuka pada siapapun yang mau bertamu. Seketika jantung Rania berdegup saat dia menemui ada banyak manusia di dalam rumah Bu Fatimah. Banyak bocah-bocah berlarian ke sana ke mari. Dua perempuan muda berhijab sibuk mondar-mandir, sedang seorang pria muda tampak sibuk mengawasi anak-anak yang berlarian tak tentu arah. Kegugupan Rania makin jadi. Dia tahan tangan Fatur sebelum membawanya masuk. "Kayaknya nggak sekarang dulu deh, Mas Fatur." Air muka Fatur berubah kecewa. "Kok gitu, Ran?
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus baca
02/09/2024
0Best lah
01/07/2024
0bagus
31/12/2023
0Lihat Semua