logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 SEBAIT DOA

Fatur langsung pamit usai mengantar Rania sampai ke rumah tanpa kurang satu apapun. Rania pun tak ada berbasa-basi mengajak Fatur mampir berhubung sudah tengah malam.
Wajah Bu Nur seketika lega mendapati puterinya baik-baik saja. Namun, Rania yakin benar ibunya akan meledak tak lama lagi.
Dugaannya benar terjadi. Baru satu langkah menginjak tangga menuju kamar, Bu Nur langsung mengomel, "Kamu nggak mau minta maaf dulu minimal?! Nggak malu ya sampai Nak Fatur nyariin kamu begitu?!"
"Udah malam nih, Bu. Ngomelnya besok-besok aja," sahut Rania ketus.
"Betul-betul nggak ada rasa bersalah kamu, Nia! Ya Allah!"
"Bu, aku ngantuk. Lagian, besok aku mau pergi nyekar sama Mas Fatur. Udah ya marah-marah nya!" tandas Rania sambil lalu.
Mengetahui rencana itu, Bu Nur berubah antusias. Dia susul Rania ke lantai atas. "Eh, benaran?! Kalian lanjut? Kamu mau pergi nyekar sama dia?!" Wajahnya semringah.
Tangan Rania yang hendak membuka knop pintu ditahan oleh Bu Nur. "Jawab dulu, Nia! Betul kalian lanjut? Kamu bakal pergi ziarah sama Nak Fatur?" ulang Bu Nur, mendesak.
"Ck. Iya, Bu! Tadi dia udah nentuin jam ketemu. Puas, kan?! Udah ya ..., aku capek!" Rania mendecakkan lidahnya.
Kemarahan yang tadi singgah di hati Bu Nur seketika sirna. Lega hatinya. Ada lampu hijau.
***
Sebab Rania tak punya kerudung, terpaksa dia meminjam pashmina milik Mbok Yati. Mbok Yati memiliki banyak pashmina yang cantik-cantik. Selain air, Rania juga membeli bunga untuk ditabur di atas makam mendiang ayahnya nanti.
Hatinya lumayan gundah, gelisah. Sudah lama sekali dia tak mengunjungi makam mendiang ayahnya. Ini pun dia tak akan datang kalau bukan karena ajakan Fatur.
Untungnya lagi, area pemakaman mendiang ayahnya Rania dan mendiang nenek dan kakeknya Fatur tak seberapa jauh. Mereka datang hanya berdua saja. Rupanya makam ayahnya Rania sudah bersih, dan masih agak basah, dia berasumsi barangkali ibunya sudah ziarah kemarin, tapi tak mengajak dirinya.
Agak lama Rania memandangi batu nisan makam almarhum sang ayah. Bagai memutar kaset usang, semua peristiwa masa kecil bergantian muncul di kepalanya. Segalanya adalah memori yang indah nan pilu. Sudah lama dia tak berziarah, rasa sesal dan rindu sudah menumpuk terlalu banyak.
"Ayah ..., apa kabar? Maaf ya Rania lama nggak datang ke sini." Rania tanpa sadar mulai bicara sambil mengelus batu nisan. "Seandainya Ayah masih ada ..., mungkin Ibu nggak akan sesibuk sekarang, semuanya pasti lebih mudah ...." Rania menahan laju air matanya. Kata demi kata dia ucapkan, mulai dari permintaan maaf sampai ungkapan kangen.
Habis mengirimkan doa, dia sebarkan bunga dan air di atas tanah makam ayahnya, lalu berdiri. Tak lama, Fatur datang pula sehabis berziarah di makam mendiang kakek dan neneknya.
"Udah selesai?" tanyanya lembut.
Rania mengangguk sekenanya. "Ayo pulang."
"Bentar." Fatur justru berjongkok di samping makam ayah Rania.
Kening Rania mengerut, dia tak tahu apa yang akan dilakukan Fatur. Rupanya pria itu justru menadahkan kedua tangan, lalu mulutnya mulai melantunkan bait-bait doa. Rania terdiam saja. Dia tak hapal dengan surah Yasin. Sebentar kemudian, dia cuma ikut berjongkok di samping Fatur, menunggu doa itu sampai selesai.
Setelah melantunkan doa, Fatur tersenyum kepada Rania. "Ayo, kita cari makan sebentar."
***
"Puasa besok, kan?"
Yang pertama buka suara adalah Fatur setibanya dia dan Rania sampai di sebuah rumah makan. Soal puasa, Rania sudah lama tidak puasa penuh. Ada saja alasan yang membuatnya membatalkan puasa. Terutama Anisa dan Dara yang nyaris tak pernah puasa di bulan Ramadhan.
"Liat besok aja deh," jawab Rania jujur.
"Kalau sanggup sih, puasa ajalah."
Mata Rania langsung menatap tajam. "Jangan langsung marah, aku kan cuma ngasih saran. Lagian, nggak ada ruginya juga. Malah banyak pahalanya," sambung Fatur menjelaskan.
Tak ada respons dari Rania. Pesanan mereka tiba juga akhirnya. Tanpa membuang waktu, Rania langsung menyantap makanannya.
"Puasa pertama nanti, kami ada tradisi buka bersama di rumah Ibu. Mau ikut, nggak?" tanya Fatur dengan mulut berisi nasi. "Itu juga kalau kamu nggak ada tradisi yang sama di rumah. Mana tau Tante Nur berbuka di rumah sakit, kan?"
"Ngapain aku ikut? Emangnya aku siapa? Malah kagok nantinya."
"Kenapa bilang gitu, sih? Keluarga kita dekat loh, Ran. Kamunya aja yang terlalu sering menjauh. Sekalian biar aku kenalin sama ibu dan ayah aku. Mereka juga kayaknya jarang ngeliat kamu. Itu kalau kamu bersedia aja, sih. Aku juga nggak akan maksa kalau kamu nggak mau."
Rania tercenung beberapa saat. Ada satu karakter khas dari Fatur yang dia perhatikan, yaitu dia pribadi yang santai sebetulnya. Dari awal, Rania mengira Fatur akan seperti pria 30-an yang kaku dan otoriter. Namun, sangkaan itu salah. Fatur justru pribadi yang santai dan bisa diajak bernegosiasi. Tiap kali mengajak, dia tak pernah memekasakan kehendak. Dia juga tak pernah menghakimi pilihan Rania, tak pernah berusaha keras untuk mendikte apa yang dilakukan Rania. Dia hangat, tapi juga agak cuek.
"Mas Fatur?"
Sebuah suara halus menyapa, mengejutkan keduanya. Kepada Rania menoleh. Ditemuinya sesosok gadis manis berhijab merah muda, tersenyum lembut kepada Fatur.
"O ..., Nurul! Lagi ngapain?" Fatur balas menyapa.
"Beli ikan buat Ayah. Kebetulan juga ini tempat langganan Ayah, malah ketemu di sini. Kok nggak makan di rumah, Mas?" Gadis bernama Nurul itu bertanya balik.
"Lagi pingin aja. Kebetulan habis ziarah tadi. Lapar, ya udah ke sini aja." Fatur melirik Rania yang masih mengunyah dengan canggung. "Oya, ini Rania."
Tangan Rania terjulur setengah hati, disambut oleh Nurul dengan cepat. "Nurul, Mbak. Salam kenal."
"Rania," ucap Rania nyaris berbisik.
"Ya sudah, Mas. Aku duluan ya, Ayah lagi nunggu di rumah." Nurul tersenyum kepada Rania, tapi Rania melengos saja tak acuh.
Mata Fatur terus mengawasi Nurul sampai dia pergi dengan sepeda motor bebeknya. "Dia itu murid ngaji ibuku dulu. Sering main ke rumah juga, udah kayak keluarga," beber Fatur menerangkan.
"Emangnya aku tanya?!" ketus Rania.
"Ya mana tau kamu penasaran dan bertanya-tanya dalam hati." Fatur menyunggingkan senyum jahil.
"Jangan kepedean deh! 'Mas Fatur'!" ejek Rania.
Tangan Rania langsung merogoh tasnya. "Berapa nih, Kak?!" tanyanya kepada karyawan rumah makan.

Komentar Buku (172)

  • avatar
    MashidayahNurul

    bagus baca

    02/09/2024

      0
  • avatar
    Nothing

    Best lah

    01/07/2024

      0
  • avatar
    RiniNovitasari

    bagus

    31/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru