logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 DATANG MENJEMPUT

Belum juga pantat Rania sampai di bangku, mulut Anisa langsung terbuka, "Gimana pertemuannya? Berhasil? Cakep nggak orangnya?" tanyanya tak sabaran, tugas di depan mata jadi teralihkan sejenak.
"Kasih aku waktu buat narik napas dulu!" omel Rania. "Dara, pesanin es teh manis, dong!" pintanya. Si hitam manis Dara berdiri cepat menuruti permintaan Rania.
Cuaca siang itu memang panas betul. Matahari seolah tepat berada di atas kepala. Untungnya kantin kampus berada di sekeliling pepohonan tinggi, termasuk pohon beringin. Udara cukup sejuk di bawah atap kantin yang terbuka tanpa dinding pembatas. Sambil menunggu es tehnya tiba, Rania mengipasi lehernya dengan buku yang paling tipis.
"Nih." Dara meletakkan segelas es teh manis di atas meja. "Jadi gimana, Ran? Lancar nggak? Kamu jadi pakai baju kurang bahan? Kamu godain dia?" Dia langsung menghujani Rania dengan berbagai pertanyaan.
Jauh di lubuk hati, sesungguhnya Rania malas ingin membahas Fatur. Selain karena dia sadar bahwa perbuatannya kemarin terlampau kejam, Fatur juga tak seberapa buruk. Harus dia akui, Fatur adalah pria berbudi baik dan bersuara manis, selain itu, senyumnya juga begitu hangat dan ikhlas. Aura positif begitu memancar dari seluruh tubuhnya. Sulit untuk membenci orang seperti Fatur.
"Ya ..., gitu deh. Sebetulnya semalam aku kasih dia minum obat yang bikin sakit perut. Dia bolak-balik kamar mandi. Tiga kali. Habis itu dia pulang. Kayaknya masih belum kapok!" beber Rania sebelum menyesap es teh manisnya.
"Orangnya cakep nggak? Kamu punya fotonya?" tanya Anisa.
"Ya nggak! Buat apaan emang?!"
"Jadi ..., kalian masih bakal ketemu?" simpul Dara.
Rania mengangguk setengah hati. "Ya ..., kayaknya sih gitu. Dia ngajakin aku buat ziarah sama-sama nanti sebelum bulan puasa."
Mulut Rania berujar acuh tak acuh, seakan dia mengatakan sesuatu yang bukanlah hal besar. Namun, bagi Dara dan Anisa, ini bagai sebuah mukjizat. Mereka tak pernah mendengar kata 'ziarah' terucap dari mulut Rania.
"Kamu nggak sakit kan, Ran?" Anisa memegang kening Rania.
"Berlebihan banget sih! Lebay! Sebentar lagi juga dia bakal nyerah kalau udah tau karakter aku! Tinggal nunggu waktu aja. Soal ziarah sih ..., ya apa salahnya? Aku toh udah lama nggak ke makam ayahku."
Dara dan Anisa saling lempar pandang bingung. Tapi untuk sekarang mereka hanya bisa menelan mentah-mentah apa yang diingini Rania. Mereka kompak yakin, Rania punya caranya sendiri. Mustahil dia luluh dengan perjodohan ini.
"Sayang ...!!"
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang pria muda berjaket parka merah terang dan berikat kepala kuning memeluk Rania dari belakang. Pria nyentrik itu adalah kekasih Rania, Sammy. Dari kejauhan saja, rambutnya yang ditata jabrik itu sudah bisa menarik perhatian. Sebagian menganggap dia keren, tapi sebagian menyebut dia norak, tidak termasuk Rania. Di matanya, Sammy akan selalu jadi cowok paling gaul.
"Kamu ngagetin aja, sih! Habis dari kelas?" Rania menyambut kedatangan sang pacar. Dara dan Anisa lagi-lagi saling lirik, mereka sekarang sah jadi anti nyamuk.
"Eh, malam ini party, yuk? Aku ngisi di pesta ulang tahun temen aku, di tempat biasa kita party lah. Kamu datang, ya?" Sammy duduk di samping Rania.
Wajah Rania menunjukkan bahwa dia ragu. Sudah berkali-kali dia ditegur karena pulang larut akibat pergi ke pesta. Ibunya tak akan memaafkan dia lagi bila kebiasaan itu terus berulang.
"Haduh gimana ya, Sam ..., aku sih pingin nemenin kamu, tapi ..."
"Tapi kenapa, Ran? Kamu kok jadi gini? Biasa juga oke-oke aja, ayolah ... jam 12 teng aku antar balik, deh! Atau aku minta temenku buat ngantar kamu. Oke? Oke?" Sammy agak memaksa.
Rania melirik Dara dan Anisa. "Kalian ikut?" tanyanya berharap.
"Nggak bisa, Ra. Aku lagi banyak tugas, nih." Anisa menggeleng.
"Aku juga nggak bisa, Ran. Aku mau pergi nanti, ada urusan juga. Lagian, aku juga nggak kenal temennya Sammy. Ntar malah aneh di sana," jawab Dara.
"Ck. Nggak setia kawan!" gerutu Rania.
***
Musik keras berdentum mengisi seluruh ruangan pesta sampai ke lantai dua. Hampir di tiap-tiap tangan para tamu ada segelas minuman beralkohol. Rania duduk bosan di salah satu sofa yang ada di sudut ruangan, sedang Sammy masih memandu musik dari atas panggung.
Rania melirik jam di ponsel pintarnya, tepat menunjuk pukul 12 malam. "Huft, gimana sih, Sammy? Katanya mau ngantar aku balik! Udah jam segini! Dia dari tadi juga asyik sendiri aja!" Rania mendumel.
Seorang pemuda tampan mendekat. "Sendirian? Mau turun nggak?" ajaknya.
Rania menggeleng judes. Sekarang suasana hatinya benar-benar sudah dirusak oleh Sammy. Pemuda itu beranjak mengajak tamu wanita lainnya. Baru saja pantat Rania terangkat dari sofa, ponsel pintarnya berbunyi. Keningnya mengerut mendapati sebuah panggilan dari nomor yang tak terdaftar. Dia angkat setelah beberapa detik.
"Ha ... halo?"
"Halo, Rania!"
Suara Fatur! pekik Rania dalam hati. "Ya ..., siapa?" tanyanya pura-pura tak mengenali.
"Fatur! Ini Fatur. Kamu ada di mana, Rania?"
Lah, ngapain nih orang? "Buat apa? Tau nomor aku dari mana, Mas Fatur?" selidik Rania agak sebal. Entah untuk apa Fatur menghubunginya tengah malam begini.
"Tante, ibu kamu ..., nyariin kamu dari tadi. Disangka malah kamu pergi sama aku. Aku cuma nggak mau Tante Nur kecarian, kasihan udah larut malam begini. Kamu di mana? Biar aku jemput."
Rania mendumel lagi dalam hati. Apaan sih nih orang, baru aja kenal sekarang udah belaga ngatur-ngatur! "Nggak usah! Aku bisa pulang sendiri. Aku tutup ya teleponnya!"
"Biar aku aja yang ngantar, biar Tante Nur lebih tenang. Ini Tante Nur yang minta aku cari kamu, Rania. Tolong ngerti." Suara Fatur agak memelas.
"Ck! Ya udah, aku SMS-in alamatnya!"
Selang sepuluh menit, Fatur datang menjemput dengan mobilnya di depan klub malam tempat Rania berpesta. Wajah Fatur tampak agak terkejut melihat pakaian terbuka yang dipakai Rania, namun segera dia mengalihkan pandangan.
"Maaf ya aku agak lancang minta kamu pulang sekarang. Tapi Tante Nur betul-betul cemas nanyain kamu. Katanya kamu juga nggak bisa dihubungi, tapi nomor kamu aktif."
"Ya! Aku blokir nomor Ibu!" jawab Rania ketus sambil duduk di samping kursi kemudi.
"Kenapa sampai sejauh itu sih, Ran? Semua kan bisa diomongin. Mungkin kalau kamu bilang kamu butuh hiburan, lagi penat, Tante bakal tenang, seenggaknya tau posisi kamu."
"Udah deh ceramahnya! Ibu lagi nunggu, kan?!"
"Iya ..., iya ..., sabuk pengaman jangan lupa."
Fatur kembali fokus mengemudikan setirnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Rania, mulut keduanya bungkam. Tak satu pun bicara lagi. Ada banyak yang sebenarnya ingin dibicarakan Fatur, tapi dia takut malah membuat Rania tersinggung, maka dia urungkan niatnya.

Komentar Buku (172)

  • avatar
    MashidayahNurul

    bagus baca

    02/09/2024

      0
  • avatar
    Nothing

    Best lah

    01/07/2024

      0
  • avatar
    RiniNovitasari

    bagus

    31/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru