logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 SATU BULAN

Teman-teman Rania kompak terkejut ketika Rania yang baru tiba di kafe setengah melempar tas sandangnya ke atas meja. Mukanya berlipat-lipat, bibirnya monyong dua senti.
"Kenapa kamu, Ran? Lagi datang bulan?" Si hitam manis, Dara, bertanya.
Anisa yang sedang ngemil kentang goreng pun diam menunggu mulut Rania terbuka.
"Aku lagi kesel banget sama ibuku! Apa lagi Eyang! Masa aku mau dijodohin sama cucu temennya, sih?! Dih! Hari gini!" keluh Rania sambil ikut mencomot sepotong kentang goreng, lantas mencocolnya ke dalam mangkuk berisi saos tomat.
Dara dan Anisa saling pandang. Air muka mereka berubah jijik. "Yang bener? Hari gini? Jadul amat, deh! Bukannya kamu juga udah sering bawa Sammy ke rumah?"
Yang mereka maksud Sammy adalah kekasih Rania saat ini.
"Ya! Tapi Ibu, terutama eyang aku nggak suka karena dia DJ!"
"Jadi kamu mau dijodohin sama siapa? Yang kalau bukan kayak Sammy, kayak siapa, dong?" tanya Dara setelah meneguk habis air lemon dingin miliknya.
Bibir Rania meliuk-liuk sebentar, "Kalian tau lah ..., cowok baik-baik gitu, cowok soleh katanya!"
"Pft!" Anisa nyaris tersedak, sedikit es teh yang baru dia sedot muncrat membasahi dagunya. "Heh?! Yang benar aja, dari Sammy ke cowok kayak gitu? Kebanyakan nonton Fedi Nuril kali tuh ibu kamu. Kalau aku sih ogah! Mending kabur aja dari rumah!" usulnya sembari membersihkan mulutnya pakai tisu.
Rania mendecakkan lidah. "Udah nggak bisa pakai cara kayak gitu lagi, Nis. Aku ini bukan anak remaja lagi. Ya kali main kabur-kaburan lagi dari rumah. Lagian, aku juga yang rugi. Uang makan? Biaya hotel? Jajan? Dari mana coba? Apa lagi, kalau ternyata nanti ibu aku non-aktifkan kartu kredit, bisa mampus aku! Emang kalian mau minjamin aku duit?" Rania menatap satu per satu wajah sahabatnya.
Keduanya kompak menggeleng.
"Tuh, kan!"
Tiba-tiba Dara menjentikkan jarinya, sepertinya mendapat sebuah ide. "Temui aja dulu cowok itu ..."
"Habis itu apa?" potong Rania galak.
"Ih, dengar dulu. Jangan motong omongan!" Dara menepuk lengan atas Rania. "Kalau memang cowok itu cowok baik-baik, cowok soleh, cuma ada satu cara untuk lolos dari dia."
Kepala Dara menjorok ke tengah meja, otomatis Rania dan Anisa ikut mendekat, menunggu kalimat lanjutan. "Kamu harus bikin dia yang mundur dari perjodohan ini, masalah selesai!" pungkasnya penuh percaya diri.
"Yaelah, Dara ..., orang udah dengerin baik-baik! Malah nanggung gitu, ya caranya gimana?!" gerutu Rania.
"Bikin dia illfeel sama kamu lah! Cowok baik-baik nggak akan mungkin bertahan kalau tau luar-dalam kamu, Rania! Dia pasti pilih cewek yang bisa nurut sama dia, yang hambar, yang kalem. Ya nggak, sih? Logis, kan? Dia bakal nyerah sendiri nanti!" terang Dara.
Anisa mengangguk-angguk pelan seraya menatap Rania, tanda setuju. "Betul juga sih, Ran. Sorry to say, kita bukannya bilang kamu bukan cewek baik, tapi kan ..., pasti kamu juga bukan tipenya. Kalau pun dia suka karena kamu cantik, tapi kalau kamu bertingkah, dia pasti langsung menjauh! Dia sendiri yang bakal membatalkan perjodohan ini!"
"Ya ..., caranya? Spesifik, dong!" Rania menuntut.
"Haduh, emang dasar lemot! Contohnya, kamu bisa pakai baju seksi di depan dia, sok ngegodain dia, dijamin, deh ... dia pasti illfeel! Aku jamin!" usul Dara lagi.
Rania menggigit-gigit bibirnya sendiri. "Kalau ternyata dia malah ngopeni gimana? Ternyata dalamnya bandot?"
"Laporin eyang kamu lah! Malah bagus, jadi sekarang mereka tau muka aslinya tuh cowok!" sambar Anisa.
Ide liar itu tak terdengar buruk. Bisa sekaligus menjadi ajang untuk menguji karakter Fatur. Detik selanjutnya, Rania berdiri, "Aku mau ke rumah sakit sekarang!" katanya bertekad.
***
"Jadi gimana? Kamu setuju untuk perjodohan ini, Nia?" Eyang Puteri langsung bertanya tanpa basa-basi.
Pandangan mata Rania jauh terlempar keluar jendela kamar pasien, sebuah pena dia mainkan di ujung jemarinya untuk menghalau rasa bosan. "Nggak. Aku cuma mau ketemu dia sekali aja, habis itu ya liat nanti. Minimal kan aku liat dulu tampangnya kayak apa, Eyang." Rania menjawab ketus.
Meskipun jawaban itu bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Eyang Puteri, namun dia tetap cukup berlega hati, ada cahaya harapan, setidaknya Rania mau bertemu walau sekali. Selanjutnya bisa dipikirkan nanti.
"Alhamdullilah ..." Eyang Puteri mengucap syukur. "Tapi, Nia. Perlu kamu tau, Nak. Tampang itu bukan soalan besar. Yang paling penting itu akhlaknya, bagaimana dia memperlakukan kamu nantinya, keluarganya, dia juga pintar. Eyang yakin kamu pasti suka sama dia."
Semua sugesti yang baru dilontarkan Eyang Puteri bagai masuk telinga kanan keluar telinga kiri bagi Rania. Tangannya masih memainkan pena dengan tak berminat. "Ya udah, langsung ajak aja ketemu besok, Eyang. Aku mau pulang sekarang." Rania mengambil tas sandangnya yang dia letakkan di atas sofa dekat jendela rumah sakit.
"Loh, kamu nggak mau ketemu di sini aja? Ada Eyang, ada ibumu nanti."
"Emangnya mau langsung ngapain, Eyang? Yang bener aja, deh. Nanti malah canggung rasanya. Kami kan sudah sama-sama dewasa, aku juga udah 20 tahun, bukan anak kecil lagi. Kami ketemu di luar aja. Cuma berdua. Hasilnya nanti ya pasti aku kasih tau, Eyang juga bisa tanya dia. Mana tau dia malah yang nggak berminat sama aku." Rania menyunggingkan senyum penuh arti, terbayang sudah rencana picik yang akan dia laksanakan nantinya.
"Fatur itu bukan anak kayak gitu. Dia pasti menerima kamu, Eyang yakin," tepis Eyang Puteri optimis.
Rania menghela napas panjang. Sudah cukup dia mendengar segala bujuk rayu Eyang yang bak omong kosong di kupingnya. "Oke deh, aku pulang dulu ya, Eyang. Ibu mungkin datang bentar lagi." Rania menggendong tasnya, berjalan mendekati pintu ruang rawat inap.
Sebelum pintu dia buka, Eyang memanggil sekali lagi. "Tunggu sebentar, Nia ..., ada satu hal lagi yang Eyang mau sampaikan."
Rania berbalik dengan lesuh, mukanya datar benar, matanya tak bersemangat. "Hm?" gumamnya cuek.
"Sebentar lagi bulan suci Ramadhan ..."
"Terus?" potong Rania cepat, ingin langsung ke inti pembicaraan.
"Eyang ada satu lagi permintaan. Kalau semisal nanti pertemuan kalian lancar, walau Eyang yakin juga sih bakal berakhir sukses. Eyang mau kamu mengenal dia dulu selama bulan Ramadhan ini, keputusan apakah kamu nanti mau menerima dia tau enggak, bisa kamu tentukan setelah lebaran nanti."
"Kenapa sampe harus sebulan sih, Eyang? Lama banget! Cukup sekali ketemu juga nanti pasti dia nolak aku. Nggak mungkin lah dia mau sama aku."
"Itu kan pikiran kamu sendiri. Kamu belum mengenal Fatur, Rania. Dia itu penyabar, dan nggak banyak menuntut. Kamu liat aja nanti. Dia pasti menerima kamu, terlepas apa pun kekurangan kamu. Satu bulan itu pas, tepat. Kamu akan tau karakter dia, dia pun sebaliknya. Lagian melakukan hal-hal baik di bulan yang baik juga akan membawa hasil paling baik. Seenggaknya, cobalah dulu untuk satu bulan." Mata Eyang berkaca-kaca, tampak memohon agar Rania bersedia memenuhi permintaan itu.
"Hm. Yang penting liat besok aja, Eyang. Keputusan bukan cuma ada di tangan aku, tapi juga di tangan dia," pungkas Rania.
"Baik kalau gitu, Eyang akan siapkan pertemuan untuk kalian."
Lagi-lagi Rania tersenyum miring. Dia siap untuk menghancurkan pertemuan itu. Semua rencana sudah tersusun rapi di kepalanya. "Oke, Eyang. Aku pulang dulu!"
Tanpa mengucap salam, Rania pergi begitu saja. Eyang cuma bisa menarik napas panjang. Di satu sisi dia takut sebenarnya jika nantinya Fatur akan sungguh menolak Rania, akan tetapi di sisi lain, ada secercah harapan yang dia temukan.

Komentar Buku (172)

  • avatar
    MashidayahNurul

    bagus baca

    02/09/2024

      0
  • avatar
    Nothing

    Best lah

    01/07/2024

      0
  • avatar
    RiniNovitasari

    bagus

    31/12/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru