logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Roti isi

"Mana uang saku kamu?" Mami menarik seragamku, mengambil beberapa lembar uang saku pemberian papa dari kantong.
Savage!
Aku belum sempat menyelipkannya di kaos kaki.
"Kan Tera udah minta maaf, Mi. Jangan ambil uang Tera, Mi."
"Kamu mau nurut apa cari masalah ama mami? Kalo mau cari masalah, nanti sore pulang sekolah ya, sekarang ada papa, kamu pasti lupa kalo papa kamu jarang di rumah dan mami bebas apa-apain kamu," ucapnya seraya tersenyum miring sarat ancaman.
"Nggak, Mi," jawabku tak berkutik. Bukan aku takut menghadapinya. Hanya saja aku berusaha sedapat mungkin menghindari pertengkaran. Sungguh, hidup dalam lingkup penuh konflik itu sangat pelik.
"Ngga ada makan pagi buat kamu, kamu itu hanya parasit di rumah ini, sebaiknya kamu tau diri." Ia menekan ucapannya. Sementara aku hanya bisa mengepalkan jemari erat-erat.
"Sebenernya mami pengen marah, tapi mami tau kamu ngga sengaja," ucapnya dengan lantang dan mengusap kepalaku ketika melihat papa mulai berjalan mendekat. Sandiwara kotor itu membuatku ingin meludahi wajahnya.
"Udah-udah, masih pagi jangan ribut. Besok papi belikan guci yang baru, yang sama persis. Toh, harga guci itu juga ngga mahal." Papa menghampiri mami, membimbingnya menjauh dariku. Tampak membujuk guna meredam situasi.
"Uang yang kita belikan ngga akan sanggup membeli kenangannya, Pi. Tapi, mau gimana lagi, udah terlanjur." Layaknya aktris pemeran FTV, mami selalu saja berhasil berakting di depan papa. Satu hal yang ia menangkan adalah, dia berhasil mencari alasan untuk mengerjai, menghukum sekaligus mendiskreditkanku.
"Lain kali hati-hati, Ra. Kenapa sih, bikin masalah terus?!" ucap papa saat bergerak beberapa langkah dariku.
Secara naluriah, ucapan papa melukai pikiranku, terasa mengepung seperti ujung tombak ditikamkan ke jantungku. Mengacuhkannya. Aku tak ingin menangis lagi untuk hari ini saja.
Seperti hari kemarin, aku tak dapat sarapan lagi pagi ini. Artinya aku akan makan pagi pada saat jam istirahat pertama. Aku sudah terbiasa sarapan hampir menjelang makan siang serta belajar di sekolah dalam keadaan lapar. Kadang, bukan hanya tak sarapan, tapi juga tak ada uang saku di kantongku. Mami sering merampas uang saku yang papa berikan.
Setelah omelan panjang dan caci maki menyeruak di telingaku, aku harus menyaksikan keluarga kecil itu sarapan dan memperhatikannya dari jauh sembari sesekali menelan ludah. Nasi goreng buatan bi Murni sepertinya lezat. Mataku memejam, suatu hari nanti jika aku sudah tak perlu bergantung pada orang tua lagi, aku akan makan banyak, makanan yang lebih nikmat.
"Kamu ngga sarapan, Ra?" ajak papa sambil menatapku. Sementara mami melotot ke arahku, khawatir bilamana aku mencemari meja makannya.
"Ngga laper, Pa. Nanti aja sarapan di kantin," jawabku.
"Ya udah biarin, Pi. nanti mami bawain bekal buat Tera." Mami tersenyum pada papa. kemudian beralih menatapku dan berkata, "nanti dimakan ya, Ra, bekalnya."
Muntah segentong! Aku berani bertaruh ngga akan ada bekal.
Setelah acara makan pagi selesai, papa menggiring Eliyah dan aku menuju jaguar kesayangannya. Aku duduk di belakang dan Eliyah duduk di samping papa.
"Papa akan ke luar kota dan akan berangkat sore nanti, kalian baik-baik di rumah. Yang akur," ujarnya ketika mobil mulai memelesat membelah jalanan.
"Aku balik ke mama aja kalo Papa ke luar kota, boleh ya, Pa?"
"Nanti aku siapa yang temenin, Kak Ra?" timpal Eliyah memelas.
Wow, perfect! Ngga ibunya, ngga anaknya sama-sama pemain FTV. Mengagumkan!
Umpatan yang mengabsen seisi kebun binatang menguar di kepalaku, sejak kapan Eliyah menyukai keberadaanku di tengah-tengah mereka? Selama ini aku hanya sampah yang dijadikan objek pelampiasan iri dengki oleh mereka. Dan papa, entah benar-benar tak tahu, entah sengaja tutup mata. Atau mungkin karena mami terlalu pintar menyimpan bangkai, menyembunyikan aroma hati busuknya dengan sandiwara manis untuk meracuni pikiran papa.
🍃🍃🍃
Matahari bertengger tinggi dan mengedarkan silaunya. Suasana sekolah tampak ramai menyambut denting lonceng jam istirahat pertama.
"Udah sarapan, Ra? Kantin yuk," ajak Binar yang masih belum bangun dari bangku di sampingku. Aku tersenyum padanya sambil menggeleng. Hari ini tak ada uang saku.  Bagaimana aku bisa membeli sesuatu di kantin?
Biar bagaimanapun, Aku juga punya rasa malu untuk tidak membuat Binar terbebani. Dia rela bekerja paruh waktu di fotokopian dekat rumah indekosnya semata-mata karena dia ingin melanjutkan sekolah. Orang tua, Entahlah, Binar sangat tertutup perihal kehidupannya. Dan aku hanya harus belajar menghargai privasinya.
Sekali waktu, terlintas sedikit pemikiran konyol membayangi. Haruskah aku pergi demi membuatnya tak perlu merasakan kesulitan yang lebih dari seharusnya?
"Udah sarapan kok, Nar," bohongku dengan memasang seulas senyum.
Semenjak sepekan terakhir aku selalu dapat masalah yang berimbas pada berbagai macam hukuman. Dan selama itu pula dia selalu mentraktirku makan. Seandainya tak mentraktirku, tentu saja uang yang ia keluarkan dapat digunakan untuk kebutuhan yang lain, seperti SPPnya yang menunggak tiga bulan terakhir misalnya. Sejenak rasa bersalah terhirup dalam dada.
"Bener udah sarapan?"
"Iya, Sayang. lagian kamu terlalu sering traktir aku. Kapan ya, aku bisa ganti traktir kamu?!" 
"Santai aja kali, Ra. Itu ngga seberapa."
"Sebentar ya, tunggu aku di sini." Ia meninggalkanku setelah mengatakan hal itu. Tak lama berselang, dia kembali dengan dua bungkus makanan. "Aku beli roti isi, uangku cuma cukup buat beli ini, ini aja sisa beli bensin," ujarnya tampak tersenyum malu. Ia juga menyorongkan satu botol air mineral ke meja.
Rahangku mengeras, ada kemarahan yang mengumpul pada sklera kemerahan menahan amukan tangis. Meremas jemarinya. Tersenyum. Aku bukan berasal dari keluarga susah yang sulit untuk makan. Namun aku tak dicintai. Kenyataan itu memukul dadaku hingga berkedut nyeri. Jangankan kasih sayang, bahkan mereka tak peduli jika aku kelaparan.
"Kok mata kamu merah? aku ... menyinggung kamu ya, Ra?" ucapnya.
"Aku hanya terharu. Kamu baik banget, Nar."
sesudut senyum kubingkai saat menikmati roti isi bersamanya. Ini hanya roti isi, tapi memiliki seribu arti. Hatiku yang kacau selalu membaik saat bersamanya. Dia seperti obat bagiku. Binar selalu tampak seperti malaikat yang sedang menyamar. Sekiranya aku mampu mengumpamakan lebih baik dari itu.

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru