Sapuan gradasi kemerahan memulas langit senja. Poros semesta berputar seperti seharusnya. Aku suka senja. Kunikmati aliran bayu yang membelai halus rambutku di halaman belakang rumah baru papa. Semua orang memiliki tempat favorit. Jika di rumah mama, aku suka duduk di balkon samping kamarku karena aku bisa bermesraan dengan senja di sana. Sesekali jemariku bergerak lincah diatas layar benda pipih yang bertengger di telapak tanganku, membuka sebuah aplikasi dan mengetik sebuah nama, Respati Adiwijaya. Entah mengapa rasanya aku begitu penasaran pada laki-laki itu. Sebagai konten kreator dan selebgram, kenapa duda berondong itu memilih mama? Sementara aku tahu, dia bisa saja memacari gadis seusiaku jika dia mau. Dia memiliki segalanya; uang, ketenaran, subscriber dengan berjajar bilangan nol dibelakang angka dan viewers yang cukup besar. Aku masih mencari fakta, benarkah Respati mendekati mama karena rasa cinta? atau ada sesuatu yang direncanakan untuk memanfaatkannya? Namun, jika saja yang kupikirkan benar, memanfaatkan dalam bentuk apa-----aku belum bisa menyimpulkannya secara mendasar. Semuanya masih tampak samar sebagai asumsiku saja. Ting... Bunyi notifikasi membuyarkan aktivitasku, membukanya sekilas. Aku sedikit kesal, namun pada akhirnya mengulas senyum semringah membingkai wajah. Menutup satu aplikasi dan fokus pada aplikasi lain. Sebuah pesan suara yang dikirim oleh kekasihku memerangkap seluruh atensi. Tentu saja perasaan kesalku segera menguap saat aku membuka dan mendengarkan voice note itu. "Lenteraku, lagi ngapain, Cantik?" "Lagi nikmatin senja di halaman belakang rumah papa, kenapa?" "Kok ngga ngajak-ngajak?" "Ngga ah, kamu berisik." Aku tersenyum kecil tatkala kalimat itu kuucapkan dan mengirim balasan voice notenya. "Bilang sama semburat lembayung senja yang sedang kamu tatap, Aku cemburu." "Dari film yang pernah kutonton, sepertinya kamu sedang ngga percaya diri. Padahal kamu tau, Binarku adalah yang paling indah dari seluruh keindahan di semesta." Aku memilih mengetik pesan itu guna meminimalisir vibrasi detak jantung dengan ritme kurang ajar yang sulit kuatur. Aku selalu dibuat kalah telak menghadapi rasa gugup yang menggerayangi hati dan kepalaku jika itu menyangkut Binar. "Tentu aja, karena kamu tau, aku yang paling ganteng di seluruh dunia jika stok laki-laki di dunia ini tinggal aku aja." Suara berat Binar terasa begitu menghipnotis saat mengucapkan kalimat konyol itu. "Kenapa kamu selalu memancingku untuk tertawa, sih? Ah, nyebelin. Aku sedang ngga ingin ketawa dan kamu adalah yang paling juara jadi komedian dadakan. Ngomong-ngomong, kamu lagi ngapain?" "Memikirkanmu, sekaligus merindukanmu." Jawaban itu memicu bunga-bunga bermekaran memenuhi taman hatiku. Binar, dia selalu jadi kejutan manis di tengah resah yang mencakup seluruh jagatku. Aku seperti satu planet tersisih di seluruh galaksi dan dia adalah satu-satunya orbitku. Secara persuasif ia mengajakku tertawa bersamanya. Tanpa kuminta Tuhan menghadirkan dia saat aku hampir patah dan memberikan energi baru untuk menguatkan bahu lelahku. "Binar ..." "Kenapa, Ra?" "Aku ngga tau, apa itu cinta. Karena aku ngga pernah merasakannya sebelumnya. Tapi, saat bertemu denganmu aku sadar apa itu cinta, karena bagiku ternyata cinta adalah kamu." Aku kembali melayangkan pandangan pada langit yang mulai gelap. Gemintang mulai menyebarkan cahaya yang membentuk titik-titik kecil serupa noktah di bentangan langit dan menatapku diam tanpa suara. "Jangan pernah tinggalin aku, aku cuma punya kamu." kalimat itu pada akhirnya menjadi subtansi penting yang kusampaikan lewat ketikan untuk Binarku hari ini. "Ngga banyak yang kujanjikan. Tapi, percayalah, Tuhan sedang memiliki rencana untuk mendatangkan cinta, lebih dari yang kamu butuhkan. Jangan takut aku ninggalin kamu, karena aku sudah memberikan hatiku di tangan kamu. Kamu tau satu hal, Lentera ngga akan kehilangan Binarnya." Barisan huruf yang berjajar rapi membentuk kata-kata manis itu mampu membuat hatiku menghangat. Demi malaikat yang beterbangan di langit, sepertinya aku akan rela kehilangan apa pun di dunia ini, asal jangan dia. Karena semakin hari, dia seperti semakin menjadi segalanya bagiku. Milikku satu-satunya. Bahagia yang masih Tuhan ijinkan untuk kurengkuh. **** Hari berikutnya .... Segera kukemasi buku-buku yang berantakan di atas meja belajar. Guna mengatasi rasa kantuk yang masih bergelantung manja pada bulu mata yang memayungi kelopakku. Lekas mandi kemudian aku menukar baju tidur bergambar keropi dengan seragam pramuka. Pagi yang mengantuk! Sejenak menyempatkan diri duduk di depan cermin, tak perlu berlama-lama di sana. Aku harus segera turun, barangkali di lantai bawah ada sesuatu yang harus kukerjakan. Keluar kemudian menutup pintu kamar, senyum getir menghias wajahku kala kulihat bingkai foto kelurga berukuran besar mengintip di ruang tengah saat kuturuni beberapa anak tangga. Ada mami, Eliyah dan papa di sana. Senyum bahagia tercermin pada wajah ketiganya. Dan aku hanya bisa menatapnya nelangsa. Kadang, aku seperti benar-benar merasakan bagaimana kasih sayang papa saking seringnya imajinasi yang kuumbar saban lamunan. Aku merindukan saat di mana waktu mengajakku ke momen itu. Namun, realitas berbanding terbalik dengan fatamorgana yang ingin kupeluk. "Lentera, udah siap ternyata. Bantu bi Murni meletakkan nasi goreng ke meja makan. Mami masih nyusun piring nih," ujar mami. Meletakkan ransel di sofa ruang tengah, aku terburu-buru menuju dapur untuk segera mematuhi mami. Melintas di samping bufet, tanpa sengaja tanganku menyenggol guci di atas bufet hingga suara benda pecah Ber mengalihkan fokus. Derap langkah cepat mendekat, mami ... itu dia. Matilah aku! Aku memecahkan guci yang mami beli beberapa waktu lalu saat berlibur bersama papa. Oh, Tuhan ... kirim ibu peri untuk Cinderella gadungan ini. "GUCIKU? YA TUHAN, KAMU PECICILAN BANGET SIH! PAPI ... LIAT KELAKUAN ANAK KAMU!" teriaknya melengking tinggi, kupikir lebih nyaring daripada suara guci yang jatuh. Aku membeku. Bersiap pada hukuman yang akan menanti. "Tera ngga sengaja, Mi." "Ada hal lain yang bisa kamu kerjain selain merepotkan?" ucapnya nyelekit. "Mana uang saku kamu?" Mami menarik seragamku, mengambil beberapa lembar uang saku pemberian papa dari kantong. Savage! Aku belum sempat menyelipkannya di kaos kaki. Sialan, nenek sihir ini merampas uangku lagi.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 20 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (45)
Andar
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
18/01/2022
2alur cerita yang sangat menarikkk
06/07
0baguss kakk
14/06
0Lihat Semua