logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 Di Sia-sia

Jaguar merah ini merambat dan merayap cepat membelah jalanan dan seperti biasa pandanganku melayang pada sisi kiri kanan jalan. Selintas, sepotong rasa menghardik senyuman. Penggalan kejadian hari-hari silam menyorongkanku dalam lorong seram tanpa penerang.
Aku mengembuskan napas berat, mencoba mendistorsi pikiranku. Sporadis, keputusasaan menjelajah khayalku. Jika aku mati hari ini adakah seorang saja yang peduli dan menangisi kepergianku, sama seperti tangisan pedih yang dinyanyikan saat Althair berpamitan pada hidup?
"Kamu telat lagi hari ini?!" Suara bariton papa memendarkan lamunanku, aku mengerjap, bersiap dengan kalimat kasar yang pasti akan segera kudengar. Setidaknya aku telah mengantisipasinya dan tak perlu meladeni ledakan emosi yang telah kupasung dalam diam.
"Makanya bangun pagi, Althair dulu selalu bangun tepat waktu. Eliyah aja baru umur segitu udah sangat disiplin dalam mengelola waktu," ucapnya dengan nada gusar.
Tak ada satu kata pun mampu kurangkai menjadi lisan, diam adalah bahasa terbaik yang kugunakan untuk menanggapi omelan papa.
Bagaimanapun perlakuan mereka, toh orang tuaku selalu benar. Bagi mereka aku hanya robot, dipaksa mengikuti apa saja kemauan mereka tanpa boleh punya rasa sakit.
Aku hanya miniatur yang mereka hempaskan berkali-kali namun dituntut agar tetap utuh dan sempurna.
Althair, Althair, Althair lagi. kadang aku sibuk mengobrak-abrik isi kepala, apakah otakku isinya hanya tangisan melankolis sampah ini saja, hingga tak ada apa pun yang bisa menjadikan orang tuaku tak menyesal atas keberadaanku?
Aku tak minta dilahirkan. Dan jika saja aku bisa meminta satu keajaiban diantara miliaran keinginan yang dapat terjelma, aku ingin bertukar tempat dengan Althair.
"Kamu udah kelas dua belas. Mau jadi apa kaya gini terus? Apa sih, cita-cita kamu sebenernya? miara gadun biar bisa cepat kaya tanpa kerja, gitu? Nyatanya segalanya butuh usaha. Bukan cuma bengang-bengong dan plonga-plongo aja!"
Ingin rasanya berteriak, kalimat-kalimat itu dengan kejamnya terasa membakar kupingku. Aku lagi yang salah? kalau saja papa dan mama tidak bercerai, tentu aku tak perlu mengalami apa rasanya berkenalan dengan duda berondong piaraan mama. Tak perlu lagi hidup nomaden seperti manusia purba primitif yang tak punya rumah tetap.
Siapa yang sibuk perang urat syaraf sebelum aku berangkat sekolah dan membuatku terlambat? Salahku? Salahku jika aku bangun kesiangan karena semalaman dengan bodohnya aku meringkuk di sudut kamar menangisi keadaan? Salahku jika aku dapat nilai buruk, karena aku tak bisa berkonsentrasi pada pelajaran di kelas maupun tugas rumah yang tak sempat kukerjakan sebab aku sibuk meratap?
Salahku jika aku tak punya waktu untuk berpikir akan jadi apa masa depanku kelak, karena aku terlalu sibuk megap-megap menagih kasih sayang untuk meredakan dahagaku yang lapar? Salahku jika aku tak punya teman karena aku tak bisa bergaul dengan benar sebab diri dingin dan murung ini? lalu apa lagi salahku?
Diam sejenak.
"Pa, Eliyah itu ... " Ah, aku menjeda kalimatku, tak yakin pada apa yang ingin kukatakan.
"Kenapa?"
"Anaknya seperti apa?" Entah mengapa kalimat itu merosot bebas dari lidahku, bukan mengalihkan topik percakapan, tentu tidak. Aku hanya penasaran apakah papa tau bagaimana sikap Eliyah dan mami selama ini, yang selalu saja kasar padaku di balik punggung papa.
"Loh, kan kamu juga sering bareng dia, kok nanya Papa?"
"Dari perspektif Papa," putusku.
"Papa rasa dia anak yang baik, manis, penurut. Walaupun masih kecil, banyak hal yang bisa Papa banggakan dari dia. Prestasi yang mentereng, memiliki jiwa seni yang tinggi. Dan dia potensial dalam segala hal." 
"Baik? Jawaban itu bukan hanya omong kosong, 'kan, Pa? Kupikir dia bermuka du-----" Aku memutus kalimatku sejenak, Apa aku punya hak untuk menyuarakan pendapat? Belum sempat kuselesaikan kalimat itu karena mendadak sergahan papa seolah menganggap ucapanku hanya sebuah hipotesis.
"Bermuka dua, begitu?!"
Papa melirikku sekilas dengan roman tak senang, tentu saja dia tak senang anak tiri kecintaannya mendapat serangan kecil dariku. Bahkan aku sendiri tak tahu apakah yang kukatakan adalah tindakan penyerangan terhadap nama baiknya atau tidak, sebab memang yang kukatakan menurut asumsiku cukup mendasar. 
"Lupakan saja, maksudku ... " Aku menggantung kalimatku sepersekian detik. "Papa sayang sama dia?" tanyaku diiringi rasa ngilu dalam hati.
"Tentu aja, Walaupun papa hanya ayah sambung, tapi papa udah anggap dia seperti anak papa sendiri." 
Aku mencebik, jawaban papa menstimulasi kemarahanku kembali. Terlalu lugas, eksplisit dan tanpa hati, seolah aku hanya patung tak bernyawa yang tak akan sakit hati mendengarnya. Aku berharap pertanyaan yang kulontarkan barusan hanya basa-basi.
Menyesal rasanya, kenapa harus menanyakannya. Jujur kekecewaan itu memagut sukmaku kala aku mendengar jawabannya. Bodoh, seharusnya pertanyaan itu kuberangus dan biarkan saja selamanya menjadi enigma.
Kalo Tera? Papa anggap sebagai anak siapa? Anak mama? Tera anak kandung Papa sendiri, Pa. Anak Papa, darah daging Papa!
Jika saja hal itu bisa kusampaikan sebagai kalimat telanjang untuk papa. Namun tidak mungkin. Bukan menyoal aku pengecut dan tak memiliki keberanian sebanyak itu. Hanya saja hatiku terlalu sakit jika harus beradu argumen dengan papa. Dari aspek mana saja aku pasti akan tampak salah di mata papa seperti hari yang sudah-sudah.
Dari hati yang paling dalam, sungguh rasanya aku ingin menubrukkan diri di rangkulan papa jika saja ia memahami lukaku. Aku ingin mengatakan padanya bahwa anak perempuannya ini tak sedang baik-baik saja. Ingin papa tahu bahwa aku hampir tak kuat lagi berdiri menopang kaki di atas badai sendirian. Andai papa tau, kapal yang kulayarkan membutuhkan jangkar agar tak kandas.
Papa ada di sini, di dekatku. Namun ada sekat yang sengaja papa bangun hingga begitu sulit menggapai kasih sayangnya. Ia terlalu jauh, berlaksa mil tak mampu menggambarkan jauhnya. Aku masih di sini, makhluk kecil tak berarti yang hidup pada salah satu dari sekitar tiga ratus juta planet di galaksi Bima Sakti. Dan aku ada di antara sekian miliar manusia di dunia. Apakah aku terlalu kecil untuk terlihat?

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru