logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4 Budak Cinta

Umpatanku tertahan di dalam dada, segala amarah menjejali dan mengunung tanpa tahu harus kepada siapa kualamatkan. Namun sesaat semuanya luntur, kala melihat iris cokelatnya pagi itu. Hari-hari yang telah kulalui bersamanya, tak akan pernah mudah dilupakan. Aku tak ingin memori rasa ini terganti. Rasa yang membuat semua sakit di hatiku sejenak tergerus, tersamar, memudar.
Tatapannya adalah candu, layaknya zat adiktif yang begitu kugilai. Aku menyukai semua hal tentangnya, sampai-sampai rasa ini meluap dan tak bisa kuantisipasi. Segala perhatian dan cinta kasih menggelamkanku, sementara aku tak diajarkan berenang atau menyelaminya. Yang jelas, aku percaya apa yang dia katakan, bahwa dia telah menjadikan kekuranganku sebagai hal yang ia sukai lebih dulu sebelum kelebihanku.
Kunetralkan degup jantung tatkala indra perabanya bergesekan dengan kulitku, pun rasa tenang dan nyaman kembali kujumpai saat jemarinya menyambar dan meremas tangan ini.
"Apa pun yang kamu rasain, atau alamin, hanya butuh satu hal buat kamu tau. Aku di sini sama kamu, kamu ngga sendirian. Dan kalo aku ngga bisa meredam badai, kita akan hadapi sama-sama. Apa yang harus aku lakuin buat kamu? bilang, Ra. Mungkin saat ini aku cuma bisa kasih kamu bahu buat nyender. Jangan nangis lagi, kalo ada apa-apa cerita sama aku. Kamu tau aku ngga suka rahasia," ujarnya seraya menekan bibir pada pucuk kepalaku sementara tangan yang lain mengusap pipiku, lalu berpindah membelai mata balut ini dengan lembut.
"Rahasia? kamu tau hidupku seperti apa, Nar. Bukan hal baru kalo aku datang ke sekolah dengan mata kaya gini." Kulemparkan sepotong senyuman yang sengaja kuatur setulus mungkin untuknya.
"Aku selalu suka senyum kamu, Ra." Ia membimbingku berjalan beriringan. Sejenak kalimat itu menghipnotis dan mendistraksi pikiranku sepenuhnya. Setidaknya kalimat-kalimat darinya mampu membuatku melupakan luka-luka yang mulai liar menjangkitiku, berharap semua luka ini tak akan menginfeksi mental suatu hari nanti.
"Ada kamu ... kamu adalah alasanku tersenyum," putusku sembari membenarkan anak rambut dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Cari angin, yuk?" ajaknya meminta persetujuan.
"Aku lagi di hukum dan kamu lagi bolos, kok malah ngajak jalan," sanggahku. "Lagipula, pasti gerbang udah ditutup. Kalau kita ketahuan keluar sekolah saat jam pelajaran dan ketika jelas-jelas lagi dapet sanksi, tentu hukuman kita akan ditambah." Aku menyudahi kalimat itu dan menatap matanya sekilas. Dag dig dug khas orang kasmaran menjelajah di dada. Tanpa bisa menebak sebelumnya, rupanya aku begitu berbakat menjadi seorang budak cinta.
"Ada pintu rahasia, ayo kutunjukin, dihukum berat juga boleh. Masuk penjara di hati kamu sampai kita mati sama-sama," kelakarnya jenaka. Ia berjalan memimpin tanpa melepaskan genggaman di telapak tanganku.
Ternyata dia benar, ada celah sempit di ujung pagar halaman belakang. Sepertinya tubuhku muat untuk menerobosnya. Menurut pada Binar, kami melampaui 'pintu rahasia' bersama-sama dengan jemari saling bertaut. Kalaupun setelah ini aku akan mendapat hukuman lagi, tak apa. Toh hidupku sudah penuh dengan hukuman dan itu bukan masalah selama Binar masih betah berlama-lama menggenggam tanganku.
"Kita mau ke mana, Nar?" tanyaku ingin tahu.
"Mungkin, kita bisa ngobrol di pinggir taman kota, pohon kiara payungnya rindang dan teduh. Badannya aja segede kingkong, kita  ngobrol di sana aja," ajaknya sembari melemparkan candaan recehnya lagi.
"Kingkong? Emang pohon punya badan? Kingkongnya kamu kali, Nar," ujarku jahil seraya tertawa kecil.
"Ya ngga papa. Aku rela jadi kingkong asal bisa bikin kamu ketawa kaya gitu," jawabnya tampak apa adanya.
"Kamu pinter gombal sekarang, dapet materi dari mana?" ledekku.
"Aku? Hm ... sepertinya aku dapet contekan dari iris menakjubkan malaikat tanpa sayap di sampingku," jawabnya kemudian melirikku sekilas dan menarik garis lengkung di bibirnya.
Kami menyusuri trotoar bersama, Binar sama sekali tak melepaskan tautan jemarinya sepanjang perjalanan. Sesekali bibirnya mengeluarkan senandung dari siulan sederhana yang menjadi melodi musik klasik mengiringi langkah kami.
Sampai pada taman kota yang letaknya tak jauh dari sekolah, tempat ini sejuk. Mendung yang tadinya bergulung sekarang mulai menghilang. Rupanya benar, mendung tak berarti hujan. Atmosfer dingin masih menyelimuti hawa pagi dengan kabut beraroma basah sisa hujan kemarin. Bangku tua di bawah pohon itu masih layak untuk menjadi tempat duduk yang ideal.
Binar menyeka bangku berbahan metal itu dengan sebuah sapu tangan dari kantong celana. Hujan kemarin meninggalkan residu basah  bercampur karat samar yang hampir mengering pada permukaannya.
"Udah bersih, silakan duduk, Tuan Putri," ucapnya seraya membungkukkan badan.
Tak ada alasan untuk tidak menuruti permintaannya. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya adalah titah seorang raja yang tak bisa dibantah. Kami duduk berdua, aku menggerak-gerakkan kaki yang menggantung di kolong kursi dan mengibasnya maju mundur sambil menunduk.
"Kamu cantik, Ra," ucapan itu sejenak membuat hatiku menghangat. Dan aku hanya melemparkan seulas senyum dengan rona kemerahan di wajahku.
"Kalo ngga nangis," imbuhnya.
Degh...
Entah kenapa aku tidak menyukai kalimat yang menyambungnya. "Jadi, aku ngga cantik karena aku sering menangis?" tanyaku seraya menatap iris kecokelatannya tanpa mengandung unsur memprotes.
"Bukan, tapi ... aku ngga suka kamu kaya gini terus, Tera. Jujur aja, aku ingin melihat kamu bahagia. Hanya itu, dan kalo aja aku bisa, aku ingin jadi alasan kamu bahagia," pungkasnya.
"Aku bahagia kok, Nar," jawabku sembari memainkan kuku jari.
Ia mendekatkan wajahnya kepadaku, aku berjengit menatapnya dan memundurkan kepala beberapa senti ke belakang. Mataku memejam rapat-rapat. Ritme jantung ini bandel dan bersikeras menegang sehingga aku dibuat kewalahan mengendalikannya.
Mendadak ada gelombang besar berarak di dadaku. Detonasi yang memburaikan milyaran kupu-kupu beterbangan dari hatiku. Gelenyar yang lagi-lagi membuatku mabuk layaknya menenggak minuman berakohol dengan kadar paling tinggi. Apakah akan ada drama di mana bibir kami saling menyapa dan menyampaikan bahasa cinta tanpa suara?
Jarak kami begitu dekat, hingga aku sanggup merasakan embusan napasnya. Satu, dua, tiga, aku mulai menghitung karena otakku berasumsi bahwa dia akan menciumku pada hitungan kelima.
Cukup lama menanti, menata detak jantung yang mati-matian kupaksa tenang. Sialnya tak ada yang terjadi.
Hufttt ...
Aku meniupkan napas memberat lalu membuka mata. Ternyata aku salah sangka, yang Binar lakukan hanya menjimpit sehelai rambut yang jatuh tercecer di bahu belakangku.
"Ma ... maaf, rambut kamu jatuh," ucapnya tampak kikuk dan salah tingkah. Aku menarik napas hingga dadaku sedikit membusung. Rasanya ingin sekali menyembunyikan wajahku di kolong kasur saking malunya.
Ahem...
Ia berdeham. Sejenak tanpa sengaja mata kami saling bertabrakan. Tatapan kami semakin intens dan saling mengunci. Memudarkan objek lain yang terjamah netraku.
"Ra," ucapnya mencoba mencairkan suasana. "Boleh aku minta sesuatu dari kamu?" tanyanya tampak mulai serius.
"Tentu aja, kalo aku bisa penuhin itu," jawabku ringkas. apa dia akan meminta hal yang tidak-tidak padaku?
Ah, skip. Binar tak seperti itu.
"Jangan nangis, aku ngga suka liat perempuan nangis. Aku ngerti, apa yang kamu rasain berat. Karena kurang lebih kita punya luka yang sama walaupun beda perwujudannya. Keluarga utuh itu ngga pernah menjamin kebahagiaan, Ra. Aku hanya takut kehilangan kamu. Kamu terlalu berharga untuk dilemahkan oleh keadaan. Jangan sampai kamu sakit karena terlalu banyak pikiran," ia menjeda kalimatnya sepersekian detik, "Aku sayang ama kamu, Lentera." Ia memutus kalimatnya, mengusap suraiku dengan jemari lembutnya.
Permintaan sederhana. Permintaan yang membuat hatiku tersanjung lagi. Dialah satu-satunya orang yang tak ingin melihatku menangis. Yang menjadi bagian dari makna kata bahagia. Aku ingin tersenyum sekaligus menangis secara bersamaan mendengar permintaan itu. Karena aku tak yakin bisa memenuhinya.
"Aku juga sayang kamu, Nar." Menubrukkan diri di pelukannya. Kurasakan irama yang sama dari degup jantung Binar Muneera. Dan sekali lagi, aku suka rasa ini. Di mana detakku menyanyikan denyut yang sama dengannya.
🍃🍃🍃🍃
Menilik jarum jam yang bertengger di pergelangan tangan kananku. Sebelum jam pertama usai, aku segera kembali ke sekolah agar tak mendapat rentetan hukuman lain yang menanti. Untung saja aku tak kepergok keluar sekolah pasca bergulirnya hukuman tadi. Jadi aku tak perlu khawatir ada hukuman chapter berikutnya. Seperti biasa, waktu bergerak begitu cepat. Jam pertama usai, berganti jam pelajaran berikutnya secara berkesinambungan, lalu  tiba-tiba sudah sampai saja ke penghujung pelajaran dan sekolah hari ini selesai.
Aku menata buku-buku dan meletakkannya ke dalam ransel, dan laki-laki yang duduk sebangku denganku ini pasti rajin membantu membereskan isi kotak pensil yang berserakan di atas meja.
"Pulang bareng?" tawarnya.
"Kamu lupa ini hari apa? ini hari kamis, jadi hari ini aku ke rumah papa. Pasti papa udah jemput di luar," jawabku.
"Ya udah, take care, Lenteraku," ucapnya menyudahi percakapan sambil menarik garis lengkung di bibir dan mengusap kepalaku. Aku hanya menanggapi dengan senyuman lalu menyampirkan tali ransel di pundak.
Hari cepat sekali berganti nama. Harus pulang ke rumah papa lagi. Aku mendesah panjang. Aroma ketegangan melesak di benakku. Menjajah ketenangan yang coba kubangun susah payah.
Bersiap, sepertinya kecemburuan ibu tiri dan bentakan-bentakan kasar papa telah menantiku di kediamannya. Jika aku mendapatkan satu keajaiban yang diberikan oleh peri nyasar seperti di kisah fiksi. Maka aku akan meminta ibu peri untuk mereverse waktu agar aku bisa memperbaiki masa lalu. Atau menulis ulang takdirku, yang jelas aku tetap mau ada Binar Muneera di sana.
Terkadang aku ingin memprotes semesta, sebab tak mungkin aku memiliki keberanian memprotes Tuhan atas ketidakadilan ini. Kenapa mereka memperlakukanku tanpa peduli seperti apa rasanya? atau mungkinkah untuk mengetahui seperti apa pahit yang kucecap selama ini, mereka harus menjadi sosok 'aku' lebih dulu? Mungkin dengan begitu mereka akan sadar bahwa menjadi objek pelampiasan kemarahan serta dendam itu menyakitkan. Dan apa aku harus tetap mengalah pada keadaan?
Dengan sunyi aku biasa menari, dengan luka terbiasa tertawa. Pun terbiasa berpikir bahwa orang sepertiku tak boleh memantaskan diri untuk disejajarkan dengan kebahagiaan orang-orang di luar sana. Aku tak berguna, tak berharga. Jika saja diri ini sehebat Althair, atau secerdas Eliyah pasti aku tak akan ada di posisi saat ini. Entahlah, mungkin saja.
Sejenak saja banyak pertanyaan membanjiri otakku. Aku tahu, pertanyaan-pertanyaan itu tak akan semudah memecahkan soal pilihan ganda atau soal uraian di lembar jawaban pelajaran fisika. Meski pada dasarnya sama-sama sulit, tapi tetap saja aku akan lebih memilih satu truk soal fisika. Toh aku bisa mencontek, sementara soal hati, kepada siapa aku harus mencontek?
Sekali waktu, pernah terlintas di pikiranku untuk menyerah pada kehidupan. Bukan menyesali jalan takdirku, tapi pernah berkali-kali tersemat di kepalaku tentang bagaimana menyesalnya aku pernah terlahir di dunia ini, dari orang tua yang tak pernah bisa kupilih.

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru