logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Kotak musik

" Dre, loe serius?" Tanya Olive seraya bergidik ngeri melihat suasana Villa yg terkesan horor.
" Ya serius lah bambang. Ayo masuk, disini bukan cuma kita kok" Timpal Adreas tenang. Ia mengeluarkan semua barang yg mereka bawa.
Sementara Olive dan yg lainnya masih sibuk memperhatikan suasana Villa. Bella tersenyum melihat jiwa- jiwa penakut teman- temannya.
" Maksudnya gak cuka kita apa?" tanya Olive dengan nada curiga, namun terlihat jika ia ketakutan.
" Hantuuu.. Hihihi" timpal Bella berkelakar. Lalu tawa mereka pecah seketika, namun tidak dengan Olive. Ia memanyunkan bibirnya kesal.
" Iiii Bella, gak lucu tauu" Olive menghentakan kakinya seraya cemberut. Bella yg gemas dengan tingkah Olive lalu mencubit pipi chabi nya.
" May, Devin mana?" Tanya Adreas yg tak mendapati keberadaan Devin di sana.
" Lagi nurunin barang"
" Ohh, yaudah semua, ayo!" Mereka semua pun masuk ke dalam Villa. Kondisi Villa sangat terawat, itu karna Villa itu di jaga dan di bersihakan rutin oleh pak Joko dan Mbok Sumi yg rumahnya berada tak jauh dari sana.
Mereka di percaya oleh pak Fredy ayahnya Adreas untuk mengurus Villa itu. Terdapat juga beberapa rumah warga disana, namun tempatnya berjauhan. Villa itu terletak di dekat sebuah sungai kecil namun panjang.
" Mbok sum.." Seru Adreas. Mereka semua memperhatikan isi Villa yg terlihat elegan. Namun dengan arsitektur khas jaman dulu. Villa yg di dominasi serba putih itu di hiasi dengan barang- barang kuno yg terpajang di setiap sudutnya.
" Ehhh, den Adreas. Sudah besar ya den, lama tidak bertemu" Ujar Mbok Sumi dengan senyum riang. Dulu, Adreas memang tinggal disana, namun, ada hal yg membuat mereka harus pindah dari sana.
" Mbok Sumi, Adreas kangen sama mbok. Oh iya, pak Joko mana?" Adreas memeluk mbok Sumi yg usianya tak lagi muda. Seperti menganggap ia sebagai neneknya sendiri.
" Ada tadi di belakang. Mari mbok antar ke kamarnya masing- masing" Tawar mbok Sumi ramah. Mereka semua pun di persilahkan di kamar yg sudah di tetapkan.
Untuk para perempuan bertempat di kamar depan. Dan untuk laki- laki di kamar belakang.
" Ingat ya den, tidak boleh ada yg berbuat macam- macam. Pamali!" tegur mbok Sumi mengingatkan.
" Iya iya mbok, tenang aja, kita gak bakalan ngapa- ngapain kok"
" Yaudah, kalo begitu mbok pulang dulu, kalo ada apa- apa bisa panggil simbok, rumah mbok gak jauh dari sini, den Adreas masih ingat kan?"
" Ingat dong mbok"
" Yasudah, hati- hati ya. Mbok pergi dulu" Mbok Sumi pun pulang setelah semua pekerjaan nya selesai. Ia biasanya bersih- bersih dan mengerjakan pekerjaan lainnya, jika sudah selesai ia akan pulang.
Keenam muda mudi itu pun kini berada di ruang tamu.
" Kita kemana sekarang? gabut nih" ujar Devin. Adreas nampak berfikir sejenak, lalu menjentikan jarinya tanda mendapatkan ide.
"Gimana kalo kita ke sungai aja, mandi disana sambil foto- foto. Tempatnya bangus banget deh" usul Adreas antusias.
" Setuju. Jauh gak?" sambung Joe.
" Nggak kok, deket sini"
" Yaudah ayo!" Mereka semua pun bersiap, lalu pergi menuju sungai yg di katakan Adreas.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Tempatnya tak jauh dari Villa. Di sepanjang perjalanan mereka terus bersenda gurau.
Tertawa dengan banyolan- banyolan yg mereka buat. Ada juga yg asyik mengambil gambar. Berfoto di tempat- tempat yg indah. Pemandangan yg asri membuat mereka terhipnotis untuk menghabiskan sisa memory mereka untuk mengabadikan momen itu.
" Itu sungainya" teriak Bella seraya menjuk ke arah sungai yg jernih. Disana juga terdapat air terjun yg indah.
Suara guruhan air terjun memanggil mereka untuk merasakan segarnya air sungai yg mengalir jernih. Mereka berteriak kegirangan. Mereka juga berenang disana. Kecuali Bella, ia memiliki masalah pada pernafasannya, sehingga ia tak berani untuk masuk ke dalam air.
Bella duduk di batu besar sembari memperhatika teman- temannya yg asik berenang. Namun pandangan Bella terkunci pada sebuah kotak kecil yg tergeletak tak jauh dari tempat ia duduk.
Bella meraih kotak itu, menelisik benda kuno itu. Bella lalu membukanya.
" Kotak musik? lucu banget" ujarnya kagum. Patung perempuan sedang menari balet terus memutar di iringi dengan musim klasik yg merdu. Bella terpana, dan berencana membawa nya pulang.
" Bell, loe gak ikutan?" teriak Maya dari dalam air.
" Nggak, kalian aja. Airnya dingin" timpal Bella dengan nada tinggi agar mereka bisa mendengar suaranya yg bercampur dengan gemuruh air terjun.
" Ahhh gak asik"
Bella hanya tersenyum. Lalu kembali memperhatikan kotak musik di tangannya.
" Sayang kamu lagi apa?" Tanya Adreas tiba- tiba. Membuat Bella sedikit terperanjat.
" Ehh, nggak, aku tadi nemu ini disini" Timpal Bella seraya memperlihatkan kotak musik yg di pegangnya.
Adreas nampak menelisik kotak musik itu. Ada raut aneh yg tergambar di wajahnya.
" Kamu kenapa?" tanya Bella yg menyadari perubahan mimik Adreas.
" Uhh nggak, gak papa. Aku cuma kayak kenal aja sama benda itu. Tapi, perasaan aku aja kali" Adreas tersenyum menyembunyikan keraguannya.
" Guys, pulang yuk! hari udah mulai gelap nih"
huuuuuu

Komentar Buku (300)

  • avatar
    DITAPUSPAADYTIA

    cerita holor nya aku sih suka kalau yang ini merinding dan bikin lari maraton pas baca ini cerita yang paling menyeramkan dari cerita holor yang lain punya oh yah bikin lgi dong cerita nya yang holor holor kan seru tuh sama cerita yg lain juga yang happy ending.cocok untuk di jadikan film

    11/08/2022

      0
  • avatar
    Muhammad Malin Yusup

    sangat berguna

    19/05/2022

      0
  • avatar
    BellaNabitabo

    I love novelah app this app so nice

    28/04/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru