logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Gadis Penggantimu

Hidup di Jakarta memang begitu memuakkan, Azhary. Andai kau tau seperti apa hari-hari sulit yang kulalui disini. Sungguh, aku masih Sabta yang sama... yang meninggikanmu di atas segalanya. Inilah aku, yang tak mungkin kembali padamu dengan hati dan tubuhku yang penuh dengan luka.
Andai Azhary tahu, berapa banyak dingin malam kulampaui dengan sunyi, berapa cangkir sudah kopi yang begandang, berapa banyak do'a-do'a sisa air mata yang tak habis jika kuceritakan.
 Kutulis sepucuk surat untuk Prasetio malam itu, aku masih ingat alamat sahabatku, kenapa tak menanyakan saja perihal Azhary kepadanya sambil merengkuh rindu pilu ini.
Untuk; dulurku lanang. (Saudara lelakiku)
Pras, bagaimana kabarmu? Kau sehat kan? Ada banyak hal yang ingin kukisahkan di sini. Jauh darimu itu tidak gampang. Kau tahu, tak ada yang setulus orang-orang di kampung kita di sini. Aku tak bertemu Rahman, dia tak menjemputku meskipun dia telah berjanji. Tapi aku baik-baik saja. Satu hal yang tak pernah membuatku baik-baik saja adalah ketiadaan Azhary di sampingku untuk meniti waktu. Gadis itu, bagaimana kabarnya, Pras? Apakah dia baik-baik saja tanpaku? Dan ... apakah kau menjaganya dengan baik sesuai yang kau janjikan padaku? 
Pras, lelah rasanya. Ini permulaan panjang, adaptasi yang perih, sepanjang perjalananku hanya dipenuhi  gadis itu menghantuiku. Kau tahu bagaimana aku mencintainya. Jika kau bertemu dengannya, katakan padanya aku minta maaf. Katakan padanya tak perlu cemas karena aku baik-baik saja. Ataukah memang dia tak pernah mencemaskanku? 
Ah, bodohnya. Tentu saja aku terlalu percaya diri. Dia tak mungkin mencemaskanku yang hanya pecundang  menjijikkan. Tapi, Pras-- kupikir sebaiknya jangan katakan apa pun padanya... aku hanya ingin dia mengikisku dalam ingatannya. Biarlah ia selamanya membenciku, asal dia baik-baik saja. Tak peduli aku tak pernah lagi bisa tertawa bersamanya, tapi tawanya masih terdengar jelas menyapa runguku setiap waktu. Dan aku selalu bisa menyentuhnya dalam setiap jengkal ingatanku.
Oh, ya. Bagaimana ibuku? Apakah dia juga baik-baik saja? Ladang belakang rumah apakah masih sehijau saat aku dan Azhary bercengkrama bersama? Aku tahu, baru beberapa bulan aku di sini. Pasti semuanya masih sama, hanya semuanya kini telah berbeda. Aku bertemu gadis baik di sini. Yang selalu membantuku dalam semua kesulitan, namanya Laras Mahadewi. Tapi asal kau tahu, Pras. Hatiku tak berubah, seperti yang telah kujanjikan pada diriku sendiri bahwa sampai mati pun Azhary akan menjadi yang terindah dalam palung hatiku.
Aku merindukanmu, Pras. Rindu saat-saat kita bersama sambil menceritakan mimpi-mimpi kita masing-masing. Bagaimana kuliahmu? Aku tak tau lagi harus mengatakan apa. Terimakasih atas semua kebaikan dan ketulusanmu selama ini. Kau benar, walaupun kita berjauhan tak akan mampu memutus tali persaudaraan kita. Aku dulurmu, Pras. Kau tau, saat hatiku perih dan aku sedang sendirian, kalimat itu membuat bibirku menyudutkan senyum. Aku merindukanmu, sahabatku.
Saudaramu.
 Sabta Pradipta
Hari-hari kulalui seperti biasa, melewati rutinitas yang tak pernah berbeda. Hal berbeda seperti apa yang kuharapkan? Ya... akhirnya aku mendapatkan kejutan pahit itu suatu hari. Belum juga aku sanggup menebus apa pun yang Laras lakukan atau berikan padaku, aku jatuh dalam jurang kembali. Tenggelam  dalam  luka tak berdasar. 
Masih kuingat peristiwa itu, ketika aku hendak pulang ke kontrakan yang kutinggali. Seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun yang menggendong tas ransel warna kuning karakter Spongebob Squarepants itu--melintas di sebuah gang sempit. Aku ingat Hafizah, yang menangis dan meratap saat ibunya meninggal dan menggayuti kerudung yang kakaknya kenakan hingga basah oleh peluh serta air mata.  Aku merindukan gadis kecil itu, yang sering memanggilku Mas Sabta sambil manja meminta gendong sambil makan permen kaki.
Melintas sendirian dan aku tersentuh, malam sedang sunyi dan gerimis tengah menitikkan tetes-tetes airnya. Alunan nyanyi sunyi membisikkan suara desis angin dan dedaunan kering menari seirama gerak lambat derunya. Kudekati gadis itu, akan kuantarkan pulang. Di mana ibunya? Kenapa tak mencarinya? Aku mendekat, tak kusangka rasa iba itu akhirnya berbuah petaka. Gadis itu panik dan berlari sekuat tenaga, hingga tubuh mungilnya tanpa sengaja menabrak pagar pembatas dan terpental. Tubuh mungil gadis itu terhempas, kepalanya terantuk batu hingga darah mengucur deras dan tubuhnya mengejang.
Rasa panik menyerangku,aku mendekat padanya--berkawan rasa bingung. Kuteliti sekitar, tak ada siapapun, bahkan teriakan minta tolong yang kulolongkan bagai anjing di sunyi sepi tak tertanggapi oleh sekitar. Memeriksa keadaannya, kulihat ia tak bernapas, tubuhnya sedingin es. Kurenggangkan pakaian yang menempel di tubuhnya untuk memberikan pertolongan pertama, kutekan-tekan dadanya untuk memberi tindakan CPR. Tak ada yang berhasil, aku membuka mulut gadis kecil itu, memberi napas bantuan dengan pikiran tak menentu, kubayangkan itu adalah Hafizah.. dan setitik air mata akhirnya terbit meloloskan diri dari kedua mataku. Seseorang, kumohon, bantu aku selamatkan gadis kecil ini. Aku masih berusaha menyelamatkannya sebelum kudengar teriakan membinatangkan aku.
"Dasar cabul!" 
Tak lama setelah teriakan itu, warga berbondong-bondong datang, menghantam tubuhku hingga seperti memperlakukan hewan tanpa memberiku waktu untuk menjelaskan dan membela diri. Sungguh, rasanya tubuhku seperti remuk redam.
Kenapa? Kenapa jahat sekali mereka menghakimiku? Ke mana mereka saat aku meneriakkan permintaan tolong tadi?
Entah berapa kali pukulan dialamatkan padaku. Hingga menghirup udara saja terasa sakit dan sesak. Digiring ke kantor polisi atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan. Sungguh, tak pernah kubayangkan aku akan di pandang serendah ini oleh dunia. Seandainya aku tak pernah meninggalkan Azhary...
Aku memang pecundang, lidahku kelu, otakku buntu saat semua orang meneriakiku dan menggelendangku ke kantor polisi. Hanya air mata yang sederas rinai hujan memotong harapan, aku tak berdaya. 
Meringkuk di ujung ruang sel tahanan bersama beberapa orang narapidana lain. Tubuh mereka kekar dan mereka menatapku sinis. Menanyai apa benang merah yang menjadi sebab dipenjaranya aku. Dan aku dengan lantang menjawab, "Aku tak bersalah."
Ingin sekali memeluk Azhary, menumpahkan segala gundah dan menatap sepasang manik mata indah  yang begitu teduh itu. Sekujur tubuhku terasa lemas seketika dan aku tersadar, Azhary tak akan lagi memelukku dan membuatku baik-baik saja seperti dulu.
Di ujung ruang sempit itu, nyamuk merubung dan menjadikanku santapan malamnya. Dinginnya lantai sel menyentuh kulitku. Aku beringsut, memeluk lututku sambil berselimut hawa tak ramah ini--berharap pagi segera menjemput malam. Ada satu hal yang masih setia menemani raga tak bergunaku, nama Azhary yang terpatri begitu dalam di hati, bergelayut manja pada rindu murung dalam relung.
Dan sekilas ingatan tentang kampung halaman melintas di benak. Ayah, apakah kau sudah bebas dari tahanan yang menjeratmu? Lihat , Ayah... saksikan dengan pongah bagaimana nasib putramu demi nafsu yang telah kau umbar. Apa kau bahagia, Ayah? Apa kabarmu, Ibu? Apakah ibu masing mengingatku? Mengingat bagaimana ibu melepaskanku demi pria kurang ajar yang kau sebut sebagai ayahku? Dan Azhary... apakah kau merindukanku? Apakah kau masih memikirkanku seperti aku sakit tanpa keberadaanmu? Berikan aku sedikit arti, Azhary ... aku tak berguna dan tanpa makna jika tanpamu.
Esok pagi kujelang, lingkaran bawah mata menghitam. Tak ada lelap semalam. Aku seperti telah kehilangan diriku sepenuhnya. Tapi wanita itu ada. Membesukku sambil menggenggam erat jemariku. Kedua tangannya membingkai wajahku, titik-titik air matanya menyampaikan bukti ketulusan.
"Apa yang terjadi, Sab?"
Aku merunduk, meneguk ludah susah payah. Kerongkonganku kering kerontang, pucat pasi oleh hantaman kenyataan.
"Jika aku bicara, mungkinkah kau percaya? Aku orang asing, Ras. Tak punya siapa-siapa di Jakarta. Kau pun tak akan mempercayaiku."
"Jika pun seluruh dunia tak pernah mempercayaimu, maka aku akan menjadi satu-satunya orang yang mempercayaimu, Sabta."
Aku mendengkus, menarik garis lengkung di wajahku dengan bola mata memerah disertai genangan kaca memenuhinya. Kini aku sedang tersenyum mengejeknya. Kuuraikan tangannya yang membingkai rahangku.
"Kau siapa, Laras? Katakan kau siapa? Dan aku ... aku siapa, Laras? Katakan kenapa kau harus mempercayaiku?" Aku membuang wajah. Meremas jemariku penuh kecemasan. Aku tak pernah memimpikan dalam mimpi paling buruk sekalipun bahwa aku akan menjadi seorang narapidana.
"Jangan takut, Sabta. Aku akan berusaha melepaskanmu dari jerat hukum. Aku tau pasti ada kesalahan. Aku mengenalmu dengan sangat baik." tuturnya.
Aku tersenyum kecut, menggumam dalam hati, jika saja takut adalah bentuk dari wujud rasa, aku telah mencoba menikamati itu. Rasa yang membuatku tersadar bahwa sakit ini ada dan nyata. Mengutukku dalam jiwa hampa dan  membelungguku untuk mengakui betapa lemah, kecil dan rapuhnya aku atas keadaan.
"Aku akan sering- sering mengunjungimu, jaga diri baik-baik, Sabta. Jam kunjung sudah habis. Maafkan aku, tapi aku berjanji akan membantu membebaskanmu semampuku." Gadis itu mohon diri, melangkah berat meninggalkanku hingga seorang sipir membimbingku masuk ke ruang tahanan kembali.
Hari-hari panjang kulalui di dalam sel, ditemani bayang-bayang Azhary yang selalu berputar mengitari langit mimpiku setiap malam. Ada denting luka yang menggema memenuhi rongga dada. Tak pelak kadang membuatku ingin menyerah atas nestapa. Beningnya tatap bola mata Azhary menjelma mengutukku dalam puja. Ya, aku terlalu tinggi memujanya.
Ah, Azhary ... berapa lama lagi kau siksa aku atas cinta ini? Berapa lama lagi aku harus berlayar di atas aliran derai  air mata? Berapa kali lagi kukatakan pada semesta, aku cinta ... aku cinta akan engkau ....

Komentar Buku (126)

  • avatar
    Tri andiniNabilla

    Alur ceritanya bagus

    06/07

      0
  • avatar
    FathoniAli

    bagus

    07/06/2024

      0
  • avatar
    putriMiracele

    baguss sihhh asik ceritanya

    02/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru