Tiga bulan lamanya, aku jatuh sakit setibanya di Jakarta. Hidupku hanya penuh dengan Azhary. Ada kepingan-kepingan hati yang berserakan seperti mozaik tak tersusun. Kehilangan Azhary membuat hatiku hilang bentuk. Laras dan Allana bergantian menjagaku, hingga aku menyisipkan permusuhan di balik eratnya persahabatan mereka. Aku tak sengaja. Sampai aku bertekad, aku harus bangkit. Tak ingin terpasung dalam kepedihan ini. Luka bahkan juga memiliki rentang waktu untuk sembuh, walau kutahu luka kehilangan Azhary tetap membekas hingga saat ini, meskipun telah dengan keras aku berupaya untuk temukan kata rela. Aku membasuh wajah di kamar mandi, sejenak sejuknya air meresap ke pori-pori menyegarkanku. Mataku menyasar pada segala arah. Mendengkus kasar, keluar dari kamar mandi sempit di kontrakanku. Kenapa Azhary tak pernah berhenti membayangiku? "Kau sudah bangun?" Allana tersenyum menyambutku pagi itu, "sudah merasa lebih baik? " imbuhnya. "Kau yang datang, mana Laras? " Aku menatap Allana kosong, dengan ekspresi datar. Yang aku tahu dunia terasa hampa tanpa Azhary. "Laras saja yang kau cari? Aku juga mengurusmu di sini." Tak jelas kapan gadis itu datang, dan tiba-tiba dia sudah berada di kontrakanku dengan dandanan menornya dilengkapi tas jinjing berwarna cokelat tua senada dengan atasan yang dikenakannya. "Aku tahu, maaf merepotkan. Aku berjanji suatu hari akan membalas kebaikanmu. Karena sudah sehat, akan kuusahakan mencari kerja secepatnya untuk melunasi hutang-hutangku padamu dan Laras." "Kau tak perlu membayar hutangmu padaku. Terserah jika mengenai Laras, aku tak mau ambil pusing. Tapi tentunya tak ada yang gratis di dunia ini, Sabta. " Detak jantungku berkejaran dengan waktu. Berdetak cepat tak menentu. Menerka apa yang gadis itu inginkan dariku. "Aku hanya orang kampung yang tak tahu apa-apa mengenai Jakarta. Apa maumu?" "Kau laki-laki dewasa tentunya. Aku hanya ingin katakan padamu, tak akan kubiarkan kau tertarik pada Laras ketika aku telah tertarik padamu lebih dulu." Mata gadis itu menuntut manikku untuk bertemu. Sorot tajam penuh obsesi. Apa lagi ini? "Aku mau sendiri dulu. Kumohon, beri waktu beristirahat sebentar dan jangan beri masalah. Aku sedang berupaya menyusun patahan-patahanku di sini." Gadis itu menghela napas panjang lalu tersenyum. Mengusap pipiku perlahan kemudian berkata, "cepat sehat, jika kau sudah sehat, kuharap kau mau menerima pekerjaan yang kutawarkan meskipun hanya menjadi sopir pribadiku. Setidaknya aku berniat baik padamu." Gadis itu mengambil tas jinjingnya lalu tersenyum dan undur diri. Berniat baik? Aku berdecak dalam hati. Sekarang aku tahu gadis bersurai ikal mayang itu tak pernah tulus dalam membantuku. Huh, ada udang dibalik baskom ternyata! Dan apakah Laras juga gadis yang sama dengannya? Aku hanya berharap waktu segera memberitahuku jawabannya. Bersedekap dan menyandarkan tubuh di rangka pintu, berulangkali berpikir keras. Apa maksud kalimat yang diucapkan gadis itu padaku? Seperti biasa, Laras dan Allana selalu bergantian datang untuk menjengukku. Giliran Laras, tampak bersemangat ketika aku telah mulai pulih. Ia membereskan tempat tidurku yang belum sempat kubereskan. "Tak perlu membereskannya, Ras. Aku hanya belum sempat melakukannya. Maaf merepotkanmu selama ini. Aku akan mulai cari kerja hari ini. Dan prioritas utamaku adalah membayar hutangku padamu dan Allana. Meskipun aku tau aku tidak akan bisa membalas kebaikanmu." Gadis itu masih sibuk dengan aktivitasnya. Menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Aku tak pernah pamrih dalam menolongmu, Sab. Semestinya kau tahu bahwa itulah yang diajarkan kedua orang tuaku padaku. Bukankah Tuhan juga mengajarkan kita untuk menolong orang yang sedang kesulitan? Pernah mendengar kisah tentang seorang wanita pezina yang masuk surga sebab memberi minum seekor anjing yang kehausan?" "Kau tidak mengenalku, Laras. Bagaimana jika aku bukan orang baik?" "Terserah, Tuhan selalu bersama orang-orang baik. Aku hanya berusaha menjadi orang baik dan aku berharap Tuhan selalu ada dipihakku. Itu saja." jawab gadis itu sambil tersenyum dan menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kau mau bekerja? Di kantor ayahku sedang ada lowongan pekerjaan. Apa ijazahmu?" Aku menggeleng samar. Sedikit sukar meneguk ludah. "Kau ... kau tahu tak ada apa-apa yang masih kubawa kecuali tubuhku yang tak berdaya. Tentu tak ada ijazah." jawabku skeptis. Gadis itu terpejam, menyembunyikan sklera dan manik hitamnya sesaat kemudian berdecak, "Kenapa tidak mengurus laporan kehilangan saja?"Gadis itu membalik posisinya, mengambil tempat tepat di hadapanku. "Oh, iya ... aku lupa kau tak tahu Jakarta dan tak punya siapa-siapa. Tapi tentu saja kau bisa menghubungi keluargamu untuk mengirimkan file legalisir ijazahmu?" "Aku tak punya keluarga." Kataku dengan suara tercekat. Rasanya berat sekali mengatakannya. "Kau tak bisa bekerja tanpa persyaratan itu, Sabta." "Kau tahu bahkan aku tak memiliki kartu identitas." jawabku cepat. "Aku akan mencari kerja entah jadi tukang kebun atau apa pun, Laras. Yang tak butuh ijazah," imbuhku. "Kau masih muda. Tentunya kau tak ingin merantau ke Jakarta hanya untuk menjadi kacung atau tukang kebun, bukan? Aku tahu di kantor ayahku juga bukan pekerjaan yang bagus, Sabta. Tapi setidaknya aku sudah mencoba menawarkannya. Hanya sebagai seorang office boy, tak cocok dengan wajah tampanmu. Tapi aku bisa membicarakannya dengan ayah agar menerimamu di sana tanpa ijazah, akan kuusahakan ayah menerimamu. Hanya pekerjaan itu yang bisa kuupayakan untukmu." Manik hitam gadis itu menyorot wajahku tampak serius. Aku tertunduk, rasanya malu karena merasa menjadi sosok yang lemah. "Kenapa kau membantuku, Laras?" "Karena aku tau kau orang baik. Entahlah, aku hanya mengikuti instingku. Oh ya, besok kita bisa coba ke kantor ayahku. Sepulang dari sini aku akan bicara dengan ayah." "Allana juga menawarkan pekerjaan padaku, sebagai sopir pribadinya." tukasku dengan tatapan kaku. "Kau menerimanya?" Ia meletakkan selimut yang baru saja ia lipat di sisi bantal, menatapku sekilas lalu melanjutkan perkataannya, "maksudku, terserah kau jika mau menerima pekerjaan itu. Kau berhak memilih." Sekelebat kalimat Allana menyapa benakku, gadis itu tak tulus. Bukankah sebaiknya aku menerima saja tawaran Laras? Tanpa pikir panjang kuhela napas panjang meyakinkan diri. " Aku menerima tawaranmu, Ras." Gadis itu tersenyum sembari menepuk bahuku. "Boleh pinjam ponselmu sebentar?" Pintaku. Ada rindu yang begitu dalam kurasakan untuk Azhary. Apa kabarnya sekarang? Aku ingin mendengar suaranya. Apakah ia merindukanku seperti aku merindukannya? Sungguh, aku boleh diajarkan apa pun, asal bukan tentang tanpanya. Dan aku tak pernah ingin tanpanya sekalipun aku yang memilih pergi. Laras mengangsurkan ponselnya ke atas nakas. Menunjuknya dengan bola matanya. Kupejamkan mata sejenak, nomor yang masih begitu kuingat dan tercetak jelas dalam ingatan itu kuketik di layar ponsel. Kuletakkan benda pipih itu di telinga. Tanpa bersuara kudengar kalimat 'halo' itu dengan jelas. Suara yang begitu kurindukan. "Ini siapa ya?" Lidahku kelu, tak ada suara sanggup keluar dari mulutku, setitik air mata meluncur dan meninggalkan jejak basah di pipiku. Setiap kalimat yang mengalir seolah menggores hatiku sangat dalam, menciptakan luka pedih tak berdarah namun mampu membuatku gundah. Azhary, aku sangat merindukanmu ... Sejenak suara itu berucap kembali. Menanyakan siapa yang sedang menelpon sampai ia memutuskan sambungan telepon karena aku tak lekas menjawab sepatah pun. Laras memperhatikanku saat kusodorkan padanya telepon genggam itu. "Sudah?" tanyanya singkat. Aku mengangguk. Tak menyembunyikan raut ingin tahu, gadis itu menatapku sembari mengembalikan ponsel ke dalam tas. "Gadismu?" Netra itu mengguratkan rasa penasaran. Aku menggeleng, tapi juga mengangguk. Kuusap sisa air mata yang tersisa. "Entahlah, aku tidak tahu dia gadis siapa." jawabku pesimis. "Azhary?" Gadis itu menerka dengan menarik garis lengkung di bibirnya. "Dari mana kau tahu?" "Kau menyebut namanya sepanjang bangun dan tidur saat kau sakit. Melarikan diri dari cinta, lalu pergi ke Jakarta? Ah, kenapa bersikap seperti pecundang? Kalau cinta, perjuangkan ... Sabta." "Biarlah jadi pecundang, kau tak tahu apa-apa, jadi berhentilah menghakimi. Aku tak butuh penghakiman atau pendapatmu." Gadis itu mendengkus. "Aku pernah merasakannya. Ditinggalkan pada saat aku begitu memujanya. Dan itu menyakitkan. Jangan mentang-mentang kau tampan kau bisa melakukan hal itu pada perempuan, Sab." Aku menyamembunyikan kekesalan, menanggalkan rona wajah lalu tersenyum kecut. Sialan, gadis itu sedang memujiku atau mengolokku? Oke, aku tak peduli, setidaknya, dia bilang aku tampan. Dan apakah gadis itu mendekat dan membantuku dalam banyak persoalan hanya karena memuja sebuah ketampanan? Entahlah, jika boleh jujur aku muak menjadi sosok ini. Sosok Sabta yang begitu banyak digandrungi kaum hawa tapi tak pernah bisa mengikis seorang saja yang telah mendiami hatiku cukup lama. Azhary Agyata. Pecundang? Ya ... Laras benar, aku hanya seorang pecundang. Aku bahkan tak berani berdiri di hadapannya sambil berkata aku mencintainya. Tidak, bahkan untuk memikirkannya saja aku sudah merasa tak pantas. Aku tak berhak. *** Keesokan harinya aku datang ke kantor ayah Laras bersama gadis baik bermanik legam itu. Kantor yang bergerak di bidang perindustrian tekstil itu memang tak terlalu besar. Tapi berkat Laras aku diterima bekerja di sana walaupun hanya sebagai seorang pengepel lantai yang berseragam orange seperti tahanan KPK. Aku tersenyum lesu. Setidaknya aku punya pekerjaan sekarang, dengan gaji lumayan sesuai UMR. Setidaknya aku tidak akan merepotkan Laras lagi. Hari pertama bekerja tak terlalu banyak kendala yang kulalui. Aku sangat bersemangat meskipun kurang paham apa saja yang harus kukerjakan. Tapi rekan-rekanku tak sungkan membagikan masukan, apa-apa saja yang mesti kulakukan. Aku hanya anak kuliahan yang tak berbekal pengalaman apa pun. Aku mengambil mata kuliah pertanian dan belum lulus. Ya, aku pria kampung biasa yang memiliki mimpi untuk memajukan pertanian di kampung halamanku, lalu kurajut masa depan dengan gadis pujaanku nanti. Betapa aku begitu excited dengan mimpi-mimpi itu. Namun semua rasa itu secepat kilat seperti terkutuk untuk jiwaku. Hilang terenggut begitu saja tanpa aku mampu menahannya. Terjadi saat bahtera yang kubangun susah payah dengan Azhary itu porak poranda. Pilar-pilar kokoh yabg menyangga mahligai mimpi itu runtuh hingga hilang bentuk, remuk. Dan kini aku sedang berusaha menyusun kepingan-kepingan yang masih bisa kusatukan. Meski aku tak tahu lagi dari mana aku harus mulai menata kepingan itu kembali karena tak mungkin lagi kembali utuh. Ada bagian-bagian yang hilang. Bagian terpentingnya, Azharyku. Sepulang kerja Laras sudah menungguku di kontrakan, sudah membuatkan aneka masakan untuk makan malam. Apakah seperti ini rasanya jika suatu saat nanti aku sudah menjadi seorang suami? Tapi tentu saja, aku menghayalkan Azhary di sana. Tak ada sedikit pun keinginan untuk menyimpan Laras Mahadewi sebagai kriteria calon istri. Tidak, aku bahkan tak banyak mengenalnya. Laras tetap menjadi malaikat tak bersayap sekali lagi. Memberikan aku beberapa lembar uang merah lalu berkata, "kau bilang tak mau merepotkan. Tentu saja kau bisa menggantinya nanti saat kau gajian. Tak banyak, kuharap cukup. Kau bisa berusaha mencari tambahan lain jika kau merasa itu kurang untuk satu bulan. Kau harus belajar mengandalkan dirimu sendiri karena kau seorang pria, Sab." Ia menguncir rambutnya ke belakang, "sudah kumasakkan tadi, kuharap kau suka. Mungkin setelah ini aku tak akan lancang memasak untukmu. Harusnya laki-laki pertama yang akan mencicipi masakanku adalah suamiku. Tapi kau memaksaku memasak karena aku tak tega melihatmu kelaparan nanti. Kau sudah sehat sekarang, jadi kupikir kau tidak membutuhkanku lagi. Tapi kau tetap kawan baikku." Masih dengan senyum manisnya, gigi depannya yang renggang tampak begitu manis. Ah, sialan ... memangnya siapa yang akan terlihat lebih manis dari Azhary? Tentu saja tak ada. Aku meliriknya sekilas lalu berkata, "terima kasih, Laras. Sudah menjadi orang yang selalu ada untukku." "Tak perlu sungkan, anggap saja aku sahabatmu." Gadis itu tersenyum sembari menepuk pundakku lalu mohon diri. Aku mendengkus lelah. Banyak sekali yang kupikirkan saat aku sedang sendiri. Tentunya pikiran-pikiran itu semakin menganiayaku dalam sunyi. Hari tanpa Azhary itu begitu berat, sangat berat. Jika boleh memilih, sungguh ... aku tak ingin melaluinya. Bayangan Azhary muncul lagi, susah sekali untuk tidur meskipun waktu telah lewat dini hari. Kali ini Azhary menjelma di langit-langit kamar yang kutatap. Bangkit sejenak dari tempat tidur, terbaring lagi. Azhary lagi ... kupejamkan mata, membukanya kembali dan Azhary lagi. Aku menggerutu, padahal aku tak sedang mabuk. Mengapa dia selalu mengacaukan pikiranku dengan aneka rupa halusinasi? kumatikan knop lampu, siapa tahu keadaan gelap akan sedikit membantu. Namun tetap saja Azhary masih terlihat jelas di sana. 'Trek' Kupencet lagi knop lampu. ruangan terang kembali. Aku mengacak rambutku frustrasi. Menghela napas panjang kuat-kuat, mengambil banyak oksigen untuk memenuhi paruku yang terasa sesak. Jiwaku tercabik perih, sulit sekali melupakannya meski telah kucoba dengan keras agar aku bisa lupa. Bersandar pada tembok pucat yang catnya mulai pudar. Membentur-benturkan kepalaku sejenak ke dinding. Berharap Azhary segera enyah dari kepalaku. Tapi aku hanya mendapatkan rasa pusing. Azhary tetap bergeming di sana. Kenapa kau tak mau pergi? Kenapa betah sekali berlama-lama lari-lari di pikiranku dan mengacak-acak hatiku lagi? Seandainya kau tau, aku tak pernah baik-baik saja tanpamu. Apakah kau juga merasakan hal yang sama? Seberapa besar? Seberapa besar kau mencintaiku, Azhary? Jika kau bersamaku, tentu kau akan marah karena aku masih mempertanyakan mengenai hal ini. Namun aku tak yakin kau mencintaiku sebanyak yang kupunya untukmu, karena aku hanya seorang pecundang. Tapi demi Tuhan, aku gila tanpamu, aku tak pernah ingin kehilanganmu.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Alur ceritanya bagus
06/07
0bagus
07/06/2024
0baguss sihhh asik ceritanya
02/06/2024
0Lihat Semua