logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 19 Bertemu Ayah

"Astaga, Nona? Apa yang terjadi?" kaget bibi ketika membukakan pintu yang diketuk.
"Nggak papa, Bi. Semuanya sudah baik-baik saja," ujar Luther yang tidak ingin membuat bibi ikut khawatir.
"Aduh, mangkanya Bibi tadi merasa nggak enak. Kalau tahu gini, Bibi larang Nona keluar malam-malam."
"Nggak papa, Bi. Tolong ambilkan air putih."
Luther membawa Yonna duduk di sofa, masih dengan posisi yang saling memeluk.
"Jangan kaya gitu lagi, ya?" pinta Luther lembut.
"Maaf. Aku memang bodoh, suka ambil keputusan mendadak, suka mengejar risiko-"
"Sstt! Nggak boleh ngomong gitu, cantik. Kamu nggak bodoh, semua itu nggak bener. Okay?"
"Tapi-"
"Sudah." Luther melirik bibi yang datang membawakan air putih, "Minum dulu," pintanya kemudian.
"Jangan ke mana-mana," tahan Yonna saat merasa Luther hendak melepaskan pelukan mereka.
"Aku nggak ke mana-mana. Kamu mau pindah? Badan kamu bisa sakit kalau gini terus."
"Nggak mau! Mau di sini aja, sama kamu. Nanti kalau aku lepas, kamu pergi lagi." Yonna menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luther.
"Aku nggak mungkin lakuin itu, Yonna. Selama aku hidup, aku akan terus berusaha untuk tetap ada di sisi kamu."
"Jangan tinggalkan aku lagi," lirih Yonna, hampir tidak terdengar.
"Iya, nggak akan. Aku minta maaf sudah bikin kamu menunggu."
Bibi datang dari kamar Yonna, membawakan selimut untuk Nonanya. Melebarkan selimut, bibi menutupi tubuh Yonna.
"Terima kasih, Bi," ucap Luther.
"Iya, Nak Luther. Sebenarnya Nona kenapa?" tanya bibi yang masih ingin tahu apa yang terjadi.
"Nanti Luther cerita, Bi."
Mengangguk paham, bibi pamit ke dapur.
Tidak mendengar suara apa pun selain deru napas yang teratur, Luther yakin kalau Yonna sudah tertidur.
Meraih benda di dari dalam tas yang selalu dia bawa, Luther berpikir akan mengurung niatnya malam ini. Kemudian memberikannya kepada Yonna besok pagi saja. Tidak mungkin Luther tega membangunkan Yonna dari tidurnya di hari yang berat ini.
/////
"Lu-Luther? Ini … Ini serius?"
Yonna yang baru terbangun dibuat terkejut oleh Luther. Pasalnya ketika beberapa menit membuka mata, ia mendapati Luther yang menyodorkan sebuah cincin. Lalu, dengan lugas Luther menyampaikan bahwa laki-laki itu ingin menikahinya setelah mereka lulus.
"Apa aku terlihat sedang bercanda, cantik?"
Melebarkan mulutnya, Yonna masih berpikir kalau ia tengah bermimpi.
"Jangan bercanda, aku mimpi, 'kan? Aduh, bangun!" Yonna memukul-mukul kepalanya, tetapi langsung ditahan oleh Luther.
"Berhenti nyakitin diri kamu sendiri, Yonna. Tolong! Aku serius dengan perkataanku. Mau aku ulangi lagi?"
"Luther, kamu?"
"Maukah kamu menjadi milikku selamanya? Bahagia dan duka akan kita lalui bersama, selamanya."
Tidak sanggup berucap sepatah kata pun, Yonna langsung menyerang Luther dengan pelukan yang sangat erat. Mengangguk cepat sembari berucap, "Iya, aku mau!"
"Terima kasih." Luther memasangkan cincin yang sudah disiapkannya sejak lama, dan selalu dia bawa.
Sudah dari dua bulan lalu Luther ingin melamar Yonna, tetapi dengan kesibukan dan kejadian-kejadian yang kerap mereka temui, rencana Luther harus diundur.
Setelah hari-hari yang dia ambil untuk memikirkan semuanya, akhirnya Luther memutuskan bahwa dia akan melamar Yonna secepatnya. Dia tidak menyalahkan Yonna atas kesalahpahaman mereka sebelumnya, Luther hanya merasa terluka dan kecewa atas apa yang terjadi.
Karena tidak ingin sampai emosinya meluap dan justru berimbas pada Yonna, Luther memilih untuk menjaga jarak. Meminta waktu untuk menenangkan juga memikirkan secara keseluruhan, mengenai dampak atas setiap pilihan yang mungkin akan dia ambil.
"Setelah ini, fokus sama sekolah. Jangan mikir ke mana-mana dulu. Kalau memang kamu mau lanjut pendidikan, aku bisa biayain kamu. Aku sudah siapkan semuanya, tabunganku juga sudah banyak. Kamu nggak perlu khawatir soal uang."
Yonna menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau kuliah, kau mau fokus sama pernikahan kita aja. Nanti aku bakalan bantu kamu kerja, nggak papa, 'kan?"
Luther tersenyum hangat mendengar ucapan Yonna. "Apa pun yang kamu inginkan, selama itu nyaman, aku akan setuju."
"Kamu memang yang terbaik."
"Sekali lagi, maaf. Kemarin aku sempat bikin kamu drop, aku juga nggak nyangka butuh waktu selama itu untuk nenangin diri."
Yonna menipiskan bibir, lalu menggelengkan kepalanya lagi. "Nggak papa, yang penting sekarang kamu sudah kembali. Aku bakalan hidup sama kamu selamanya!"
Luther terkekeh kecil menyaksikan tingkah Yonna yang penuh semangat. Tidak lama, mereka mendengar teriakan dari beberapa perempuan.
"Kyaa! Apa ini? Astaga, mataku ternodai! Kalian?!"
Yonna menoleh ke arah pintu masuk, di sana berdiri Malilah, Akia, dan Petunia.
"Kalian?" Dengan gugup, Yonna turun dari pangkuan Luther, pipinya memerah menahan malu.
"Apa yang sudah kami lewatkan? Sepertinya banyak yang terjadi," ucap Akia.
"Hehe, masuk dulu," pinta Yonna.
Luther mengatur ekspresi wajahnya menjadi datar, melipat selimut, lalu izin ke belakang.
"Yonna, sebenarnya apa yang terjadi?"
Bukan raut bahagia atau penasaran yang Malilah tunjukkan, melainkan raut khawatir diiringi kerutan di dahi.
"Pagi tadi, Petunia cerita ke kita. Kenapa kamu tidak pernah cerita? Kami ada di sini, Yon. Selalu di sini untuk kamu."
Yonna menatap Akia, merasa bersalah.
"Aku cuma nggak mau menyusahkan kalian."
Mendesah frustrasi, Malilah memajukan badannya. "Menyusahkan apa sih, Yon? Kau itu sudah seperti saudara, kita di sini keluarga. Nggak ada yang salah dengan kau yang mau cerita, curhat, minta bantuan, atau apalah itu."
"Iya, Yon. Justru, kalau kamu menutupi masalah kamu seperti ini, kami justru merasa gagal menjadi sahabat, saudara, keluarga bagi kamu."
"Nggak, aku minta maaf. Kalian itu sudah sangat baik sama aku, malah aku yang sering nyusahin kalian. Aku minta maaf karena nggak ngomong ke kalian dari awal, aku minta maaf."
Akia membuang napasnya panjang. "Lain kali, kalau kamu ada apa-apa, langsung saja hubungi kami. Jangan pernah terpikir lagi untuk melakukan hal seperti tadi malam, kami semua sayang sama kamu. Tidak ada yang mau meninggalkan kamu, Yonna. Kami semua ada di sini."
"Maafkan, aku. Aku salah, maaf sudah mengecewakan kalian." Yonna berlari memeluk ketiga sahabatnya, termasuk Petunia.
"Nona …," rengek bibi dari arah dapur.
Sepertinya Luther sudah menceritakan apa yang terjadi tadi malam, melihat mata bibi yang berair. Melepaskan pelukannya, Yonna beralih memeluk bibi.
"Ya, ampun, Non! Bibi mohon, jangan seperti itu lagi. Bibi nggak sanggup kalau harus kehilangan Nona. Siapa lagi yang harus Bibi urus?"
"Maafkan Yonna, Bi."
"Yonna!"
Panggilan itu bukan berasal dari Bibi, sahabatnya, apalagi Luther. Tetapi dari seseorang yang selama ini Yonna tunggu kepulangannya.
"Mama?"
"Ayo!" Yulissa memegang pergelangan tangan Yonna, menyeretnya keluar.
"Ma?! Aduh, sakit, Ma!"
"Ikut Mama, cepat!" Yulissa terus menarik Yonna, mengabaikan tatapan terkejut dari teman-teman juga Bibi di sana.
"Ma, kasih tahu Yonna. Ini kenapa tarik-tarik, Yonna? Kita mau ke mana?"
"Jangan banyak bicara, Yonna!" bentak Yulissa di depan pagar, taksi sudah terparkir di luar halaman rumah.
Tersentak, Yonna terkejut mendapati sang mama baru saja membentaknya. Ini kali pertama Yulissa bertindak seperti itu.
"Ma?" lirih Yonna.
Sadar akan tindakannya, tubuh Yulissa meluruh ke aspal. Tangis yang sedari tadi ditahan, akhirnya tumpah seluruhnya.
"Ma … Sebenarnya ada apa? Mama baru pulang, kenapa mau pergi lagi?" Yonna menyeret langkahnya mendekati Yulissa.
Menatap anaknya, Yulissa membiarkan air matanya terus mengalir. "A-ayahmu …," lirihnya sembari menggenggam tangan Yonna.
"Ayah kenapa?"
Melirik ke belakang tubuh anaknya, Yulissa melihat kesemua teman Yonna ikut menunggu dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Luther memasang wajah khawatir juga penasaran.
Menyapu wajah basahnya, Yulissa kembali menarik Yonna memasuki taksi. "Ikut Mama!"
"Tapi ke mana, Ma? Jangan bikin Yonna takut!"
"Ikut saja!" Usai menutup pintu, Yulissa memerintahkan sang sopir mulai berkendara.
"Ma?" panggil Yonna berharap mamanya akan menjelaskan apa pun itu.
"Ya, Tuhan. Apalagi ini?" Bibi menatap ke mana taksi itu mengarah.
"Luther, ki- Luther?! Mau ke mana?" Malilah berteriak bertanya, sebab Luther sudah menaiki motornya serta helm yang sudah terpasang.
"Mengikuti mereka!" balas Luther.
Merasa itu ide yang bagus daripada menunggu sampai Yonna kembali, akhirnya Malilah meminta Akia dan Petunia memasuki mobilnya.
"Kita susul juga. Bi, mau ikut?"
"Kalau Bibi ikut, nggak ada yang jaga rumah, Nak. Yang lain pada ambil cuti. Kalian saja yang pergi, tapi langsung kabari Bibi, ya?"
"Iya, Bi. Nomornya masih sama, 'kan?" Malilah memasang sabuk pengaman.
"Iya, Nak. Hati-hati!"
Melajukan mobilnya, Malilah mencoba mengejar Luther. Entah bagaimana Luther bisa hapal taksi mana yang dinaiki Yonna, yang penting mereka berhasil mengikuti Yonna.
"Apalagi ini?" keluh Akia yang belum tenang dari rasa terkejutnya, justru kembali dibuat pusing dengan mama Yonna yang tiba-tiba membawanya pergi.
"Aku nggak habis pikir sih, sama Tante Yul. Baru juga datang sudah main tarik-tarik Yonna. Mana kita nggak tahu lagi, bakal dibawa ke mana tuh, Yonna." Malilah mengerutkan keningnya tidak suka.
"Kita juga tidak bisa mengalahkan Tante Yulissa, Lil. Sabar saja, ikuti mereka, nanti juga kita tahu."
Melirik Petunia yang sedari tadi diam melalui cermin spion dalam mobil, Malilah berbicara, "Petunia, dari tadi kau diam aja. Ada apa?"
Menundukkan kepalanya sebentar, Petunia menjawab, "Sa-saya tidak tahu ha-harus mengatakan a-apa, Lil. Saya juga ka-kaget."
Malilah bergumam sebagai respons, lalu kembali fokus pada kemudinya. Hampir kehilangan Luther, ia berhasil menemukannya lagi.
"Ma, kita ke mana sebenarnya?"
Bukannya menjawab, Yulissa menggenggam tangan anaknya. Menatap wajah Yonna, lalu air matanya kembali tumpah.
"Ma. Bilang sama Yonna, ada apa? Kenapa Mama nangis terus?" Yonna menyeka air mata di pipi sang mama.
Memeluk Yonna, Yulissa hanya meminta anaknya untuk sabar, menunggu sampai tiba di tempat tujuan. Sedangkan Yonna yang bingung sekadar mengangguk.
"Kenapa ke sini?"
"Pelan-pelan," pinta Yulissa agar Yonna memperhatikan langkahnya di jalan tersebut.
"Ma!" desak Yonna yang sudah tidak sanggup menahan keingintahuannya.
Tiba di satu gundukan tanah, Yonna meluruhkan air matanya melihat sebuah nama tertera di sana. Karlo Tanu.
"Maksud Mama apa bawa Yonna ke sini?" tanya Yonna tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mama pulang dari luar negeri, kemarin. Sengaja belum kabari kamu, karena Mama mau ketemu seseorang dulu. Ayah kamu," ucap Yulissa mulai bercerita.
Yonna terduduk, memastikan gundukan tanah itu asli sembari mendengarkan kalimat-kalimat sang mama.
Yulissa terisak mengingat bagaimana ia melihat sang mantan suami tergeletak tanpa nyawa.
"Apa Ma?" Yonna meremas tanah yang masih basah tersebut.
"Mama jangan diam gini!"
"Waktu Mama sampai di rumah selingkuhan Ayah, di sana banyak sekali orang berkumpul. Mama pikir Ayahmu sedang membuat sebuah acara atau apa, tapi ketika Mama mendekat. Genangan darah ada di mana-mana, Yon! Di sana, tepat di pintu masuk, Ayah kamu terbaring. Kondisinya serupa dengan selingkuhannya itu, penuh darah dan tidak- tidak lagi bernapas." Yulissa mendapati anaknya terdiam menatap nama mantan suaminya terukir pada sebuah kayu.
"Mama bohong, 'kan?" cicit Yonna menatap kosong nama sang ayah.
Dari belakang, Luther bersama teman-teman Yonna yang baru sampai mulai menduga apa yang terjadi. Malilah menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, memejamkan matanya menahan agar air mata tidak keluar.
Luther bergeming, matanya hanya fokus pada satu objek. Yonna.
"Mama bohong, 'kan?!" teriak Yonna yang tiba-tiba berdiri.
"Nak, Mama juga berharap semua ini bohong!"
Dengan napas yang tidak teratur, Yonna melirik gundukan tanah tersebut sekali lagi.
"Arrgh!! Kenapa?! Kenapa harus gini, hah?!" Yonna menarik-narik rambutnya.
Menyaksikan kondisi wanitanya, Luther berlari memeluk Yonna. Meski kekasihnya itu menolak dan terus memberontak ingin melepaskan diri.
Yulissa kian terpukul melihat Yonna yang terus meraung keras menolak kabar duka tersebut. Dirinya saja tidak sanggup menerima fakta akan kematian Karlo yang di luar dugaan, apalagi Yonna sebagai anaknya. Belum selesai kabar perceraian mereka, mantan suami Yulissa itu justru kehilangan nyawa akibat kasus penembakan yang mulai merajalela.
"Nggak mungkin! Aku- aku memang marah sama Ayah, tapi bukan berarti aku mau Ayah mati! Argh! Kenapa dunia itu nggak pernah adil!!"
"Yonna," panggil Luther menciumi puncak kepala Yonna.
"Kenapa kabar buruk ini nggak ada habis-habisnya, sih?! Aku salah apa?! Salahku apa?!"
"Nak, kamu nggak salah. Nggak ada yang salah di sini, bukan kamu. Jangan salahin diri sendiri," bujuk Yulissa meraih pundak anaknya.
"Terus siapa yang salah? Kenapa kita yang dapat nasib buruknya?!"
"Ssh, itu nggak benar, Nak."
"Aargh!" teriak Yonna menyalurkan segala emosinya.
Meminta Luther melepaskan pelukannya, Yulissa beralih memeluk Yonna. Mengelus punggung anaknya, menyalurkan ketenangan yang tersisa dalam dirinya.
Merasakan pelukan hangat sang mama, Yonna menumpahkan semua air matanya. Terus bertanya kenapa ia harus menerima semua ini. Duka yang menyapa beriringan, seakan tidak ingin memberi ruang untuk beristirahat. Atau setidaknya melarikan diri.
"Kita pulang, ya? Bentar lagi hujan," tawar Yulissa.
Menggelengkan kepalanya dalam pelukan Yulissa, Yonna membalas, "Yonna masih mau di sini, Ma. Sebentar lagi."
"Mama temani."

Komentar Buku (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru