"ADA POLISI!!!" Teriakan nyaring itu menggema di gang kecil ini. Michael terkejut mendengar suara yang dikenalnya. Benar saja, dia melihat sosok Alvin yang gemuk memegang kantong belanja di kedua tangannya, berdiri dengan berani tak jauh dari mereka. Untuk sesaat, Michael ingin mengagumi keberanian anak ini. Kelompok yang memukuli Michael juga tercengang. Mereka sangat kesal karena diganggu tapi ketika melihat wajah gemuk yang cemberut itu, mereka tidak bisa bereaksi beberapa saat. Saat itulah Michael mencuri kesempatan untuk menelepon Raven dan Evan untuk meminta bantuan. Raven dan Evan berada tidak jauh dari sini, jadi mereka segera muncul. Sementara orang-orang itu terkejut untuk kedua kalinya karena kedatangan Raven dan Evan, Michael segera menerobos kerumunan untuk menghampiri Alvin. Dia sangat panik melihat Alvin tergeletak tak bergerak. Melihat Michael yang cemas, Raven menyuruhnya bergegas. "Kau pergilah. Yang disini serahkan saja padaku dan Evan." Michael mengambil motor tua nya yang tergeletak disisi jalan dan memacu nya untuk membawa Alvin ke klinik secepat mungkin. Michael baru lega ketika dokter yang memeriksa Alvin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan anak itu, dia hanya mengalami shock. Setelah Michael menyelesaikan perawatan dirinya sendiri, dia membawa Alvin yang belum sadar pulang kerumahnya. - Setelah Michael meletakkan Alvin di sofa usang miliknya, dia bergegas ke dapur untuk memasak sesuatu. Dia baru ingat bahwa dia tidak memiliki apa-apa selain beras dan beberapa telur. Akhirnya dia membuat bubur nasi polos kemudian merebus telur. Sementara menunggu telur matang, dia pergi membersihkan diri. Michael sudah selesai mandi ketika dia mendengar beberapa gerakan dari ruang tamu. Dia keluar dari kamar mandi, menemui Alvin yang terlihat gelisah. "Kau sudah bangun? Bagaimana perasaan mu? Kau baik-baik saja?" Alvin mengangguk. "Baguslah. Jangan khawatir, ini adalah rumahku. Kau aman sekarang. Aku akan menyiapkan makanan sebentar lagi. Apa kau ingin mandi dulu?" tanya Michael. Alvin yang belum sepenuhnya sadar, mengangguk. Dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Namun, dia tidak menemukannya. Barulah dia menyadari bahwa ini bukan rumahnya. Melihat anak gemuk yang canggung itu, Michael tidak bisa menahan tawa. "Kamar mandinya disini." Setelah Alvin keluar dari kamar mandi, hidangan sudah tersedia dimeja. Hidangannya sangat sederhana. Hanya bubur nasi dengan telur rebus. "Makan dulu." Michael berkata sambil menyerahkan sendok pada Alvin. "Uh ... oke." Alvin menerima sendok darinya. Alvin menyendok bubur dan memakannya. Namun dia tersedak. Dia tidak tau bahwa bubur masih sangat panas. Michael duduk di sofa dihadapan Alvin. Melihatnya tersedak, dia sedikit tersenyum pahit. "Tidak enak, ya?" Alvin buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak. Buburnya enak. Hanya saja aku memakannya dengan terburu-buru. Lagipula ini masih panas." "Santai saja, tidak perlu terburu-buru." Dia berkata dengan ramah. Alvin menatap Michael. Di pipi kanan dan dahinya ada luka gores. Dia telah menutupinya dengan plester. Sementara pipi kirinya lebam. Ada juga beberapa luka di kedua lengannya. Barulah Alvin mengingat apa yang terjadi sebelum pingsan. Michael berkelahi dengan orang-orang itu. Dan akhirnya dia juga dipukul, lalu pingsan. Alvin tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Begitu bangun, sudah berada disini. Alvin mengulurkan tangan ke kepalanya dimana dia dipukul sebelumnya. "Jangan khawatir, itu hanya memar. Tidak ada luka yang parah." Kata Michael. "Eh? Tidak parah?" Melihat kebingungannya, Michael tertawa kecil. "Orang itu memukulmu cukup keras, tapi kau tidak cedera serius. Sangat hebat." Alvin memutar mata. "Apa yang hebat?" "Pikirkan saja. Orang normal, jika terbentur di kepala, pasti akan terluka. Apalagi dipukul dengan sengaja, kebocoran tidak dapat dihindari. Tapi kau hanya mengalami sedikit memar. Bukankah itu hebat?" "...." Hanya saja, Alvin tidak tahu bahwa Michael juga sangat cemas sebelumnya. Dia awalnya takut Alvin mengalami cedera otak namun ketika melihat dia sadar dan baik-baik saja, dia tidak bisa tidak mengucapkan rasa syukur. Michael tidak ingin kekhawatirannya diketahui. Dia menyuruh Alvin menghabiskan buburnya, sementara dia duduk sambil memainkan ponselnya. Alvin memakan buburnya dengan canggung. Sesekali dia melihat sekeliling ruangan. Semakin dia melihat, semakin besar rasa iba tumbuh di hatinya. Yang disebut rumah, hanyalah sepetak ruangan yang kecil yang kumuh. Ruang tamu tempat mereka berada sekarang, hanya memiliki beberapa perabot. Sofa, meja, kipas angin, yang semuanya sudah usang. Disudut dekat jendela, ada meja belajar dan beberapa buku komik berjajar diatasnya. Ruang dapur terhubung dengan kamar mandi. Sementara ruang satu lagi, Alvin menduga itu adalah kamar tidur. Rumah kecil itu berantakan, bahkan kamar mandinya, memiliki banyak pakaian kotor yang menumpuk di bak cuci. Satu-satunya tempat yang rapi hanyalah meja itu. "Terima kasih," kata Michael berkata. Tatapannya masih melekat di layar ponselnya, tetapi kata-katanya ditujukan pada Alvin. Alvin tersentak. Tiba-tiba dia merasa malu karena memperhatikan rumah orang lain. "Terima kasih untuk apa?" "Berkat kamu, aku bisa memanggil bantuan." "Oh ... ya ... itu bagus." Alvin tidak tahu bagaimana merespon. Dia merasa agak canggung. Michael meletakkan ponselnya di saku celananya. Dia meluruskan punggungnya, berbicara dengan nada yang serius. "Tapi lain kali kau tidak perlu melakukan hal seperti ini" "Aku mengerti." Alvin diam sejenak sebelum memberanikan diri bertanya. "Lalu, aku ingin tahu bagaimana kita bisa selamat?" Sepertinya kata-kata nya agak kurang pas, tapi dia sudah terlanjur mengucapkannya. "Seperti yang sudah kukatakan, aku memanggil bantuan." Oh benar, dia sudah mengatakannya tadi. "Kalau begitu ... bisakah aku tahu mengapa orang-orang itu memukulmu?" Alvin melihat keengganan di wajah Michael. "Tidak apa-apa jika tidak ingin memberitahu." "Mereka dikirim oleh seseorang." Michael menjawab setelah jeda cukup lama. Alvin tercengang. Jawaban Michael hanya membuatnya ingin menanyakan lebih banyak hal. Michael tahu Alvin hanya akan bertanya lagi. Jadi, dia mengalihkan pembicaraan. "Habiskan dulu makanannya. Aku akan mengantarmu nanti." Selesai mengatakan ini, Michael beranjak ke kamar tidur. Alvin tidak membantah, menghabiskan bubur di mangkuknya secepat mungkin. Lima menit kemudian dia keluar. Dia telah berganti pakaian bersih. Alvin tidak henti-hentinya mengagumi. Pesona orang tampan memang beda, apapun yang dikenakannya. Dia melirik Alvin sekilas sebelum berjalan menuju pintu depan. Alvin mengikutinya. Alvin akhirnya melihat lingkungan asli dari tempat ini. Rumah barusan berupa rumah kontainer. Di area sekitar banyak mobil dan kendaraan yang sudah usang berjajar. Ini lebih tepat disebut sebagai tempat penimbunan kendaraan bekas. Michael mengambil motornya yang terparkir disisi rumah. Motor itu sudah tua, dan suaranya berisik. Tapi ketika Michael naik diatasnya, tiba-tiba terlihat tidak seburuk itu. Michael menyuruh Alvin naik di sepeda motornya. Motor tua itu membawa mereka keluar dari area penimbunan mobil bekas. Keluar dari gerbang dan menyusuri jalan sunyi. Alvin baru tahu tempat ini hampir berada di pinggir kota. Sepanjang jalan hanya ada rumah-rumah dan gedung kecil. Setelah mengendara sekitar sepuluh atau lima belas menit, barulah mereka masuk ke lingkungan yang lebih ramai. Michael mengantarnya hingga didepan apartemen. Alvin turun dan berterima kasih padanya. Ketika Alvin akan berjalan masuk, Michael memanggil. "Kau melupakan ini." Dua kantong plastik penuh belanjaan. Benar, Alvin melupakan hal penting ini. Alvin tidak menyadari bahkan sejak awal dua kantong plastik ini sudah duduk dengan nyaman di motor tua Michael. Alvin menggaruk belakang kepalanya, malu. Sekali lagi dia berterima kasih padanya. Setelah menyerahkan belanjaan, Michael segera melajukan motornya ke tengah kota. Alvin memandang nya hingga dia menghilang di persimpangan. * Beberapa hari setelah itu, Alvin menjadi lebih jarang melihat Michael. Hanya sesekali berpapasan dengan Evelyn. Berkali-kali dia bertanya apakah Michael baik-baik saja, tapi Evelyn selalu menjawab dengan dingin. Dia bilang, Michael baik-baik saja atau tidak, tidak ada hubungannya dengan Alvin. - Hari itu Alvin disuruh oleh guru untuk mengembalikan sekeranjang bola ke ruang olahraga. Ryan dan teman-temannya muncul dari salah satu ruangan dan kebetulan mereka melihat Alvin. Ryan menghampirinya sambil tersenyum. Dia meletakkan tangannya dipundak Alvin, seolah Alvin dan dia sangat akrab satu sama lain. "Lama tidak bertemu, kawan. Bagaimana jika kita bermain sebentar?" ***
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 27 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian β£ 0 Poin
Komentar Buku (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
04/06/2022
Β Β 3bagus banget kak
13/06/2025
Β Β 0bagus bnget novel nyaa KA hhuuπ₯²
03/06/2025
Β Β 0Lihat Semua