Keesokan harinya Alvin tidak masuk sekolah. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan mati rasa. Jadi ketika ibunya menyuruh istirahat di rumah, Alvin setuju tanpa berpikir. "Istirahat saja dengan benar. Olahraga berlebihan secara tiba-tiba memang tidak baik untuk tubuh. Terlebih lagi kamu yang jarang olahraga." Ibunya mengomel. "Iya, bu. Aku tahu." "Ibu sudah menyiapkan makan siang untukmu. Kau harus memanaskannya nanti." "Iya, bu" "Baiklah, ibu berangkat. Istirahat yang benar. Jaga diri." "Iya, bu" Setelah itu ibunya pergi bekerja bersama ayahnya. Hanya tinggal Alvin sendiri. Dia menghela nafas. Soal kemarin, Alvin tidak mengatakannya dengan jujur pada ibunya. Dia hanya berkata bahwa dia kelelahan karena pelajaran olahraga. Bukan karena dia tidak ingin ibunya tahu bahwa dia membolos, Alvin berbohong agar ibunya tidak khawatir. Ketika Alvin dibully disekolah lama, dia juga tidak mengatakan apapun pada orangtuanya, terutama ibu. Dia tidak ingin mereka khawatir. Terakhir kali adalah ibu teman sekelasnya yang mengatakan pada ibu Alvin bahwa dia di-bully di sekolah. Hari itu, ibu dari teman sekelas Alvin datang ke sekolah karena suatu urusan. Ketika itu, dia melihat Alvin berdiri di tengah lapangan, sementara sekelompok siswa berulangkali melempar bola ke arahnya sambil bersenang-senang. Bibi itu mengadu pada ibu Alvin, ibu Alvin marah , kemudian datang dan meminta penjelasan pihak sekolah. Namun pihak sekolah mengabaikan keluhan ibu Alvin. Dan disinilah dia, disekolah baru, juga memiliki pengganggu yang kemungkinan lebih jahat. Alvin menghela nafas sekali lagi. Merasa agak lucu atas nasibnya. Dia, pindah sekolah untuk menghindari bullying, namun masuk ke sarang bullying yang lain. Lucu. Sudahlah, tidak perlu memikirkan hal rumit. Hal-hal yang mungkin akan terjadi, tidak ada yang tahu. Jalani saja. Mungkin tidak seburuk yang dipikirkan. Juga, Alvin benar-benar butuh istirahat sekarang. Dalam sekejap, Alvin tertidur. *** Pagi ini cuaca agak mendung. Ibu Alvin memaksanya membawa payung sebelum berangkat. Setelah Alvin membawa payung bersamanya, dia keluar rumah dan berjalan menuju lift. Seperti biasa dia naik bus untuk pergi ke sekolah. Hujan turun tepat setelah dia turun dari bus. Alvin menginjakkan kaki di gedung sekolah setelah libur sehari. Jujur, pagi ini terasa agak berbeda. Bukan karena hujan, seperti ada yang tidak pada tempatnya. Tapi apa itu, Alvin tidak tahu. Saat dia melewati papan pengumuman, dia melihat surat pemberitahuan ditempelkan disana. Pemberitahuan kematian. Lebih spesifik lagi, ada salah satu siswa dari sekolah ini yang meninggal dua hari yang lalu. Itu artinya, hari yang sama dengan hari kesialan Alvin. Alvin tidak mengenal siswa yang meninggal itu, tapi entah kenapa terasa familiar. Namanya Carl Hugson. Alvin melanjutkan langkahnya. Setelah dia berfikir keras, dia ingat bahwa Carl Hugson adalah anak yang dilihatnya merangkak di toilet hari itu. Tiba-tiba hawa dingin merambat ke punggung Alvin. Dia kembali ke papan pengumuman. Membaca dengan benar pada surat pemberitahuan itu. Carl Hugson meninggal, bunuh diri di toilet sekolah. Itu yang tertulis di surat pemberitahuan. Tangan Alvin gemetar. Dia mencoba mengingat apa yang dia lihat sekilas hari itu. Anak itu, Carl, sepertinya terluka parah d kepala. Jika orang-orang itu yang memukuli Carl hingga dalam keadaan seperti itu, artinya Carl Hugson tidak bunuh diri, tetapi dibunuh. Astaga, ini benar-benar keterlaluan. Ini kriminal. Alvin merasa tidak enak dihati. Sebagai orang yang melihat, walaupun tidak sengaja, tapi sedikit nya dia tahu yang terjadi hari itu. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah dia mengajukan diri untuk bersaksi dan mengatakan bahwa ini bukan kasus bunuh diri tetapi pembunuhan? Saat perasaan Alvin tengah dilema, langkah kaki mendekat dan berhenti di belakangnya. Kemudian Alvin merasakan seseorang menepuk pundaknya. Alvin berbalik dan mendapati sosok yang familiar. Itu adalah siswa yang hampir menangkapnya ke dalam toilet. "Yo! Ternyata kau bocah yang waktu itu. Apa kabar? Kau sehat?" Dia berkata sambil menyeringai menampakkan giginya. Tatapan matanya adalah jenis yang merendahkan orang lain. Alvin hanya diam, tidak berani berbicara kembali. Dari pintu masuk utama , beberapa anak laki-laki berjalan keluar tetapi berhenti dan berbalik ke arah mereka. "Oi, Ryan! Apa yang kau lakukan disana?! Cepatlah!" Salah satu dari mereka berteriak. "Segera!" Ryan balik berteriak. Lalu dia berbalik, melirik sekilas pada papan pemberitahuan di dinding belakang punggung Alvin. "Bocah bau, lebih baik kau menjaga mulutmu ini agar kau tetap aman. Atau sebaliknya, maka lembar pemberitahuan mu yang akan di tempel disini! Kau mengerti?" Ucap Ryan. Semua kata-kata nya terasa mencekik, membuat jantung merasa tertekan. Dengan gugup Alvin mengangguk kaku. Dia menampar wajah Alvin pelan sambil tersenyum puas. "Anak baik." Ryan berbalik dan meninggalkan kalimat itu dibelakang. Setelah Ryan pergi, kedua kaki Alvin yang mati rasa menjadi lemas seperti mie. Di beri ancaman di pagi hari seperti ini benar-benar bukan perasaan yang baik. Tapi ini membenarkan dugaannya bahwa bocah Carl ini tidak bunuh diri. Alvin melirik foto nya di surat pemberitahuan itu dengan agak menyesal. Hatinya terasa sakit tetapi dia tidak dapat membantu. - Banyak dari para siswa di kelas yang membicarakan tentang kematian Carl. Membuat Alvin tidak dapat berkonsentrasi sama sekali. Selain tidak nyaman, dia juga merasa takut. Bukan tidak mungkin Ryan dan teman-temannya tidak akan menargetkannya setelah ini. Orang jahat, bagaimanapun, tidak memiliki belas kasihan pada siapapun. Alvi pergi ke taman sekolah seperti biasanya. Entah kenapa hari ini dia agak gugup dan terus berfikir bahwa dia menikmati makanannya sementara disisi lain ada orang yang sedang tidur pulas. Sesampainya di tempat biasa, Alvin segera mengitari sisi lain pohon. Tapi tidak ada siapapun disana. Alvin tertunduk dan kemudian makan dengan ekspresi sedikit kecewa. Selesai makan dia tidak segera beranjak pergi. Dia duduk disana sedikit lebih lama, memandang tempat kosong disisi lain pohon ini. Biasanya, dia ada disini meskipun tidak masuk kelas. Sekarang, dia bahkan tidak ada disini. Apakah itu artinya dia tidak datang ke sekolah sama sekali? Tidak ada gunanya menerka-nerka. Lagipula urusan orang itu tidak ada hubungannya dengan Alvin. Alvin berdiri, menepuk debu di pantat, kemudian pergi untuk kembali ke kelas. Sekolah ini tidak terlalu mewah tetapi memiliki fasilitas cukup lengkap. Total ada tiga bangunan yang terhubung dengan koridor panjang. Bangunan utama adalah gedung kelas dengan tiga lantai. Kelas satu ada di lantai pertama, kelas dua di lantai dua, dan kelas tiga di lantai atas. Lalu bangunan sebelah kiri adalah gedung untuk kantor para guru, staff sekolah, dan sebagainya. Ada dua lantai. Sementara bangunan sebelah kanan, adalah gedung ekstrakurikuler. Ruang olahraga, ruang seni, ruang tari, perpustakaan, dan gudang, semua ada di bangunan ini. Gedung ini ada 4 lantai. Letak semua gedung membentuk segitiga. Disekelilingnya, terdapat taman dari berbagai jenis bunga dan tumbuhan yang baik. Taman depan dan samping dirawat dengan baik. Nah taman yang sering ku datangi adalah taman belakang, bagian barat. Dimana hanya ada hamparan rumput dan pohon tua. Ketika Alvin akan pergi ke taman, dia harus melewati gedung ekstrakurikuler. Sama seperti hari ini. Saat dia melewati ruang tennis, dia bertemu Ryan yang baru saja keluar. Sial sekali. Baru saja pagi ini Alvin bertemu dengannya, sekarang malah bertemu lagi. Alvin mempercepat langkah, berharap Ryan tidak memperhatikannya. Tetapi takdir suka mempermainkan orang. Ryan melihatnya dan tiba-tiba tersenyum gembira. Cakar jahatnya mencengkeram pundak Alvin dan menghempaskan tubuhnya ke dinding. "Kita bertemu lagi, bocah." ***
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 26 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian β£ 0 Poin
Komentar Buku (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
04/06/2022
Β Β 3bagus banget kak
13/06/2025
Β Β 0bagus bnget novel nyaa KA hhuuπ₯²
03/06/2025
Β Β 0Lihat Semua