Ed memandangi Ryan dengan tatapan mengukur. Ryan yang risih akhirnya tidak bisa tidak menegur. "Apa yang kau lihat?" Ed tersenyum tipis. Dia mengalihkan pandangan ke kartu ditangannya. "Tidak ada. Hanya saja, aku merasa kau agak tidak seperti biasanya." Melihat Ed yang tersenyum, membuat Ryan menjadi jengkel. Sejak dia merasa Ed mengawasinya, dia merasa tidak nyaman melihat senyuman orang itu. Ryan mengalihkan perhatian ke luar jendela. Diluar, hujan berangsur-angsur berhenti. Dia melemparkan semua kartunya ke meja. Melihat Ryan berniat pergi, Chris segera menyusul. "Hei, kau pergi begitu saja? Tunggu aku!" Ryan tidak mempedulikan Chris yang mengoceh disampingnya. Ketika dia sampai didepan toilet, dia menghentikan Chris. "Pergilah lebih dulu. Aku mau ke toilet sebentar." Chris yang tidak bisa mengikuti jalan pikiran Ryan, menjadi bingung. "Memangnya mau pergi kemana? Dimana aku harus pergi lebih dulu?" Ryan memutar matanya. Dia mendorong Chris tanpa menjelaskan apapun. Setelah Chris menjauh, dia memasuki toilet. Samar-samar dia mendengar seseorang menangis dari salah satu bilik. Ryan mendekat perlahan. Di wastafel, dia melihat tumpukan pakaian basah dan kotor yang sudah sedikit dibilas. Seketika dia mengetahui siapa yang menangis di bilik toilet. Ryan berpikir orang itu pasti bersembunyi karena mendengar suara dirinya dan Chris dari luar. Melihat lagi kearah pakaian basah, Ryan agak linglung sejenak. Kemudian dia buru-buru pergi menyusul Chris. Chris dan yang lainnya sudah menunggunya di gerbang depan. - Michael pulang dari kerja siang itu. Namun saat dia akan membuka pintu, dia menyadari bahwa dia kehilangan kunci rumahnya. Dia mencari-cari ke saku nya, tetapi tetap tidak menemukan kunci yang dicarinya. Dia buru-buru menaiki motornya, kembali ke toko roti tempat dia bekerja. "Bibi, apa kau melihat kunci rumahku?" tanya Michael kepada bos pemilik toko. Wanita paruh baya itu menggeleng. Dia menyuruh Michael mencarinya sendiri. Tetap saja Michael tidak menemukan apapun. Michael pergi lagi dengan motornya. Mengawasi jalan yang biasa dia lalui dengan cermat. Akhirnya dia menemukan kunci rumahnya terjatuh di dekat gerbang belakang sekolahnya. Michael menghela nafas lega. Meskipun dia absen sekolah selama beberapa hari, sebenarnya dia tetap datang kesekolah sebentar. Itulah sebabnya kuncinya bisa terjatuh di sana. Ketika Michael memutar sepeda motornya, matanya menangkap sesosok tubuh tergeletak di tanah yang becek. Michael segera mengenali sosok itu sebagai teman sebangkunya yang baru, Alvin. Michael turun dari motornya. Dia menghampiri Alvin yang tidak sadarkan diri dan membalikkan tubuhnya. Betapa terkejut Michael ketika dia melihat merah dan biru di seluruh tubuh dan wajah Alvin. Dia lebih terkejut menyadari bahwa bibir Alvin benar-benar sepucat mayat. Michael segera memeriksa nafas Alvin. Nafasnya masih terasa namun lemah dan terputus-putus. Jantung Michael berdebar. Dia melepaskan jaket yang dia kenakan, kemudian menggendong tubuh gemuk Alvin dipunggung dan meletakkannya di atas motornya. Michael mengikat tubuh Alvin menggunakan jaketnya dengan kuat sebelum melajukan motor tuanya. Sesampainya di rumah sakit, Michael berteriak memanggil para perawat dengan panik. Beberapa perawat yang mendengar teriakan ribut itu keluar dan segera membawa Alvin begitu mereka melihat keadaan anak itu. Melihat para perawat membawa Alvin masuk, Michael merasa sedikit lega. Michael bersiap pergi. Namun dia ingat dia tidak bisa meninggalkan Alvin sendirian. Dia menoleh ke kanan dan kiri, dia tidak menemukan tas Alvin dimana pun. Dia merasa bodoh. Dia tidak menyadari sejak awal bahwa Alvin tidak membawa tasnya sama sekali. Seorang perawat muda menghampirinya, bertanya, "Kau datang bersama anak tadi, kan? Dia terluka parah dan perlu perawatan lebih lanjut. Namun membutuhkan tanda tangan persetujuan terlebih dahulu." Maksud perawat adalah uang muka. Michael mengerti. Dengan kaku Michael mengangguk. Perawat itu tersenyum dan mengisyaratkan agar Michael mengikutinya. Dibawah tatapan mendesak para petugas, Michael menandatangani namanya di kertas persetujuan. Lalu dia mengeluarkan uang dari tasnya. Uang itu adalah gaji yang baru saja dia dapatkan dari bekerja di toko pada siang hari. Setelah Michael menyerahkan uang itu, dia segera pergi menuju sekolah. Sekolah masih belum bubar. Jadi ketika Michael masuk ke gedung dengan pakaian biasa, siswa yang melihatnya segera berbisik dengan heran. Michael masuk ke kelasnya tanpa mempedulikan guru yang sedang mengajar. Michael mengambil tas Alvin dan membawanya pergi namun guru yang sedang mengajar menghentikannya. "Berhenti! Apa yang kau lakukan?" Michael menoleh. Melihat Michael berhenti, guru itu mendekatinya. "Ini milik teman sebangku mu, kan? Mengapa kau mengambilnya? Di mana dia?" Michael sudah lama tidak memiliki kesabaran terhadap guru ini. Dia hanya mendengus tanpa menjawab dan berlalu pergi. Mengabaikan teriakan guru yang marah dibelakangnya. Michael kembali ke rumah sakit. Setelah menelepon orang tua Alvin, dia menunggu disini untuk menyerahkan barang-barang milik Alvin. Tidak lama kemudian, dari tempatnya duduk, dia melihat seorang bibi yang bekerja di restoran yang sama dengan tempatnya bekerja paruh waktu. Bibi itu berjalan tergesa-gesa kearah resepsionis, bertanya dengan wajah panik. Ketika mendengar bibi itu menyebut nama Alvin, Michael maju. "Bibi Sarah," panggil Michael. Sarah mendengar seseorang memanggilnya dan menoleh. Dia mengenal anak muda ini karena mereka bekerja ditempat yang sama. "Michael? Kenapa kau disini?" Melihat Michael, petugas resepsionis menjelaskan kepada Sarah. "Dia adalah orang yang membawa Alvin Wilson kemari." Sarah agak terkejut. "Oh ...." Disampingnya, suaminya sudah bertanya tentang putra mereka. Dia mengajak Sarah untuk naik ke lantai atas, tempat putranya di rawat. Tidak sempat menyerahkan tas Alvin, Michael tidak memiliki pilihan selain mengikuti kedua orangtua itu naik. Setelah tenang, Sarah bertanya kepada Michael tentang apa yang terjadi. Michael mengatakan yang sebenarnya, dia menemukan Alvin ketika dia sudah tidak sadar. Setelah mengatakan beberapa kata, Michael meninggalkan mereka berdua. - Ryan melihat beberapa mobil mewah terparkir di halaman ketika dia pulang dimalam hari. Dia tidak perlu berpikir lebih jauh karena dia sudah tahu. Ibunya pasti sedang berkumpul bersama teman-teman sosialitanya, minum teh sambil bermain kartu. Begitu Ryan masuk, dia mendengar suara-suara wanita mengobrol diruang depan yang mewah. Ryan mencibir pada wanita-wanita yang saling tersenyum itu. Saat dia akan menaiki tangga, tiba-tiba ibunya memanggilnya. "Kau kembali? Apakah kau sudah makan malam?" Para wanita lainnya berhenti berbicara, melihat kearah Ryan. "Nyonya Grey, itu punya ketiga mu kan? Lihat dia semakin tampan dari terakhir kali aku melihatnya." "Benar. Dia baru saja pulang dari belajar mandiri, ya? Betapa rajin sekali." "Dia pasti akan bisa menyaingi kedua kakaknya dimasa depan." Nyonya Sharon tersenyum dangkal sambil menjawab, "Bagaimana mungkin? Kemampuan anak ini masih tidak ada apa-apanya, dia masih perlu bekerja lebih keras untuk bisa mencapai kedua kakaknya. Kalian memuji seperti ini, membuatku malu." Nyonya Sharon bukannya tidak mendengar sindiran dibalik pujian wanita-wanita ini, dia memilih tidak ingin berurusan dengan mereka sekarang. "Baiklah, ibu tidak akan menahan mu. Pergilah istirahat ke kamarmu." Ryan mengangguk kepada ibu dan para wanita itu, kemudian naik ke kamarnya di lantai dua. Sambil merebahkan diri, Ryan memikirkan tatapan peringatan yang diberikan ibunya. Dia mengerti maksud ibunya, namun dia agak kesal karena dia tidak suka dikendalikan. Kembali ke seminggu yang lalu. Tiba-tiba ibunya memanggil dan memarahinya. "Rencana mu bagus. Tapi mengapa kau memilih gadis tidak kompeten sebagai eksekutor? Otakmu menjadi tumpul?" Ryan tidak berani menjawab apapun. Dia hanya bisa berdiri diam dihadapan ibunya. Nyonya Sharon yang elegan memijat kepalanya perlahan. Kilatan kejam melintas dimatanya. "Gadis itu sudah terlibat terlalu lama. Sebelum dia tahu sesuatu, singkirkan dia." Ryan memejamkan mata. Dia membayangkan Luciana beberapa hari yang lalu. Rasanya agak tidak nyaman menjanjikan makan malam romantis dengan orang yang akan dia bunuh. Tapi jika bukan dia, orang-orang dibawah ibunya yang akan membunuhnya. *** (Nama ibu Ryan : Sharon Garcia. Grey adalah nama keluarga suaminya.)
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 26 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian β£ 0 Poin
Komentar Buku (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
04/06/2022
Β Β 3bagus banget kak
13/06/2025
Β Β 0bagus bnget novel nyaa KA hhuuπ₯²
03/06/2025
Β Β 0Lihat Semua