Ryan merangkul pundak Alvin sambil tertawa gembira. "Lama tidak bertemu. Bagaimana kalau kita bermain sebentar, hm?" Senyumnya terlihat baik, tetapi menakutkan. Alvin tidak tahu apa maksud Ryan, jadi dia menggeleng. "Aku ... aku harus kembali." Alvin mencoba melepaskan cengkeraman Ryan di bahunya. Ekspresi wajah Ryan berubah. "Kau membuatku tidak mood ya! Sejujurnya aku hanya ingin mengobrol dengan mu, tapi, sepertinya aku tidak memiliki minat itu lagi sekarang! Apa yang harus kulakukan padamu kalau begitu?!" Suara Ryan berubah menjadi kasar. Chris mendengar suara marah Ryan dari balik pintu. Dia keluar dan mendekati mereka sambil tersenyum kecil. Dia mengulurkan tangannya dan menarik kerah baju Alvin. Dia menyeretnya begitu saja seperti karung beras, membawa Alvin ke sebuah ruangan sebelumnya. Dibelakang mereka, Ryan menutup pintu dengan suara keras. Tiga orang lainnya di ruangan itu mengenakan pakaian olahraga, duduk diatas meja tennis dengan rokok di masing-masing mulut mereka. "Apa yang kau bawa ini? Babi gemuk untuk disembelih?" Luke terkekeh. Suaranya membawa jejak kegembiraan kecil, seperti melihat mainan. "Aku bertanya-tanya siapa yang kalian jemput. Ternyata hanya sepotong daging kecil. Kurang menyenangkan." Hans berkomentar. Dia memandang Alvin sekilas, kemudian terus merokok sambil memantulkan bola tenis di tangannya. Ed tertawa. "Apakah kalian berpikir bahwa ini masih tidak menyenangkan setelah tahu bahwa anak ini membantu Michael?" Hans dan Luke spontan memandang Ed, kemudian pada Chris dan Ryan. "Tidak percaya?" Kata Ed setengah mengejek. "Aku juga tidak, awalnya." Hans berkata, "Aku tidak berpikir Michael akan menempatkan daging segar disisinya sebagai perisai." "Siapa tahu? Mungkin orang itu sengaja menjadikan anak ini sebagai tameng hidup." kata Ed. "Daripada dia, aku lebih menyukai tangkapan seperti Evelyn Hesse." Luke menunjuk Alvin, kemudian tertawa hina pada paruh kedua kalimat nya. Chris menampar bagian belakang Luke. "Kau gila?! Berani memukulku?!" Luke memelototi Chris. "Kau yang gila!" Chris balas melotot. Semua tahu Luke sedang membicarakan Evelyn. "Tidak perlu pergi secara pribadi. Kirim saja orang, bukankah beres?" Tanya Luke Chris memelototi nya lagi. "Kau, bertubuh besar tapi berotak kecil! Apakah kau tahu, mengatakan itu bisa menyinggung seseorang?" Chris melirik Ryan disampingnya. Yang lain tidak tahu, tapi dia bisa merasakan bahwa suasana hati Ryan sangat buruk sejak nama Evelyn disebut. "Nah, Luke. Berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Perhatikan saja anak gemuk ini." kata Chris Mata Luke melebar. "Dia?!" "Dia datang mengganggu. Jika bukan karena dia, kita bisa menghabisi Michael hari itu!" Mata Ed menyipit berbahaya. Luke melihat kearah Ed. Begitu Ed mengangguk, dia meluncur kedepan, menendang lutut bagian belakang Alvin, menyebabkannya jatuh berlutut. Alvin memekik kesakitan. Rasa ngilu merasuk ke dalam tulang dan menyebar di kakinya. Luke bersiap memukulnya. Karena Alvin masih trauma dengan pukulan terakhir kali, dia reflek menghindarinya, melindungi wajah dan kepala dengan kedua lengan nya. Luke gagal memukul. Dia menggerakkan giginya, kemudian mencengkeram kerah pakaian Alvin dan melemparkan kearah Hans. Alvin terlempar diatas meja tennis, jatuh begitu saja seperti buah matang. Perasaan dihempas benar-benar menyakitkan. Rasanya organ-organ seperti ditekan. Hans meraih Alvin. "Hei, biasanya kita mengulurkan tangan di kegelapan, tapi sekarang kita memukuli temannya terang-terangan, apakah dia akan datang membalas dendam?" Luke tersulut amarah. "Jika dia ingin datang, biarkan dia datang! Siapa yang takut pada Michael?!" "Siapa? Aku dan kamu pernah dikalahkan Michael. Kau tidak ingat?" Balas Hans, kemudian dia melirik Chris. "Dan Chris juga." Mendengar namanya disebut, Chris merasa seperti ditampar secara tidak langsung. "Itu karena Raven! Kau tahu, Raven itu hebat beladiri. Dia pasti mengajari Michael." Wajah Luke segera berubah. "Ah benar. Raven! Orang itu dingin dan kuat. Dia juga yang membuat kita selalu gagal mencelakai Michael. Hei, seharusnya kita hancurkan dia dulu, kan? Ayo, bunuh Raven!" "Bedebah! Aku benar-benar ingin merobek mulutmu!" Tiba-tiba Ryan meraung marah. Dia meraih rahang Luke, meremasnya kencang hingga wajah Luke memerah. "Fokuskan saja pada Michael, bukan yang lain." Ryan membisikkan ancaman ditelinga Luke. "Oh ...oh, aku mengerti." Luke mencoba tertawa. Tetapi ekspresinya terpelintir aneh. Ryan melepaskannya. Dia mengusap memar di rahangnya beberapa kali. Tidak ada satupun yang mendengar apa yang dikatakan Ryan. Ed mengernyitkan dahinya, menatap Ryan dengan curiga. Luke yang baru saja diancam, tidak merasakan apa-apa. Sebaliknya, dia menjadi lebih bersemangat melampiaskan kekesalannya kearah Alvin. Dia mendekatinya dengan senyum aneh. Alvin gemetar, dia merasa bahwa Luke benar-benar tidak terlihat seperti seorang siswa. Lebih persis seperti pasien gangguan mental. Luke memukuli Alvin sampai setengah mati. Dia memukul sangat intens. Begitu Alvin akan pingsan, dia berhenti. Setelah Alvin mulai sadar sepenuhnya, dia mulai memukul lagi. Begitu seterusnya sampai Alvin tidak bisa menghitung berapa kali dirinya hampir pingsan. Tapi pada akhirnya, Alvin masih tetap tumbang. Alvin terkapar di lantai. Tidak ingat berapa lama dia berbaring di sini. Juga tidak ingat berapa lama mereka bermain kartu membelakanginya. Alvin menatap keluar jendela. Diluar hujan deras. Tubuhnya mati rasa. Nyeri di beberapa bagian tubuh tidak dapat membuatnya tetap terjaga. Dia lelah, ingin beristirahat. "Hei babi kecil, siapa yang menyuruhmu tidur?!" Alvin merasakan seseorang berteriak pada dan menampar pipinya dengan keras. "Lihatlah hujan diluar, bagaimana jika kita keluar agar kau dapat menyegarkan otakmu? Ide yang bagus, kan?" Alvin membuka mata. Chris berjongkok di hadapannya. Alvin tidak ingin tahu apa yang akan mereka lakukan. Dia hanya ingin ini segera berhenti. "Tolong ... Biarkan aku pergi ...." Suaranya terdengar serak dan lemah. Chris tertawa. "Kau ingin pergi? Baik. Tentu saja. Mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" Selesai berbicara, Chris menarik lengan Alvin, membuatnya berdiri dengan kedua kaki lemah. Alvin berhasil berdiri dengan susah payah. Chris tertawa lagi. "Lepaskan pakaian mu." Katanya. Wajah Alvin memucat. "Apa ...?" "Kau tidak dengar?! KU BILANG, LEPASKAN PAKAIAN MU. SEMUANYA!" Ini .... Hans mendekat. Dia berkata kepada Chris, "Untuk apa berteriak? Kau tidak lihat dia gemetaran? Kau harus membantunya!" Hans mengulurkan tangannya, melepaskan blazer dan kemeja Alvin dengan paksa. "Kau ingin aku membantu mu melepaskan celana atau kau akan melakukannya sendiri? Jika kau melakukannya sendiri, kau tidak perlu melepas celana dalam mu." Alvin terkejut. Ini sangat memalukan tetapi jika dia tidak melakukannya, mereka akan terus memukulinya. Alvin memilih melepaskannya sendiri. Chris mengulurkan tangannya, mengumpulkan semua baju Alvin lalu membawanya ke dekat jendela. Dia melemparkannya tanpa ragu-ragu. Chris menoleh padanya, dengan senyuman jahat diwajahnya, dia berkata, "Ambil itu dan pulanglah, tidak perlu berterima kasih." Hans mendorong Alvin keluar ruangan. "Selamat bersenang-senang." Kemudian dia menutup pintu, meninggalkan Alvin sendirian di koridor. Udara dingin segera menerpa tubuh Alvin. Dia menggigil, namun dia berusaha menguatkan diri, berjalan memasuki hujan untuk mengambil pakaian. Alvin berjalan memasuki hujan dengan hanya celana dalam di tubuhnya. Tubuhnya segera basah kuyup. Alvin bisa merasakan hawa dingin itu mengebor masuk ke dalam tulangnya. Sambil menahan gemetar, dia berjalan mengitari gedung. Alvin mendapatkan semua bajunya, tetapi itu sudah sangat basah dan kotor oleh tanah. Dia membawa semuanya ke toilet, berharap bisa membersihkan nya sedikit sehingga dia bisa memakainya saat pulang nanti. Mencuci semuanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah sedikit bersih, Alvin memakaikan pakaian basah itu ke tubuh dinginnya. Dia bersin beberapa kali dan menggigil tanpa henti. Pusing yang dia rasakan sejak tadi, menjadi semakin berdenyut menyakitkan. Rasanya seperti seluruh tempat ini bergoyang. Dia berjalan perlahan. Pakaian basah menempel di kulit dan menggosok beberapa luka di tubuh Alvin. Dia mencoba tidak mempedulikan rasa perih di tubuhnya dan terus berjalan. Dari jendela, Alvin melihat hujan telah berhenti. Sebisa mungkin dia mempercepat langkah. Namun, ditengah jalan, dia berbalik dan menyeret kakinya menuju gerbang belakang. Hanya jalan itu yang paling aman. Gerbang belakang jaraknya jauh. Disepanjang jalan, Alvin merasakan gemetaran di tubuhnya semakin tak tertahankan. Baru saja dia membuka pintu gerbang ketika gelombang sakit dan pusing menyerang kepalanya. Secara bertahap, pandangan Alvin menjadi gelap. ***
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 27 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian β£ 0 Poin
Komentar Buku (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
04/06/2022
Β Β 3bagus banget kak
13/06/2025
Β Β 0bagus bnget novel nyaa KA hhuuπ₯²
03/06/2025
Β Β 0Lihat Semua